Ahmad Dahlan: Ulama Berani Beda


Jiva Agung
Ia dapat dikatakan sebagai tokoh pembaharu Islam di Indonesia karena telah berperan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang lebih modern[1]. Sampai detik ini kita masih dapat merasakannya dengan menjamurnya lembaga pendidikan Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Darwis, begitu ia disapa saat masa kecilnya, lahir pada tahun 1868 di Kauman, Yogyakarta. Ayahnya, K.H Abu Bakar bin Sulaiman, merupakan seorang ulama kenamaan yang menjabat sebagai khatib di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta, sedangkan ibunya merupakan putri dari H.Ibrahim bin Hassan, yaitu seorang pejabat penghulu kesultanan[2].

Darwis muda tidaklah memperoleh kesempatan mendapat ilmu di sekolah formal, tetapi sebagai gantinya ia dididik oleh ayahnya langsung. Selanjutnya, ia belajar agama kepada beberapa ulama seperti KH Muhammad Shaleh, KH. Muhsin, KH. R. Dahlan, KH. Mahfudz, Syaikh Khayyat Sattokh, Syaik Amin, dan Sayyid Bakri[3].

Pada tahun 1888 sang ayah memintanya untuk mengunjungi Baitullah. Ia menerimanya dengan senang hati, dan bermukim di sana selama lima tahun untuk menuntut ilmu. Ada banyak subjek ilmu yang dipelajarinya seperti qiraah, fikih, tasawuf, ilmu mantiq, dan ilmu falaq. Sepulang dari sana, Darwis mengganti namanya menjadi Haji Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1903, ia berkesempatan untuk kedua kalinya ke Mekkah. Kedatangannya yang kedua di Mekkah sedikit berbeda dengan yang pertama. Kali ini Ia mulai gencar mempelajari ajaran-ajaran para pemikir pembaharu Islam seperti Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan juga Rasyid Ridha[4]. Di sana Ahmad Dahlan belajar dari ulama besar asal Indonesia, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi[5].

Mendirikan Muhammadiyah

Sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan menjadi pengajar agama di kampungnya. Selain itu, ia juga menjadi pengajar di sekolah negeri seperti Kweekschool (sekolah pendidikan guru) di Jetis dan Opleiding School Voor Inlandhsche Ambtenaren (OSVIA, sekolah untuk pewagai pribumi) di Magelang[6].

Setelah Ahmad Dahlan berpikir panjang, rasanya tidak cukup jika hanya mengajar di sekolah saja. Ajaran Islam tidak dapat menyebar secara keseluruhan sedangkan kebutuhan untuk menjalankan ajaran agama semakin mendesak. Lagi pula kehadiran penjajah Belanda –yang berusaha merusak tatanan sosial masyarakatmembuat kehidupan perdagangan dan perpolitikan umat Islam tersendat bahkan hancur. Keadaan semakin diperparah dengan mulai berkembangnya kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyimpang dari kesucian dan kemurnian ajaran Islam[7]. Fatalisme, khurafat, takhayul, bid’ah, dan pengkultusan yang berlebihan merupakan sebagian contohnya. 

Di sisi lain, masyarakat Indonesia masih diliputi dengan keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Dari latar belakang inilah akhirnya ia memutuskan untuk mendirikan sebuah lembaga Muhammadiyah yang berdiri pada tanggal 8 November 1912. Misi tertingginya tiada lain untuk mengembalikan umat Muslim kepada sumber ajaran aslinya, Al-Qur’an dan hadits yang diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan Islam[8].

Tindakan nyata Muhamadiyah yang disokong oleh Ahmad Dahlan tidak pernah jauh dari tiga hal, yakni rumah bagi anak yatim dan fakir miskin, rumah sakit, dan lembaga pendidikan[9]. Kita melihat sampai saat ini kegiatan tersebut masih dilakukan oleh para penerusnya.

Saat itu bentuk struktur keorganisasiannya masihlah begitu sederhana, dengan nama-nama anggota sebagai berikut:
1.      Mas Ketib Amin, KH. Ahmad Dahlan (ketua)
2.      Mas Pengulu, Abdullah Sirat (sekretaris)
3.      Raden Ketib Tjandana, Hadji Ahmad
4.      Hadji Abdul Rahman
5.      Raden Hadji Sarkawi
6.      Mas Gebajan, Hadji Muhammad
7.      Raden Hadji Djaelani
8.      Hadji Anis
9.      Mas Djarik, Hadji Muhammad Pakih[10]
Ketika organisasi ini telah mendapatkan pengesahan dari pihak Belanda (1914), ia mendirikan perkumpulan bagi kaum perempuan yang bernama Sapatresna. Pada tahun 1920 berganti nama menjadi Aisyiyah. Mengenai tujuan pokoknya adalah mengandakan kajian-kajian keislaman seputar masalah kewanitaan. Perkumpulan ini untuk pertama kalinya dipimpin langsung oleh istri Ahmad Dahlan, Nyai Ahmad Dahlan[11].

