Menelusuri Jejak Prank yang Saat Ini Semakin Mengkhawatirkan

Jiva Agung

Belakangan ini sedang ramai soal Youtuber Ferdian Paleka yang nge-prank (membohongi, meskipun menurut asal katanya prank berarti berbuat jahil) kalangan transgender. Di dalam video tersebut, yang sudah di-take down oleh pihak YouTube, Paleka bersama temannya berpura-pura membagikan sembako kepada dua orang transgender yang ternyata isinya adalah sampah. Tindakannya ini segera mendapat kecaman banyak pihak, khususnya netizen, sampai akhirnya mereka dilaporkan ke pihak kepolisian setempat.

Hari ini YouTube dapat dikatakan telah menjadi media alternatif kawula muda untuk berkarya. Tanpa perlu memiliki syarat-syarat ketat, atau berlelah-lelah meraih gelar pendidikan yang tinggi, siapa pun diperbolehkan untuk meng-upload video yang telah dibuatnya. Bahkan, jika video tersebut laku, dalam arti banyak yang menonton, mereka akan mendapatkan sejumlah insentif.

Namun tidak semua orang mengedepankan kualitas konten yang dibuatnya—apalagi berniat mengedukasi atau menginspirasi. Sebagiannya hanyalah orang-orang yang mencari sensasi dengan harapan videonya menjadi viral. Dari sini dia akan mendapat beberapa keuntungan. Selain dirinya akan terkenal (menjadi Youtuber, sebuah sebutan yang sedang digemari anak zaman now) dia juga akan mendapat uang (dari Adsense). Dan inilah yang kemungkinan besar ada di kepalanya Paleka. Siapa sih yang tidak mau kaya mendadak?

Kalau kita mau jujur, sebenarnya konten yang seperti Paleka ini tidak sulit ditemukan, dan bukan suatu hal yang baru. Hanya saja belakangan ini, khususnya di Indonesia, sedang marak digemari oleh kalangan Youtuber, karena mungkin selain pembuatannya relatif mudah (tidak perlu mikir), juga banyak yang nonton. Saya tidak tahu secara pasti siapa orang Indonesia yang pertama-tama memperkenalkan konten prank ini, tapi kuat dugaan saya asalnya adalah dari Youtubers luar negeri.

Kita bisa melihat, misalnya, channel Angrypicnic (2.57jt subscibers) yang sudah membuat konten prank sejak 7 tahun yang lalu, namun mulai ditonton secara masif (lebih dari 1jt viewers setiap video) di 6 tahun belakangan. Di atas Angrypicnic, ada channel VitalyzdTv dengan jumlah subscibers yang jauh lebih besar, yakni 10.3jt. Dan channel ini bahkan sudah ada, dan membuat konten prank, satu tahun sebelum Angrypicnic.

Bahkan konten prank sudah lama muncul—dan juga lumayan digemari—sebelum diperkenalkan kembali oleh para Youtubers. Adalah Just For Laughs Gags, sebuah acara komedi bisu Kanada yang begitu niat “menjebak” orang-orang dalam berbagai situasi aneh oleh para aktor, semetara sebuah kamera tersembunyi merekam reaksi mereka. Acara ini pertama kali release pada tahun 2000, dan masih eksis sampai hari ini dengan total subscribers 9.96 juta. Dan kalau saya tidak salah ingat, program ini pernah disiarkan di Indosiar.

Saya sendiri menyukai acara ini. Tentu saja sekadar sebagai hiburan setelah penat menjalani hari. Selain itu, sebenarnya beberapa bulan yang lalu saya juga cukup intensif untuk menonton channel BigDawsTv (7.15 jt subs) yang suka nge-prank dengan cara-cara yang gokil. Walaupun bagi saya channel ini bukan hanya sekadar menghibur melainkan juga memperkenalkan saya mengenai budaya atau kebiasaan orang-orang Amerika.

Barangkali orang Indonesia pertama yang banyak terinspirasi, kalau enggan berkata meniru (karena banyak sekali kemiripannya), konten prank-nya BigDawsTv adalah channel Brandon Kent (1.33jt subs) yang sudah membuat konten tersebut sejak 4 tahun yang lalu. Sangat mungkin sejak diperkenalkan oleh Brandon, konten prank mulai digemari oleh netizen Indonesia hingga akhirnya menjamur seperti sekarang ini.

Kalau kita mau nge-zoom pola dan tindakan prank yang ada, kita akan dapat membaginya menjadi tiga: yaitu pertama prank yang sangat buruk karena dampaknya yang merugikan orang lain (baik secara psikis maupun fisik). Dan aksi Paleka jelas ada di kategori ini.

Kalau mau tahu siapa yang paling sering melakukan prank jenis ini, silakan rujuk channel-channel prank dari Youtuber India, yang menurut saya sudah kebablasan, misalnya channel Mouz Prank (381rb subs) yang sudah melakukannya sejak 2 tahun lalu, atau channel Bhasad News (1.11jt subs) yang sudah melakukannya satu tahun lebih awal dibanding Mouz Prank.

Kedua, adalah prank yang sedikit/agak merugikan. Ini yang banyak dilakukan oleh seluruh Youtuber di mana pun.

Terakhir, adalah prank yang “positif”, karena meskipun menjahili atau membohongi orang, tapi orang yang dibohongi tidak rugi bahkan merasa terhibur. Contohnya adalah konten prank taxi online-nya channel Angga Candra (5.51jt subs). Dia menyamar menjadi driver taxi online, lalu bernyanyi dengan suara sumbang, tapi kemudian pada akhirnya dia mengeluarkan suara yang sesungguhnya—yang sangat merdu (bisa cek sendiri kalau enggak percaya, hhe) sehingga membuat customer-nya merasa sangat terhibur dan puas.

Sejatinya ketiga pola prank ini terus berdinamika, berkembang, bermutasi, tapi juga bergerak tak terkendali karena setiap Youtuber mencoba untuk melakukan hal-hal yang baru, yang biasanya berdasarkan tantangan yang diajukan oleh penonton setianya via kolom komentar.

Jika mau meminimalisir pola prank yang pertama dan kedua, tidak ada cara yang lain selain harus mau memulai untuk belajar tidak menyukai sembari tidak memberi ruang terhadap suatu tindakan yang sebenarnya buruk namun otak reptil kita seakan menikmatinya. Selama kita masih merasa nikmat (termasuk cuek) melihat orang menderita, meskipun konteksnya dianggap “bercanda”, maka selama itu pulalah konten prank terus hadir.

sumber gambar: urbanasia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar