Memaknai Al-Qur'an Sebagai Syifa di Tengah Pandemi Corona

Rahmatullah Al-Barawi
Salah satu tradisi yang sering dilakukan di masjid kala Ramadan menyapa adalah tadarus Al-Quran. Tadarusan menjadi budaya yang mengakar di masyarakat. Generasi muda dan tua semuanya hanyut dalam keasyikan membaca Al-Quran.

Memang kita ketahui bersama bahwa Ramadan merupakan syahrul Quran, bulan diturunkannya Al-Quran. Sehingga amalan membaca Al-Quran tidak dapat dilepaskan dari bulan yang penuh kemuliaan. Namun, di tengah wabah, tradisi tersebut seharusnya ‘dikemas’ kembali. Iya, aktivitas membacanya tidak dihilangkan, hanya saja dialihkan ke kediaman masing-masing.

Tentu ada perbedaan kondisi psikologis keagamaan antara ibadah di masjid dan di kediaman masing-masing. Tetapi, dengan waktu yang sudah hampir dua bulan ini, semoga kita bisa belajar bahwa pandemi ini bukanlah hal yang sepele.

Jangan sampai kita masih berdebat soal boleh tidaknya beribadah di rumah atau ikhtiar kita melawan korona vs takut kepada Tuhan. Perdebatan tersebut justru kontraproduktif dalam rangka mengisi amaliah di bulan Ramadan.

Pesan Nabi jelas, nawwiruu buyuutakum bi qira`atil qur`an, sinarilah rumahmu dengan bacaan Al-Quran. Ibadah di rumah selama Ramadhan menjadi ajang bagi kita untuk menyinari rumah kita dengan sinaran Al-Quran.

Nasihat Nabi tersebut relevan dengan kehidupan kita saat ini. Sudah berapa sering kita menghidupi rumah kita dengan bacaan Al-Quran. Di tengah kesibukan, boleh jadi kita jarang melakukan hal tersebut di rumah. Rutinitas duniawi seringkali melenakan dan menjauhkan kita dari nilai-nilai Al-Quran.

Bahkan, Nabi Muhammad Saw pun di masa lampau telah ‘mengeluhkan’ hal tersebut. Dalam Surah Al-Furqan ayat 30, Allah Swt berfirman:

وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِي ٱتَّخَذُواْ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورٗا 

30.  Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan".

Memang konteks ayat tersebut, pada mulanya ditujukan kepada kaum musyrikin penduduk Mekkah. Namun, pesan tersebut juga dapat kita refleksikan dalam kehidupan modern. Menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah, kata mahjura terambil dari kata hajara yang berarti meninggalkan sesuatu karena tidak senang kepadanya.

Hal ini menjadi pengingat kita bersama, apakah selama ini Al-Quran telah kita abaikan di tengah rutinitas harian yang kita lakukan? Maka wabah ini menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk kembali menyelami makna Al-Quran.

Menarik jika memahami kata mahjura tersebut. Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan beberapa cakupan yang terkandung dari kata tersebut. Salah satu aspek ‘keacuhan’ kita kepada Al-Quran adalah tidak menjadikannya obat bagi semua penyakit-penyakit kejiwaan.

Benar sekali, Al-Quran memiliki sejumlah fungsi bagi kehidupan kita. Selain sebagai hudan (petunjuk), kitab suci ini juga menjadi syifa` (obat) bagi penyakit yang diderita manusia. Ada banyak riwayat yang menjelaskan hal tersebut. Misalnya, bagaimana salah seorang sahabat Nabi yang tersengat ular, kemudian sembuh dengan bacaan Surah Al-Fatihah.

Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran mempunyai kekuatan sebagai obat. Dorongan untuk berpikir positif, optimisme dan ketenangan jiwa orang yang membaca Al-Quran menghadirkan semangat baru yang memperkuat imunitas tubuh. Sehingga dengan membaca Al-Quran penuh perenungan dan penghayatan dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

Sudah banyak penelitian yang mengkaji hal tersebut. Jika kita kaitkan dengan kondisi saat ini, ada yang dinamakan dengan gejala psikosomatik. Pikiran yang terlalu banyak membaca berita negatif seputar korona akan melahirkan kecemasan diri dan berpengaruh pada timbulnya gejala-gejala fisik yang mengarahkan kepada virus ini.

Sebenarnya fisiknya sehat, tetapi karena pikirannya was-was, sehingga itu menjadi stimulus yang menyebabkan timbulnya gejala. Sehingga salah satu cara agar diri ini tetap tenang di tengah pandemi adalah dengan menyelami makna kalam Ilahi.

Kekuatan spiritual menjai salah satu obat penawar dari kegamangan dan kecemasan masal yang saat ini sedang terjadi. Membaca Al-Quran dengan penuh kekhusyukan perlu dilakukan.

Kita hilangkan segala asumsi, pra-pemahaman dan penafsiran kita tentang Al-Quran. Kita dekati dan baca Al-Quran layaknya seorang yang sedang kasmaran membaca surat cinta dari sang pujaan.

Dengan semangat cinta inilah, Al-Quran akan meningkatkan imunitas, memperkuat iman dan spiritualitas, dan menjauhkan kita dari rasa cemas. Mari bercinta dengan Al-Quran, karena kita semua adalah ‘jomblo’ di mata Tuhan, Sang Keabadian. Wallahu a’lam bish showwab.

Penulis, adalah co-founder Quranic Peace Study Club'
Sumber gambar: harakatuna.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar