Kafir atau Non Muslim?

Leli Mulyatika

Indonesia merupakan negara yang pluralistis. Terbukti terdapat banyak agama yang diakui secara resmi, seperti Islam, Buddha, Hindu, Kong Hu Cu, Katolik, dan Kristen. Semuanya diperlakukan secara egaliter. Mulai dari agama mayoritas sampai agama minoritas semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama menurut undang-undang.

Namun demikian, bagai pedang bermata dua, selain memperlihatkan dampak positif lantaran keberagaman tersebut, beragamnya umat beragama di Indonesia juga, faktanya, menimbulkan dampak negatif. Salah satu ialah banyaknya perilaku intoleransi yang dikhawatirkan akan mengganggu keutuhan bangsa Indonesia, seperti menyebut atau melabelkan kata kafir kepada orang-orang yang tidak memeluk agama Islam di muka umum (publik).


Berdasarkan kekhawatiran di atas, Tim Program Krativitas Mahasiswa (PKM) UPI yang dipimpin Asep Soleh, Mahasiswa UPI Prodi Ilmu Pengetahuan Agama Islam, dan beranggotakan M. Nur Imanulyaqin (Prodi Pendidikan Sosiologi), dan Leli Mulyatika (Prodi Pendidikan Kewarganegaraan), serta di bawah bimbingan Asep Dahliyana, S.Pd., M.Pd, membuat sebuah penelitian yang berjudul “Perspektif Tokoh NU terkait penyebutan Kafir bagi Nonmuslim di Indonesia.”


Soleh mengatakan “penelitian ini dilatarbelakangi adanya isu penggantian penyebutan kafir terhadap orang-orang yang tidak memeluk agama Islam di Indonesia menjadi Nonmuslim oleh ormas NU pada saat sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah dalam Munas Alim Ulama NU di Kota Banjar. Adanya isu tersebut membuat banyak kalangan bersitegang.”


 “Sebagian orang...” Soleh melanjutkan, “...yang tidak setuju mengganggap perubahan term kafir menjadi nonmuslim telah berani melakukan perubahan terhadap nash Alquran. Sedangkan bagi mereka yang setuju mengganggap hal ini sebagai tindakan yang akan memupuk kerukunan antara sesama warga negara dan umat beragama di Indonesia.”


Bagi Soleh sendiri dengan adanya perbedaan pandangan tentang penggantian term kafir menjadi nonmuslim dikhawatirkan malah makin memicu tindakan-tindakan intoleransi di Indonesia. Khususnya intoleransi internal umat Islam.


Senada dengan Soleh, Dahliyana, selaku dosen pembimbing dalam penelitian ini mengungkapkan “penelitian ini sangat penting untuk dilakukan, mengingat Indonesia merupakan negara yang majemuk, yang berasaskan pancasila sebagai dasar negara. Jika kemajukan tersebut tidak dipelihara maka akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan hajat hidup bangsa Indonesia”.


Setelah penelitian ini dilakukan muncul beberapa poin penting yang dapat digaris-bawahi. Pertama, rekomendasi penggantian penyebutan kafir kepada nonmuslim bukanlah fatwa melainkan hanya sekadar himbauan sebagai cerminan perilaku toleransi beragama. Kedua, rekomendasi ini hanya berlaku dalam konteks muamalah dan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedangkan dalam konteks akidah term kafir sudahlah jelas. Ketiga, hal ini merupakan bentuk sikap kemasyarakatan organisasi NU yang berpegang kepada prinsip tasammuh.


Kesimpulannya, terlepas dengan segala hiruk-pikuk yang terjadi, semestinya kita dapat memosisikan diri dalam penyebutan term kafir ini. Bagi yang sependapat dipersilahkan  untuk mengikuti dan melaksanakannya. Namun bagi yang tidak sependapat dipersilahkan untuk menghindarinya dengan tidak membesar-besarkan masalah ini, agar tidak terjadi perdebatan-perdebatan yang berujung mengganggunya keharmonisan kehidupan bangsa ini.

sumber gambar: moeslem.xyz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar