Islam dan Tradisi IQRA

Haryono Kapitang

Islam agar mampu menjadi umat yang mencerahkan semesta harus mengedepankan tradisi Iqra (Bacalah!). Hal ini berangkat dari risalah Islam yang pertama kali diterima oleh Baginda Muhammad SAW di Goa Hirah.

Namun yang harus menjadi perhatian kita bersama ialah perintah iqra yang diterima Muhammad SAW bukanlah sembarang iqra, melainkan iqra yang bersifat profetik dengan “menyebut nama Tuhan (Allah)” dan transformasional pada tatanan masyarakat.

Menurut Qurais Shihab, kata iqra atau membaca memiliki arti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, menliti, mengetahui ciri-cirinya, dan sebagainya. Perintah membaca mengandung arti agar manusia memiliki pengetahuan dan informasi, serta di dalam melakukan aktivitas membaca senantiasa mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT serta memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Jika kita menelusuri sejarah, kondisi masyarakat Arab yang dulunya jahil, di bawah pimpinan Muhammad SAW dan pemimpin setelahnya berhasil menjadikan Arab peradaban yang besar dan mencerahkan peradaban dunia lainnya.

Sebagai contoh pada masa kepemimpinan Harun Al-Rasyid, Ini merupakan era keemasan bagi peradaban Islam, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, disisi lain beliau juga mendirikan perpustakaan baitul hikmah sebagai pusat keilmuan umat Islam, pada saat yang sama di masa kepemimpinannya percetakan pertama di Baghdad didirikan pada tahun 793 M, hal tersebut dikarenakan tingginya tradisi iqra dan kecintaan pemimpin umat Islam terhadap ilmu pengetahuan.

 Tim Wallace-Murpy dalam bukunya we in the West owe a debt to the Muslim world that can be never fully repaid mengatakan “Agama Islam telah memberikan inspirasi yang begitu besar di masa lalu” bahkan ia tidak tanggung-tanggung untuk mengajak koleganya memberikan penghormatan terhadap agama Islam atas apa yang telah dicapainya.

Prestasi-prestasi yang diperoleh umat Islam pada masa lampau tidak didapatkan dengan serta merta melainkan dengan melakukan pengembangan tradisi iqra atau membaca. Mulai dari membaca teks Al-quran, hadist, kitab dan juga membaca realitas yang terjadi dimasyarakat.

Dalam rangka menuju transformsi sosial, membaca Al-quran ataupun membaca yang lainnya tentu saja tidak hanya sekedar membacanya tetapi membaca dengan penuh penghayatan serta mengunakan nalar kritis. Tradisi iqro seperti itu lah yang dilakukan oleh umat Islam pada masa lampau sehingga mampu menciptakan peradaban yang berkemajuan dan pencerahan terhadap alam pikiran.

Tradisi Iqra Ala K.H Ahmad Dahlan
K.H Ahmad Dahlan adalah tokoh pembaharu Islam dan juga sebagai pendiri salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah. Berangkat dari tradisi iqro-nya yang kuat dan penuh penghayatan, ia kemudian mengejawantahkan apa yang ia pahami untuk melakukan transformasi sosial.

Surah Al-Ma’un salah satu surah dalam Al-Quran menjadi satu diantara landasan teologis yang diejawantahkan sehingga berdirinya Muhmmadiyah. Dalam hal ini K.H Ahmad Dahlan tidak hanya memahami Al-Quran secara tekstual, melainkan sampai kepada tatanan kontekstual.

Dengan tradisi iqro-nya yang kuat kemudian melahirkan nalar kritis K.H Ahmad Dahlan terhadap realitas masyarakat pada waktu itu. Banyak masyarakat yang terjebak pada praktik perdukunan, mistis dan seagainya yang sejatinya bertentangan dengan ajaran Islam. Namun K.H Ahmad Dahlan dengan kecerdasannya serta keilmuan yang ia miliki sehingga ia mampu merubah tradisi tersebut dengan ilmu pengetahuan sebagai basis gerakan pencerahan dan pembaharuan.

Apa yang dilakukan K.H Ahmad Dahlan dan pencapaianya menjadi bukti konkrit betapa pentingnya menjaga tradisi iqro serta mengembangkannya ke ranah praksis untuk mencapai Islam yang mencerahkan dan berkemajuan.

Bahkan Muhammadiyah bisa berdiri tegak hingga saat ini disebabkan tradisi iqro yang mengakar begitu kuat dalam tubuh Muhammadiyah itu sendiri. Kalau saja tradisi iqro tidak mengakar dan dikembangkan  maka tidak mungkin Muhammadiyah bisa berdiri setegak ini dan melakukan banyak pembaharuan.

Urgensi Tradisi Iqro Saat Ini
Tentu saja tradisi iqra menjadi hal yang urgen dan sangat penting untuk diperhatikan, pasalnya roda kehidupan terus berputar dan ilmu pengetahuam terus berkembang. Artinya zaman tidak hanya menetap pada satu zaman melainkan akan terus mengalami pergantian. Dalam hal ini umat Islam khususnya kaum muda sebagai generasi penerus harus mampu menjawab tantangan zaman. Bagaimana memperoleh kemampuan tersebut?

Kemampuan tersebut dapat diperoleh dengan merawat tradisi iqro dan mengembangkannya, sehingga dengan begitu kemudian akan melahirkan nalar kritis yang dapat membawa perubahan pada tatanan sosial. Pengejawantahan teks dari hasil pembacaan menjadi sebuah keharusan dalam praktik pencerahan dan kemajuan. Ini harus kita pahami bersama.

Jangan sampai kita umat Islam kembali mengalami kecelakaan sejarah seperti yang terjadi pada abad pertengahan, era dimana umat Islam mengalami kemunduruan disebabkan lemahnya tradisi membaca, baik itu membaca buku, kitab, maupun membaca realitas sosial yang terjadi.

Praktik taklid buta tumbuh subur, kebodohan merajalela, penindasan terhadap umat Islam terjadi dimana-mana. kemampuan membaca hanya sampai pada tatanan tekstual, tidak sampai kepada tatanan perubahan sosial.

Maka dari itu, sekali lagi bahwa tradisi iqro harus terus dirawat dan dikembangkan kemudian diejawantahkan ke ranah praksis pencerahan dan pembaharuan sehingga dapat mewujudkan suatu proses dimana umat Islam dapat mencapai kualitas hidup.

Penulis, adalah mahasiswa jurusan PAI di UAD dan Kabid RPK PC IMM Bantul.

sumber gambar: steemit.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar