A Hassan: Tegas dalam Mempertahankan Agama


Jiva Agung
A.Hassan memiliki nama asli Hassan bin Ahmad. Ulama kelahiran Singapura 1887 ini berasal dari keluarga campuran Indonesia dan India. Ayahnya bernama Ahmad sedangkan ibunya, yang berasal dari India bernama Muznah, meskipun lahir dan besar di Surabaya. Sudah lazim bagi warga Singapura keturunan India untuk menyematkan nama ayahnya di bagian depan namanya, sehingga Hassan bin Ahmad lebih akrab disapa Ahmad Hassan[1].

Saat bekerja di Utusan Melayu pada tahun 1912 yang diterbitkan oleh Singapore Press, Hassan sudah menyukai dunia tulis-menulis mulai dari artikel, hingga puisi. Semua dikemas dengan gaya bahasa yang menyentuh. Beberapa tahun kemudian, ia mulai memperlihatkan ketegasan sikapnya atas perihal yang menurutnya sudah melanggar batas. Misalnya saja, di dalam tulisannya ia pernah mengecam seorang qadi (hakim) yang memeriksa perkara dan mengumpulkan antara pria dan wanita di tempat duduk yang sama[2].

Ahmad Hassan dikenal akan ketegasannya perihal hukum Islam. Menurutnya yang halal akan selalu halal, dan begitu pun sebaliknya. Pernah suatu ketika ada yang bertanya mengenai makanan apa yang tidak diperbolehkan dalam hukum Islam[3]. Dengan tegas Hassan menjawab, sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an, bahwa makanan yang diharamkan oleh Islam yaitu bangkai, darah, daging babi, dan segala sesuatu yang diperuntukkan selain kepada Allah. Si penanya belum puas dengan jawaban tersebut, lalu ia bertanya lagi mengenai hukum memakan kodok (karena menurut penanya, kodok adalah hewan yang menjijikan). Hassan menjawab:

“Soal jijik, itu urusan tuan. Hanya sekadar jijik tidak akan bisa mengubah hukum yang ada di dalam Al-Qur’an”
Berkaitan dengan sistem demokrasi, Ahmad Hassan tegas menolak. Menurutnya, jika seluruh urusan diserahkan kepada pendapat atau kehendak seluruh rakyat, barang tentu sesuatu yang haram bisa dijadikan halal, begitu pun sebaliknya[4]. Sama halnya dengan demokrasi, paham kebangsaan sebagaimana yang diusungkan oleh Soekarno pun ditolaknya dengan tegas. Menurutnya, paham kebangsaan yang diusung oleh Soekarno sama halnya dengan paham ashabiyah, fanatisme kesukuan, yang tentu sangat ditentang oleh Islam[5].

Sepanjang hidupnya Hassan bersikap tegas terhadap apa pun dan siapa pun  yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits yang dipahaminya. Misalnya, ia pernah mengkritik Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai kebolehan jabatan tangan antara pria-wanita yang bukan mahram; dengan Umar Hubeis, Bey Arifin, dan Husein Al-Habsyi, Wahab Hasbullah tentang mazhab karena menurutnya bermazhab sama saja dengan taklid, oleh karena itu menurutnya haram untuk dilakukan; dengan Buya Hamka tentang kebangsaan. Bukan hanya dengan tokoh Islam, ia juga sering berkonfrontasi dengan para pendeta dan tokoh-tokoh Ahmadiyah[6].

Selain terpengaruh dari ajaran ayahnya, Hassan juga dipengaruhi oleh tiga ulama dari India (Tahlib Raja Ali, Abdurrahman, dan Jaelani). Mereka semua berfaham wahabi, yang sekarang menjadi mazhab negara Saudi Arabia. Ajaran wahabi seringkali membolehkan para penganutnya menggunakan aksi-aksi kekerasan. Betapapun sebagai pengikut wahabi, Hassan lebih menyukai aksi-aksi non kekerasan seperti berdebat secara langsung maupun menulis dalam sebuah artikel dan buku[7].

Federspiel mengungkapkan bahwa A.Hassan tidaklah menuliskan pemahaman keislamannya dalam satu kesatuan, melainkan tersebar di berbagai tulisan karena setiap tulisan memiliki tujuannya masing-masing. Misalnya saja untuk At-Tauhied. Di sini A.Hassan memaparkan konsep tauhid murni yang berbeda dengan umat Kristen. Selain itu masih dalam At-Tauhied, ia mengritik para pemuja wali dan aktivitas-aktivitas animisme tertentu yang masih dominan di Jawa pada saat itu.

Tulisannya yang berjudul An-Nubuwwah diusahakan untuk membantah pandangan nasionalis sekular yang merendahkan Nabi Muhammad—serta Islam—dengan menyatakan bahwa ajaran Islam senantiasa senada dengan ilmu pengetahuan (saintifik). Adapun dalam Islam dan Kebangsaan dipaparkan mengenai pandangannya tentang kewajiban-kewajiban seorang manusia kepada Tuhannya serta antar sesamanya[8]. 

Pada tahun 1924 Hassan pergi ke Bandung. Awalnya hanya ingin belajar soal tenun-menenun, tetapi karena disana ia hidup bersama keluarga Muhammad Yunus, pendiri Persis, selama itu pulalah ia menjadi aktivis Persis. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya ia sangat populer di kalangan Persis. Hingga hari ini jika orang berkata mengenai Persis, pasti identik dengan A.Hassan[9].

Selain tafsir Al-Qur’an yang diberi judul Al-Furqon yang diterbitkan secara lengkap pada tahun 1956 terlahir dari kedua tangannya, Hassan juga menulis beberapa buku, menerbitkan majalah, serta mendidik/mengader tokoh-tokoh nasional seperti Muhammad Natsir, KH M. Isa Anshory, KH E. Abdurrahman, dan KH Rusyad Nurdin[10]. Bahkan ia pun bertukar pikiran (surat-menyurat) dengan Ir.Soekarno saat sedang menjalani masa pembuangan oleh Belanda di Ende, Flores. Surat-surat itu sebagian telah diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Sega Arsy dengan judul Islam Sontoloyo[11].

Dari Ir.Soekarno
Kepada Tuan A.Hassan, Guru “Persatuan Islam” di Bandung
No.1 Endeh, 1 Desember 1934

Assalamualaikum,

Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku tersebut di bawah ini:

1 Pengajaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar, 1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, 1 Al-Jawahir .

Kemudian daripada itu, jika saudara-saudara ada yang sedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sayid”. Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal-soal yang beribu-ribu kali lebih benar dan lebih sulit daripada soal “sayid” itu, maka tokh menurut keyakinan saya, salah satu kecelaan Islam zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang mengahampiri kemusyrikan itu. Alasan-alasan kaum “sayid”, misalnya mereka mempunyai brosyur “Bukti Kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tidak bisa meyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal “aristokrasi Islam”. Tiada suatu agama yang menghendaki kesamarataan daripada Islam. Pengeramatan manusia itu, adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwanya sesuatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebencanaan!

Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku, yang saya tunggu benar-benar,saya mengucap beribu-ribu terima kasih

Wasalam,
Soekarno

Dalam suratnya yang lain, Ir.Soekarno pun menyatakan bahwa A.Hassan memiliki peran yang penting dalam proses pematangan pemahaman keislamannya. Ia menyatakan[12],

“dari Persatuan Islam (Persis) Bandung saya banyak mendapat penerangan; terutama personnya tuan A.Hassan sangat membantu penerangan bagi saya itu. Kepada tuan Hassan dan Persatuan Islam saya di sini mengucapkan saya punya terima kasih, beribu-ribu terima kasih.”

Hubungan kedekatan mereka juga dapat dilihat saat A.Hassan jatuh sakit yang mana membuatnya harus dirawat di Rumah Sakit Malang. Tanpa tendeng aling-aling, Soekarno mengirimkan sejumlah uang untuk membiayai pengobatannya lewat wesel pos. Pada tanggal 10 November 1958 A.Hassan menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Dr.Soetomo, Surabaya[13].

sumber gambar: ngaderes.com 


[1] Salman Iskandar. (2011). 55 Tokoh Muslim Indonesia Paling Berpengaruh. Solo: Tinta Medina, hlm. 157
[2] Herry Mohammad, dkk. (2006). Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani, hlm. 15
[3] Ibid, hlm. 18
[4]  Ibid, hlm. 17-18
[5] Ibid, hlm. 19
[6] Ibid, hlm. 19
[7] Ibid, hlm. 16-17
[8] Howard M. Federspiel. (1996). Persatuan Islam: Pembaharuan Islam Indonesia Abad XX. Yogyakarta: Gajah Mada Press, hlm. 35-36
[9] Herry Mohammad, dkk. (2006). Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani, hlm. 17
[10] Salman Iskandar. (2011). 55 Tokoh Muslim Indonesia Paling Berpengaruh. Solo: Tinta Medina, hlm. 159
[11] Ir. Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo. Bandung: Sega Arsy, hlm. 9
[12] Ir. Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo. Bandung: Sega Arsy, hlm. 42
[13] Salman Iskandar. (2011). 55 Tokoh Muslim Indonesia Paling Berpengaruh. Solo: Tinta Medina, hlm. 160

Tidak ada komentar:

Posting Komentar