Tips Bersedekah agar Tidak Tertipu!

Jiva Agung

Virus Corona dan keberkahan bulan suci membentuk sebuah rumusan unik bagi masyarakat Indonesia. Meskipun tentu saja banyak hal memilukan yang terjadi karena dampak Corona, namun karena Corona pulalah banyak orang yang tergerak hatinya untuk melakukan hal-hal mulia.

Saking terharunya, saya sampai sempat membuat status di FB sebagai bentuk apresiasi moril saya atas kedermawanan orang-orang Indonesia, yang mungkin belum tentu terjadi secara masif di negara-negara lain. Jadi tepat kiranya, sekali lagi saya ungkapkan, jika ada lembaga survei di Inggris yang mengutarakan bahwa Indonesia adalah negara yang paling derwaman di dunia.

Betapapun demikian kedermawanan pun harus tetap menggunakan “logika” sekaligus “intuisi” supaya sedekah yang kita berikan bisa tepat sasaran dan tidak “dimanfaatkan” secara salah. Cania Citta Irlanie di dalam Podcastnya juga pernah membahas soal ini di mana masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mempertimbangkan aspek efektivitas dalam bersedekah.

Contoh konkret yang beberapa hari ini sedang viral di medsos adalah video seorang kakek pembawa gerobak yang mengaku hanya berpenghasilan sekitar 1.500/hari. “Kenyataan” ini membuat warganet sontak terenyuh, hingga timbul inisiatif untuk membantu kakek tersebut. Tidak butuh waktu yang lama, bantuan tersebut segera tiba berturut-turut, baik atas nama pribadi maupun kelompok, ke rumah sang kakek yang konon bernama Abah Tono.

Belakangan diketahui bahwa hidup Abah Tono tidak sedramatir itu. Beliau, faktanya, memiliki rumah permanen dua tingkat dan sepeda motor. Menantunya pun membantah kalau Abah Tono sampai kesulitan mendapatkan makanan sebab dia sering memasak untuknya. Selain itu setiap bulan istri Abah Tono mendapat bantuan pangan non tunai dari pemerintah. Bukan hanya itu, setiap bulannya hidup mereka juga kerap dibantu oleh seorang pengusaha.[1]

Oleh karena itu, supaya kita tidak “tertipu” dengan kasus-kasus yang seperti itu, saya sarankan baiknya kita bersedekah dengan membuat suatu skala prioritas. Daripada membantu orang jauh yang kita tidak mengenalnya lebih baik bersedekah kepada orang terdekat terlebih dahulu. Jelas, kita dapat lebih mengetahui kondisi objektif mereka, apakah berkecukupan atau kekuarangan. Bukan hanya itu, bersedekah kepada orang yang lebih dekat dapat menjadi ajang untuk mempererat tali silahturahmi. Saya kira pandangan ini dapat ditemukan dalam al-Qur’an maupun hadis.

Misalnya, seseorang yang berprofesi guru atau kepala sekolah bisa bersedekah kepada teman guru lainnya, misalnya kepada yang masih berstatus honorer. Seorang kepala yayasan atau perusahaan (direktur) bisa bersedekah kepada karyawan-karyawannya. Kita bisa merunut ini tiada habis, tinggal disesuaikan dengan konteksnya masing-masing.

Selanjutnya, jujur saya senang ketika melihat hari ini banyak orang yang mendokumentasikan perbuatan baik mereka. Saya pikir ini adalah suatu hal yang bagus supaya dapat dilihat dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tapi kita perlu berhati-hati karena hasrat-hasrat riya, ujub, dan penyakit hati lainnya senantiasa menghantui kita. Oleh karenanya, niat yang lurus harus ditegakkan sekencang-kencangnya.

Tidak hanya itu, seperti yang saya ingat dari perkataan Aa Gym, kalau kita sudah bersedekah (atau berbuat hal baik lainnya) segera lupakan perbuatan tersebut. Kemudian lakukan perbuatan baik lagi, terus lupakan lagi. Tidak perlu menunggu atau mengharap rasa atau ucapan terima kasih, timbal balik, dan semacamnya dari si penerima.

Juga jangan sampai ada perkataan di dalam hati “kok dia tidak tahu terima kasih banget sih, padahal sudah pernah saya bantu.” Ucapan ini keluar karena sedari awal kita telah tidak ikhlas dalam beramal.
Demikian. Semoga kita bisa ikhlas, bijak, dan cerdas dalam bersedekah. []

Penulis, adalah penikmat kajian pendidikan, filsafat Islam, pemikiran, dan tasawuf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar