Utsman bin Affan dan Kebijakan-Kebijakan Politiknya

A.D Rizka Maulia
Utsman bin Affan lahir pada tahun 579 M di Taif dan memiliki nama lengkap Utsman bin Affan bin Abi al-‘As bin Umayyah bin ‘Abd al-Syams bin ‘Abd al-Manaf. Beliau berasal dari keluarga berada suku Quraisy dengan klan Bani Hasyim dari pasangan Arwa binti Kuraiz dan Affan, saudagar kaya di sana.[1] Saudagar kaya ini menikahi dua anak perempuan nabi, yakni Ruqayyah dan Ummu Kalsum sehingga mendapat gelar Zu an-Nurain yang berarti pemilik dua cahaya.[2]


Proses pengangkatan khalifah Utsman bin Affan berbeda dengan dua khalifah sebelumnya. Saat sebelum Umar bin Khattab meninggal akibat luka tusukan Abu Lu’lu’ah, beliau akhirnya menuturkan bahwa ia menunjuk enam orang sahabat senior, yakni Thalhah bin Ubaidillah, Abd al-Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Saad bin Abu Waqqash, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, serta anaknya yang bernama Abdullah bin Umar namun tanpa bantuan hak suara sama sekali untuk memilih khalifah berikutnya. Penetapan enam orang tersebut disebabkan oleh penuturan nabi Muhammad bahwa mereka merupakan calon penghuni surga serta bukan perwakilan atas suku atau bagian tertentu.[3]

Pemilihan tidak berlangsung mudah bahkan mandek. Kemudian, Abd al-Rahman menemui Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib untuk menanyakan beberapa pertanyaan. Jawaban tegas Utsman bin Affan membuatnya terpilih menjadi khalifah pengganti Umar pada usia 70 tahun yang mana hasil keputusan tersebut membuat Ali bin Abi Thalib kecewa. Pengangkatan Utsman bin Affan diresmikan dengan proses baiat.[4]

Pada masa pemerintahannya, Utsman melakukan perluasan wilayah kekuasaan seperti yang dilakukan Umar bin Khattab. Beliau dan tentara Muslim lainnya berhasil memperluas wilayah kekuasaan Islam hingga Transoxania, Cyprus, Rhodes, Armenia, dan Tunisia.[5] Pertumbuhan ekonomi negara pun meningkat dengan semakin luasnya daerah kekuasaan Islam.[6]

Beliau juga melakukan penyusunan Al-Qur’an yang sebelumnya terdapat perbedaan dalam bacaannya. Mushaf tersebut dinamakan mushaf Utsmani. Semakin luasnya daerah kekuasaan Islam, jauh dari Mekkah maupun Madinah menimbulkan beberapa permasalahan di samping keuntungan yang diterimanya, yakni munculnya perbedaan cara baca Al-Qur’an yang diajarkan sebelumnya oleh para sahabat nabi Muhammad yang diutus untuk daerah tertentu. Perbedaannya mencangkup perbedaan bentuk bacaan serta bunyinya yang mana hal ini menyebabkan kelompok satu mengkafirkan kelompok yang lain.[7]

Melihat hal itu, Huzaifah bin Yaman melaporkannya kepada Utsman.[8] Utsman kemudian memberi amanah kepada sahabat nabi Muhammad yang memiliki hafalan yang baik, yakni Sa’id bin ‘As, Abdullah bin Zubayr, Zaid bin Sabit, dan ‘Abd al-Rahman bin Hisym untuk menulis kembali, memperbanyaknya, serta membagikannya dengan meminjam mushaf masa Abu Bakar pada Hafsah binti ‘Umar.

Lalu lembaga tukar tanah beliau dirikan yang berguna untuk pembagian tanah supaya produktif serta pendirian angkatan laut yang membuat rakyat harus membayar pajak lebih, juga pembentukan bendungan mengelilingi Madinah untuk mitigasi bencana banjir. Tak hanya itu, pembentukan jembatan, jalan, juga ruang tamu di beberapa titik serta perluasan Masjid Nabawi.[9]

Semakin luasnya daerah kekuasaan Islam, membuat banyak penduduk baru yang memeluk Islam serta perlu untuk belajar ilmu-ilmu pengetahuan agama Islam. Mereka mempelajari Al-Qur’an serta hadits-hadits langsung dari para sahabat. Cabang ilmu hadist pun semakin banyak dengan tingginya semangat masyarakat untuk mempelajarinya. Mereka diajarkan dengan metode sederhana sehingga mudah untuk dicerna serta dipahami. Pembelajarannya sering berlangsung di rumah-rumah, masjid, hingga kuttab.[10]

Masa pemerintahan Utsman termasuk lama, yakni 12 tahun yang mana di enam tahun terakhir masa pemerintahannya ia membuat kebijakan-kebijakan yang memicu kekacauan dalam umat Muslim. Semisal memberi jabatan tinggi pemerintahan pada kerabatnya. Dia membuat kebijakan sentralistik di mana menguasai semua pemasukan provinsi juga penetapan akuntansinya berasal dari keluarganya sendiri.[11]

Utsman juga melakukan pemberhentian gubernur atau pejabat daerah dan negara sebelumnya serta mengangkat gubernur atau pejabat daerah dan negara baru yang sering kali berasal dari kerabatnya yakni Umayyah sebagai pengganti. Hal ini juga dapat dilihat dengan pengangkatan Walid bin ‘Uqbah sebagai gubernur Kuffah, Abdullah bin Amir sebagai gubernur Basrah, Marwan bin Hakam sebagai Sekertaris negara, Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam yang mana dilakukan perluasan pada wilayahnya.[12]

Jika dilihat ke belakang, banyak kebijakan Utsman yang amat berbeda dari Umar bin Khattab, di mana pada masa pemerintahan Umar beliau begitu tegas sedangkan pada masa pemerintahan Utsman beliau cenderung banyak melakukan kelonggaran-kelonggaran.

Dalam eksekusinya pun yang menjalankan pemerintahan ialah Marwan bin Hakam. Utsman terlalu lemah serta tidak mampu berbuat apa-apa bagaikan boneka oleh kerabatnya, yang bahkan hanya menyandang gelar sebagai seorang khalifah saja. Beliau tidak tegas akan kesalahan yang dibuat oleh pejabat ataupun pekerja di pemerintahannya. Bahkan, dalam beberapa sumber dinyakan bahwa beliau membagikan harta negara kepada kerabatnya.[13] Hal ini menyebabkan rakyat merasa tidak puas, kecewa serta gelisah.[14]

Hal inilah juga yang menyebabkan banyak terjadinya pemberontakan-pemberotakan di akhir masa kepemimpinannya. Pada subuh hari Jumat bulan Dzulhijjah tahun 35 Hijriyah atau Juni 656 Masehi, beliau tewas ditangan pemberontak.[15] Pembunuhan Utsman ini akan memberi dampak pada pemerintahan Islam berikutnya, yakni Ali bin Abi Thalib.

Penulis, adalah mahasiswa Ekonomi Islam, UNPAD

sumber gambar: hisbah.net


[1] Philip K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005), h. 235.
[2] Muhammad Daniel, The Great Story Nabi & Khulafaur Rasyidin, (Solo: Al-Kamil Publishing, 2004), h. 244.
[3] Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara : Ajaran Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta : UI Press, 2008), h. 25.
[4] Ibid, h. 27.
[5] Dudung Abdurrahman dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern, Cet. ke-III,  (Yogyakarta : LESFI, 2009), h. 52.
[6] Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, (Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar, 2009), h. 15.
[7] Muhammad ‘Ali As-Shabuni, Studi Ilmu Al-Qur’an , terj. Aminuddin (Jakarta: Pustaka Setia, 1991), h. 108-110.
[8] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj. Maulana Hasanuddin, (Bogor : Litera Antar Nusa, 2001), h. 192.
[9] Ibid, h. 48.
[10] Soekarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Penerbit Angkasa, 2001), Cet. ke III, h.  65-67.
[11] Ibid.
[12] Mahmudun Nasir, Islam Konsepsi dan Sejarah, terj. Adam Effendi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993), h. 139.
[13] Dudung Abdurrahman dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern, Cet. ke-III, (Yogyakarta: LESFI, 2009), h. 55.
[14] Khalid Muhammad Khalid, Khulafaur Rasul, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), h. 241.
[15] Syalabi, Sejarah dan Kebudayan Islam, Jilid I, terj. Mukhtar Yahya, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983), h. 278-280.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar