Sepak Terjang Kehidupan Jalaluddin Rakhmat


Jiva Agung
Lahir pada tanggal 29 Agustus 1949 di Bandung. Ayahnya merupakan seorang kyai sekaligus lurah di desanya, sedang ibunya merupakan seorang aktivis dakwah. Masa kecilnya, Kang Jalal, begitulah beliau disapa, sudah biasanya hidup di lingkungan keagamaan. Setiap sore, Jalal kecil menimba ilmu keislaman di madrasah. Sedangkan di malam harinya, ia mendapat bimbingan membaca kitab kuning dari ibunya sendiri. Tapi sayang, menurut penuturannya, ia hanya mendapat pendidikan agama sampai berada di akhir sekolah dasar[1].

Adalah perpustakaan negeri peninggalan Belanda merupakan tempat Jalal muda meneguk hasratnya yang menggebu untuk meraih ilmu. Di sana ia mulai membaca buku-buku filsafat yang akhirnya  memaksanya untuk belajar bahasa Belanda. Saat itu pemikirannya sangat terpengaruh oleh filsuf-filsuf besar semacam Spinoza dan Nietzsche. Adapun ilmu agamanya didapat dari kitab-kitab peninggalan ayahnya[2].  

Masa mudanya penuh dengan rasa keingintahuan yang begitu besar hingga membuatnya memasuki berbagai macam organisasi keagamaan, mulai dari bergabung dengan Persatuan Islam (Persis), aktif mengikuti diskusi dengan sebuah kelompok yang menyebut dirinya sebagai Rijalul Ghad, hingga Muhammadiyah. Pemahaman kemuhamadiyahannya itulah yang menyebabkan ia pernah menjadi sosok yang “fanatik” memberantas bid’ah, khurafat, dan  takhayul. Saat itu ia gemar berkonfrontasi dengan Nahdatul Ulama (NU)[3].

Setelah lulus SMA, Jalal muda berkesempatan untuk menimba ilmu di Fakultas Ilmu Komunikasi, UNPAD, Bandung, dan di saat yang sama ia pun menimba ilmu di Pendidikan Guru SLP, mengambil jurusan Bahasa Inggris. Kuliahnya sempat berhenti karena harus menikah, dan baru dapat dilanjutkan setelah ia mampu mengatur keadaan[4].

Jalal muda melanjutkan kuliah Master jurusan Komunikasi dan Psikologi di Iowa State Univeristy dengan menggunakan dana beasiswa Fullbright. Meskipun terkesan hebat jika berkesempatan kuliah di luar negeri, Jalaluddin Rahmat menyatakan bahwa dirinya lebih banyak memperoleh pengetahuan di perpustakaan universitas dibanding di dalam kelas. Berkat prestasi belajarnya ia memperoleh predikat magna cumlaude dengan perolehan 4.0 grade point average. Ia terpilih menjadi anggota Phi Kappa dan Sigma Delta Chi.

Sepulangnya ke Indonesia, ia mengabdikan hidupnya untuk mengajar di kampus tempat ia belajar dahulu, tetapi Kang Jalal juga mengajar beberapa mata kuliah –Ilmu Komunikasi, Filsafat Umum, Metode Penelitian, Etika dan Agama Islam– di kampus-kampus lain. Di luar kampus ia berdakwah, memberi ceramah dan seminar, juga berkhidmat kepada kaum mustadhafin, seperti membina masjid-masjid dan tempat-tempat kumuh yang di mana banyak terdapat gelandangan.

Kang Jalal termasuk orang yang berani menentang kedzaliman, siapapun pelakunya yang akhirnya menyebabkan dirinya seringkali berurusan dengan aparat militer, bahkan ia harus rela dipecat dari status pegawai negeri.

Sempat meninggalkan kampus tempat ia mengabdi, Kang Jalal pergi menuju Iran, tepatnya di Kota Qum untuk belajar mengenai ilmu irfany dan filsafat Islam dari para Mullah tradisional. Kemudian melanjutkan kuliah S3 di Australian National University (ANU).

Pulang ke Indonesia, secara khusus ia membina mata kuliah Mysticm (tasawuf) di Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Universitas Paramadina, yang Ia dirikan bersama-sama dengan Nurcholis Madjid, Haidar Bagir, dan Muwahidi di tahun 2002[5].

Oleh sebagian kalangan, Kang Jalal lebih dikenal sebagai sosok cendekiawan yang berpaham Syiah sebab ia merupakan salah satu dari sekian cendekiawan yang lantang menyuarakan mazhab Ahlul bait/Syiah kepada khalayak. Terlihat dari beberapa aktivitasnya pengajiannya yang memang sangat kental dengan tradisi-tradisi kesyiahan. Di tambah dengan keaktifannya sebagai Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), membuat mereka semakin yakin dengan kesyiahannya.

Kang Jalal juga sempat menjadi kepala sekolah SMU Plus Muthahhari yang konon menjadi pusat pendidikan agama berbasis mazhab Ahlus bait/Syiah di Bandung. Di Jakarta, bersama Haidar Bagir dan Umar Shahab, ia mendirikan Islamic Culture Center yang salah satu proyeknya ialah menerbitkan buku-buku terjemahan para ulama Syiah. Dua nama terakhir juga dicurigai oleh banyak kalangan sebagai cendekiawan/ulama yang bermazhab Syiah.

Di sisi lain, Kang Jalal memiliki concern terhadap kajian perkembangan tasawuf kota (tasawuf sufism). Bahkan, bisa dibilang dialah yang merintis kajian-kajian tasawuf dengan kelompok sasaran masyarakat-masyarakat kelas menengah atas perkotaan seperti, kalangan penguasaha, pejabat, politisi, selebritis, dan kalangan profesional dari berbagai bidang yang rata-rata berpendidikan baik (well education). Hal ini dapat dilihat, misalnya, ia mendirikan Pusat Kajian Tasawuf (PKT): Tazkia Sejati; OASE-Bayt Aqila; ICAS Paramadina; Islamic Cultural Center (ICC) di Jakarta, dan Misykat di Bandung[6].

Beberapa karyanya yang telah diterbitkan, seperti:
1.      Psikologi Komunikasi
1.      Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi
2.      Islam Alternatif
2.      Rindu Rasul
3.      Islam Aktual
3.      Dahulukan Akhlak di atas Fikih
4.      Renungan-Renungan Sufistik
4.      Psikologi Agama
5.      Retorika Modern
5.      Meraih Kebahagiaan
6.      Catatan Kang Jalal
6.      Belajar Cerdas Berbasiskan Otak
7.      Reformasi Sufistik
7.      Memaknai Kematian
8.      Jalaludin Rakhmat Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer
8.      Islam dan Pluralisme: Akhlak Alquran Menyikapi Perbedaan
9.      Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik
9.      Tafsir Sufi Al-Fatihah

Seputar Tasawuf

Perhatiannya yang cukup mendalam terhadap ilmu tasawuf dapat dilihat dari beberapa karyanya yang sarat akan nilai-nilai mistik, seperti bukunya yang berjudul Tafsir Sufi Al-Fatihah. Di bagian pertama ia mengungkapkan bahwa pada awalnya ia merasa enggan untuk menulis buku tafsir yang berbau sufi, sebab masih banyak kalangan yang menganggapnya sesat. Ia memaparkan[7],

“adjektif ‘sufi’ saja sudah menjadi padanan kesesatan. Sudah banyak buku ditulis, baik oleh orang awam maupun ulama, yang membahas kesesatan apa saja yang dinisbahkan kepada sufi: pemikiran sufi, praktik-praktik sufi, pengobatan sufi, dan sekarang tafsir sufi.”

Kemudian ia memperlihatkan sejarah fatwa sesat yang ditujukan kepada Abu Abdurahman As-Sulami oleh Ibnu Shalah, seorang ahli hadits dan fikih, saat menulis kitab tafsir sufistik yang berjudul Haqaiq Al-Tafsir. Keengganannya semakin menguat tatkala ia merasa terberatkan oleh syarat diperbolehkannya seseorang untuk menjadi penafsir sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ahli ulumul qur’an. Makanya ia mengatakan bahwa ia hanya penulis, maksudnya penulis tafsir, bukan mufassir[8].

“saya bukan mufassir. Saya hanya penulis. Saya hanya menyampaikan apa yang saya baca dari kitab-kitab tafsir. Saya hanya akan berbagi informasi. Saya hanya seorang ‘broker’ yang menjual informasi kepada pembaca. Saya hanya sebuah cerek kecil, yang menampung air dari berbagai sumber, kemudian mengalirkannya kepada siapapun yang kehausan. Karena itu jangan kecam dan jangan puci cereknya. Kecam dan pujilah orang yang memasukkan air ke dalam cerek itu.”

Di bagian kedua ia memaparkan kajian seputar tafsir dan takwil, apa yang membuat kedua berbeda dan bagaimana takwil dalam makna batiniah. Selanjutnya Kang Jalal menerangkan nama-nama lain dari surat Al-Fatihah dan fadilahnya. Sebagai pelengkap, pada bagian terakhir ia menyisipkan tafsir seputar isti’adzah. Mulai dari alasan mengapa seorang muslim perlu membacanya, fadilahnya, serta rukun-rukunnya. Sayang, buku ini memiliki kekurangannya tersendiri karena tidak ditemukannya penafsiran khas sufistik ayat-ayat Al-Fatihah yang berjumlah tujuh itu. Alih-alih, buku ini lebih terlihat seperti pedoman atau pengantar menuju penafsiran sufistik Al-Fatihah[9].

Hanya saja kita masih dapat sedikit melacak penafsiran Al-Fatihah ditulisannya yang lain seperti dalam buku Shalat dalam Perspektif Sufi[10] yang ditulis oleh sebuah tim yang mana Jalaluddin Rakhmat termasuk kontributornya. Dengan judul Ihdinash Shirathal Mustaqim: Perspektif Sufistik, Kang Jalal dengan mengutip pemaparan ulama kontemporer Syaikh Makarim Al-Shirazi mengungkapkan bahwa anjuran Allah terhadap seorang muslim untuk membaca ayat kelima ialah supaya ia senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya secara kontinu. Senada dengan ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib yang memahami ayat tersebut dengan harapan pengekalan bimbingan Allah kepada hambanya supaya ia senantiasa taat sepanjang hidupnya. Ia juga menyisipkan kisah yang diceritakan oleh Dzunnun Al-Misri, sufi kenamaan, untuk memberitahukan bahwa Allah seringkali melindungi/menjaga manusia tanpa diketahui olehnya. Kemudian ia menyandarkan pemahaman ini dengan ayat ke-76 surat Maryam di mana Allah berfirman, “Allah menambah orang-orang yang mendapat petunjuk itu dengan petunjuk lagi.

Yang dimaksud jalan yang lurus ialah meninggalkan penghambaan diri pada setan (keburukan) sembari beralih pada Allah semata sebagaimana tertera dalam surat Yasin ayat 60-61, “Bukankah Aku sudah berjanji kepadamu hai Bani Adam, janganlahkamu mengabdi kepada setan; dan ini musuh kamu yang jelas; tapi beribadahlah kepada-Ku saja. Ini jalan-Ku yang lurus.” dan ayat ke-101 surat Ali Imran, “barangsiapa yang berpegangan pada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”[11]

Betapapun, masih terlihat kecenderungan Kang Jalal yang tak bisa melepaskan dirinya dari penafsiran mazhab Syiah. Seperti pencantumannya pada salah satu riwayat yang menyatakan bahwa ketika Ja’far As-Shadiq (imam mazhab Syiah) ditanya tentang makna shirathal mustaqim, ia menjawab “yang dimaksud dengan jalan yang lurus ialah mengenai siapa imam kamu...demi Allah, kami ini –para imam– adalah shiratal mustaqim...[12]

Penulisannya seputar tasawuf juga tertera dalam buku Reformasi Tasawuf yang sebenarnya merupakan kumpulan tulisan Fikri Yathir –sebuah sisi kepribadian Kang Jalal– dalam rubrik Halaman Akhir di Majalah Ummat. Berpijak dari nilai-nilai etika dan moralitas quranik universal yang sarat dengan nuansa sufistik, Kang Jalal berusaha untuk menuangkan pergumulan pemikirannya dengan amat baik, sederhana, dan bersahaja. Meskipun diterbitkan pada akhir abad ke-20, tulisannya sungguh masih begitu relevan dengan perkembangan zaman[13].

sumber gambar: bbc.com

[1] Jalaluddin Rakhmat. (2010). Tafsir Kebahagiaan. Jakarta: Serambi, hlm. 7-8
[3] Ibid.
[4] Op cit, hlm. 8
[5] Ibid, hlm. 9
[6] Ibid
[7] Jalaluddin Rakhmat. (2012). Tafsir Sufi Al-Fatihah. Bandung: Mizan, hlm. 8
[8] Ibid,hlm. 9-10
[9] Ibid, hlm. 23-24
[10] Sukardi K.D (editor). (2002). Shalat dalam Perspektif Sufi. Bandung: Rosda, hlm. 131-143
[11] Ibid.
[12] Ibid.
[13] Jalaluddin Rakhmat. (1999). Reformasi Sufistik. Bandung: Pustaka Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar