Meratapi Masa Depan Kajian Pendidikan Islam di Indonesia


Jiva Agung
Kajian mengenai pendidikan Islam di Indonesia memang sedang semarak, setidaknya jika dibandingkan dengan dunia Barat, meskipun dari segi kualitas masih jauh dari kata mumpuni. Jika kenyataan ini tidak segera disadari dan dibenahi secara serius maka jangan heran kalau pendidikan Islam di masa depan hanya akan menjadi sebuah “produk” yang mubazir. Di kesempatan ini saya hendak mencoba mengurai problem-problem yang tengah dihadapi oleh para pengkaji pendidikan Islam di Indonesia.

Ada empat cara dalam melakukan pengkajian pendidikan Islam, pertama adalah melalui pendekatan normatif (bayani) dengan menggali langsung komponen-komponen pendidikan yang ada di dalam al-Qur’an maupun hadis. Nah, sepertinya pendekatan inilah yang paling digemari oleh para sarjana Muslim Indonesia, barangkali karena “kemudahannya” jika dibanding dengan pendekatan-pendekatan lain. 

Betapa tidak, dengan berbekal ilmu tafsir beserta ilmu penunjang lainnya (seperti Bahasa Arab) seorang sarjana sudah dapat berselancar-ria menelusuri “kehendak-kehendak” Ilahi yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Aktivitas ini pada akhirnya melahirkan produk seperti Tafsir Tarbawi dan Hadis Tarbawi.

Namun, pada praktiknya, hasil dari pendekatan ini bukan tanpa masalah. Walaupun kita tetap bisa melihat sisi religiusitasnya (sesuatu yang membedakan dari pendekatan bercorak sekuler), para sarjana kita sering tergiur untuk melakukan imitasi teori-teori yang sudah dimiliki oleh Barat (membebek). Bahkan pembaca awam pun akan segera dapat merasakan hal tersebut. Di sisi lain mereka juga masih terjebak pada tindakan “cocoklogi” dan “labelisasi”, sekali lagi, terhadap teori-teori pendidikan kreasi Barat. 

Contoh sederhana yang saya temukan adalah mengenai metode-metode pembelajaran. Mereka mencomot metode pembelajaran yang ada di Barat—dengan dibubuhi sedikit retorika religius dan tentu saja ayat-ayat Quran—lalu, sebagai tindak finishing menggantinya dengan istilah yang lebih Qurani. Misalnya untuk metode Amtsal (analogi) yang memiliki similaritas dengan metode/model pembelajaran Sinektik[1], atau metode Targib-Tarhib yang mirip dengan teori belajar Stimulus-Respon ala Edward Lee Thorndike.[2]

Pendekatan kajian pendidikan Islam selanjutnya ialah melalui ilmu filsafat (philosophy approach), baik pada level ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Di pendekatan ini biasanya seorang sarjana sudah tidak terlalu banyak mengutip ayat Quran maupun hadis, karena mereka sudah mengekstraksi dan mengonstruksinya dalam bentuk konsep-konsep abstrak, yang jika diramu dengan baik akan menghasilkan suatu pandangan tertentu. 

Di era kontemporer ini mungkin kita bisa memasukkan nama Prof. Muhaimin dari UIN Malang dan Prof. Ahmad Tafsir dari UIN Bandung sebagai salah dua sarjana Indonesia yang mencoba untuk melakukan pendekatan ini. Barangkali Prof. Mulyadhi Kartanegara dari UIN Jakarta, sebagaimana yang terlihat dari karya-karya ilmiahnya, dapat juga digolongkan ke sini.

Idealnya, jika kedua pendekatan ini saling berdialektika, maka hasil positifnya akan muncul, yakni terbentuknya teori atau ilmu pendidikan Islam. Dan sejauh pengamatan saya, produk nyata yang paling prestisius dari gabungan pendekatan ini adalah konsep (ilmu) tentang pendidikan Islam yang integratif, bersebrangan atau bentuk antitesis dari konsep pendidikan Barat yang reduksionis. Selain itu ada juga konsep islamisasi ilmu sebagai antitesis ilmu-ilmu pendidikan modern yang sudah membuang, atau setidaknya mengabaikan, aspek ilahiah.  

Tetapi, layaknya produk dalam pendekatan pertama, teori pendidikan Islam yang integratif maupun konsep islamisasi ilmu mengalami kendala ketika diturunkan ke ranah teknis. Sampai hari ini belum ada model institusi pendidikan Islam di Indonesia yang secara representatif menerapkan produk ini.

Kemudian, ada juga pendekatan historis, yang beritikad untuk meneliti pertumbuhan dan perkembangan praktik pendidikan Islam semenjak masa Nabi hingga hari ini. Banyak yang meyakini bahwa jika kita dapat menerapkan sistem pendidikan ala generasi nabi hingga puncaknya pada masa Abbasiyah, maka tidak diragukan lagi peradaban Islam akan kembali jaya. 

Bagi saya sah saja seseorang memiliki hasrat romantisme sejarah, namun cita-cita tersebut seharusnya dapat selaras dengan tindakan nyatanya. Tapi faktanya ucapan baru sampai di lidah. Jangankan masyarakat Muslim secara umum, kalangan akademisinya pun masih belum serius untuk melakukan pengkajian ini. 

Terbukti dari karya-karya mereka mengenai sejarah pendidikan Islam yang masih suka merujuk hasil penelitian sarjana Barat. Mereka yang notabe dari kalangan outsiders ternyata lebih kepo terhadap “harta karun” Islam dibanding umat Muslimnya sendiri. Bahkan bukan hanya mengkaji literaturnya, mereka tak segan untuk melakukan penelusuran arkeologis.

Betapapun demikian, tiga pendekatan di atas jauh lebih diminati oleh sarjana Indonesia dibanding yang terakhir ini, yakni pendekatan riset berbasis lapangan (empiris-positivis). Di Indonesia, semangat membuat sebuah karya atau buku berbasis riset ilmiah sangat mengkhawatirkan. Saya sulit sekali menemukan buku, misalnya, yang membahas efektivitas model-model pembelajaran Islam berbasis penelitian empiris. 

Atau, contoh yang lain, mengetahui penerapan evaluasi pendidikan Islam di Indonesia dengan objek yang banyak dan luas (seluruh institusi madrasah di Jawa, misalnya). Pola ini sungguh kontras dengan apa yang dilakukan oleh sarjana Barat di mana saya selalu tertegun ketika membaca buku-buku mereka yang sarat akan bukti-bukti empiris.

Akhirnya, melihat banyaknya kelemahan pada praktik pengkajian pendidikan Islam di Indonesia hari ini, izinkan saya mengemukakan pertanyaan naif, masih adakah tempat untuknya di masa depan?

sumber gambar: suaramuslim.net






[1] Tentu saja apa yang dilakukan oleh sarjana Muslim jauh lebih sederhana dengan kajian model pembelajaran yang dilakukan oleh para pemikir Barat. Salah seorang sarjana kontemporer yang membahas model pembelajaran secara lihai adalah Bruce R Joice (Model of Teachings).
[2] Prof. Dr. Syahidin dalam bukunya yang berjudul Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Quran mencoba untuk mencari model-model pembelajaran berbasis Quran. Beberapa model tersebut di antaranya: Amtsal, Kisah, Targib-Tarhib, Tajribi, Hiwar, dll. Kita akan dengan mudah mengatakan bahwa model ini merupakan replika dari model-model yang ditemukan atau dikembangkan oleh sarjana Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar