Halah, Masih Percaya Kalau Kita Kembali Fitri?


Jiva Agung
Meskipun suara takbir dari speaker masjid terus saling sahut-menyahut dari maghrib hingga pagi hari, sehingga membuatku sulit tidur, rasanya takbiran tahun ini tidak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya, hambar... sehambar hatiku tanpa kamu, ehemm.  

Lalu, aku juga sebenarnya agak malas untuk mempraktikkan budaya parade nebar ucapan maaf. Memang sih niatnya bagus, tapi menurutku karena sudah membudaya, ucapan tersebut jadi malah terkesan tanpa makna, atau seperti yang sudah katakan sebelumnya, hambar. Ngaku saja, kalian merasakan hal yang sama bukan? Buat apa kita meminta maaf atas sesuatu “kesalahan” yang kita sendiri tidak tahu apa salahnya. Terus, buat apa juga harus bermaaf-maafan dengan seseorang yang kita jarang berinteraksi dengannya. Lucu ya!

Daripada melakukan hal yang sebenarnya absurd, lebih baik kita me-ruh-kan kembali kata maaf itu. Coba deh buat lebih berkualitas. Misalnya, kamu meminta maaf secara langsung (kalau tidak bisa, ya via telepon) kepada orang yang sudah kamu kecewakan, kamu tipu, kamu rundung (bully), kamu gibahkan, kamu tusuk dari belakang, dll. Minta maaf yang setulus-tulusnya. Bukan sekadar gerak bibir.

Atau sebaliknya, kamu memafkan orang-orang yang pernah mengecewakan kamu, mereka yang menipu kamu—padahal kamu sangat mempercayainya, atau orang yang sudah begitu lama kamu benci. Kalau kita tidak melakukan ini, dan hanya sekadar mengucap memosting kata-kata maaf yang sangat general, kembali ke fitrah cuma omong kosong.

Setelah dipikir-pikir, sebenarnya kita ini tidak pernah ke mana-mana kok. Ga usah sok-sok’an ngaku kembali fitri (fitrah), atau meraih kemenangan lah, atau dengan pedenya ngucapin minal aidin wal faizin. Suwer, kita belum memenangkan apa pun, bahkan untuk sekadar di level terbawah (nafsu makan-minum).

Di bulan Ramadhan pengeluaran untuk makan dan minum malah semakin banyak. Kita serigkali kalap, sampai membeli segala hal. Tidak aneh kalau di bulan Ramadhan berat badan kita malah jadi bertambah. Jujur saja, kita hanya semangat di minggu pertama. Minggu kedua dan ketiga sudah mulai menurunkan speed. Dan di minggu terakhir pikiran kita sudah tidak bisa menahan untuk membeli barang-barang diskonan—yang barangkali tidak kita butuhkan.  

Puasa yang orientasi intinya adalah derajat takwa (kesadaran untuk bisa menghindar atau menjauhi diri dari keburukan) menguap tanpa jejak, bahkan sebelum bulan Ramadhan berakhir. Untung saja bunyi ayatnya bukan “puasalah! pasti kamu akan menjadi orang yang bertakwa” tapi la’allaqum tattaq├╗n (moga-moga) yang berarti ada syarat dan ketentuan berlaku.

Itu baru di level terendah, belum lagi nafsu-nafsu lainnya. Kita masih suka emosional, menebar kebencian, hoaks. Tangan kita tidak bisa ditahan untuk berkomentar buruk di media sosial. Mata kta tidak bisa ditahan untuk melihat bokep. Mulut kita tidak bisa ditahan untuk menggibah.

Tidak ada perubahan perilaku, juga nihil orientasi transformasi sosial. Orang miskin tetap banyak, rakyat masih terus tertindas, sistem dan peraturan tidak memihak yang lemah, atau perempuan dan anak-anak yang terus mengalami kekerasan—bahkan menurut satu survei mengalami kenaikan di masa pendemi ini.  

Ramadhan, maafkan kami yang munafik ini.


sumber gambar: regional.kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar