Kausalitas Alam atau Kuasa Tuhan?

Jiva Agung

Tulisan ini membahas seputar relasi alam, Tuhan, dan manusia. Apakah alam itu bekerja melalui sunnahtullah (natural causation) belaka? Atau Tuhan bisa dengan “semaunya” mengubah hukum sebab-akibat tersebut, setelah misalnya, mendengar doa dari ratapan hambanya? Di Indonesia sendiri lebih banyak yang cenderung mempraktikkan konsep takdirnya kaum Jabariyyah ketimbang Qadariyyah.

Memang, ada beberapa buku yang juga membahas persoalan ini ketika banyak orang (ustadz, atau mungkin bahkan ulama) mencoba untuk menghindarinya. Sayangnya saya masih belum merasa puas dengan argumentasi-argumentasi yang dipaparkannya. Misalnya Quraish Shihab dengan konsep inayatullah-nya, atau Mulyadhi Kartanegara dengan konsep “bengkel kerja-nya” Tuhan ala Rumi, yang kemudian diperkuat dengan prinsip ketidakpastian-nya Heisenberg.

Baru-baru ini muncul lagi seorang pemikir yang membahas hal tersebut, seakan hendak kembali membangkitkan rasa kegelisahan saya atas persoalan yang lama berlarut-larut dalam pikiran.
Di tulisannya yang berjudul Doa: Menggerakkan Alam Ruhani, Mengubah Takdir (bagi yang belum membacanya, silakan klik link ini[1]) Haidar Bagir—cendekiawan Muslim yang memiliki concern terhadap filsafat, tasawuf, dan agama—mencoba untuk mengelaborasikan tesisnya bahwa doa memiliki peran praktis terhadap aktivitas manusia. 

Menurutnya, sifat alam semesta memiliki dua wajah yang saling berkaitan. Pertama adalah ‘alam al-khalq (alam fisik) yang tata operasionalnya diatur oleh hukum alam (saintifik). Kedua, adalah ‘alam al-amr (alam ruhani). Untuk melegitimasi adanya alam ruhani ini, beliau merujuk surat al-Isra ayat 85: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu berada di bawah pengarahan Tuhanku...” yang mana ayat ini disambung dengan redaksi “...dan kamu tidak diberikan pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit.” Sehingga manusia berkemungkinan untuk mengetahuinya, betapapun sedikit. Yang mengganjal di hati saya ialah, apa dasarnya ayat ini digunakan sebagai legitimasi soal keberadaan alam ruhani?

Lalu dinyatakan bahwa kejadian yang ada di dunia ini merupakan interaksi atau hubungan antara operasionalnya alam fisik dengan operasionalnya alam ruhani. Bila ada perubahan di alam ruhani, maka apa yang terjadi di alam fisik juga bisa berubah. Pernyataan ini, sekali lagi, mengganjal di pikiran saya. Atas dasar apa bahwa gerak operasional alam fisik dipengaruhi atau tergantung pada operasional alam ruhani? Atas dasar apa pula alam ruhani memiliki hirarki yang lebih tinggi dibanding alam fisik?

Cara menggerakkan hukum-hukum, Bagir melanjutkan, yang ada di alam ruhani salah satunya adalah melalui doa. Ada inayah (dukungan/pertolongan) dari Allah, yang terkadang disebut imdad ghaibiyah, yang mampu mengubah akibat hukum alam. Lalu beliau memberi contoh mengenai suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis namun berkat doa, penyakit tersebut dapat terangkat. Bagir mengatakan:

“Apabila kita berdoa dan mampu menggerakkan hukum-hukum yang berlaku di alam ruhani, kemudian hukum tersebut bekerja mempengaruhi hukum-hukum yang berlaku di alam fisik, maka hal yang tadinya bersifat mustahil menurut hukum alam fisik, bisa terjadi karena adanya pengaruh bekerjanya hukum-hukum di alam ruhani itu”

Saya menyangsikan, setidaknya untuk sementara, keaktualan pernyataan ini. Apakah benar ada orang yang tidak bisa disembuhkan melalui medis lantas dapat sembuh semata-mata melalui doa—dengan skema seorang manusia berdoa, kemudian Allah mendengar rintihannya, oleh karena itu Dia mengubah sunnahtullah alam fisik sehingga orang tersebut dapat sembuh dari penyakitnya? Faktanya, sangat banyak orang yang sudah bermunajat meminta agar penyakitnya diangkat, tetap saja masih terbaring sakit, atau bahkan meninggal.

Atau, dalam kasus yang lain, jika benar doa dapat mempengaruhi gerak operasional alam ruhani sebagaimana yang diungkapkan oleh Haidar Bagir, mengapa sudah banyak umat Muslim (termasuk ulama-ulama terkemuka) yang berdoa untuk meminta diakhirinya fase pesebaran virus covid-19 ini lantas belum ada titik terang yang jelas? Alih-alih harapan besar kita ada di dunia medis, yang dibantu dengan kebijakan pemerintah yang tepat plus kepatuhan masyarakat.

Kita dapat memperluasnya ke dalam skala global. Misalnya, di mana efektivitas doa (yang sudah dipanjatkan oleh sangat banyak umat Muslim di dunia) ketika ketika sampai hari ini saudara-saudara Muslim kita di Palestina atau Rohingya masih dalam keadaan merana?

Akhirnya, walaupun terkesan sinis dengan doa, bukan berarti saya anti berdoa sebab bagi saya doa masih memiliki—dan mungkin hanya memiliki satu kebermanfaatan ini—kegunaan psikis: ketenangan yang berimplikasi pada kestabilan emosional, imunitas, dan terhindar dari pikiran-pikiran negatif yang bisa berdampak pada timbulnya penyakit-penyakit fisik.

sumber gambar: renunganlenterajiwa.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar