Muslim Tradisional vs Muslim Reformis dalam Doa Buka Puasa

Robby Karman
Bagi setiap yang berpuasa Allah SWT akan menganugerahi dua kebahagiaan. Yang pertama adalah bahagia saat berbuka puasa dan yang kedua adalah saat bertemu Allah SWT kelak di akhirat. Begitulah bunyi hadits yang cukup populer di telinga kita, khususnya saat memasuki bulan Ramadhan.


Kandungan hadits tersebut benar adanya. Buka puasa adalah momentum yang paling dinantikan bagi seorang yang berpuasa. Panggilan azan Maghrib menjadi seruan yang paling ditunggu-tunggu di mana pada selain Bulan Ramadhan, rasanya jarang yang menantikan datangnya azan Maghrib. Berbuka puasa disunnahkan untuk disegerakan, dalam bahasa Arab, menyegerakan berarti takjil. Takjil kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi makanan pembuka untuk berbuka puasa.

Polemik Dua Doa Buka Puasa
Saat berbuka puasa sunnah lainnya adalah membaca doa berbuka puasa. Yang populer adalah Allahumma laka shumtu, wa bika aamantu, wa ‘alaa rizqika afthartu. Birahmatika yaa arhamar raahimiin. Doa ini sudah penulis kenal sejak kecil dan sudah tersebar di masyarakat. Arti dari doa tersebut: Ya Allah, untukmu aku berpuasa, dan kepadamu aku beriman, dan atas rizkimu aku berbuka. Dengan rahmatmu Wahai yang Maha Pemberi Rahmat.

Doa ini menjadi pegangan mayoritas Muslim di Indonesia, sampai kemudian muncul doa lain yang dianggap lebih sahih. Adapun doa yang pertama dianggap bersumber dari hadits dhaif karenanya tidak perlu diamalkan. Doa yang lebih sahih yakni Dzahaba zhama’u wabtallatil ‘uruurqu, wa tsabatal ajru, in syaa Allah. Artinya,

Kemudian muncul perdebatan antara yang menggunakan Allahumma laka shumtu dengan yang menggunakan dzahaba zhama’u. Masing-masing menganggap bahwa doanya sah untuk dipakai. Lantas perlukah perdebatan semacam itu? Atau justru sudah bukan saatnya memperdebatkan hal sepele seperti manakah doa buka puasa yang sah untuk dipakai?

Tentu sah-sah saja jika di masyarakat muncul perdebatan tentang doa buka puasa. Namun pertanyaan kritisnya, apakah bermanfaat mengulang-ulang perdebatan yang sama di mana argumennya berputar di situ-situ saja? Sebenarnya perdebatan semacam ini banyak terjadi dalam banyak topik kajian keIslaman. Namun yang akan dibahas penulis sekarang adalah soal buka puasa.

Penulis ingin mencoba menguraikan kemudian mencari solusi agar perdebatan semacam ini tidak dilestarikan menjadi tradisi di setiap bulan suci. Pertama mari kita analisis sanad dari masing-masing doa tersebut.

Kebolehan Mengamalkan Hadits Dhaif dalam Fadhail Amal
Berdasarkan penelusuran penulis terhadap beberapa sumber, doa Allahumma laka shumtu ada yang mengatakan dhaif dan ada pula yang mengatakan hasan. Doa Dzahaba zhama’u lebih kuat dibanding Allahumma laka shumtu, ada yang mengatakan sahih dan ada yang mengatakan hasan.

Secara sanad dua doa tersebut sama-sama ada perbedaan pendapat, walaupun memang lebih kuat Dzahaba Zhoma’u. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah doa yang kita lantunkan harus selalu berdasarkan hadits sahih? Bolehkah kita berdoa dengan hadits hasan atau dhaif?

Pada prinsipnya doa adalah permohonan seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam Al Qur’an dan hadits banyak sekali disebutkan perintah dan keutamaan berdoa. “Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian,” menurut Al Qur’an. “Doa adalah senjata orang mukmin,” menurut Sabda Rasulullah SAW. Walaupun banyak anjuran untuk berdoa, namun tidak ada perintah spesifik bahwa berdoa harus berdasarkan hadits sahih. Bahkan berdoa boleh dengan bahasa sendiri dan dengan bahasa non-Arab.

Tentu saja berdoa dengan lafal yang ada dalam Al Quran dan hadits mempunyai keutamaan tersendiri dibanding dengan bahasa sendiri. Kita tahu bahwa sebagian ayat-ayat Al Quran mengandung doa yang bisa kita amalkan. Misalnya doa Nabi Adam untuk memohon ampunan dan doa Nabi Musa untuk diberi kemudahan urusan. Ada juga doa Nabi Ibrahim yang memohon pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata.

Dalam hadits banyak pula ditemukan doa-doa yang kita amalkan sehari-hari, khususnya yang kita amalkan dalam ibadah mahdah seperti salat. Lantas bagaimana jika haditsnya tidak sahih? Penulis berpegang pada pendapat Imam Nawawi bahwa boleh mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail amal. Apa itu fadhailul amal? Yakni amal-amal yang menjadi keutamaan namun tidak jadi yang pokok dalam ibadah.

Jika ibadah mahdah seperti salat dan puasa menjadi amal ibadah yang primer sifatnya, maka fadhail amal adalah amalan-amalan sekunder atau tersier. Dalam Islam amalan tambahan untuk yang pokok disebut juga amalan sunnah atau nafilah. Karena doa bukanlah termasuk ibadah mahdah, dan termasuk ke dalam fadhail amal, maka tidak masalah jika hadits hasan atau dhaif untuk diamalkan.

Oleh karena itu menjadi tidak terlalu bermanfaat memperdebatkan mana yang benar antara Allahumma laka shumtu atau Dzhaba zhoma’u. Bahkan penulis sempat mempunyai pemikiran bagaimana jika dua-duanya saja dibaca. Saat akan berbuka membaca Allahumma laka shumtu, setelah minum segelas air membaca dzahaba zhoma’u.

Doa Buka Puasa dan Rivalitas Tradisionalisme vs. Reformisme Islam
Namun perebutan klaim kebenaran terhadap doa buka puasa kelihatannya tidak lagi sebatas perdebatan sahih dhaif, namun menjadi bagian dari konflik kaum muslim tradisionalis vs. Muslim reformis. Golongan tradisionalis berusaha memelihara tradisi yang sudah diwariskan dari para ulama sebelumnya. Sedangkan reformis mencoba menggali kembali kebenaran agama langsung dari sumber aslinya. Penulis melihat ada rivalitas tradisionalisme vs reformisme dalam polemik doa buka puasa ini.

Mungkin dugaan penulis terlalu berlebihan, walaupun berdasarkan pengamatan penulis demikian adanya. Kelompok tradisionalis mempertahankan doa yang sudah mapan yakni Allahumma laka shumtu, sementara kelompok reformis gencar mengkampanyekan ganti doa dari yang sudah mapan menjadi yang lebih sahih, yakni dzahaba zhoma’u.

Penulis walaupun dibesarkan dalam tradisi reformis namun berpendapat bahwa polemik ini sebaiknya disudahi. Doa buka puasa biar menjadi bagian dari keragaman cara beribadah. Keragaman artinya kita bebas memilih mana yang cocok untuk kita dengan tidak menyalahkan yang tidak kita pilih. Bahasa sederhananya, doa buka puasa dua-duanya benar!

Penulis, adalah Sekjen DPP IMM


sumber gambar: haibunda.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar