HOS Tjokroaminoto: Perjalanan Panjang Guru Tokoh Bangsa

Panji Futuhrahman
Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Madiun, tepatnnya desa Bakur pada 16 Agustus 1882. Ia merupakan anak kedua dari 12 bersaudara dari Raden Mas Tjokromiseno. Nama Tjokroaminoto sendiri diberikan dengan harapan kelak anak tersebut bisa menjadi pemimpin yang berani membela kebenaran dan bisa membebaskan rakyat dari penindasan.


Ia berasal dari keluarga yang terhormat yang mewarisi darah bangsawan sekaligus ulama. Buyutnya merupakan Kiai Bagus Kasan Besari, ulama kharismatik pengasuh pondok pesantren Tegal Sari di Ponorogo yang menikah dengan putri dari susuhunan Paku Buwono III.

Kakeknya bernama Tjokronegoro yang merupakan Bupati Ponorogo. Sedangkan ayahnya adalah seorang pegawai pemerintahan yang cukup dihormati.

Di lingkungan pergaulannya, ketika kecil ia menjadi anak yang kehadirannya ditunggu dan terkenal sebagai anak yang pemberani dan suka berkelahi. Ia kerap merepotkan ayahnya karena kenakalannya dan beberapa kali, Tjokromiseno sering kedatangan masyarakat yang mengadu bahkan meminta pertanggung jawaban akibat kenakalan Tjokroaminoto muda.

Kenakalannya berlanjut hingga ia duduk di bangku sekolah, ia harus pindah sekolah beberapa kali akibat kenakalannya tersebut, namun meski memiliki sifat nakal, ia juga terkenal sebagai anak yang cerdas, ia bahkan dengan cepat menguasai kemampuan membaca, menulis dan menghitung.

Tahun 1897 ia lulus dari sekolah Belanda tingkat dasar. Di samping mahir membaca, menulis dan berhitung, ia juga dinilai menguasai bahasa Belanda dengan baik. Ia lantas melanjutkan pendidikannya di OSVIA (Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren) atau sekolah calon pegawai pemerintah yang berada di Magelang, Jawa Tengah. Berkat kecerdasan dan pamor ayahnya, ia menjadi murid yang disegani.

Menolak Jalan Jongkok di Hadapan Belanda

Tahun 1902 ia dinyatakan lulus dari OSVIA, ia kemudian ditugaskan menjadi juru tulis Patih Ngawi. Setelah dianggap cukup umur dan bisa bertanggung Jawab, Tjokroaminoto dinikahkan oleh ayahnya dengan Raden Ajeng Soeharsikin, putri Patih (Wakil Bupati) Ponorogo Raden Mangoensoemo.

Bekerja sebagai juru tulis di pemerintahan membuatnya harus bersinggungan dengan budaya feodal, salah satu yang ia benci adalah keharusan untuk jalan jongkok jika berpapasan dengan orang Belanda dan di samping itu, banyak hal yang menurutnya sangat merendahkan kaum pribumi di hadapan orang Belanda bahkan yang jabatannya berada di bawahnya. Ia menilai hal ini sebagai sebuah kekeliruan yang tidak bisa ia terima.

Ia kemudian memutuskan untuk berhenti, tepatnya pada tahun 1905. Keputusan ini tentu saja ditentang keluarganya terutama mertuanya yang memiliki jabatan di pemerintahan pula, yang mana keputusannya ini tentu akan menurunkan pamornya. Namun tekadnya sudah bulat, ia tak tertahan lagi untuk angkat kaki dari pekerjaan sebagai juru tulis tersebut.

Keadaan yang tidak mengenakkan tersebut membuatnya tidak nyaman berada serumah dengan mertuanya, ia harus pergi sedangkan istrinya sedang mengandung anak pertamanya, Oetari, yang kemudian hari dinikahkan dengan bung Karno.

 

Berpisah dengan Istrinya yang Hamil    

Pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil, ia menuju Semarang. Di kota ini ia bekerja sebagai kuli pelabuhan, meski pekerjaan ini tidak cocok baginya yang lebih mengedepankan intelektualnya ketimbang kekuatan fisik, tapi ia tetap jalani, dan pekerjaan ini menjadi awal bagi penghayatannya terhadap kehidupan masyarakat kelas bawah.

Tak lama di Semarang ia kemudian pindah ke Surabaya, di kota ini ia tinggal di gang Paneleh VII. Kota ini lebih dekat dengan Ponorogo tempat istrinya tinggal. Di sini ia memulai pekerjaan sebagai tenaga administrasi di perusahaan dagang firma Kooy &Co. Pekerjaan yang satu ini ia rasa lebih cocok karena mengedepankan kerja pikiran.

Selang berapa lama ia tinggal di Surabaya, hingga akhirnya kabar mengenai kelahiran putri pertamanya sampai ke telinganya. Ia kemudian menuju Ponorogo untuk menengok istri dan putrinya tersebut. Kehadiran putri Oetari meluluhkan amarah mertuanya atas masalah yang sebelumnya membuat Tjokroaminoto harus berjauhan dengan Soeharsikin. Akhirnya Raden Mangoensoemo mengizinkan Tjipto untuk membawa Soeharsikin dan Oetari menuju kediamannya di Surabaya.

Pekerjaannya di firma Kooy &Co ia tinggalkan karena menurutnya ia tidak berkembang karena pekerjaannya sudah amat ia kuasai. Ia kemudian bekerja sebagai teknisi di pabrik gula pada 1910, namun lagi-lagi situasi diskriminasi antara pegawai Belanda dan bumi putera membuat tidak senang dan memutuskan untuk angkat kaki. Setelah itu ia bekerja di sebuah biro teknik sebagai teknisi mesin alat-alat elektronik.

Sembari bekerja dan mengurusi anak istri, ia tidak lupa menuntut ilmu, pada 1907 ia menamatkan pendidikan Burgerlijk Avond School, semacam sekolah teknik yang ia tamatkan dalam 3 tahun.

 

Kamar Kos Gang Paneleh

Rumahnya yang bertempat di gang Paneleh cukup luas, bagian belakangnya ia sekat dengan papan menjadi kamar kos yang diperuntukkan pelajar yang merupakan siswa dari MULO (Meer Uitbreid Lager Onderwijs) dan HBS (Holland Binnenlands School). Dari kamar kosan ini lah orang-orang yang mewarnai sejarah bangsa ini lahir di antaranya adalah Soekarno, Kartosoewirjo, Abikoesno Tjokrosujoso, Musodo, Alimin, hingga Semaoen.

Soekarno merupakan penghuni kamar kosan yang yang paling istimewa, ia dititipkan oleh ayahnya langsung yang memang sudah saling kenal dengan Tjokroaminoto, bahkan saat Tjokroaminoto didera kesedihan berkepanjangan akibat kehilangan sang istri yang meninggal, kehadiran Soekarnolah yang dapat menghiburnya, dengan menikahi putri pertamanya Oetari, meski saat itu Oetari masih sangat muda yakni berumur 14 tahun dan pernikahan itu harus berakhir 2 tahun kemudian karena kesibukan bung Karno yang mulai terjun pada aktivitas pergerakan sedangkan dikabarkan saat itu Oetari masih senang bermain lompat tali dan bola beklen dengan sepupu-sepupunya.

Kartosoewirjo merupakan sekretaris pribadi Tjokroaminoto, pernah beberapa tahun tinggal di rumah Tjokro. Di kemudian hari ia harus bersebrangan dengan Tjokro juga harus berhadapan dengan Soekarno karena di masa kemerdekaan, ia merupakan pemimpin dari gerakan Negara Islam Indonesia yang melakukan pemberontakan di beberapa daerah. Pun halnya dengan Muso dan Alimin, yang bersama Semaoen menjadi pentolan dari Partai Komunis Indonesia.

 

Raja Tanpa Mahkota

Jasanya untuk pergerakan nasional tidak terlepas dari posisinya di Sarekat Islam. Namanya bahkan lebih mentereng dan berpengaruh dibanding pendiri organisasi ini sendiri. Ia yang baru direkrut menjadi anggota pada 1912. Hanya butuh waktu setahun untuk kemudian menjadi pengurus inti. Dan beberapa tahun kemudian namanya sudah bercokol menjadi pimpinan, menggeser Samanhoedi yang hanya menjadi ketua kehormatan yang tak lebih hanya jabatan tanpa kekuasaan.

Sarekat Islam di tangan Tjokro disebut sebagai pelopor gerakan nasional, yang dari rahimnya pula turut melahirkan gerakan-gerakan lainnya. Semula orang-orang yang menghimpun gerakan-gerakan dari berbagai etnik dan ideologis serta beragai kepentingan. Mulai dari gerakan yang mensejahterakan buruh seperti yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Barat, di Semarang dan Madiun.

Ada pula gerakan intelektual-keagamaan dengan mendirikan Ta’mirul Ghofilin atas saran K. H. Ahmad Dahlan ketua dari Muhamadiyah. Serta komunitas dagang sebagaimana gerakan ini bermula dari Serikat Dagang Islam pada periode sebelumnya. Di kemudian hari, gerakan-gerakan itu mengambil bentuknya masing-masing dan penggeraknya tidak lain adalah murid dan orang dekatnya Tjokro.

Tjokro disebut Belanda sebagai raja tanpa mahkota. Hal ini tidak terlepas dari jumlah anggota Sarekat Islam saat itu yang mencapai 2 juta lebih. Orasinya selalu didengar khidmat oleh pengikutnya. Setiap rapat terbuka, peserta yang hadir selalu lebih banyak dari perkiraan panitia, bahkan hampir dua kali lipatnya. Gaya orasinya yang kemudian ditiru oleh bung Karno. Suaranya lantang dan berat, jika ia sudah naik podium, peserta yang semula riuh dan saling mengobrol akan senyap dan mengarahkan matanya pada Tjokroaminoto. Bahkan di beberapa daerah, ia dianggap sebagai Ratu Adil, cerita turun-temurun masyarakat Indonesia tentang sosok yang akan membawa kebangkitan Nusantara.

Kekuasaannya makin diakui ketika ia bersama Sarekat Islam menjadi medium bagi berkumpulnya para buruh dan terlibat di berbagai aksi pemogokan. Di kalangan keagamaan juga namanya dihormati karena kedekatannya dengan K. H Ahmad Dahlan, Faqih Hasyim dan tokoh-tokoh keagamaan lainnya. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), tokoh keagamaan besar yang pernah dimiliki Indonesia, bahkan mengakui pernah menyusup saat ia masih berusia 17 tahun di forum keagamaan dimana Tjokro sebagai mentornya.
Hamka menyebutkan bahwa Tjokro berbadan kurus, matanya bersinar, kumisnya melentik ke atas, badannya tegap dan sikapnya penuh keagungan, sehingga walau ia tidak lagi memperdulikan titel Raden Mas yang tersemat di depan namanya, namun kehadirannya di suatu forum tetap membawa kebesaran dan kehormatan.

Di samping itu, keberaniannya tidak perlu diragukan. Saat ia dihadapkan atas tuduhan disebuah persidangan, hakim Belanda bertanya, ”Apakah tuan Tjokro tahu berhadapan dengan siapa?” hakim itu menukas lagi,” tuan sedang berhadapan dengan ketua pengadilan tinggi Belanda”. Tjokro menjawab tenang, ”Tahukah tuan sekarang duduk dihadapan siapa? Ketua Central Sarekat Islam seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, sakit ginjal dan maag kronis akhirnya mengakhiri perjuangan Tjokro. Ia meninggal pada 17 desember 1934 dan kemudian dimakamkan pada pemakaman umum kuncen, kampung Pakuncen, kecamatan Wirobrajan kota Yogyakarta. Rumahnya jadi tempat berkumpul, bernaung dan belajarnya anak-anak muda yang dikemudian hari memberikan warna bagi sejarah Indonesia.

sumber gambar: bekasikab.go.id

Referensi
Marihandono, D., Tangkilisan, Y. B., & Juwono, H. (2017). H. O. S. Tjokroaminoto. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Setyarso, B., Sunudyantoro, Wiguna, O., Arvian, Y., Septian, A., & Aprianto, A. (2017). Tjokroaminoto. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar