Ngopsus! Ngomongin Setap Husus

Panji Futuhrahman
Menghangat timeline media sosial kita belakangan ini pasca mundurnya dua stafsus milenial. Pertama bung Belva, dalang di balik Ruangguru. Dia yang bertanggung jawab atas penuh-sesaknya ruang istirahat dan bersantai para pendidik karena mengajak anak-anak se-Indonesia buat belajar di Ruangguru. Saya ulangi, se-Indonesia belajar di Ruangguru. Mbok yo kalo belajar ya di kelas atau di tempat-tempat lain. Biarlah para guru menikmati waktu istirahat sejenak jangan diganggu! Bahkan hari ini kerja sama pula dengan kartu Pra Kerja. Dilalah ramai sesaklah ruangan kami, para pejuang pencerdas anak bangsa. Ruang guru itu fungsinya mas Belva, nih saya kasih tahu: tempat guru cerita satu sama lain kalau lagi kesel, tempat nyantai, leha-leha dan lenjeh-lenjeh mengisi jam kosong serta tempatnya guru-guru merekap absen sambil dengerin yang jualan panci atau alat terapi mata yang belinya bisa dicicil sampai komik One Piece tamat.


Eh namanya anak muda ya, suka ikut-ikutan. Bener kata orang tua dulu. “Bocah mah ngikutin temennya”. Mundur tuh satu lagi yang kemarin-kemarin ramai nyurati camat se-Indonesia. Beuh bayangin camat se-Indonesia disuratin sama beliau. Namanya kurang familiar, yang saya inget kalo gasalah ada Garuda Putra-nya. Wajar beliau berani, ke Simpati dan Jatayu itu dia manggilnya mamang (note: Jatayu, Simpati, Garuda itu sosok adik-kaka di Epos Ramayana). Jatayu itu yang sempet tarung sama Rahwana loh, sang Raja Alengka, yang tak mati mesti tubuh terbelah-belah karena punya roworontek. 

Tapi di antara 7 stafsus milenial, nomor 5 bikin netijen melongo! Eh enggak deng. Di antara semua anak muda itu saya cuma kenalnya sama yang paling muda. Neng Putri Tanjung, anak Chairul Tanjung, masih dua puluhan umurnya. Si Cucu Singkong ini (karena bapaknya anak singkong kan) pernah viral karena pacaran sama anak punk. Dulu artikelnya kalo ga salah “Seorang anak punk memacari anak bangsawan.” Sungguh judul artikel yang sangat feodal, berbau kolonialisme dan sarat akan stratifikasi sosial! cari deh siapa tau masih ada. Mantannya ini namanya Gofar Hilman, sekarang jadi Youtuber yang lumayan terkenal dengan Ngobam-nya. Didi Kempot berterima kasih banget sama Gofar, karena bisa dibilang Gofar inilah yang mula-mulain memviralkan mas Didi hingga lahirlah Sobat Ambyar.

Gofar pernah ditanya Jason Ranti: Putri konglomerat itu wanginya kayak apa sih Far? Penasaran deh apa dari jarak 5 meter kecium gitu?” Seloroh Jeje dengan polosnya.

Katanya Gofar sih biasa aja. Meskipun kata mantannya wanginya sama aja, saya yakin parfumnya mahal sih. Bukan yang tabungnya roll-on dan belinya di fotokopian.

Terlepas dari parfum, Saya termasuk aneh mengapa Belva mundur duluan dibanding yang satunya. Padahal yang viral duluan itu yang menyurati Camat itu. Udah gitu kan pakai kop Sekretariat Negara, apalagi isinya minta para camat untuk mendukung program kerja sama dengan perusahaan doi. Kalo istilah kerennya mah rawan conflict of interest. Ya begitulah anak muda, kan biasa kalau di tongkrongan juga, nyindirin mah ke siapa eh yang kesinggung siapa, eh yang ikutan marah malah siapa. Udah gitu yang disindirnya telat nyadar. Biasalah namanya juga milenial! Udah disindirin juga masih watados (wajah tanpa dosa).

Pribadi penulis sih berharap jangan lagi ada yang mengundurkan diri, bahkan kalau perlu slot 2 yang kosong digantilah sama yang se-keren mereka berdua itu, Tretan Muslim misalnya sama Ria Ricis. Karena mungkin Presiden butuh masukan-masukan segar yang selama periode sebelumnya gak pernah di dapet karena orang disekelilingnya mungkin ga se-kreatif Belva dan ga seberani Garuda Putra. Ya kan? Ga mungkin dong Presiden rekrut stafsus milenial kalo selama ini fungsi “memberi masukan, ide atau gagasan segar, kreatif dan inovatif” itu sudah ada yang meng-handle.  

Tapi ya saya yakin, pemuda kayak Belva ini pasti akan tetap mengabdi untuk negeri dari dalam atau dari luar istana sebagaimana yang dia katakan. Contohnya saja Pelatihan pra kerja itu, jelas sangat membantu masyarakat di tengah kesulitan ini. Saran saya buat mas Belva: Tambahin mata pelajaran di Ruangguru! Saya sempet seneng pas denger Ruangguru kerjasama dengan Telkomsel yang ngasih akses 30 Gb buat pelajar selama pandemi eh taunya ga ada pelajaran agama di dalemnya. Emangnya di ruang guru isinya guru-guru mata pelajaran UN doang? Lah Guru Agama juga diemnya di ruang guru mas, ga di masjid mulu.

Sama di pelatihan Prakerja juga bisa disisipkan pelatihan imam tarawih buat bapak-bapak yang minim pengalaman ngimamin. Mengimami juga kan kata kerja mas. Apalagi ini Ramadhan, ada salat tarawih. Kalo yang 11 sih mending, kalo yang keluarganya biasa 23? Keringet dingin itu mas. Materinya kan bisa “Menyusun surat pendek agar tak itu-itu aja”, atau “Tips agar tak salah hitung rakaat”, plus terakhir yang tak kalah penting buat ibu-ibu kemarin sorenya bisa ada pelatihan “Management menu berbuka dan sahur agar seisi rumah selalu feeling good.” Jangan dianggap ini semua sepele, kan saya hanya menyesuaikan dengan yang sudah ada.

Kalau buat mba Putri tidak banyak komentar yang saya bisa sampaikan. Saya justru berpendapat, jelas keberadaannya masih sangat dibutuhkan Istana. Setidaknya ikut mengharumkan istana. Baik secara tersirat maupun tersurat. Eh saya dari tadi ga ngomongin mas Garuda Putra itu ya? Gak berani euy, nuansanya gimana gitu.


sumber gambar: indozone.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar