Lagu Aisyah Istri Rasulullah Terlalu Vulgar?


M Jiva Agung W
Sudah beberapa hari belakangan ini lagu Aisyah Istri Rasulullah viral di media sosial, khususnya YouTube. Dari sekian banyak peng-cover lagu tersebut, aku paling suka nyayiannya Nisya Sabyan. Merdunya dapat, mendayu-dayunya pun dapat.

Sederhananya lagu ini menggambarkan sosok fisik Aisyah dan bagaimana relasinya dengan sang suami tercinta (Rasulullah saw), yang di dalam lagu tersebut terkesan begitu romantis.

Namun bukan warga +62 kalau tidak bertengkar. Lagu yang seperti memang disetting untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadan ini bukan hanya mendapatkan pujian namun juga cercaan. Bukan dari non Muslim, tapi dari tubuh internal (sebagian) umat Muslim itu sendiri.

Setidaknya ada dua hal yang menjadi fokus “kritik” mereka, yakni mengenai keharaman musik (mengenai hal ini aku malas membahasnya, bosen!!) dan soal lirik lagu yang menurutnya vulgar. Namun benarkah demikian? Tulisan ini lebih membahas “kritikan” yang terakhir.

Sejujurnya ketika pertama kali mendengar lagu ini, hatiku langsung berkata “Ini keren banget yang menciptakan lagunya. Kok bisa ya liriknya sesuai dengan literatur sirah yang pernah aku baca bertahun-tahun lalu?” Ini mah pasti penciptanya melakukan “riset ilmiah” dulu sebelum membuat lagu tersebut.

Pertama kali aku tertarik membaca buku-buku Islam, kalau tidak salah ketika berada di bangku SMA, buku awal yang aku baca adalah tentang sirah, baik itu biografi Nabi Muhammad, biografi istri-istri beliau (khususnya Khadijah, Aisyah, Maryam al-Qibtiyyah) maupun para sahabat dekatnya (khulafaurasyidin). Salah satu buku biografi Aisyah yang saya baca adalah karangan Sulaiman an-Nadawi, ulama dan sejarawan peraih gelar doktor honoris causa dari The Muslim University of Aligarh. Di dalam buku ini banyak mengisahkan mengenai hubungan romantisme Rasulullah dengan Aisyah, yang ternyata selaras dengan (sebagian) lirik lagu Aisyah Istri Rasulullah. Begitu pula dengan isi dari sirah-sirah lainnya.

Misalnya, lirik awal yang menggambarkan fisik Aisyah, “Kulit putih bersih merahnya pipimu.” Sudah umum diketahui, karena ditulis dalam sirah-sirah terkenal, kalau Aisyah memiliki pipi yang kemerah-merahan sehingga disebut oleh nabi sebagai humairah (yang kemerah-merahan).

Kemudian lirik “Sungguh sweet nabi mencintamu, hingga nabi minum di bekas bibirmu.” Ini juga ada di dalam hadis atau sirah. Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata: “Aku biasa minum dari gelas yang sama (dengan Rasulullah) ketika haid, lalu Nabi saw mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” (HR. Abdurrozaq dan Said bin Manshur, dan riwayat lain yang senada dari Imam Muslim).  Dalam riwayat lain nabi pernah minum di gelas yag digunakan Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit Aisyah (HR. Muslim).

Kisah romantisme ini belum seberapa. Tahukah kalian kalau ada juga riwayat yang mengungkapkan kalau pengaktualan romantisnya Rasulullah ialah juga dengan pernah mandi bersama Aisyah atau istri-istinya yang lain (salah satunya Ummu Salamah). Dari Aisyah berkata, “Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah saw dengan satu tempat air, tangan kami selalu bergantian mengambil air.” Dalam riwayat Ibn Hibban ditambahkan, “Dan tangan kami bersentuhan.”

Ada juga lirik “bila marah nabi kan memanja mencubit hidungnya.” Dalam satu riwayat disampaikan bahwa ketika Aisyah marah Nabi Muhammad mencubit hidungnya dan berkata, “Wahai Uwaisy (panggilan kecil Aisyah) katakanlah ‘Ya Allah, Rabb Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan.” Meskipun ada yang mengatakan kalau hadis ini daif.

Lalu ada lirik “Dengan baginda kau pernah main lari-lari...” Riwayat hadis mengenai kisah ini sudah sangat masyhur. Karena sangat panjang saya tidak perlu menuliskannya. Silakan yang mau tahu tinggal searching!

Selanjutnya, lirik “Selalu bersama hingga ujung nyawa, kau di samping Rasulullah...” Dikatakan bahwa di akhir-akhir hidupnya Rasulullah, ketika jatahnya sedang berada di rumah istri yang lain selain Aisyah, beliau sering berkata “Besok aku akan di rumah siapa?” Hal ini dianggap oleh istrinya yang lain sebagai harapan rasulullah untuk segera berjadwal malam di tempat tinggal Aisyah. Mengetahui harapan ini, istri nabi yang lain suka memberikan jatah malam rasul yang seharusnya di rumahnya untuk diberikan kepada Aisyah.

Di dalam cerita, khususnya literatur Sunni, dikatakan bahwa Rasulullah memang meninggal tepat berada di pangkuan Aisyah. Di dalam kondisi-kondisi lain, malah diceritakan kalau Rasulullah itu sering bermanja dengan merebahkan kepalanya di pangkuan Aisyah.

Sebenarnya masih ada banyak lagi literatur yang mengisahkan romantisme hubungan Rasulullah dengan Aisyah, yang barangkali substansinya bisa tetap dipraktikkan oleh suami-istri zaman sekarang.

Aku mau mengutip satu lagi riwayat romantisme mereka berdua. Dikisahkan bahwa Rasulullah sedang bersama dengan Aisyah. Istri nabi ini bercerita, “Orang-orang Habasyah masuk ke dalam masjid untuk bermain (latihan pedang). Nabi saw bertanya kepadaku, “Wahai humairah, apakah engkau ingin melihat mereka?” Aku menjawab, “Iya.” Nabi saw kemudian berdiri di depan pintu, lalu aku mendatanginya, dan aku letakkan daguku di atas pundaknya kemudian aku sadarkan wajahku di pipinya. (Setelah agak lama) Rasulullah pun bertanya, “Sudah cukup—engkau melihat mereka bermain.” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah jangan terburu-buru.” Lalu beliau tetap berdiri untukku agar aku bisa terus melihat mereka...Aisyah berkata, “Sebenarnya aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para wanita mengetahui bagaimana kedudukan Rasulullah saw di sisiku dan kedudukanku di sisinya.”

Kisah atau ajaran Islam yang seperti inilah yang perlu disebarkan di dalam situasi digital-sosial yang serba penuh kejulidan dan kebencian. Sisi ajaran Islam yang damai dan romantis, suami istri yang penuh kasih sayang  bukanlah sesuatu yang vulgar, malah patut dicontoh, tentu dengan tetap mempertimbangkan aspek-aspek budaya bangsa Indonesia. 


Jadi aku bingung kalau ada orang yang bilang kalau lirik lagu ini vulgar apalagi fiktif. Berarti ketahuan kalau mereka ini belum pernah benar-benar mencintai Rasulullah dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kisah-kisah yang begini kok mereka tidak tahu. Apa yang mereka tahu hanya soal perang, Abu Jahal, dan yang semacamnya saja ya?

So, kalian yang katanya pengikut Rasulullah, sudah meneladani kepribadian romantisnya beliau belum? Kalau aku sih belum, karena masih jomblo fillah. Jiaaelah.

sumber gambar: idntimes.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar