Zakiah Daradjat: Ulama Perempuan Pionir Psikologi Agama


Jiva Agung
Zakiah Daradjat, seorang pakar psikologi Islam, lahir di Jorong Koto Marapak, Nagari Lambah, Ampek Angkek, Agam, Sumatera Barat, 6 November 1929. Anak tertua dari 11 bersaudara ini sedari kecil telah mendapatkan ilmu agama dari kedua orang tuanya. Maklum, sang bapak, Hadji Daradjat, merupakan seorang aktivis Muhammadiyah, sedangkan ibunya, Rafiah, adalah anggota dari organisasi Sarekat Islam[1].

Pendidikan formalnya dimulai saat ia berusia tujuh tahun, duduk di Standart School Muhammadiyah. Saat berada di bangku kelas empat, ia mendapat tugas dari gurunya untuk berpidato di acara perpisahan sekolah. Konon, kepiawaiannya dalam berbicara ditelurkan dari hasil didikan sang ayah yang suka melatihnya berpidato sedari kecil. Sore harinya, Zakiah belajar agama di madrasah[2].

Tamat sekolah dasar di tahun 1941, Zakiah melanjutkan pendidikan di salah satu SMP di Padang Panjang sembari mengikuti sekolah agama di Kulliyatul Muballighat, sebuah wadah untuk membentuk para mubalig. Kemudian mengenyam pendidikan SMA di Bukittinggi, lulus pada tahun 1951. Selanjutnya, Zakiah memutuskan untuk menjadi perantau, berkuliah di Fakultas Tarbiyah, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta.

Tak cukup puas dengan ilmu yang telah didapat, Zakiah berhijrah ke Mesir untuk melanjutkan studi master di Fakultas Pendidikan Universitas Ein Sham, berkat tawaran beasiswa ikatan dinas dari Departemen Agama dengan tesis mengenai probelematika remaja di Indonesia. Tesisnya ini mendapat sebuah sambutan hangat dari kalangan pelajar di Kairo sebagai salah satu rujukan dan bahan pemberitaan. Ia lulus pada tahun 1959[3].

Masih di tempat yang sama, studi doktoralnya berfokus pada kajian psikoterapi bagi anak-anak yang bermasalah, yang dapat diselesaikannya pada tahun 1964. Disertasinya mendapat penghargaan dari presiden Mesir saat itu, Gamal Abdul Nasir, berupa “Medali Ilmu Pengetahuan” yang diberikan pada upacara Hari Ilmu Pengetahuan Mesir, 1965[4].

Saat menjadi mahasiswa doktoral, ia membuka praktik konsultasi kejiwaan di kampusnya dan berkesempatan mengajar bahasa Indonesia di Kairo yang saat itu memang sedang menjabat sebagai Kepala Jurusan Bahasa Indonesia di Higher School for Language. Berkat usahanya mengumpulkan uang dari kegiatan tersebut, ia akhirnya dapat memboyong kedua orangtua untuk beribadah haji ke tanah suci Mekkah[5].

Sekembalinya dari Mesir, ia memulai karir di Departemen Agama sebagai pegawai Biro Perguruan Tinggi sembari mendedikasikan dirinya menjadi dosen di Perguruan Tinggi Islam. Tiga tahun kemudian diangkat oleh Saifuddin Zuhri, Menteri Agama saat itu, sebagai Kepala Dinas Penelitian dan Kurikulum Perguruan Tinggi di Biro Perguruan Tinggi, Kementerian Agama. Kemudian pada tahun 1972, ia diamanahi sebagai Direktur Pendidikan Agama selama lima tahun, yang secara berkesinambungan menjadi Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam hingga Maret 1984[6].

Zakiah Daradjat menjadi dosen luar biasa dari tahun 1965-1971 di beberapa kampus, seperti IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta; IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh; IAIN Imam Bonjol, Padang; IAIN Raden Fatah, Palembang; Universitas Islam Sumatera Utara, Medan; dan Institut Teknologi Bandung (stadium general), Bandung, dalam bidang studi Kesehatan Mental. Juga menjadi dosen bidang studi Ilmu Jiwa Agama pada tahun 1966-1972 di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta; IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung; Universitas Islam Sumatera Utara, Medan; dan Pusat Pembinaan Mental, angkatan bersenjata Republik Indonesia[7].

Mantan dekan fakultas pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pernah beberapa kali diminta untuk menjadi penerjemah bahasa Arab sewaktu Presiden Soeharto berkunjung ke negara-negara yang ada di Timur Tengah. Berkat keahliannya ini Kerajaan Kuwait memberinya sebuah penghormatan sebagai Order of Kuwait Fourth Class pada tahun 1977. Begitu pun dengan Presiden Mesir Anwar Sadat yang memberinya penghargaan Fourth Class of the Order Mesir[8].

Di Periode 1983-1988 ia menduduki Dewan Pertimbangan Agung sembari menjadi anggota Dewan Riset Nasional serta mengurusi bidang masalah keluarga dan anak pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) di bawah kepemimpinan Hasan Basri; Selain itu ia pun senantiasa menjadi penceramah di stasiun pusat RRI sejak 1965 hingga tahun 2000 dan mengisi siaran Mimbar Agama Islam di stasiun pusat TVRI[9].

Penggemar olahraga renang di masa mudanya ini pernah memperoleh penghargaan Bintang Jasa Utama (1995). Empat tahun kemudian memperoleh Bintang Jasa Mahaputra Utama dari Pemerintah Republik Indonesia. 15 Januari 2013 silam, Zakiah menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta pada usia 83 tahun yang mana pada beberapa waktu sebelumnya sempat mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Ruhama, lembaga pendidikan untuk jenjang TK hingga SMA yang berlokasi di Cirendeu, Ciputat. Sejumlah karya yang telah ia torehkan seperti Ilmu Jiwa Agama; Kesehatan Mental dalam Al-Qur’an; Ketenangan dan Kebahagiaan dalam Keluarga; Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia; Menghadapi Masa Menopause; Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental; Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur’an; Perawatan Jiwa untuk Anak-Anak; dan Problema Remaja di Indonesia[10].

Wanita dalam Dunia Keluarga dan Karir

Saat diwawancara oleh Republika di tempat praktiknya, ia mengungkapkan bahwa seorang wanita sah-sah saja untuk berkarir, hanya saja mereka jangan sampai melupakan kedudukan utamanya, yakni sebagai seorang ibu. Jika peran hakiki ini ditelantarkan, tentu akan membawa dampak buruk bagi keberlangsungan keharmonisan hubungan keluarga.

Selain berperan utama sebagai ibu, perempuan yang berkarir pun tak boleh melupakan sisi kewanitaannya, sebagaimana dalam pandangan Islam, seorang wanita harus pandai menjaga diri, tidak mudah tergoda, berpakaian sopan, tetap mencintai keluarganya, dan bertanggung jawab.

Supaya wanita karir tak terbebani oleh tugas gandanya tersebut, Zakiah menyarankan bahwa mereka tidak perlu untuk bekerja lembur. Ia pun sedikit keberatan dengan kebijakan yang menuntut para pegawai, termasuk bagi kaum wanita, untuk pulang kerja hingga pukul 4 sore. Agaknya lebih baik jika dikurangi sampai pukul 2 saja. Supaya relasi ibu dan anak tetap positif, ia menganjurkan sebuah cara di mana sang anak bisa merindukan ibunya, begitu pun sebaliknya[11].

Dan ingat, ungkapnya, sesibuk apapun sang ibu, alih-alih menjadi penceramah –yang seringkali membosankan anak– ia harus membuka hati mendengarkan segala keluh kesah si anak. Seorang anak yang memiliki orang tua demikian, kemungkinan tidak akan melakukan perbuatan buruk sebab ia merasa ibunya/orang tuanya memerhatikannya, karena itu ia tak ingin membuat hati mereka sedih[12].

Kontras dengan sikap tersebut, jika ibu/orang tua tidak memberikan perhatian kepada anaknya, mereka akan mencari tempat lain untuk menyalurkan keluh kesahnya yang mana seringkali bersifat negatif, seperti berkelahi dan sebagainya[13].

Selain itu, wibawa yang dibangun oleh ibu/orang tua sebaiknya berlandaskan kasih sayang, bukan dengan kekerasan yang membuat anak takut. Zakiah memaparkan bahwa bisa saja sang anak menjadi patuh karena rasa takut, namun lama-kelamaan ia akan mengulangi hal tersebut bahkan bisa jadi bersikap masa bodoh. Berbeda jika fondasinya berupa kasih sayang, maka sang anak akan segan menyakiti hati orang yang disayanginya[14]. 


Pengaruhnya terhadap Wajah Pendidikan Islam

Saat menjabat sebagai direktur di Kementerian Agama, ia bersama kolega lainnya membuat kebijakan pembaruan madrasah yang tertera dalam Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri pada tahun 1975. Harapannya ialah untuk meningkatkan penghargaan terhadap status madrasah yang salah satunya ialah dengan memberikan kuota sebesar 70 persen untuk pengetahuan umum, dan 30 persen untuk pengetahuan agama. Aturan inilah yang akhirnya membuat para lulusan madrasah mendapat kesempatan yang luas untuk mengenyam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi umum[15].

Di sisi lain, guna mengatasi kekurangan staf pengajar bidang studi umum di madrasah-madrasah, ia berinisiatif membuka jurusan tadris di IAIN dan menyusun rencana pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam yang akhirnya dijadikan rujukan bagi seluruh IAIN di Indonesia. Dari kebijakan ini pula, akhirnya IAIN memperoleh anggaran yang lebih rasional dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)[16].

Pendidikan Islam mengenai Kesehatan Mental

Menurut pandangan Zakiah Daradjat, pendidikan Islam sangat berperan dalam membetuk kesehatan mental manusia, hal ini karena pendidikan Islam dapat memberikan bimbingan dalam kehidupan mereka, sebab pengalaman, pendidikan, dan keyakinan merupakan sebuah pengendali utama kehidupan manusia.

Pendidikan Islam juga dapat dijadikan sebagai penolong dalam kesukaran karena dengan adanya ketenangan batin, perlahan-lahan ia dapat menganalisis faktor-faktor penyebab kekecewaannya.
Di tambah lagi, pendidikan Islam bisa menjadi pengendali moral. Islam, sebagai agama yang paripurna, memberi panduan berupa perintah dan larangan kepada manusia yang sebenarnya telah disesuaikan dengan fitrahnya. Terakhir, pendidikan Islam turut memberi sumbangan terhadap aneka gangguan mental[17].

sumber gambar: fuadnasar.wordpress.com


[1] www.wikipedia.org
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Muh. Mawangir. (tt). Zakiah Daradjat dan Pemikirannya tentang Peran Pendidikan Islam dalam Kesehatan Mental. Jurnal
[8] Op cit.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Admin. (2015). Mengenang Zakiah Daradjat: Ahli Jiwa dengan Metode Agama. Dikutip dari www.nasional.republika.co.id, pada 26 Mei 2017
[12] Ibid.
[13] Ibid.
[14] Ibid.
[15] www.wikipedia.org
[16] Ibid.
[17] Muh. Mawangir. (tt). Zakiah Daradjat dan Pemikirannya tentang Peran Pendidikan Islam dalam Kesehatan Mental. Jurnal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar