Menyikapi "Puisi Paskah" Ulil


Jiva Agung


Beberapa waktu lalu jagad medsos diviralkan oleh video Puisi Paskah yang dibacakan beberapa orang anak/remaja Muslim (santri?). Saya sendiri mengetahuinya setelah salah seorang teman mengirim video tersebut ke Grup WA untuk menanyakan bagaimana respon kami terhadap video tersebut. Setelah diperhatikan secara saksama, diketahuilah bahwa pembuat teks puisi tersebut adalah Ulil Abshar Abdalla.

Tapi karena orang-orang di dalam grup WA kami, setidaknya menurut saya, adalah dari kalangan yang sudah terbiasa mengonsumsi (mendengar, mendiskusikan, dll) hal-hal yang “kontroversi” jadi sikapnya cenderung santai. Baik yang pro maupun kontra. Lalu bagaimana dengan sikap saya sendiri? Alih-alih menonjolkan pandangan biner, hitam-putih, saya akan mencoba untuk melihat dari beberapa sudut pandang.

Secara personal, saya kurang setuju dengan video tersebut, apalagi yang membacakannya adalah dari kalangan remaja, kalau enggan berkata masih anak-anak. Terlebih dengan membawa atribut ormas Islam tertentu. Salah seorang teman di grup WA saya pun mengatakan bahwa barangkali anak tersebut—setelah beranjak dewasa—belum tentu senang kalau ingat dahulu pernah disuruh membacakan puisi itu.

Memang, kalimat-kalimat yang ada dalam puisi itu cukup eksentrik. Dan ini sebenarnya tipikal pemikiran Ulil yang dari dulu suka nyerempet-nyerempet, seperti bermain di pinggir kandang harimau. Namun secara konten, saya sulit untuk melihat adanya bentuk penyimpangan akidah seperti yang disesalkan oleh banyak kalangan. Jadi, bukan substansi puisi melainkan sisi etisnya yang problematis. Misalnya, mengapa harus anak-anak yang membacakan puisi tersebut, mengapa harus menonjolkan atribut ormas. Sudahkah dipertimbangkan kemungkinan dampak negatifnya? Apakah si pembaca puisi sudah siap secara mental ketika dia di-bully?
**
Ulil membuat klarifikasi di status FB-nya (pahami! klarifikasi bukanlah tindakan meminta maaf seperti yang sering disalahpahami orang). Dengan diberi judul Tentang “Puisi Paskah” itu: Sebuah Penjelasan yang ditulis sepanjang 9 halaman (ditambah satu buah lampiran tulisan Prof. Mahmoud Ayoub mengenai peristiwa kematian Yesus) pada hari rabu 15 April lalu, Ulil menyatakan bahwa selama bukan di ranah akidah, baginya puisi tersebut tidaklah menyimpang. Dan memang tidak ada satu pun kalimat yang menegaskan kalau dia—di dalam puisi tersebut—menyetujui pandangan Kristiani mengenai ketuhanan Yesus, sebab baginya, sesuai dengan pandangan umat Islam, Yesus adalah seorang nabi Muslim yang bukan Tuhan.

Sepertinya bagi Ulil banyak kalangan kontra yang sebenarnya telah salfok sama puisi tersebut. Yang menjadi concern dalam puisi itu bukanlah mengenai status ketuhanan Yesus melainkan makna spiritual yang terkandung dalam simbol penyaliban. Menurut penuturannya, setiap agama—termasuk Islam memiliki simbol-simbol yang disakralkan. Sayangnya simbol itu tidak selalu menjadi bahan refleksi dari kalangan penganut agama. Dari celah inilah puisi itu muncul, hendak mengisi simbol sakral agama ke dalam penelurusan makna spiritualnya, yang kebetulan dalam momen ini adalah peristiwa Jumat Agung. Tentu saja langkah ini, masih menurutnya, juga dapat dijadikan sebagai upaya membangun dialog antar umat beragama.

Ulil mengatakan mungkin pendapatnya atau penjelasannya ini tidak akan bisa memuaskan semua pihak, khususnya yang bersebrangan dengannya. Tapi dia sendiri tidak terlalu memusingkan hal itu karena, masih menurutnya, perbedaan adalah suatu hal yang lumrah. Inilah satu aspek yang saya sukai dari sosok Ulil, dia bisa menghargai respon orang yang berbeda pendapat dengannya.

Lebih dari itu, saya kian suka dengan sikapnya yang mengungkapkan bahwa orang yang keberatan dengan ekspresi atau tindakannya tidak lantas dilabelkan sebagai intoleran, bahkan dianggap sebagai suatu “kewajaran” karena kecintaannya yang sangat terhadap Islam. Ulil menyebutnya sebagai “cinta yang protektif”. Dan ini tidaklah salah, bahkan menurutnya perlu ada di dalam setiap pemeluk agama sebagai bagian “keseimbangan alam.”

Sayang, sikap ini malah kurang dianut oleh mereka yang sering se-frame dengan Ulil, termasuk sebagian non Muslim yang berpikiran kalau ada Muslim yang bertindak tidak sesuai dengan standar dirinya, maka akan dengan mudah dicap sebagai intoleran. Contoh sederhana adalah ketika ada Muslim yang memilih untuk melarang atau tidak mengucapkan selamat natal, otomatis dianggap sebagai intoleran. Nah, sepertinya Ulil tidak di jalur ini.

Akhirnya, saran saya bagi para pegiat lintas iman, termasuk gus Ulil dan juga “sutradara” di balik pembuatan video Puisi Paskah tersebut, agar dapat menyuarakan perdamaian dengan cara-cara yang lebih bisa diterima “pasar” bukan yang malah kontraproduktif. Niat baik jika caranya “ekstrem” kan juga bisa berakibat negatif. Menurut saya, banyak hal “aman” yang lebih bisa dilakukan dan diterima khalayak, misalnya bertegur sapa, saling tolong-menolong hal sederhana atau menjalankan sosial action bersama, dan yang lebih substantif seperti bekerjasama melawan common enemies, seperti kemiskinan, krisis lingkungan, dan lain sebagainya. Meskipun bukan berarti melakukan perbincangan teologis menjadi sesuatu yang tertutup/terlarang. Demikian. Wallahu alam. []


sumber gambar: lokadata.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar