Abah Anom Mursyid TQN


Jiva Agung
Ulama yang lahir 1 Januari 1915 di sebuah kampung kecil bernama Godebah, Suryalaya, Desa Tanjungkerta, Kabupaten Tasikmalaya, ini terkenal sebagai seorang sufi pemimpin tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah (TQN), Pesantren Suryalaya[1], Tasikmalaya.

Pada usia delapan tahun, ia belajar di sekolah dasar yang ada di Ciamis, dan melanjutkannya ke tingkat sekolah mengenah di Ciawi, Tasikmalaya. Lalu pada tahun 1930 Abah Anom mulai memperdalam ilmu agamanya dengan belajar ilmu fikih dari seorang kiai terkenal di Pesantren Cicariang, Cianjur. Ia juga belajar fikih, nahwu, sharaf, dan balaghah dari seorang kiai dari Pesantren Jambudipa, Cianjur[2].

Merasa belum puas dengan ilmu yang didapat, Abah Anom melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Pesantren Gentur, yang diasuh oleh Mama Ajengan Ahmad Syathibi. Dua tahun kemudian ia belajar agama di Pesantren Cireungas, Cilameti, Sukabumi. Dari pesantren ini Abah Anom, selain memperoleh ilmu agama, juga mendapat ilmu mengenai pengelolaan pondok pesantren.

Di usianya yang masih muda, Abah Sepuh (ayahnya sendiri) mengajarkannya zikir tarekat, hingga akhirnya ia menjadi wakil talqin. Sejak itulah Ahmad Shoibul Wafa Tajul Arifin lebih dikenal sebagai Abah Anom. Saat menginjak usia dua puluh tiga tahun, ia menikah, kemudian berziarah ke tanah suci Mekkah. Sekitar kurang lebih tujuh bulan ia menetap disana untuk menimba ilmu. Mulai dari ilmu tafsir, hadits, fikih, kalam, hingga tasawuf yang merupakan inti ilmu agama[3].

Abah Anom memulai memimpin pondok pesantren di tahun 1950, tepat enam tahun sebelum ayahnya, Abah Sepuh, meninggal[4]. Di masa kepemimpinannya, Pesantren Suryalaya tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat, seperti pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, pembuatan kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain sebagainya. Ia pun tetap menjaga amanah dari ayahnya untuk selalu taat kepada perintah agama dan negara. Maka dari itu dapat dilihat bahwa Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah[5]. Salah satu contoh misalnya, Abah Anom banyak membantu pemerintah dalam usaha penyadaran eks anggota PKI supaya kembali ke jalan yang benar. Di awal-awal kepemimpinannya, Abah Anom sering mengalami rintangan, seperti teror dan gangguan-gangguan yang dilakukan oleh anggota DI/TII.

Selain menyebarkan Islam dengan pendekatan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Abah Anom juga turut serta dalam mengembangkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Terbukti pada tahun 1961 ia mendirikan sebuah Yayasan dengan berbagai pendidikan formal di dalamnya. Mulai dari tingkat dasar (TK) hingga tingkat tinggi (Perguruan Tinggi dan Sekolah Tinggi) tersedia di Yayasan yang bernama Serba Bakti ini[6].

Semakin hari namanya dan pesantrennya –juga ajarannya– semakin dikenal oleh masyarakat luas. Menurut Praja dan Anwar yang dikutip oleh Zulkifli[7], sejumlah orang cerdas baik dikalangan akademisi maupun artis telah menjadi anggota TQN. Ada Ahmad Sanusi (seorang profesor dan mantan rektor IKIP Bandung), Oteng Sutisna (profesor IKIP Bandung), Eddy Nurhadi (profesor ITB), Eddy Sud, Titiek Puspa, Hetty Koes Endang, dan sebagainya.

“Kudu asih ka jalma nu mikangewa ka maneh—artinya, harus menyayangi orang yang membencimu. (Abah Anom)

Bahkan ketenaran TQN dan Pesantren Suryalaya telah sampai ke mancanegara, seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darusalam, Thailand, Australia, negara-negara Eropa, dan Amerika. Maka, untuk membantu tugasnya sebagai mursyid (guru spiritual), ia mengangkat para wakil talqin yang tersebar hampir di Indonesia dan luar negeri. Abah Anom meninggal pada hari Senin, 5 September 2011 di usianya yang ke-96[8]. 

Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah

Tidak sempurna rasanya jika nama Abah Anom tidak dikaitkan dengan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah (TQN), karena tarekat inilah yang menjadi ciri khas ajarannya yang sedikit banyak berbeda dengan tarekat-tarekat yang lain semisal Qadiriyah, Naqsabandiyah, Tijaniyah, dan lain sebagainya.

Singkatnya, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah ialah sebuah perpaduan dari dua buah tarekat (jalan/metode dzikir) besar, yaitu Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsabandiyah yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Khatib Al-Syambasi di Mekkah pada awal abad 19 M. Nahdatul Ulama (NU) mengakuinya sebagai salah satu tarekat yang mu’tabarah (absah). 

Setelah Syaikh Ahmad Khatib wafat, ajaran tarekat TQN dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Syaikh Thalhah bin Talabudin. Abah Sepuh, ayah dari Abah Anom, sekian lama berguru kepadanya dan akhirnya mendapat khirqah (pengakatan secara resmi sebagai guru dan pengamal tarekat TQN. Lalu Abah Anom melanjutkan estafeta ajaran TQN dari sang ayah hingga akhir hayatnya[9].
Berikut silsilah TQN:
1.      Allah
2.      Jibril
3.      Nabi Muhammad saw
4.      Ali bin Abi Thalib kw
5.      Husein bin Ali r.a
6.      Zainal Abidin r.a
7.      Muhammad Baqir r.a
8.      Ja’far as-Shadiq r.a
9.      Imam Musa Al-Kadzim r.a
10.  Syaikh Abu Hasan Ali bin Musa r.a
11.  Syaikh Ma’ruf al-Khurkhi r.a
12.  Syaikh Sirris Saqothi r.a
13.  Syaikh Abul Qasim Al-Junaidi Al-Baghdadi r,a
14.  Syaikh Abu Bakr Diflin Syibli r.a
15.  Syaikh Abu Fadl Abdul Wahid at-Tamimi r.a
16.  Syaikh Abdul Faroj at-Thurthusi r.a
17.  Syaikh Abul Hasan Ali bin Yusuf al-Qirsyi Al-Haraki r.a
18.  Syaikh Abu Sa’id Mubarak bin Ali al-Makzumi r.a
19.  Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani r.a
20.  Syaikh Abdul Aziz r.a
21.  Syaikh Abdul Aziz r.a
22.  Syaik Syamsuddin r.a
23.  Syaikh Syarofuddin r.a
24.  Syaikh Nuruddin r.a
25.  Syaikh Waliyuddin r.a
26.  Syaikh Hisyamuddin r.a
27.  Syaikh Yahya r.a
28.  Syaikh Abu Bakrin r.a
29.  Syaikh Abdul Rahim r.a
30.  Syaikh Utsman r.a
31.  Syaikh Abdul Fattah r.a
32.  Syaikh Muhammad Murod r.a
33.  Syaikh Syamsuddin r.a
34.  Syaikh Ahmad Khatib al-Syambasi ibnu Abdul Ghaffar r.a
35.  Syaikh Thalhah Kali Sapu Cirebon r.a
36.  Syaikh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad r.a (Abah Sepuh)
37.  Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin r.a (Abah Anom)
38.  Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul r.a/ Abah Gaos[10]
Ada empat ajaran pokok Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang dikembangkan oleh Syaikh Khatib, yakni kesempurnaan suluk, adab (untuk para murid), ajaran tentang dzikir, dan muraqabah[11].
  1. Kesempurnaan suluk
Kesempurnaan suluk/jalan ruhani seorang sufi terdiri dari tiga dimensi yang di dalam Islam dikenal dengan iman, Islam, dan ihsan. Ketiga istilah tersebut kemudian dipahami sebagai syariat, tarekat, dan hakikat. Humam memahami syariat sebagai sebuah perundang-undangan (hukum) Islam yang telah ditetapkan oleh Allah, sebagai pembuat hukum, melalui Nabi Muhammad berupa perintah dan larangan.

Mengenai tarekat, diartikan sebagai sebuah pengalaman syariat yang didasarkan atas iman kepada kebenarannya. Adapun hakikat adalah dimensi penghayatan dalam pengamalan syariat. Ada juga yang menyatakan bahwa syariat itu merupakan suatu uraian, adapun hakikat merupakan sebuah keadaan, sedangkan makrifat merupakan tujuan pokok, yakni pengenalan yang sebenar-benarnya kepada Tuhan. Dianalogikan syariat itu sebagai sampan dan tarekat sebagai lautan, sedangkan makrifat itu adalah mutiaranya.

  1. Adab para murid
Secara garis besar, adab yang dipraktikkan salik ada empat yaitu adab kepada Allah dan Rasul-Nya, adab kepada syaikh, adab kepada ikhwan (saudara seiman) dan adab kepada diri sendiri. Dari keempat adab tersebut, justru adab kepada diri sendirilah yang merupakan inti dari prinsip-prinsip kehidupan sufistik pada umumnya.

  1. Ajaran dzikir
Dzikir yang dilakukan dalam tarekat ini adalah  dzikir dengan melakukan aktivitas lidah, baik lidah fisik maupun lidah batin untuk menyebut dan mengingat Allah. Dalam tarekat ini terdapat dua macam dzikir, yaitu dzikir nafi-isbat (lailaha illa Allahu) dan dzikir ism al-dzat (Allah, Allah, Allah). Dzikir nafi-isbat dilakukan dengan gerakan-gerakan simbolik sebagai sarana pembersihan diri (tazkiyyat al-nafsi) dari pengaruh-pengaruh nafsu jelek. Adapun dzikir ism al-dzat dipraktikkan dalam rangka mengaktifkan kelembutan-kelembutan rohani yang ada dalam diri manusia sehingga seluruh lapisan lathifah (kelembutan) organ spiritualnya dapat melakukan dzikir.

  1. Muraqabah
Merupakan sebuah kegiatan berkontemplasi sebagai upaya penyadaran diri yang merasa, secara terus-menerus, diawasi dan diperhatikan oleh Allah dalam keadaan apapun. Muraqabah dilakukan dalam rangka latihan psikis (riyadhat al-nafsi) dengan tujuan agar menjadi mukmin yang sesungguhnya.

Selain memiliki ajaran pokok, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah juga memiliki ritual-ritual (amalan) yang khas sebagaimana yang dipaparkan oleh Humam dalam bukunya yang berjudul Satu Tuhan Seribu Jalan. Yang pertama ialah ritual baiat. Kegiatan baiat ini hampir ada di seluruh tarekat walaupun pasti terdapat kekhasannya masing-masing. Begitu pula dengan TQN.

Dalam tahap awal, seorang calon murid perlu bertemu dengan mursyidnya. Sebelum baiat dimulai, ia perlu mengerjakan shalat sunnah mutlak dua rakaat, kemudian membaca Al-Fatihah sebagai bentuk hadiah kepada Rasulullah, para Nabi dan Rasul, dan seluruh silsilah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Selanjutnya ia duduk bersila menghadap mursyid, di tempat yang sudah disediakan dengan posisi lutut kanan dipegang oleh tangan kanan mursyid. Kemudian mursyid meminta calon murid untuk membaca istighfar dan shalawat, yang diteruskan dengan membaca dzikir tahlil (la ilaha illallahu) yang dipandu oleh mursyid, sebanyak tiga kali sambil memejamkan mata.

Setelah itu mursyid membaiat calon murid dengan mengucapkan albastuka harkata al-faqriyyata wa ajaztuka ijazatan muthlaqan li irsyadi al-ijazati, yang dengan segera calon murid menjawab dengan kata qabiltu[12]. Mursyid lalu melanjutkannya dengan membacakan firman Allah:  

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS. Al-Fath [48]: 10)

Tahap selanjutnya, mursyid akan memberikan semacam nasihat/doktrin spiritual supaya murid, yang baru berbaiat tersebut, dapat selalu mengikuti dan mengamalkan ajaran-ajarannya. Nasihat itu biasanya berisi etika dan aturan-aturan tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, termasuk anjuran untuk selalu menegakkan amalan yang disunnahkan agama.

Kemudian, mursyid mengesahkan muridnya untuk diterima secara formal sebagai anggota dengan membacakan lafal tertentu, yang segera diterima oleh si murid. Lalu mursyid akan membacakan doa supaya murid dapat menjalankan riyadhahnya dengan selamat. Tahap akhir yaitu pemberian minum oleh mursyid kepada si murid. Biasanya berupa segelas air putih yang sudah dibacakan beberapa ayat suci dan dicampur dengan gula.

Setelah resmi menjadi murid tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, si murid berkewajiban untuk mengamalkan wirid-wirid tertentu sebagai berikut :

1.      Diawali dengan membaca, Ilahi anta maqshudi wa ridlaka mathlubi a’thini mahbatuki wama’rifatuka ya Allah wa hasbunalloh wani’mal maula wani’man nashir (sebanyak tiga kali).
2.      Membaca surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada silsilah TQN
3.      Membaca surat al-Ikhlas (tiga kali); dan al-Mu’awidzatain (masing-masing satu kali).
4.      Membaca shalawat ummi (tiga kali)
5.      Membaca istighfar sebanyak (tiga kali)
6.      Rabithah kepada mursyid sambil membaca, lailaha illa Allahu hayun ma’bud, lailaha illa Allahu hayun maujud, lailaha illa Allahu hayun baq.
7.      Membaca dzikir naif-isbat (lailaha illa Allahu) (enam puluh lima kali)
8.      Membaca lagi, Ilahi anta maqshudi wa ridlaka mathlubi a’thini mahbatuki wama’rifatuka ya Allah wa hasbunalloh wani’mal maula wani’man nashir (tiga kali).
9.      Menenangkan dan mengkonsentrasikan hati, kemudian kedua bibir dirapatkan sambil menekan lidah dan gigi direkatkan seperti orang mati, dan merasa bahwa inilah nafas terakhirnya sambil mengingat alam kubur dan kiamat.
10.  Membaca dzikir ism al-dzat (Allah, Allah) (seribu kali).


“Ulah medal sila upama kapanah—Artinya, Jangan berubah sikap walaupun disakiti. (Abah Anom)

Dzikir-dzikir tersebut dibaca setelah usai shalat fardu. Adapun untuk dzikir ism al-dzat, jika seseorang sudah bisa melakukannya dengan istiqamah, maka ditambah waktunya setelah tahajud dan dhuha. Dzikir ism al-dzat dilakukan sekali dengan cara rapel 5000 atau 7000 kali. Caranya boleh duduk tawaruk (duduk seperti pada tahiyyat akhir dalam shalat), duduk iftirasy (duduk seperti pada tahiyyat awal dalam shalat) atau duduk bersila.

Amalan selanjutnya yang perlu dilakukan oleh seorang murid TQN ialah riyadhah. Dalam amalan ini murid selalu selalu menerima ilmu hakikat dan dorongan doa dari mursyidnya sampai ia merasakan seluruh rahasia ketuhanan sebagaimana yang pernah dibukakan kepada para nabi dan wali.

Ada amalan lain yang tidak kalah pentingnya, yakni manakiban, membaca riwayat hidup orang-orang shaleh sehingga dapat dijadikan teladan dalam kehidupan. Manakib yang sering dibaca ialah manakib Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani, karena ia merupakan tokoh sentral dalam TQN. Umumnya acara ini dilaksanakan setiap tanggal 11 dari penanggalan Hijriah.

Selain manakiban, adapula amalan khataman, sebuah kegiatan dzikir yang dilakukan satu kali dalam seminggu (umumnya malam jumat). Amalan ini dapat dikerjakan sendiri maupun berjamaah. Jika dilakukan secara berjamaah, biasanya kegiatan ini dibimbing oleh wakil talqin atau bahkan mursyid. Urutannya antara lain: (1) Membaca surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya;

(2) Membaca al-Fatihah untuk para nabi dan rasul, para malaikat, para syuhada, para shalihin, setiap keluarga, sahabat, arwah nabi Adam, Hawa, dan semua keturunan Adam dan Hawa sampai hari kiamat;

(3) Membaca al-Fatihah untuk al-khulafa’ al-rasyidin, semua sahabat awal dan akhir, para tabi’in, tabi’it tabi’in, dan semua yang mengikuti mereka sampai hari kiamat;

(4) Membaca al-Fatihah untuk para imam Mujahid dan pengikutnya, ulama, para qari’, mukhlisin para imam hadits, mufasir, semua tokoh-tokoh sufi ahli tarekat, para wali laki-laki maupun perempuan, kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia;

(5) Membaca al-Fatihah untuk syekh Qodariyah wa Naqsyabandiayah, khususnya syekh Abdul Qadir al-Jailani, Abu al-Qasim al-Junaidi, Sirri al-Saqathi, Ma’ruf al-Kurkhi, Habib al-Ajami, Hasan al-Bashri, Ja’far Shadiq, Abu Yazid al-Busthami, Yusuf al-Hamadani, Burhanuddin al-Naqsyabandi, al-Sirhindi, nenek moyang dan keturunan mereka, ahli silsilah mereka, dan orang-orang yang mrngambil ilmu dari mereka;

(6) Membaca al-Fatihah untuk orang tua, para guru, keluarga, orang yang berbuat baik kepada dirinya, orang yang mempunyai hak atas dirinya, orang yang mewarisinya, orang yang ia wasiati, dan orang yang mendoakan kebaikan kepada dirinya;

(7) Membaca al-Fatihah untuk para arwah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup atau pun yang sudah meninggal; (8) Membaca shalawat ummi 100x; (9) Membaca surat al-Insyirah sebanyak 79 kali;

(10) Membaca surat al-Ikhlash sebanyak 100 kali; (11) Membaca al-fatihah untuk syekh ahli tarekat sebanyak 1 kali; (12) Membaca shalawat ummi 100x; (13) Membaca allohumma ya qudliyal hajati sebanyak 100 kali; (14) Membaca allohumma ya kafiyal muhimmat sebanyak 100 kali; (15) Membaca allohiumma ya dafi’a al baliyyat sebanyak 100 kali; (16) Membaca allohumma ya rafi’a al-darajat sebanyak 100 kali;

(17) Membaca allahumma ya muhillal musykilat sebanyak 100 kali; (18) Membaca allohumma ya mu’jibud da’wat sebanyak 100 kali; (19) Membaca allohumma ya syafiyal amrodli sebanyak 100 kali; (20) Membaca allohumma ta arhamarrohimin sebanyak 100 kali; (21) Membaca shalawat ummi 100x;

(22) Membaca al-Fatihah untuk syekh Khawajakan sebanyak 1 kali; (23) Membaca al-Fatihah untuk Syekh Abdul Qadir sebanyak 1 kali; (24) Membaca shalawat ummi 100x; (25) Membaca subhanallohu wani’mal wakil sebanyak 200 kali; (26) Membaca shalawat ummi 100x;

(27) Membaca al-Fatihah untuk Syekh Abdul Qadir sebanyak 1 kali; (28) Membaca al-Fatihah untuk syekh al-Imam al-Qutb al-Rabbani al-Syekh Ahmad al-Faruq al-Sarhandi sebanyak 1 kali; (29) Membaca shalawat ummi 100x; (30) Membaca lahaula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim sebanyak 200 kali; (31) Membaca shalawat ummi 100x.

Setelah berhenti sejenak menghadapkan hati kepada Allah dengan memohon ampun dan keselamatan serta ketetapan iman di dunia dan akhirat, kegiatan dilanjutkan dengan memohon dimudahkan rezeki yang halal dengan merendahkan diri kepada semua makhluk seakan ia tidak punya kelebihan apapun. Caranya dengan membaca doa, (1) Ilahi anta maqshudi wa ridlaka mathlubi a’thini mahbatuki wama’rifatuka ya Allah wa hasbunalloh wani’mal maula wani’man nashir; (2) ‘ala hadzihinniyyat alfatihah sebanyak 1 kali; (3) shalawat ummi 100x; (4) ya lathif sebanyak 16.641 kali; (5) shalawat ummi 100x; (6) ila hadhrotinnabiyyi wa alihi wa shahbihi ajma’in al-fatihah sebanyak 1 kali; (7) Ditutup dengan membaca doa khususiyyah.

Secara substansial Abah Anom cenderung lebih memperjelas ajaran-ajaran tarekatnya dibanding melakukan pembaharuan-pembaharuan. Beberapa karya telah tercetus selama masa hidupnya, seperti yang dipaparkan oleh Dudung Abdurrahman[13] dalam tulisannya di Jurnal Aplikasia yang berjudul Reaktualisasi Pengamalan Tarekat Melalui Lembaga Inabah dalam Penyembuhan:

1.      Tanbih (peringatan) ialah berupa hasil rekaman ceramah Abah Sepuh (ayah Abah Anom) yang diperuntukkan bagi jamaah Tarekat TQN yang disusun menggunakan bahasa Sunda. Untungnya, telah ada versi bahasa Indonesia pada cetakan terakhir.

2.      Uqudul Juman (panduan umum) berupa sistematika bacaan zikir, berbahasa Arab yang digunakan untuk ritual keseharian maupun bersama (khataman) yang disusun pada tahun 1960.

3.      Miftahus Shudur (kunci pembuka dada) yang awalnya disusun dua jilid dalam bahasa Arab dan Sunda tetapi belakangan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof. Abu Bakar Aceh. Buku ini berisikan kumpulan praktik zikir dan keterangan mengenai zikrullah yang dikutip dari karya sufi terdahulu.

4.      Tajudz Dzakir fi Manaqib as-Syaikh Abdul Qadir. Buku terjemahan kitab manaqib karya Muhammad Sadiq Al-Qadir yang berbahasa Sunda yang pada tahun 1988 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof.Abu Bakar Aceh

5.      Akhlaqul Karimah Berdasarkan Mudawamatu Dzikrullah.

6.      Inabah, buku panduan pelaksanaan shalat, baik yang wajib maupun sunnah, serta zikir-zikir dalam keseharian yang diperuntukkan bagi para santri Inabah dalam proses penyembuhan jiwa.

sumber gambar: tqnnews.com


[1] Pesantren ini terkenal dengan nama ‘inabah’, sebuah program yang dikhususkan untuk mengobati para pecandu narkoba dengan metode dzikir. Nama Suryalaya diambil dari istilah Sunda yang terambil dari dua buah kata; surya yang artinya matahari, dan laya yang berarti tempat terbit. Sehingga jika digabungkan akan bermakna ‘Tempat matahari terbit’.
[2] wikipedia.org
[3] ibid.
[4] Zulkifli. (2002). Sufism in Java: the role of pesantren in the maintenance of sufism in Java. Jakarta: INIS, hlm. 65-66
[5] wikipedia.org
[6] Ibid
[7] Zulkifli. (2002). Sufism in Java: the role of pesantren in the maintenance of sufism in Java. Jakarta: INIS, hlm. 68
[8] Ibid
[9] Ibid
[10] Ada yang menyatakan bahwa Abah Gaos bukan mursyid TQN
[11] Abdul Wadud Kasyful Humam. (2013). Satu Tuhan Seribu Jalan. Yogyakarta: Forum, hlm. 126-128
[12] Adakalanya mursyid mengulang kembali dzikir-dzikir tersebut sebanyak tiga kali.
[13] Dudung Abdurrahman. (2003). Reaktualisasi Pengamalan Tarekat Melalui Lembaga Inabah Dalam Penyembuhan Korban Narkoba. Jurnal Aplikasia Vol.4 No.1 Juni, hal.14-31

Tidak ada komentar:

Posting Komentar