Di tahun 1917 Ahmad Dahlan membentuk pengajian malam Jumat sebagai forum dialog dan tukar pikiran seluruh warga –juga para simpatisan Muhammadiyah. Dari forum ini kemudian lahir korps mubalig keliling yang bertugas untuk menyantuni dan memperbaiki kehidupan yatim piatu, fakir miskin, dan warga yang sedang terkena musibah.

Satu tahun kemudian ia mendirikan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) yang ditujukan bagi para kaum muda. Sedangkan pada tahun 1920 didirikanlah sebuah panti asuhan yatim piatu Muhammadiyah. SKemudian ia membentuk badan yang membantu persoalan pelaksanaan ibadah haji bagi orang Indonesia (1921), dan mendirikan Nasyiatul Aisyiyah (1922)[12].

Seputar Pendidikan Muhammadiyah

Rasyidi mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan menurut Muhamadiyah ialah untuk menjadikan manusia yang maju dan pantang menyerah, sebagaimana yang dirumuskan pada tahun 1936, dan untuk mewujudkan hal tersebut, harus ada tiga jenis pendidikan yang diajarkan, pertama, pendidikan moral (akhlak) yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan karakter manusia yang baik, berdasarkan Al-Qur’an dan hadits; kedua, pendidikan individu yang bertujuan untuk menumbukan kesadaran individu yang utuh, yang berkesinambungan antara keyakinan dan intelektual, antara akal dan pikiran, serta antara dunia dan akhirat; ketiga, pendidikan kemasyarakatan, yaitu sebagai usaha untu menumbuhkan kesepakatan dan keinginan hidup bermasyarakat[13].

Pendidikan ala Muhammadiyah sudah tidak lagi mengikuti pendidikan tradisional ala pondok pesantren tradisional, karena menurut Ahmad Dahlan sistem pendidikan di Indonesia harus dapat menyusuaikan diri dengan kemoderenan (pendidikan Barat).

Ada dua model persekolahan yang dibentuk oleh Ahmad Dahlan, pertama adalah model persekolahan umum. Sekolah ini pertama kali dibuat olehnya pada tahun 1911 di Kauman, Yogyakarta. Sekolah tingkat dasar yang berawal dari sebuah pengajian ini memiliki murid-murid laki-laki dan perempuan. Mereka sudah meggunakan papan tulis, bangku, kapur, serta alat-alat peraga;

Kedua adalah madrasah, yang didirikan mengikuti model gubernamen. Perbedaannya dengan yang pertama hanyalah pada kuota pendidikan agamanya yang lebih banyak 3/2 dari sekolah umum. Dalam satu ruangan sudah tidak lagi memisah antara laki-laki dan perempuan. Mereka digabung dalam ruangan yang sama[14].

Berani Berbeda

Pernah terjadi sebuah ketegangan saat Ahmad Dahlan berusaha ingin membenarkan arah kiblat yang ada di masjid Keraton. Setelah memutuskan matang-matang, akhirnya pada tahun 1898 ia mengundang para ulama dari Yogyakarta untuk membahas hal ini. Terjadi perdebatan yang menegangkan. Ada yang pro dengan Ahmad dan ada pula yang kontra. Betatapun arah diskusi condong untuk menguat pada ide Ahmad Dahlan. Sayang, akhir perdebatan tersebut tidak membuahkan hasil apa pun.

Tidak puas dengan hasil yang serba menggantung, Ahmad Dahlan bergegas menuju ke kediaman Kepala Penghulu Keraton. Saat itu dijabat oleh KH Muhammad Chalil Kamaludiningrat. Sekali lagi, usul Ahmad ditolak. ia semakin gelisah, dan dengan sedikit nekat ia memberanikan diri, bersama beberapa kawannnya, untuk meluruskan arah kiblat dengan memberi garis putih di shaf masjid tersebut. Tentu saja itu merupakan sebuah tindakan pelanggaran. Ahmad Dahlan harus menerima konsekuensinya. Ia diberhentikan sebagai khatib di masjid Agung tersebut[15].

Ada kasus lain dimana ia melakukan sebuah tindakan yang menurut ukuran zaman itu, tidak relevan. KH Ahmad Dahlan memberanikan diri untuk memberi pengajian kepada para perempuan. Tidak sampai di sana, ia juga membolehkan mereka untuk keluar rumah selain untuk mengaji[16].

sumber gambar: bincangsyariah.com

[1] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus. (2011). jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, hlm. 193
[2] Ibid, hlm. 193
[3] Ibid, hlm. 194
[4] Herry Mohammad, dkk. (2006). Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani, hlm. 8
[5] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus. (2011). jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. hlm. 194
[6] Ibid. hlm. 195
[7] Ibid, hlm. 195
[8] Ibid, hlm. 197
[9] Herry Mohammad, dkk. (2006). Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani, hlm. 12
[10] Alfian. (1989). Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization Under Dutch Colonialism. Yogyakrta: Gajah Mada University Press, hlm. 152
[11] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus. (2011). Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. hlm. 198
[12] Ibid, hlm. 199
[13] Ibid, hlm. 199-200
[14] Ibid, 200-201
[15] Herry Mohammad, dkk. (2006). Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20., hlm. 9
[16] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus. (2011). jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. hlm. 196

Tidak ada komentar:

Posting Komentar