Konflik-Konflik Di Masa Ali bin Abi Thalib

Jiva Agung

Ali bin Abi Thalib lahir pada Jum’at, 3 Rajab di Mekkah yang merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad.[1] Beliau merupakan anak dari Abu Thalib, paman nabi. Dia menikahi Fatimah, putri nabi Muhammad.  Ia banyak membantu nabi semasa hidup dalam penegakkan agama Islam serta merupakan seorang yang memiliki wawasan maju, memegang teguh tradisi, pemberani, penuh semangat, serta seorang penasehat hukum yang bijaksana. Seiring dengan seringnya interaksi beliau dengan nabi Muhammad membuat Ali memahami nabi lebih baik dari sahabat yang lain, juga beliaulah yang mengurus pemakaman nabi bersama anggota keluarganya yang lain.[2] Ali memiliki banyak sekali gelar, mulai dari al-Haidar, Abu al-Hasan, hingga Amir al-Mu’minin.[3]

Pemberontak yang membunuh Utsman mendesak Ali untuk diangkat menjadi khalifah. Akan tetapi, pemilihan Ali bin Abi Thalib dilaksanakan melalui proses pertemuan dan pemilihan terbuka yang jauh dari kata sempurna. Madinah sedang dalam keadaan kosong, yang mana banyak senior tokoh Islam sedang tidak berada di sana. Madinah hanya sedang diisi oleh beberapa senior saja, yakni Abdullah bin Umar dan Saad bin Abu Waqqash. Ali pun juga menolak paksaan dari para pemberontak ini dan menyatakan bahwa yang berhak menentukan penerus pemerintahan ialah peserta perang Badar, yakni Zubair, Thalhah, dan Saad. Kemudian mereka bertiga berbaiat kepada Ali yang diikuti oleh kaum Ansar dan Muhajirin.[4]

Akan tetapi, hal ini tetap menimbulkan ketidaklegalan proses pengangkatan Ali oleh sebagian masyarakat, terutama dari golongan Muawiyah.[5] Pidato utamanya usai dilantik menjadi khalifah ialah, pengamanan akan umat Islam di mana diharamkan saling merugikan serta melukai sesama Muslim tanpa adanya alasan yang legal di mata hukum, serta menyatakan bahwa turunnya Al-Qur’an yang berisi kebaikan dan keburukan di mana kita harus mengikuti yang baik dan menjauhi yang buruk.[6]

Saat memegang jabatan sebagai seorang khalifah, Ali melakukan pemecatan pejabat pemerintahan yang diangkat semasa pemerintahan Utsman serta mengambil kembali tanah yang dihibahkan Utsman pada penduduk melalui penyerahan pendapatannya ke negara juga pemakaian kembali sistem disribusi pajak tahunan umat Islam yang telah dilaksanakan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.

Dominasi dan kekuasaan umat Islam sejak masa Utsman semakin lemah dan lambat. Perpecahan pun tak dapat dihindari. Hal ini disebabkan terutama oleh kepemimpinan yang lemah, usia yang lanjut, serta nepotisme yang menempatkan kerabatya duduk di tingkat tinggi pemerintahan tanpa kecakapan mereka. Puncaknya ialah saat terbunuhnya Utsman ditangan pemberontak. Keadaan yang pecah ini juga terus berlanjut saat pemerintahan di tangan Ali bin Abi Thalib. Beliau menghadapi banyak sekali pemberontakan saat masa pemerintahannya. Pendidikan pun tidak dapat berkembang pesat dengan keadaan keamanan negara yang tidak baik. Menurut Ali, masalah yang sangat urgent ialah pemberian jaminan keselamatan, ketertiban, dan keamanan warga negaranya. Aisyah juga melakukan pemberontakan kepada Ali bersama Thalhah bin Ubaidillah serta Zubair bin Awwam dengan dalih mencari pembunuh Utsman bin Affan yang dikenal dengan nama Perang Jamal.[7]

Perang ini ialah suatu kemalangan yang sangat memprihatikan. Umat Islam justru malah saling memerangi satu sama lain serta meyakini bahwa mereka yang membawa kebenaran dan yang lainnya tidak. Tak satu pihak pun yang ingin mengalah. Akan tetapi, mereka semua yang bertikai memahami bahwa pertikaian ini tidak akan berakhir di perang terbuka di mana pertumpahan darah akan jatuh. 

Mereka tetap berharap adanya jalan tengah sebagai titik temu keduanya dan damai akan terwujudkan. Qa’qa bin Amr kemudian dikirimkan oleh Ali kepada Zubair serta Thalhah. Qa’qa menemui Aisyah pertama kali sesampainya di Basrah menanyakan sebab ia datang dan alasan melakukan pertikaian ini. Aisyah pun menjawab, bahwa ia hanya hendak membuat koreksi atau rekonstruksi di masyarakat. Qa’qa kemudian pergi menuju tempat Zubair dan Thalhah untuk menanyakan hal yang sama dan mereka menjawab hal serupa dengan yang Aisyah katakan.[8]

Qa’qa melanjutkan dengan berkata bahwa, katakanlah yang kalian inginkan kepadaku, jika hal tersebut dapat diterima kami pun akan mendukung namun jika tidak kami pun menentangnya. Mereka menjawab bahwa menginginkan pembunuh Utsman mendapat balasannya dan jika hal tersebut diabaikan maka sama saja dengan membunuh kaidah al-Qur’an juga jika melaksanakannya berarti menjalankan kaidah al-Qur’an.

Kemudian, Qa’qa berkata bahwa pembunuh Utsman sudah kalian bunuh dan kalian sekarang lebih dekat dengan kebenaran, kalian pun melihatnya sendiri bahwa enam ribu orang marah atas pembunuhan tersebut dan mengusir pergi kalian.

Thalhah, Zubair, serta Aisyah pun terkesima dengan perkataan Qa’qa, seraya berkata bahwa kau benar Qa’qa, kembalilah kamu ke Ali dan jika ia memiliki pendapat yang sama dengamu maka pertikaian ini akan selesai. Ia pun kembali menuju ke Ali seraya melaporkan hasil kepadanya. Ali juga terkesima kepada Qa’qa atas kemampuan diplomasinya ia bahagia bahwa kata “damai” sudah di depan mata.

Sebagaian umat Islam bersyukur namun sebagiannya lagi tidak menyukainya, salah satunya ialah para pemberontak Utsman bin Affan. Malam harinya, para pemberontak Utsman ini melakukan rapat atas damainya Aisyah dan Ali. Hasil akhirnya, mereka sepakat bahwa mereka akan melakukan perang secara sembunyi-sembunyi.

Esok pagi butanya, mereka memulai serangannya. Kelompok Aisyah pun menyangka bahwa ini merupakan jawaban Ali atas hasil diplomasi yang disampaikan Qa’qa kepadanya. Ali pun berkata pada pihaknya untuk mundur tapi tidak ada yang mendengar. Paginya, Aisyah baru menyadari ada peperangan seraya berkata pada pasukannya untuk berlindung. Aisyah pun menunggangi kuda serta membawa pedang dan dibawa oleh pasukannya ke tempat yang lebih aman.

Ali pun mencari Thalhah dan Zubair untuk berbincang mengenai peperangan ini dan mereka sepakat untuk bertemu. Ali pun berkata kepada Thalhah dan Zubair ketika bertemu dan menanyakan kepada mereka, apakah mereka ingat sabda nabi Muhammad kepada mereka yang dijawab oleh Zubair bahwa ia mengingatnya dan jika ia ingat akan sabda tersebut ia tidak akan berbuat seperti ini juga tak akan pernah memerangimu, wahai Ali, jawabnya dengan penuh penyesalan.

Lalu, Zubair pun pergi meninggalkan medan perang untuk menuju Madinah. Sayang, di tengah jalan Amr bin Jurmuz melihatnya dan membututinya. Ketika Zubair istirahat sejenak di masjid sekitar untuk menunaikan sholat, ia dibunuh.

Thalhah pun mengikuti jejak Zubair, yakni mundur dari peperangan. Ia pun diikuti oleh Marwan bin Hakam yang menyakini bahwa Thalhah-lah yang menghalangi bani Umayyah menjadi pemimpin pemerintahan yang kemudian membunuhnya.

Hingga siang hari, peperangan terus berlanjut dimana pasukan Aisyah berhasil dipukul mundur pasukan Ali. Selama peperangan, pasukan Kuffah melindungi Aisyah, yang terdiri atas Bani Azd dan Bani Dhabbah. Ali kemudian berpikir bagaimana perang ini dihentikan. Kemudian, ia memahami bahwa unta Aisyah harus dirobohkan jika perang ingin diselesaikan tetapi hal tersebut tidak mudah dengan perlindungan dari Bani Azd dan Bani Dhabbah.

Saat perang sedang runcing munculah ide seorang lelaki dari bani Dhabbah bahwa, hal ini akan membuat kabilahnya tidak diuntungkan dan semua kabilahnya akan terbunuh dan hilang dari sejarah jika unta Aisyah tidak dirobohkan. Lalu, ia pun diam-diam memenggal kaki unta Aisyah. Unta Aisyah pun roboh dan kemudian Aisyah dibawa Ammar bin Yasir dan Muhammad bin Abu Bakar.
Aisyah pun menuju Mekkah dan melakukan ibadah haji di sana. Setelah itu, ia menuju Madinah. Aisyah amat menyesal akan sikapnya untuk ambil alih dalam Perang Unta selama sisa hidupnya. Ia menyatakan bahwa hal tersebut merupakan kesalahan ijtihadnya memutuskan cara untuk meluruskan keadaan yag terjadi di masyarakat.

**

Kebijakan pemecatan yang dilakukan Ali sangat tidak disukai oleh kerabat Utsman, yakni Umayyah. Kemudian mereka melakukan pertempuran di Damaskus setelah usai Perang Unta. Ali bersama tentaranya pun pergi ke Damaskus usai Perang Unta dan bertemu di Siffin.

Alasan klasik yang Muawiyah katakan perihal pemberontakan yang ia lakukan ialah ingin menuntut kematian kerabatnya, yakni Utsman bin Affan dan jika Ali tidak bisa menemukannya maka harus turun dari jabatannya sekarang.

Dalam perang ini sebenarnya dapat dimenangkan oleh pasukan Ali dan pasukan Muawiyah hampir kalah. Muawiyah kemudian teringat saran dari Amr ibn al-‘As yakni memberi komando pada tentaranya untuk menaruh halaman Al-Qur’an sebagai tanda perdamaian melalui arbitrase. Ali yang melihat hal tersebut, menyetujuinya walau ada sebagian pasukannya yang curiga dan tidak menginginkan hal tersebut.

Abu Musa al-Asy’ari diutus oleh Ali sebagai utusan untuk melakukan arbitrase dengan pasukan Muawiyah dan ‘Amr bin al-‘As diutus oleh Muawiyah. Hasil arbirase tersebut yakni pencabutan jabatan keduanya, baik Ali maupun Muawiyah dan akan diumumkan secara publik. Abu Musa pun mengumumkan dihadapan publik bahwa Ali mundur dari jabatannya sebagai khalifah namun ‘Amr bin’As tidak mengumumkan dihadapan publik mengenai mundurnya Muawiyah dari jabatan gubernurnya bahkan malah mengumumkan pengangkatan Muawiyah sebagai khalifah.[9]

Hal ini tentu sangat merugikan Ali dan memutuskan untuk menyerang pasukan Muawiyah namun hal tersebut dihalangi dengan pecahnya pasukan Ali yag bernama Khawarij. Golongan ini tidak meyukai arbitrase dengan Muawiyah dan menganggap bahwa yang menyetujuinya ialah kafir.

Muawiyah juga tidak mau bertekuk lutut atas Ali. Pasukan Muawiyah mampu mengalahkan pasukan Ali yang jumlahnya berkurang di Mesir serta mengangkat ‘Amr bin ‘As sebagai gubernur Mesir. Walau begitu, Ali mampu membinasakan 4.000 golongan Khawarij namun di tengah pembinasaan tersebut ia dibunuh ‘Abd al-Rahman bin Muljam dari golongan Khawarij. ‘Abd al-Rahman bin Muljam kemudian dihukum mati dengan cara dibakar atas perbuatan pembunuhannya terhadap Ali.[10]

Ali berjuang untuk menyatukan umat Islam yang terpecah-belah namun tidak berhasil. Pada masa pemerintahannya banyak sekali muncul ambisius dan egoisme kekuasaan dari berbagai pihak yang membuat umat Islam terpecah-belah demi kepentingan pribadi mereka masing-masing.

sumber gambar: idntimes.com


[1] Syed Hussain Moh. Jafri, Moralitas Politk Islam, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), h. 13.
[2] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam I, Cet. ke-VIII, (Jakarta: Penerbit Pustaka Alhusna, 1994), h. 281.
[3] Sayyid Sulaiman Nadwi, Ali bin Abi Thalib, terj. Abdul Aziz (Jakarta: Kaysa Media, 2015), h. 2-3.
[4] Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara : Ajaran Sejarah dan Pemikiran, Ed. Ke-V, (Jakarta : UI Press, 2008), h. 27.
[5] Ibid, h. 30-31.
[6] Ibid, h. 29.
[7] Ibid, h. 32.
[8] Sulaiman An-Nadawi, Aisyah : The True Beauty, (Jakarta : Pena Pundi Aksara, 2007), h. 205-207
[9] Hitti, History of the Arabs, h. 226.
[10] Muhammad Fathurrohman, History of Islamic Civilization, (Yogyakarta : Garudhawaca, 2017), h. 90-92.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar