Cak Nun dan Komunitas Maiyyahnya

Sella Rachmawati
Izinkan saya menuliskan sedikit tentang salah satu tokoh idola saya. 

Emha Ainun Nadjib atau lebih dikenal dengan sebutan Cak Nun atau Mbah Nun adalah seorang yang lahir di Jombang , Jawa Timur 27 Mei 1953. Beliau adalah orang yang mengambil peran saat pelengseran Presiden Soeharto beserta delapan orang lainnya. 

Cak Nun adalah seorang budayawan, sastrawan, ustad, kyai walaupun beliau enggan disebut ustad dan kyai, tapi bagi saya beliau adalah seorang guru, bapak, kakek bagi para anak cucu yang mengikutinya termasuk saya di dalamya. 

Ia adalah seorang anak pemuka agama di kampungnya yang hidup sederhana. Sejak kecil Cak Nun sudah memiliki kepekaan sosial. Cak Nun dalam riwayat pendidikan nyatanya tidak bagus-bagus amat, itu juga yang selalu ia kemukakan kepada Jamaah Maiyah. Bahkan di Pondok Pesantren Gontor ia dikeluarkan karena mengajak teman-temannya berdemo saat mengetahui ada aturan yang dianggapnya tidak adil. 

Di UGM pun ia tidak pernah menyelesaikan kuliahnya karena ia terlalu aktif sebagai seniman dengan berfokus pada puisi, drama dan teater di sekitar Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Awal mula saya mulai tertarik dengan beliau adalah saat saya diajak ke pengajiannya di kantor penerbit Mizan Bandung saat itu. Awalnya tak begitu tertarik karena bahasannya yang cukup mendalam dan saya tidak banyak mengerti, lama-kelamaan kemudian saya follow akun instagram yang berisi tentang kata-kata Cak Nun yaitu akun @noureez12 dan akun @edhnx juga masuk di grup WA yang anggotanya sama-sama pecinta Cak Nun kalau boleh disebut seperti itu. Saya mulai tertarik untuk membeli dan membaca buku-buku Cak Nun, saya juga direkomendasikan untuk membaca laman caknun.com. 

Pada saat aktif di grup WA saya juga baru mengetahui jika Cak Nun memiliki perkumpulan khas dengan anak cucunya, yaitu Maiyah. Miayah sendiri diambil dari Alquran yang memiliki makna kebersamaan. Makanya dalam beberapa tulisannya beliau selalu mengajak Jamaah Maiyah untuk ikut serta hadir dalam tulisannya. 

Tak hanya dalam tulisan-tulisan, Maiyah hadir di beberapa kota dan memiliki nama tersendiri yang dilaksanakan setiap sebulan sekali. Awal mula Maiyah lahir itu di Jombang tempat kelahiran beliau dengan nama Padhangmbulan, kemudian diikuti oleh kota-kota lain, seperti  Mocopat Syafaat di Yogyakarta, Gambang Syafaat di Semarang, Kenduri Cinta di Jakarta, Bangbang Wetan di Surabaya, Jamparing Asih di Bandung dan masih banyak lagi hingga keluar pulau Jawa bahkan Luar negeri, seperti Tong II Qoryah di Korea Selatan, bahkan Mafaza di Eropa.

Beberapa kali saya turut hadir dalam lingkar maiyah di Bandung dan Jakarta, saya merasakan atmosfer yang berbeda dengan pengajian-pengajian lain. Di Maiyah siapa pun bisa hadir, mulai dari preman tatoan, hingga orang kantoran. Dari yang tak tamat sekolah sampai yang paling tinggi sekolah. 

Kami tidak merasakan adanya sekat sosial, semua bercampur baur dengan tetap menjaga keharmonisan satu sama lain, saling menjaga keamanan satu sama lain, saling menjaga kenyamanan satu sama lain. 

Di Maiyah kita mengenal cinta segitiga, yaitu Allah, Rasulullah, dan makhluk-Nya. Di maiyah kita juga tidak sedang dinasehati oleh satu orang guru, maka siapa pun yang dirasa mampu akan diajak naik panggung dan menyampaikan apa yang ia tahu. 

Tapi Cak Nun selalu mengingatkan untuk selalu mengolah kembali apa-apa yang disampaikan di atas panggung. Di Maiyah tidak hanya konsep satu arah, tapi Cak Nun selalu bertanya dan membuka diskusi kepada Jamaah Maiyah, selain itu, di Maiyah kita akan disuguhkan oleh penampilan-penampilan entah dari Gamelan Kyai Kanjeng ataupun penampilan khas daerah atau seni-seni lainnya. 

Cak Nun baik di dalam lingkaran Maiyah atau tulisan-tulisannya yang mungkin berjumlah ratusan selalu mengajak setiap pendengar dan pembaca selalu membumi, mengenal diri yang sejati, selalu introspeksi diri dari setiap masalah yang dihadapi.

 Cak Nun bagi saya pribadi bisa membut saya bergetar hati, bahkan menangis ketika membaca karya-karya beliau dan mendengarkan beliau bahwa tanpa ada embel-embel apa pun ia terlihat sangat peduli dan menyayangi sesamanya, menghargai siapa pun yang berada di dekatnya, bahkan ia sangat mencintai tanah yang dipijak dan memainkan perannya sesuai yang Allah beri. 

Ia rela ke sana ke mari dalam waktu berdekatan untuk menemui para Jamaah Maiyah hingga larut malam, berdiskusi, memecahkan masalah disertai guyonannya yang khas. Tak lupa di akhir pertemuan Maiyah ia selalu menyempatkan diri untuk lebih dekat memeluk dan mendoakan para Jamaah Maiyah walaupun besoknya ia harus pergi menemui Jamaah Maiyah di kota lain.

Sejujurnya saya berat menuliskan tentang Cak Nun, karena sulitnya mendapatkan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa luar biasanya beliau di mata saya tentu ini adalah buah karya dari sang Pencipta, segala puji hanya bagi-Nya. Terima kasih Mbah Nun. Semoga Mbah Nun selalu sehat dan masih mau menemani anak cucunya. 

sumber gambar: caknun.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar