M Natsir: Dai, Politisi, Sekaligus Penulis Ulung


Jiva Agung
Seorang ulama, politisi, sekaligus pahlawan ini lahir dari pasangan Idris Sutan Sapo-Khadijah di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Selatan pada tanggal 17 Juli 1908[1]. Menempuh pendidikan pertama kalinya di Sekolah Rakyat Maninjau selama dua tahun lalu ia dipindahkan ke Hollandsch Inlandsche School (HIS) Adabiyah di Padang dan tinggal bersama makciknya tetapi tidak berlalu lama hingga beberapa bulan kemudian ia pindah sekolah lagi ke Solok sembari dititipkan dirumah Haji Musa, seorang saudagar. Pada malam harinya ia mengaji di Madrasah Diniyah. Kemudian di tahun 1923 ia melanjutkan studi ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Setelah tamat dari MULO, Natsir pergi merantau ke Bandung dan melanjutkan pendidikan formalnya di Algemene Middlebare School (AMS). Di tempat inilah Natsir muda mulai berkenalan dengan berbagai macam pemikiran, terlebih karena kelebihannya dalam penguasaan beragam bahasa  seperti Arab, Belanda, Jerman, Inggris, Latin, dan Prancis, tidak sulit baginya untuk menjelaskan peradaban dunia Islam, Romawi-Yunani, maupun Barat[2].

Di Bandung, Natsir bertemu dengan Ahmad Hassan (tokoh populer Persis) lalu diajak untuk menjadi anggota redaksi majalah bulanan Pembela Islam. Sayang, pada masa selanjutnya majalah tersebut dilarang terbit karena dianggap menyerang misi Kristen di Indonesia[3]

Ia juga bertemu dengan aktivis-aktivis pergerakan seperti Syafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem, Sutan Syahrir, dan Douwes Dekker. Nama yang disebut terakhir ini nyatanya memiliki hubungan yang erat dengan Natsir. Selain sering berdiskusi soal politik, sosial, dan ekonomi, mereka ternyata memiliki kesamaan hobi yang saling melengkapi, sama-sama suka bermain musik. Jika Dekker gemar bermain gitar, Natsir suka memainkan biola. Di sela-sela waktunya, mereka tak jarang untuk membicakan soal dunia permusikan. Kedekatan Dekker dengan Natsir membuatnya tak sungkan untuk bergabung dalam Masyumi[4].   

Sepak terjangnya di lingkup internasional terlihat saat ia menjadi presiden Liga Muslim sedunia (World Muslim Congress) pada tahun 1967 yang berpusat di Karachi, Pakistan. Dua tahun kemudian menjadi anggota World Moslem League yang biasa dikenal Rabithah Al-Alam Al-Islami yang pusatnya berada di Kota Mekkah. Kemudian pada tahun 1976 menjadi ketua Dewan Masjid sedunia di tempat yang sama[5].

Jasanya yang begitu besar terhadap dunia keislaman membuatnya mendapatkan berbagai macam pujian dan penghargaan dari berbagai kalangan. Bruce B. Lawrence, profesor agama dari Universitas Duke menyebutnya sebagai seorang politisi yang paling lantang menyerukan pembaruan Islam. 

Pada tahun 1957 Lamine Bey, Raja Tunisia, memberikan penghargaan bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) karena jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Universitas Islam Libanon menganugerahinya gelar doktor kehormatan dalam bidang politik Islam pada tahun 1967. Kemudian di tahun 1980 Raja Fahd memberinya penghargaan Faisal Award melalui Yayasan Raja Faisal di Riyadh, Arab Saudi. Juga mendapat penghargaan dari dua ulama besar, Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi dan Abul A’la Al-Maududi. Lalu pada tahun 1991 memperoleh gelar kehormatan dari Universitas Sains Malaysia dalam bidang pemikiran Islam dan Universitas Kebangsaan Malaysia dalam bidang sastra[6].  

Persinggungan dengan Soekarno

Pada tanggal 5 September 1950 Natsir diangkat menjadi Perdana Menteri Indonesia yang kelima tetapi mengundurkan diri pada bulan September 1951 karena berselisih paham dengan Soekarno. Menurutnya, ada beberapa pemikiran Soekarno yang tidak selaras dengan ajaran Islam. Sampai-sampai ia membuat berbagai tulisan di Majalah Panji Islam yang berlangsung sepanjang tahun 1934-1940, baik secara langsung maupun tidak, ditujukan untuk mengkritik pemikiran Soekarno yang menurutnya telah “kebablasan”. Belakangan, tulisannya dikumpulkan dalam satu buah buku oleh penerbit Sega Arsy dengan judul Islam dan Akal Merdeka. Misalnya saja perihal ‘Agama dan Negara’. Soekarno, dengan mengutip cendekiawan Mesir seperti Syaikh Ali Abdul Raziq, berpendapat bahwa tidak ada perintah secara eksplisit baik dari Al-Qur’an maupun hadits yang menuntut umat Islam untuk menyatukan agama dengan negara. Soekarno juga merujuk kepada Turki dimasa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk dimana dia berhasil memajukan Turki dengan menggunakan sistem sekuler.

Tentu menurut Natsir pendapat tersebut keliru. Menurutnya, negara bukahlah tujuan akhir melainkan hanya suatu alat untuk menuju tujuan yang hakiki, yaitu kesempurnaan berlakunya undang-undang Ilahi yang terserap dalam tataran praktis kehidupan masyarakat. Bagaimana mungkin undang-undang Ilahi dapat ditegakkan jika negara dipisahkan menurut agama[7]. 

Masih berkaitan dengan urusan kenegaraan, Natsir juga tidak setuju dengan Soekarno yang pro-demokrasi. Menurutnya prinsip musyawarah tidak selalu identik dengan demokrasi. Islam memang anti absolutisme dan kesewenang-wenangan akan tetapi bukan berarti seluruh urusan diserahkan kepada keputusan majelis syura. Misalnya saja mengenai dasar pemerintahan. Menurutnya, mutlak harus berdasarkan Islam sedangkan mengenai tata cara pelaksaan hukum Islam boleh saja dimusyawarahkan[8].

Selain masalah ketatanegaraan, Natsir juga mengkritik Soekarno yang terlalu mengandalkan akal (rasio) dalam memahami ajaran-ajaran Islam. Hal ini terlihat jelas dalam tulisannya yang berjudul Islam Sontoloyo. Dalam buku tersebut, Soekarno menuangkan kegalauannya terhadap umat Islam yang telah melemahkan dirinya sendiri dengan pemahaman agama yang sempit dan juga serba irasional. Walaupun begitu, Soekarno dalam salah satu suratnya masih menghormati Natsir bahkan memujinya.

“Alangkah baiknya kalau tuan punya mubaligh-mubaligh nanti bermutu tinggi, seperti tuan M.Natsir, misalnya![9]
Bahkan sampai masa pemerintahan beralih ke tangan Soeharto, ia tak pantang mundur untuk melancarkan kritik hingga membuatnya dicekal. Pada tahun 1967 hingga ajal menjemput, ia diamanahi sebagai ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang berpusat di Jakarta.

Mendirikan Lembaga Dakwah

Untuk memperjuangkan Islam, Natsir merasa perlu membentuk sebuah wadah khusus dimana terjadi penggemblengan ilmu keislaman secara lebih mendalam. Akhirnya, di era orde baru, tepatnya pada tahun 1967 ia mendirikan sebuah lembaga dakwah yang bernama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Lewat DDII, Natsir telah mengkader ratusan masjid dan ribuan ustadz. Misinya hanya satu, tiadanya lain untuk menyebarkan ajaran Islam dan menjadikannya membumi di masyarakat[10].

Cinta Literasi

Di masa mudanya Natsir telah mencemplungkan dirinya ke dunia jurnalistik, tepatnya saat ini mengenyam pendidikan di AMS. Dua buah artikel –Qur’an en Evangelie dan Muhammad als Profeet– ditulisnya dalam majalah Algemeen Indische Dagblad pada tahun 1929 sembari menulis artikel pada surat kabar Pembela Islam hingga tahun 1935. Majalah Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, Al-Manar pun tak luput dari goresan tangannya. Konon Ada sekitar 45 buku atau monograf serta ratusan artikel yang telah ditulis sepanjang hidupnya. Adapun tema-tema pembahasannya ialah seputar dunia keislaman, sosial budaya, peran perempuan, dan hubungan antara Islam dengan politik[11].

sumber gambar: jawapos.com

[1] Herry Mohammad, dkk, hlm. 48
[2] Ibid, hlm. 48
[3] Ibid, hlm. 48
[4] www.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Natsir, dikutip pada 11 Mei 2017
[5] Salman Iskandar. (2011). 55 Tokoh Muslim Indonesia Paling Berpengaruh. Solo: Tinta Medina, hlm. 257
[6] Op cit.
[7] Herry Mohammad, dkk, hlm. 49-50
[8] Ibid, hlm. 51
[9] Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo. Bandung: Sega Arsy, hlm. 29
[10] Herry Mohammad, dkk, hlm. 52
[11] www.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Natsir, dikutip pada 11 Mei 2017

2 komentar:

  1. Kalau kita ingin melihat karya-karya beliau yang lengkap, apakah ada di perpustakaan RI?

    BalasHapus
  2. Sepertinya ada di kantor/perpus Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII)

    BalasHapus