Abu Bakar dan Kebijakan-Kebijakan Politiknya

A.D Rizka Maulia
Islam terpecah menjadi dua golongan setelah Nabi Muhammad wafat, yakni Sunni dan Syiah. Hari ini pengikut Sunni berkisar 90% di dunia atau sekitar 1,5-2 Miliar Muslim dunia yang mana berasal dari kata Sunnah atau mengikuti sunnah Rasulullah. Syiah sendiri berasal dari kata “Shiatu Ali” atau followers of Ali

Pengikut Sunni ini menyakini bahwa khalifah atau pengganti Rasulullah tidak harus anggota keluarga Nabi. Sunni (pengikut Sunnah Nabi Muhammad) berkata bahwa nabi Muhammad tidak pernah berbicara secara eksplisit tentang siapa pengganti beliau.

Akan tetapi, terdapat pesan pesan tidak langsung yang mereka percayai menyatakan bahwa Nabi Muhammad lebih condong ke Abu Bakar, dengan beberapa hadist juga. Misalnya ketika nabi Muhammad sakit, Abu Bakar yang menggantikan beliau menjadi imam masjid.

Hadis ini dianalogikan sebagai pengganti pemerintahan. Ketika Nabi Muhammad wafat, sahabat nabi melakukan perundingan untuk memilih pemimpin selanjutnya setelah Rasulullah wafat. Perundingan ini penting dilakukan dikarenakan jika tidak segera memutuskan siapa pemimpin selanjutnya umat akan terpecah belah dan banyak yang keluar Islam. Kemudian, terpilihlah Abu Bakar. Abu Bakar sendiri tidak diakui beberapa sahabat yang dari golongan Syiah. Beliau memimpin selama 2 tahun atau tepatnya 2 tahun 3 bulan 10 hari.

**

Abu Bakar lahir dari keluarga terpandang suku Quraisy yakni pasangan Abu Quhafah Utsman ibn Amir dan Salma binti Shakhr pada tahun 572 M, hanya selang dua tahun setelah nabi Muhammad lahir. Abu Bakar memiliki nama panjang yakni Abdullah bin Abi Quhafa At-Tamimi. Beliau merupakan salah seorang pemeluk Islam pertama, atau lebih tepatnya orang kedua pemeluk Islam (al-sabiqun al-awwalun) sehingga diberi gelar Abu Bakar oleh Rasulullah serta diberi pula gelar As-Shiddiq dikarenakan beliau membenarkan Rasulullah di beberapa peristiwa, misalnya Is’ra Mi’raj.[1]  
Beliau merupakan seseorang yang rendah hati dan mulia, suka membela kaum Muslim yang diinjak-injak di Mekkah bahkan hingga menggunakan hartanya untuk membebaskan kaum Muslim yang diperlakukan tidak manusiawi, misalnya saja Bilal bin Rabbah. Bilal bin Rabbah dimerdekakan oleh Abu Bakar dari tuannya yakni Umayyah bin Khalaf. Bersama sahabat nabi Muhammad yang lainnya, yakni Ubaidillah bin Jarrah, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqqas, Abdurahman bin Auf, dan Utsman bin Affan menjadi Assabiqunal Awwalun. Selain seorang yang rendah hati, Abu Bakar juga seseorang yang teguh prinsip dalam pembuatan keputusan-keputusan di pemerintahannya bahkan sebelum diangkat menjadi khalifah, beliau ialah seorang pebisnis kaya yang mempunyai integritas yang tinggi sehingga banyak masyarakat yang senang berdiskusi, membangun hubungan bisnis atau bahkan sekadar berbincang kecil dengannya.[2]

**

Awal mula kepemimpinan Abu Bakar sebagai khalifah diwarnai dengan pemberontakan kaum murtad, nabi palsu, serta orang yang tak membayar zakat. Beliau memfokuskan untuk melawan pada pemberontak-pemberontak tersebut yang dapat mempengaruhi keamanan warganya serta menghasut umat Muslim lain untuk murtad.[3]

Beliau mengutus tentara untuk melawan pemberontakan kaum murtad ini namun sayang sekali banyak tentara Muslim yang gugur yang mencangkup di dalamnya sahabat-sahabat Rasulullah dan para hafidz Al-Qur’an dan mengurangi jumlah hafidz masa itu.[4] Atas usul Umar bin Khattab, Abu Bakar mengutus Zaid Ibnu Tsabit untuk mengolektifkan seluruh tulisan-tulisan Al-Qur’an yang masih berceceran, dan pengkolektifan ini ialah salah satu kebaikan besar Abu Bakar menurut Jalaludin As-Suyuti.[5]

Dalam bidang pendidikan, lembaga pendidikan yang ada di masa Abu Bakar masih sama dengan di masa Rasulullah namun perbedaannya hanya pada segi kualitas dan kuantitasnya yang semakin baik. Lembaga pendidikannya terdiri atas dua, yakni kuttab dan masjid. Lembaga kutab ini sudah mengalami banyak kemajuan terutama kala kaum Muslim berhasil menguasai beberapa daerah serta menyatukan relasi dengan negara-negara yag telah maju.[6]

Materi yang diajarkan di kuttab ini ialah membaca, menulis, membaca al-Qur’an serta menghafalnya. Pendidikan keimanan mencakup konsep tauhid sedangkan pendidikan akhlak meliputi adab masuk keluar kamar mandi, bercermin, hormat kepada orang tua, dll. Adapun pendidikan ibadah yakni meliputi sholat, zakat, puasa, naik haji, serta kesehatan yang mencangkup kebersihan.

Kemudian lembaga selanjutnya ialah masjid yang merupakan lembaga lanjutan setelah lulus dari kuttab. Di Masjid ini terbagi menjadi dua yakni tingkat menengah dan tingkat atas, yang berbeda pula pengajarnya.[7] Di lembaga pendidikan masjid ini materi yang disampaikan ialah Al-Qur’an beserta tafsirnya, hadist, serta ilmu fiqih.

Di sisi lain Abu Bakar juga menumpas nabi-nabi palsu. Nabi-nabi palsu ini muncul di wilayah Arab Tengah dan Arab Selatan. Nabi palsu pertama yang muncul ialah Aswan Ansi di Yaman kemudian Musailamah Al-Kadzab, Tulaihah dan Sajjah Ibnu Haris.

Pada Masa Pemerintahan Abu Bakar, beliau menetapkan beberapa kebijakan kenegaraan, misalnya bidang eksekutif, militer, yudikatif dan fiskal. Pada bidang eksekutif ialah mendelegasikan tugas pemerintah baik di daerah hingga Madinah. Abu Bakar memberi amanah kepada Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib serta Zaid bin Tsabit menjadi sekretaris negara serta Abu Ubaidah menjadi bendahara negara. Sedangkan untuk daerah-daerah provinsi diamanahkan kepada seorang amir.

Kebijakan pada bidang militer ialah mengakomodir tentara-tentara untuk mempertahankan keamanan dan stabilitas negara. Tentara militer tersebut di antaranya ialah Musanna bin Haritsah, Amr bin Ash, Khalid bin Walid, Zaid bin Abi Sufyan, dll. Pada bidang yudikatif, fungsi ini dilakukan oleh Umar bin Khattab yang sudah terkenal dengan keahliannya di bidang hukum.

Lalu untuk kebijakan fiskal di masa Abu Bakar terdiri dari: pertama, pendapatan negara di masa Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan masa Rasulullah, yakni zakat, khumus, jizyah, serta kharaj.
Pada Masa Abu Bakar mulai muncul golongan orang-orang yang tidak ingin membayar zakat. Golongan ini menyatakan bahwa itu hanya sebuah kewajiban di masa Rasulullah dan ketika belau wafat maka hal ini tidak menjadi kewajiban lagi.[8] Oleh sebab itu beliau membuat langkah tegas memerangi golongan ini. Hal ini tentu akan mengganggu stabilitas negara karena dengan adanya golongan ini yang jumlahnya tak sedikit membuat keadaan Baitul Maal menjadi krisis serta defisit dan jika hal ini terus berlangsung maka akan menjadi mimpi buruk Negara.[9]

Instrumen selanjutnya ialah khumus. Khumus ialah harta rampasan perang dari musuh kaum Muslim sebesar seperlima. Pengiriman pasukan Usamah Ibnu Zaid untuk melawan tentara Romawi dan perang-perang lainnya menjadikan khumus laksana basis pendapatan negara. Berikut ialah beberapa perang yang dilaksanakan pada masa Abu Bakar, yakni pembebasan Irak, pertempuran al-Madzar, pertempuran al-Salasil, perang Ullais, pertempuran Walijah, pembebasan pertempuran melawan Amghisiya, penundukan Daumatul Jandal, penundukan Syam, serta Perang Yarmuk.[10]

Adanya penundukan-penundukan di berbagai daerah membuat pendapatan negara meningkat yang dikarenakan peningkatan pembayaran zakat pula bagi masyarakat yang memeluk Islam serta sudah mencapai nishab.

Selanjutya ialah jizyah. Jizyah ialah pajak atau tarif bagi kaum non-Muslim sebagai bentuk ketundukkan.[11] Jizyah ini sifatnya wajib bagi laki-laki dengan besaran yang berbeda di tiap daerahnya dikarenakan perbedaan kondisi di setiap daerah penundukannya. Jizyah ini juga sifatnya tidak wajib jika tidak mampu untuk membayarnya.[12]

Trakhir ialah kharaj, yang merupakan pajak tanah yang ditundukkan oleh dominasi senjata.[13] Kharaj ini ditetapkan berlandaskan taraf produktivitas.[14] Pada masa pemerintahannya, Abu Bakar membagi jenis tanah menjadi empat, yakni tanah milik negara yang memberi sokongan ke Baitul Maal sebesar seperempat bagian, tanah kharaj yang besarnya sesuai kesepakatan dengan nabi Muhammad, tanah kaum Muslim yang wajib mengeluarkan zakat ketika sudah mencapah nishab, serta tanah haram yang haram jika diperjualbelikan dan tidak dipungut pajak atasnya yakni Mekkah.
Kelemahan dalam masa Pemerintahan Abu Bakar dapat dilihat dari persoalan pendistribusian harta Baitul Maal yang tidak efesien. Beliau menerapkan prinsip balance budget, yang mana semua pendapatan negara didistribusikan tanpa adanya cadangan dana dalam kas.


Penulis, adalah mahasiswa Ekonomi Islam, UNPAD

sumber gambar: nahdlatululama.id

[1] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 1979), h. 205.
[2] Ali at-Tanthowi, Abu Bakr As-Shiddiq, (Jeddah : Dar al-Manarah, 1986), h. 65.
[3] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2012), h. 56.
[4] Samsul Nizar dan Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2009), h. 45.
[5] Jalaluddin As-Suyuti, al-Asybah wa al-Nadza’ir fi Qowa’id wa Furu’ Fiqh al-Syafi’ie, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1979), h. 67-72.
[6] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2012), h. 57.
[7] Ahmad Fuad, Alfalsafatul Islamiyah, (Cairo : Al-Makthabatus Tsakafiyah, 1962), h. 47.
[8] Muhammad Nur Rianto al-Arif, Dasar-dasar Ekonomi Islam, (Solo : Era Citra Intermedia, 2011), h. 233.
[9] Quthb Ibrahim Muhammad, al-Siyasah al-Maliyah Li Abi Bakr as-Shiddiq, (Cairo : al-Haiah al-Mishriyah, 1990), h. 107.
[10] ibid, h. 159.
[11] Tim Penyusun, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Quwaitiyyah, (Kuwait : Dar al-Salasil, 1427), vol. 15, h. 151.
[12] Mustafa Edwin Nasution dkk, Pengantar Ekskulif Ekonomi Islam, (Jakarta : Kencana, 2007), h. 228.
[13] Abdul Mannan, Teori dan Praktis Ekonomi Islam, (Yogyakarta : PT Dana Bhakti Prima Yas, 1997), h. 250.
[14] Muhammad Nur Rianto al-Arif, Dasar-dasar Ekonomi Islam, (Solo : Era Citra Intermedia, 2011), h. 224.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar