Mengenal Pendiri Nahdatul Ulama KH Hasyim Asy'ari


Jiva Agung
Lahir di Jombang, Jawab Timur pada tanggal 14 Februari 1871 dari keluarga Kyai. Ayahnya KH Asy’ari adalah seorang pendiri pondok pesantren Keras dan kakeknya, KH Usman merupakan seorang pesantren Nggedang (Gedang)[1]. Ia adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, dan sampai pada umur yang kelima Hasyim kecil diasuh oleh orang tua dan kakeknya di Pesantren Gedang[2].

Khuluq (Kurniawan & Mahrus, 2011: 205) mengungkapkan bahwa pada usia yang ketiga belas Hasyim muda sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih senior darinya. Dua tahun kemudian ia mulai meninggalkan kedua orang tuanya untuk memperdalam ilmu agama. Mulai dari nyantri di Ponpes Wonorejo Jombang, Wonokoyo Probolinggo, Langitan Tuban, Trenggilis Surabaya, Kademangan Bangkalan, hingga Siwalan Sidoarjo pernah disinggahinya.

Belum cukup puas di dalam negeri, Hasyim muda mengembara ke Mekkah. Di sanalah ia menimba ilmu dari begitu banyak ulama besar, seperti Syaikh Syuaib bin Abdurrahman, Syaikh Mahfudz Al-Tirmasi, Syaikh Khatib Al-Minangkabawi, dan masih banyak lagi. Di sana ia pun menjadi salah seorang pengajar di Masjidil Haram bersama tujuh orang ulama Indonesia lainnya, seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, dan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi[3].

Sepulangnya ke tanah air, di tahun 1899 ia mendirikan sebuah pesantren di Tebuireng, Jombang, di mana daerah tersebut masih dijadikan tempat prostitusi untuk pemuas nafsu orang-orang Belanda. Tentu keberadaannya mengusik banyak pihak, ditambah sedikit demi sedikit semakin banyak warga yang tertarik untuk nyantri di tempatnya. Walaupun berkali-kali mendapatkan gangguan dan teror, Hasyim tetap berdiri kukuh pantang mundur. Alih-alih membalas tindakan-tindakan keji mereka, Hasyim cenderung mendoakannya, barangkali Allah memberi hidayah pada mereka. Belakangan, pesantren ini menjadi pusat pengajaran Islam tradisional di Indonesia.

Sayapnya semakin melebar saja, hingga pada tanggal 31 Januari 1926 ia bersama para ulama tradisional lainnya mendirikan sebuah organisasi keislaman yang bernama Nahdatul Ulama (kebangkitan ulama), biasa disingkat menjadi NU yang kelak menjadi representasi umat muslim mayoritas di Indonesia.

Tidak hanya menjadi seorang ulama, Hasyim dapat pula dikatakan sebagai pejuang bangsa dalam rangka merebut kemerdekaan. Hal ini terlihat dari pandangannya yang tak mau berpangku tangan kepada yang lainnya untuk menuntut kemerdekaan. Maka tercetuslah sebuah fatwa tentang perlunya mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada awal November 1945, digelar pertemuan para ulama. Hasilnya, mereka sepakat dengan fatwa yang dikeluarkan oleh KH Hasyim. Bahkan fatwanya tersebut dijadikan legitimasi oleh Bung Tomo guna memompa semangat masyarakat Surabaya[4].

Fatwa Jihad KH Hasyim Asy’ari[5]
(1)               Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus wajib dipertahankan
(2)               Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, harus dijaga dan ditolong
(3)               Musuh Indonesia, yaitu Belanda, yang kembali dengan bantuan Sekutu (Inggris) pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia
(4)               Umat Islam, terutama anggota NU, harus mengangkat senjata melawan Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali
(5)               Kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu secara material terhadap mereka yang berjuang 

Atas segala jasanya, ia dianugerahi sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh pemerintah berdasarkan SK Presiden RI No.294 tahun 1964, bertepatan pada tanggal 17 November[6].

Sepanjang hidupnya, tercatat KH.Hasyim Asy’ari menulis beberapa buah risalah seperti[7]:

1.            Adabul ‘alim wal muta’allim, sebuah kitab yang berisi tuntunan mengenai pentingnya menuntut/menghormati ilmu dan sumbernya (guru). Dalam salah satu tulisannya ia menyatakan bahwa ilmu akan lebih mudah dicerna jika si pembelajar terlebih dahulu mensucikan dirinya (wudhu).

2.            Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, berupa buku panduan bagi warga NU tentang apa yang dimaksud dengan ahlus sunnah wal jamaah.

3.            At-Tibyan fin Nahyi an-Muqothoatil Arham wal Aqorib wal Ikhwan, merupakan kumpulan pemikiran khususnya mengenai NU.

4.            An-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin, tulisan yang berisi seputar penghormatan kepada baginda Muhammad saw. Selain memaparkan silsilah (nasb) Nabi yang begitu mulia, KH. Hasyim juga memaparkan sifat-sifat keteladanan Nabi Muhammad yang sudah selakyaknya untuk ditiru oleh segenap umat muslim.

5.            At-Tanhibatul Wajibat li man Yasna’ Al-Maulid bilMunkaroti, ialah curahan pemahamannya mengenai peringatan maulid Nabi Muhammad saw.

6.            Ziyadatul Ta’liqot, buku mengenai polemiknya dengan KH. Abdullah bin Yasin Pasuruan yang menurutnya terdapat beberapa ajaran yang bertentangan dengan pandangan NU.

7.            Dhou’ul Misbah fi Bayani Ahkamin Nikah. Berangkat dari banyaknya muda-mudi yang hendak menikah tetapi tidak/belum mengenai mengenai persiapan, rukun, dan tata caranya, maka dibuatlah buku ini sebagai panduan supaya tercipta pasangan yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Menurut Ramayulis & Nizar (Kurniawan & Mahrus, 2011: 209) ada pula karya-karya lain KH. Hasyim Asy’ari seperti, al-Risalat al-Jami’at; Hasyiyah ‘ala Fath al-Rahman bi Syarh Risalat al-Wali  Ruslan li Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari; Al-Durr al-Muntasirah fi Masail al-Tis’i Asyrat; Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqathiyah al-Ikhwan; Risalat al-Tauhidiyah; Al-Qalaid fi Bayan ma Yajib min al-‘Aqaid.

Etika di Dunia Pendidikan

Dewasa ini dunia pendidikan di Indonesia sedang ramai-ramai membicarakan soal pembinaan karakter. Konon hal ini disebabkan oleh kegagalan dunia pendidikan, baik yang sifatnya formal maupun non formal, yang cenderung terlalu menekankan kecerdasan intelektual tanpa diimbangi dengan kesantunan diri. Alhasil hanya menelurkan makhluk yang semakin jauh dari tujuan penciptaan. Kesombongan misalnya, telah membuat mereka tidak lagi bersikap rendah hati kepada sesama, terlebih terhadap orang yang lebih tua. Bahkan di tingkat yang lebih tinggi, Tuhan tidak lagi menjadi “sesuatu” yang bermakna dalam kehidupannya. Sungguh begitu jauh dari nilai-nilai yang diharapkan oleh Tuhan.

Hasyim Asy’ari merupakan salah seorang ulama yang menyadari betul bahwa pendidikan bukanlah sekadar bertujuan untuk menghilangkan kebodohan sebagaimana yang dipahami oleh sebagian manusia modern. Menurutnya, pendidikan harus dijadikan sebagai sebuah wadah peribadatan umat manusia dalam rangka meraih ridha-Nya. Jika semua manusia telah menempatkan keridhaan Tuhan menjadi tujuan akhirnya, tentu semua penyakit hati (kesombongan, angkuh, individualis, apatis, dll) tidak mendapat tempatnya lagi di dalam diri. 

Dalam salah satu bukunya, Asy’ari[8] memberikan sumbangsih pemikiran mengenai pentingnya beretika dalam menuntut ilmu, yang sepertinya dapat diterapkan supaya manusia modern saat ini tidak lagi memiliki kepribadian ‘terbelah[9]’, seperti (1) membersihkan diri dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian; (2) membersihkan niat; (3) tidak menunda-nunda kesempatan belajar; (4) bersabar dan qanaah terhadap segala macam pemberian dan cobaan; (5) pandai mengatur waktu; (6) menyederhanakan makan dan minum; (7) bersikap hati-hati; (8) menghindari makanan dan minuman yang dapat menyebabkan kemalasan dan kebodohan; (9) menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan; (10) meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah. 

Sepertinya soal niat dijadikan poin pertama dan kedua supaya setiap penuntut ilmu senantiasa membekali dirinya dengan niatan yang tulus dan lurus, dalam arti semata mengharap ridha Allah, bukan yang lain seperti ketenaran dan jabatan misalnya. Innamal a’malu bin-niyat, sabda Rasulullah. Selanjutnya poin lima dan sembilan. Keduanya memiliki esensi yang sama, yaitu perihal pemanfaatan waktu. Kedua poin ini seperti sebuah ekstraksi dari surat Al-Asr di mana Hasyim Asy’ari hendak memberi peringatan kepada manusia—yang cenderung lengah—untuk dapat memanfaatkan hidupnya yang hanya satu kali supaya tidak terbuang sia-sia.

Kemudian soal makanan dan minuman yang tercantum di poin enam dan delapan. Mungkin sebagian di antara kita ada yang bertanya-tanya mengapa harus makanan dan minuman. Apa hubungannya makanan dan minuman dengan etika menuntut ilmu. Bukankah tidak ada kaitannya sama sekali.

Tentu sangat berkaitan. Bukankah kita seringkali merasa mengantuk setelah melakukan aktivitas makan, terlebih jika dengan porsi yang cukup banyak? Jika perut sudah kenyang, kita pasti akan kesulitan menerima ilmu. Sudah banyak penelitian yang membuktikan hal-hal yang semacam ini. 

Selain memberikan tuntunan etika seseorang terhadap ilmu, Hasyim Asy’ari juga menganjurkan kepada mereka supaya bersikap baik terhadap sumber ilmu, dalam hal ini adalah guru, diantaranya (1) memerhatikan apa yang dijelaskannya; (2) memilih guru yang wara’ di samping profesional; (3) meneladaninya; (4) memuliakannya; (5) memerhatikannya haknya; (6) bersabar terhadap kekerasannya; (7) meminta izinnya jika ada sesuatu; (8) duduk dengan rapi dan sopan saat menghadapnya; (9) berbicara dengan sopan dan lemah-lembut; (10) mendengarkan segala fatwanya; (11) jangan menyela saat guru sedang menjelaskan; (12) gunakan anggota tubuh yang kanan saat menyerahkan sesuatu kepadanya[10]. 

Di tengah budaya yang serba maju ini, agaknya banyak dari poin-poin di atas yang sudah tidak diindahkan oleh banyak penuntut ilmu, misalnya saja perihal memuliakan guru. Hasil pengamatan saya dan beberapa teman menunjukkan bahwa umumnya murid-murid sudah tidak lagi memiliki respect terhadap gurunya. Macam-macam bentuknya, mulai dari mengacuhkan tuntunannya hingga berkata-kata dengan nada keras dan kasar.

Bukan hanya penuntut ilmu yang perlu beretika, pemberi ilmu[11], dalam hal ini adalah guru, menurut Hasyim Asy’ari pun perlu memiliki etika, khususnya etika terhadap murid-muridnya. Ada empat belas etika yang ditawarkannya seperti, (1) berniat mendidik, dan menyebarkan ilmu pengetahuan, serta menghidupkan syariat Islam; (2) menghindari ketidakikhlasan, terlebih jika hanya untuk mengejar keduniaan; (3) selalu melakukan introspeksi diri; (4) mempergunakan metode yang mudah dipahami; (5) membangkitan antusias murid dengan memotivasinya; (6) memberikan latihan yang bersifat membantu; (7) selalu memerhatikan kemampuan murid; (8) bersikap adil; (9) mengarakan minat kepada murid; (10) terbuka dan lapang dada; (11) membantu kesulitan yang dialami murid; (12) jika terdapat murid yang tidak hadir hendaknya mencari informasi mengenainya; (13) menunjukkan sikap arif dan penyayang; (14) rendah hati[12].  

sumber gambar: boombastis.com

[1] Herry Mohammad, dkk. (2006). Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani, hlm. 21
[2] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus. (2011). Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, hlm. 204
[3] Ibid, hlm. 206
[4] Herry Mohammad, dkk. (2006). Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani, hlm. 25
[5] Ibid, hlm. 26
[6] Salman Iskandar. (2011). 55 Tokoh Muslim Indonesia Paling Berpengaruh. Solo: Tinta Medina, hlm. 126
[8] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus. (2011). Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, hlm. 213
[9] Pintar tapi sombong, pintar tapi tidak sopan kepada orang yang lebih tua, dan sebagainya.
[10] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus. (2011). Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, hlm. 213-214
[11] Sebenarnya kata ‘pemberi ilmu’ sudah tidak lagi relevan karena sumber ilmu tidak lagi hanya berasal dari guru. Pendidikan modern lebih menekankan guru berperan sebagai fasilitator.
[12] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus. (2011). Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, hlm. 219

Tidak ada komentar:

Posting Komentar