Membincang Ferdian Paleka dan Youtuber Santri yang Membelanya

Robby Karman
Ferdian Paleka, seorang Youtuber yang sedang naik daun karena aksinya. Bukan hanya terkenal, Ferdian sempat menjadi buronan karena melarikan diri dari kejaran polisi. Hal ini diawali dengan aksinya melakukan prank atau aktivitas mengerjai orang lain. Demi sebuah konten Youtube, Ferdian dengan beberapa kawannya memberikan kardus berisi sampah dan batu kepada transpuan dan anak-anak. Hal ini memancing kemarahan para transpuan, juga netizen.

Warganet tak henti menghujat Ferdian dan mengecam aksinya. Bahkan rumah Ferdian di Kabupaten Bandung sempat didatangi massa yang marah karena ulahnya. Pada akhirnya komunitas transpuan melaporkan Ferdian dan membawanya ke jalur hukum. Ferdian yang tak kooperatif melarikan diri ke luar kota. Akhirnya Ferdian ditangkap dan ditahan polisi, kabar yang beredar yang bersangkutan terancam hukuman 12 tahun penjara.

Pasca aksinya, Ferdian menjadi trending topic warganet. Terlebih beredar video bahwa dia meminta maaf tapi diakhiri dengan kata “tapi boong”. Perilaku Ferdian memantik kegeraman dari warganet yang diekspresikan dengan cacian dan hujatan di media sosial. Jika dahulu kita mengenal istilah sanksi sosial untuk hukuman yang diberikan masyarakat, hari ini ada hukuman jenis baru, namanya sanksi media sosial.

Menariknya, di tengah cacian dan hujatan terhadap Ferdian, ada Youtuber dari kalangan santri membela Ferdian. Alasan Youtuber ini karena Ferdian mengerjai seorang transpuan, yang menurutnya dalam Islam menjadi transpuan adalah suatu tindakan terlarang (haram). Jadi apa yang dilakukan Ferdian justru bagus, menurut Youtuber ini. Malah dengan ekstrem dia mengatakan hukuman bagi transpuan seharusnya dibunuh saja.

Tak ayal video YouTube santri satu ini banjir komentar negatif seperti yang menimpa Ferdian. Sang Youtuber harus menutup kolom komentar youtubenya. Lalu yang bersangkutan membuat video klarifikasi, walaupun isinya tetap tidak memperlihatkan bahwa dia menyesal.

Penulis tentu tidak setuju dengan sikap Ferdian yang melakukan prank merugikan orang lain. Menurut penulis reaksi warganet pun bisa dimaklumi walaupun sebenarnya termasuk ke dalam cyber bullying. Sikap Ferdian yang tidak kooperatif dan tidak menunjukan penyesalan sejak awal membuat dia pantas menerima sanksi medsos tersebut.

Penulis juga tidak sepakat dengan video YouTube seorang santri tadi walaupun penulis tidak beranggapan bahwa menjadi transpuan itu baik menurut agama. Memang dalam agama transpuan tidak ditolerir. Namun hal tersebut tidak berarti kita boleh menyakiti apalagi mengancam nyawa transpuan. Kalau kita tidak setuju dengan transpuan ya dakwahi saja supaya kembali ke jalan yang benar. Namun tidak dibenarkan sewenang-wenang terhadap mereka dengan dalih agama.

Terlepas dari peristiwa yang sudah terjadi dan polemik yang menyertainya, namun terlintas dalam benak penulis sebuah pikiran. Ferdian adalah anak muda yang melakukan kenakalan, yang mungkin melampaui batas. Namun apakah berarti dia sudah tak punya masa depan? Apakah kasus yang terjadi sekarang adalah akhir dari segalanya bagi dia? Penulis sepakat jika memang dia pantas mendapat hukuman, tentu yang setimpal dan seadil-adilnya.

Namun setelah itu, tentu kita berharap bahwa Ferdian bisa membuka lembaran baru kehidupannya dan tidak mengulangi kesalahannya. Kita tentu juga berharap dia bertobat secara otentik, kalau tidak dan malah mengulangi kesalahannya maka mungkin perlu dihukum sekali lagi. Maka perlu ada pendampingan psikologis bagi dirinya untuk membantu menyadarkannya. Bukan hanya Ferdian, namun siapa pun yang melakukan kesalahan selalu punya kesempatan untuk berubah. Bukankah Tuhan Maha Pemaaf?

Narasi-narasi berubahnya seseorang dari pelaku kejahatan atau maksiat menjadi orang baik masih jarang ditemui dalam konten media sosial kita. Kebanyakan hanya narasi kejahatan yang memancing warganet untuk menjadi pencaci dan penghujat. Narasi hijrah pun masih sebatas berubah dari tidak saleh menjadi saleh secara spiritual, masih jarang hijrah dari pelaku kriminal menjadi pahlawan kebaikan. Tentunya jika sudah banyak narasi semacam ini, tentu semoga kita bisa memaafkan seseorang sekelam apa pun masa lalunya.

Penulis, adalah Sekjend DPP IMM

sumber gambar: suara.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar