Jiva Agung
Namanya cukup dikenal oleh para akademisi, meskipun tidak begitu booming di kalangan grassroots. Sekurang-kurangnya dikenal akan kekontroversiannya terhadap pendapatnya mengenai pembagian waris. Tetapi sebelum membahas kajian waris, baiknya kita mengenal terlebih dahulu sosoknya secara lebih intim.

Munawir lahir pada tanggal 7 November 1925 di sebuah desa yang bernama Karanganom di Klaten, Jawa Tengah. Anak tertua dari delapan orang bersaudara dari pasangan Abu Aswad Hasan Sjadzali dan Tas’iyah itu belajar di Sekolah Desa selama tiga tahun hingga kelas III. Kehidupan keluarganya begitu sederhana, bahkan dapat dikatakan miskin sebagaimana yang dikatakannya[1],

“Dengan pengalaman saya sebagai anak tertua dari keluarga miskin yang tidak mampu mempunyai pembantu, saya terbiasa menghadapi tugas-tugas rumah tangga...Waktu itu rasanya saya kurang semangat belajar dan sering membolos. Hal itu mungkin sekali disebabkan kemelaratan dan kemiskinan, ditambah –barangkali– oleh hubungan antara kedua orang tua saya yang tidak selalu serasi dan acapkali digoncang oleh percekcokan...”

Untungnya, prestasinya di madrasah sore tidak buruk, setidaknya ia dapat menyelesaikan Madrasah Ibtidaiyah selama lima tahun dengan baik. Pad atahun-tahun selanjutnya Munawir dimasukkan oleh ayahnya ke madrasah al-Islam tingkat Tsanawiyah di pesantren swasta modern yang ada di Sala. K.H Ghazali, pendirinya, tiada lain adalah kerabat senior ayahnya[2]. Sekali lagi, semasa kecilnya Munawir harus benar-benar berusaha dengan keras untuk dapat menutut ilmu. Awalnya ia menumpang di rumah bibinya, lalu pindah ke sebuah pondok kecil di bawah asuhan Kyai Ma’ruf[3].

“Orang tua saya menyanggupi membekali saya setiap bulannya dengan sepuluh kilogram beras, 1 gulden uang saku/lauk pauk, dan uang pembayaran sekolah. Saya akan cukup bergembira kalau apa yang dijanjikan ayah itu terpenuhi dengan teratur. Tetapi lebih sering tidak demikian. Tidak jarang saya terlambat menerima kiriman berminggu-minggu, dan kalau kemudian kiriman datang, jumlahnya tidak penuh. Selama sekitar tujuh tahun saya belajar di Sala, tidak jarang saya menunggak tidak membayar sekolah sampai berbulan-bulan.”

Hanya satu tahun ia sekolah di al-Islam lalu pindah ke Manbaul Ulum kelas sore, yang statusnya swasta di kelas VII. Di sekolah ini Munawir bertemu dengan Ahmad Baiquni, yang di kemudian hari menjadi seorang ahli atom pertama Indonesia.

Munawir akhirnya mendapat ijazah kelulusan Tsanawiyahnya pada bulan April 1943. Ia juga melanjutkan sekolahnya ke tingkat Aliyah di tempat yang sama dan lulus di usianya yang belum genap delapan belas tahun[4].

Untuk beberapa bulan setelah kelulusannya, ia hanya menganggur sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman sebayanya di sana hingga suatu hari ia memutuskan untuk mencari pekerjaan tetapi hasilnya nihil. Akhirnya ia berkelana tanpa tujuan. Mulai dari mengunjungi Kota Bandung, Magelang, Temanggung, Yogyakarta, Semarang, dan terakhir terdampar di Salatiga.

Beruntung di sana ia mendengar info bahwa sekolah Muhammadiyah sedang membutuhkan seorang guru. Langsung saja Munawir melamar dan walhasil ia diterima menjadi guru di sana dengan masa percobaan. Untuk sementara waktu Munawir ditampung di Panti Asuhan Yatim Piatu Muhammadiyah[5]. Tidak lama kemudian ia pindah menjadi guru agama di Gunungpati, Salatiga. Disanalah ia pernah mendapat kesempatan untuk –pertama kalinya– bertatap muka dengan Soekarno[6].

Singkat cerita, Munawir mendapat kesempatan untuk belajar ilmu politik selama satu tahun di University College of South West of England, yang kemudian hari berubah nama menjadi Universitas Exester. Selanjutnya, pada musim gugur 1956 Munawir diterima untuk belajar di Univeristas Georgetown, Amerika dan memperoleh gelar Master of Art di bidang ilmu politik pada tahun 1959[7].

Sebelum tahun 1959, sudah ada beberapa amanah yang ditanggungnya, seperti menjadi seorang Staf seksi Arab/Timur Tengah Deplu (1950); Atase/Sekretaris III KBRI di Washington D.C (1956-1959). Sedangkan, setelah itu, secara berturut-turut ia menjadi Kepala Bagian Amerika Utara, Deplu (1959-1963); Sekretaris I KBRI di Colombo, Sri Langka (1965-1968); Kabiro Sekretaris Jendral Deplu (1969-1970); Minister Consellor/Watari di KBRI London (1971-1974); Kabiro Umum Deplu Jakata (1975-1976); Duta Besar RI untuk Emirat Arab/Bahrain/Qatar/Perserikatan keemiratan Arab (1976-1980); Staf Ahli Menlu RI (1980-1983); Menteri Agama RI selama dua periode (1983-1993).

Pada tahun 1994 Munawir mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Agama Islam dari IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Disamping itu ia juga menjadi anggota DPA RI dan anggota Komnas HAM; Anggota Associate Member International Institute for Strategic Studies di London; menjadi Lektor tamu pada Institute of Islamic Studies McGill University, Kanada (Maret-Mei 1994) dan Universitas Leiden, Belanda (April 1995); Anggota tim penasehat Yayasan Paramadina.

Berkat pengabdiannya, Munawir memperoleh sejumlah penghormatan dari berbagai pihak seperti, Bintang Maha Putra Adipradana; Satyalancana Karya Satya, Klas II; Greta Cordon of Merit (Qatar); Medallion of the Order of Kuwait, Special Class; Heung in Medal, Second Class (Republik Korea); Order of the Yugoslav Flag with Golden Wreath (Yugoslavia); Tokoh Maal Hijrah 1415 (Malaysia)[8].

Memperbaiki IAIN

Saat menjadi Menteri Agama, ada tiga hal yang dijadikan concern Munawir, pertama mengenai dasar hukum IAIN. Menurutnya, meskipun lembaga ini sudah berdiri puluhan tahun tetapi pengelolaan anggaran belanjanya masih belum terorganisir dengan baik. Juga struktur dan organisasinya masih rancu, dengan akibat tersendat-sendat perkembangannya. Kedua, dengan adanya SKB Tiga Menteri menurutnya telah membuat lemahnya kualitas anak lulusan Aliyah yang mendaftar ke IAIN. Terakhir, minimnya para ilmuan muslim yang sanggup menjawab tantangan kemoderenan dan menjadi juru bicara dunia[9].

Kita akan membahas masalah yang terakhir. Munawir menyatakan bahwa para sarjana S1 lulusan IAIN perlu memperluas cakrawala pengetahuan ilmiah mereka yang dengan dilengkapi sikap kritis, begitu pun dengan pengetahuan mereka mengenai agama. Menurutnya, pengirimikan para sarjana ke negara-negara Barat merupakan solusi yang tepat karena perlu diakui bahwa kepesatan ilmu pengetahuan sedang terjadi di dunia Barat. Mereka –sarjana IAIN yang berkompeten– akan dikirim untuk belajar ke Universitas McGill (Kanada) dan Universitas Leiden (Belanda).

Sebenarnya proyek tersebut sudah berjalan di masa Mukti Ali menjabat sebagai Menteri Agama, tapi sayang karena satu dan lain hal proyek itu berhenti. Disinilah Munawir bergerak untuk mengaktifkannya kembali. Ia memperpanjang kontrak dengan kedua universitas tersebut.

Program ini mengalami kesuksesannya di periode 1988-1991 di mana tidak kurang dari 75% peserta diterima dalam program S2 dan S3 di universitas-universitas ternama seperti Univeritas McGill, di Kanada; ULCA, Colombia, Chicago, dan Harvard, di Amerika; Univeritas London, Universitas Leiden, dan Univeritas hamburg, di Eropa Barat; dan ANU, Monas, dan Flinders di Australia[10]. Alhasil, sebanyak 225 orang diberangkatkan kesana. Hingga awal tahun 1993 telah terdapat 12 orang pulang ke Indonesia dengan memperoleh gelar Ph.D dan gelar MA sebanyak 67 orang.

Diketahui belakangan kalau Menteri Agama selanjutnya (Tarmizi Taher) meneruskan dan memperpanjang kontrak kerjasama tersebut.  Ia senang karena mendapat berita kalau hasil-hasil yang diperoleh para sarjana tersebut tidak mengecewakan, bahkan para pembimbing mereka memuji karena kesungguhannya[11].

Reaktualisasi Hukum Waris

Jika mendengar kata Munawir Syadzali, setidaknya yang akan terpikir dalam benak adalah gagasannya mengenai perombakan hukum Islam, khususnya perihal hukum waris. Ia mengusulkan adanya keadilan jumlah perolehan waris antara pria dan wanita. Keadilan yang di maksud ialah pria dan wanita memperoleh bagian yang sama, yaitu 1:1.

Sebenarnya gagasan tersebut, yang telah dipaparkan ke masyarakat sejak awal tahun 1985, mendapat tanggapan yang biasa-biasa saja. Hanya saja gagasan tersebut baru ramai hingga menimbulkan reaksi pro-kontra yang keras, saat ia menyampaikannya di forum Paramadina.

Ada dua alasan yang dipegangnya, pertama ayat-ayat waris di dalam Al-Qur’an harus dipahami secara kontekstual dan karena itu sifatnya temporer, tidak absolut. Jadi, jika konstruksi sosial dalam suatu lingkungan telah berubah, penafsiran Al-Qur’an pun dapat diubah tanpa harus mencederai ajaran Islam yang universal. Kedua, toh –menurutnya– secara aplikatif penerapan hukum waris di Indonesia sudah mulai ditinggalkan, baik dari kalangan awam –dengan beragam alasan dan kondisi tertentu– maupun masyarakat yang mengetahui ilmu agama[12].

Untuk alasannya yang pertama, ia mencoba mencarinya dari sumber-sumber Islam, dan ditemukanlah sejumlah naskh di dalam Al-Qur’an dan hadits. Ia juga mengutip pendapat beberapa ulama yang menyetujui adanya naskh, atau setidaknya perubahan hukum jika kondisi masyarakat menuntut hal yang demikian.

“Sesungguhnya hukum-hukum itu diundangkan untuk kepentingan manusia, dan kepentingan manusia dapat berbeda karena perbedaan waktu dan tempat. Apabila suatu hukum diundangkan pada waktu di mana memang dirasakan kebutuhan akan adanya hukum itu, kemudian kebutuhan itu tidak ada lagi, maka suatu tindakan yang bijaksana (adalah) menghapus hukum itu dan menggantikannya dengan hukum (lain) yang lebih sesuai dengan waktu terakhir.” (Ahmad Mustafa Al-Maraghi di dalam Tafsir al-Maraghi, Juz I)

Begitu pun dengan pendapat Muhammad Rasyid Ridha yang ditulisnya dalam Tafsir al-Manar Juz I, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dan Ya’qub bin Ibrahim bin Habib al-Anshari[13].

Ia membantah kalau ayat-ayat waris merupakan tipe ayat Qath’i dengan membandingkannya terhadap ayat-ayat seperti dalam surat An-Nisa ayat 3, Al-Mu’minun ayat 6, Al-Ahzab ayat 52, Al-Ma’arij ayat 30 yang membicarakan perizinan penyaluran kebutuhan biologis yang dilakukan kepada budak (hamba sahaya) oleh tuannya. Jelas sekali –menurutnya– sampai wafat Nabi dan berakhirnya wahyu, Islam belum secara tuntas menghapus perbudakan. Jika ayat ini masih dipergunakan apa adanya dan menganggapnya sebagai Qath’iy di zaman modern di mana perbudakan merupakan sebuah keburukan, lalu bagaimana nasib agama Islam di hadapan dunia.

Lanjutnya lagi, konsekuensi lainnya yaitu umat Islam tidak dapat ikut berbicara mengenai hak asasi manusia, sebab hak yang paling asasi ialah hak untuk hidup sebagai manusia merdeka sedangkan menurut dalil Al-Qur’an perbudakan masih dibenarkan.

Munawir juga memberi contoh lain yaitu kisah di mana Umar bin Khattab pernah menghapus hak kaum mualaf untuk mendapat zakat padahal secara harfiah dalam surat At-Taubah ayat 60, mualaf harus mendapat bagian dari zakat. Itu karena Umar merasa situasi dan kondisi telah berubah, dimana kaum mualaf memang telah nyata tidak membutuhkan hak zakat lagi[14]. Sekali lagi, ajaran-ajaran Islam yang sifatnya kemasyarakatan harus dibaca secara kontekstual sehingga hukum Islam dapat menimbulkan maslahat.

Sebagaimana yang telah diberi tahu sebelumnya, gagasan Munawir ini melahirkan reaksi pro dan kontra. Ibrahim Hosen misalnya, meskipun dalam beberapa hal beliau menyetujui pandangan Munawir tetapi ia memberi pesan supaya Bapak Menteri Agama kabinet pembangunan IV-V ini tidak terlalu berpagi-pagi dalam mengambil kesimpulan.

Menurutnya, dalam beberapa kesempatan Munawir menggunakan argumen At-Thufi berkenaan teori maslahat. Padahal, dalam penelitian Hosen, teori At-Thufi ini masih dalam tataran konsep belum sampai aplikatif fiqihiyyah. Untuk itu, lebih baiknya supaya melakukan penelitian ulang yang mendalam apabila gagasannya hendak dapat diterima secara luas[15].

Begitu pun dengan teori al-‘adah al-muhakkamah ala Abu Yusuf –yang sering dijadikan argumentasi Munawir– telah dilemahkan orang jumhur ulama, termasuk gurunya sendiri, Abu Hanifah[16]. Adapun M.Atho Mudzhar sebagai golongan yang pro, menyatakan bahwa gagasan Munawir bukanlah suatu hal yang baru karena pembagian waris yang setara (1:1) sudah diberlakukan oleh beberapa negara seperti Turki (sejak 1926) dan Somalia (sejak 1974) dan negara-negara Islam lain yang tidak pernah mempermasalahkannya[17]. 

Kelebihan-Kelebihan Munawir Syadzali

Tirmizi Taher memuji keunggulan Munawir yang tidak banyak dimiliki oleh orang banyak yaitu keahliannya dalam menggabungkan tiga ladang keilmuan. Munawir merupakan seorang Muslim yang ahli dalam bidang politik, handal masalah diplomatik, dan tentunya mengetahui ajaran Islam secara mendalam[18].

Selaras dengan Taher, H. Abdullah Sukarta pun merasa senang saat Munawir menjabat sebagai Menteri Agama. Pasalnya, di era Munawir kegairahan hidup beragama dirasa meningkat, baik di kalangan masyarakat maupun pemerintah. Hal itu ditandai dengan pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia atau yang biasa disingkat dengan ICMI, berdirinya Bank Muamalat, pembentukan Ikatan Persaudaraaan Haji indonesia (IPHI), Festival Istiqlal penyelenggaraan Pelajaran Bahasa Arab di TVRI, penulisan Al-Qur’an mushaf Istiqlal, crash program, sertifikasi tanah-tanah wakaf bekerjasama dengan Badan Pertahanan Nasional (BPN), pengelolaan zakat infaq shadaqah bekerjasama dengan Departemen Dalam Negeri, pengembangan metode baca tulis Al-Qur’an seperti metode Iqra’ dan Hatiyyah, kegiatan Paduan Suara Gerejani (Pesparani) bagi umat Kristen (semacam MTQ bagi umat Muslim), Utsawa Dharma Gita bagi umat Hindu, dan Dharma bagi umat Buddha[19].

sumber gambar: suduthukum.com


[1] Sulastomo, dkk. (1995). Kontekstualisasi Ajaran Islam: 70 Tahun Prof.Dr.H.Munawir Syadzali MA. Jakarta: Paramadina, hlm. 9
[2] Sulastomo, dkk. (1995). Kontekstualisasi Ajaran Islam: 70 Tahun Prof.Dr.H.Munawir Syadzali MA. Jakarta: Paramadina, hlm. 10
[3] Ibid, hlm. 10-11
[4] Ibid, hlm. 18
[5] Ibid, hlm. 19-20
[6] Ibid, hlm. 21-23
[7] Ibid, hlm. 48-51
[8] Ibid, hlm. 4
[9] Ibid, hlm. 83

[10] Intellectual engineering in IAIN, Studi Islamika, Volume 2, No.1, 1995 dalam Azyumadri Azra (ed). (1998). Menteri-Menteri Agama RI: Biografi Sosial-Politik. Jakarta: PPIM, hlm. 404
[11] Sulastomo, dkk. (1995). Kontekstualisasi Ajaran Islam: 70 Tahun Prof.Dr.H.Munawir Syadzali MA. Jakarta: Paramadina, hlm. 86
[12] Ibid, hlm. 88
[13] Ibid, hlm. 92-93
[14] Ibid, hlm. 93-95
[15] Ibid, hlm. 261-262
[16] Lebih lanjut baca keterangan Ibrahim Hosen dalam buku Kontekstualisasi Ajaran Islam: 70 Tahun Prof.Dr.H.Munawir Syadzali MA.
[17] Ibid, hlm. 314
[18] Ibid, hlm. 145
[19] Ibid, hlm. 159

Rahmatullah Al-Barawi
Salah satu tradisi yang sering dilakukan di masjid kala Ramadan menyapa adalah tadarus Al-Quran. Tadarusan menjadi budaya yang mengakar di masyarakat. Generasi muda dan tua semuanya hanyut dalam keasyikan membaca Al-Quran.

Memang kita ketahui bersama bahwa Ramadan merupakan syahrul Quran, bulan diturunkannya Al-Quran. Sehingga amalan membaca Al-Quran tidak dapat dilepaskan dari bulan yang penuh kemuliaan. Namun, di tengah wabah, tradisi tersebut seharusnya ‘dikemas’ kembali. Iya, aktivitas membacanya tidak dihilangkan, hanya saja dialihkan ke kediaman masing-masing.

Tentu ada perbedaan kondisi psikologis keagamaan antara ibadah di masjid dan di kediaman masing-masing. Tetapi, dengan waktu yang sudah hampir dua bulan ini, semoga kita bisa belajar bahwa pandemi ini bukanlah hal yang sepele.

Jangan sampai kita masih berdebat soal boleh tidaknya beribadah di rumah atau ikhtiar kita melawan korona vs takut kepada Tuhan. Perdebatan tersebut justru kontraproduktif dalam rangka mengisi amaliah di bulan Ramadan.

Pesan Nabi jelas, nawwiruu buyuutakum bi qira`atil qur`an, sinarilah rumahmu dengan bacaan Al-Quran. Ibadah di rumah selama Ramadhan menjadi ajang bagi kita untuk menyinari rumah kita dengan sinaran Al-Quran.

Nasihat Nabi tersebut relevan dengan kehidupan kita saat ini. Sudah berapa sering kita menghidupi rumah kita dengan bacaan Al-Quran. Di tengah kesibukan, boleh jadi kita jarang melakukan hal tersebut di rumah. Rutinitas duniawi seringkali melenakan dan menjauhkan kita dari nilai-nilai Al-Quran.

Bahkan, Nabi Muhammad Saw pun di masa lampau telah ‘mengeluhkan’ hal tersebut. Dalam Surah Al-Furqan ayat 30, Allah Swt berfirman:

وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِي ٱتَّخَذُواْ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورٗا 

30.  Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan".

Memang konteks ayat tersebut, pada mulanya ditujukan kepada kaum musyrikin penduduk Mekkah. Namun, pesan tersebut juga dapat kita refleksikan dalam kehidupan modern. Menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah, kata mahjura terambil dari kata hajara yang berarti meninggalkan sesuatu karena tidak senang kepadanya.

Hal ini menjadi pengingat kita bersama, apakah selama ini Al-Quran telah kita abaikan di tengah rutinitas harian yang kita lakukan? Maka wabah ini menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk kembali menyelami makna Al-Quran.

Menarik jika memahami kata mahjura tersebut. Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan beberapa cakupan yang terkandung dari kata tersebut. Salah satu aspek ‘keacuhan’ kita kepada Al-Quran adalah tidak menjadikannya obat bagi semua penyakit-penyakit kejiwaan.

Benar sekali, Al-Quran memiliki sejumlah fungsi bagi kehidupan kita. Selain sebagai hudan (petunjuk), kitab suci ini juga menjadi syifa` (obat) bagi penyakit yang diderita manusia. Ada banyak riwayat yang menjelaskan hal tersebut. Misalnya, bagaimana salah seorang sahabat Nabi yang tersengat ular, kemudian sembuh dengan bacaan Surah Al-Fatihah.

Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran mempunyai kekuatan sebagai obat. Dorongan untuk berpikir positif, optimisme dan ketenangan jiwa orang yang membaca Al-Quran menghadirkan semangat baru yang memperkuat imunitas tubuh. Sehingga dengan membaca Al-Quran penuh perenungan dan penghayatan dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

Sudah banyak penelitian yang mengkaji hal tersebut. Jika kita kaitkan dengan kondisi saat ini, ada yang dinamakan dengan gejala psikosomatik. Pikiran yang terlalu banyak membaca berita negatif seputar korona akan melahirkan kecemasan diri dan berpengaruh pada timbulnya gejala-gejala fisik yang mengarahkan kepada virus ini.

Sebenarnya fisiknya sehat, tetapi karena pikirannya was-was, sehingga itu menjadi stimulus yang menyebabkan timbulnya gejala. Sehingga salah satu cara agar diri ini tetap tenang di tengah pandemi adalah dengan menyelami makna kalam Ilahi.

Kekuatan spiritual menjai salah satu obat penawar dari kegamangan dan kecemasan masal yang saat ini sedang terjadi. Membaca Al-Quran dengan penuh kekhusyukan perlu dilakukan.

Kita hilangkan segala asumsi, pra-pemahaman dan penafsiran kita tentang Al-Quran. Kita dekati dan baca Al-Quran layaknya seorang yang sedang kasmaran membaca surat cinta dari sang pujaan.

Dengan semangat cinta inilah, Al-Quran akan meningkatkan imunitas, memperkuat iman dan spiritualitas, dan menjauhkan kita dari rasa cemas. Mari bercinta dengan Al-Quran, karena kita semua adalah ‘jomblo’ di mata Tuhan, Sang Keabadian. Wallahu a’lam bish showwab.

Penulis, adalah co-founder Quranic Peace Study Club'
Sumber gambar: harakatuna.com

Panji Futuhrahman
Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Madiun, tepatnnya desa Bakur pada 16 Agustus 1882. Ia merupakan anak kedua dari 12 bersaudara dari Raden Mas Tjokromiseno. Nama Tjokroaminoto sendiri diberikan dengan harapan kelak anak tersebut bisa menjadi pemimpin yang berani membela kebenaran dan bisa membebaskan rakyat dari penindasan.


Ia berasal dari keluarga yang terhormat yang mewarisi darah bangsawan sekaligus ulama. Buyutnya merupakan Kiai Bagus Kasan Besari, ulama kharismatik pengasuh pondok pesantren Tegal Sari di Ponorogo yang menikah dengan putri dari susuhunan Paku Buwono III.

Kakeknya bernama Tjokronegoro yang merupakan Bupati Ponorogo. Sedangkan ayahnya adalah seorang pegawai pemerintahan yang cukup dihormati.

Di lingkungan pergaulannya, ketika kecil ia menjadi anak yang kehadirannya ditunggu dan terkenal sebagai anak yang pemberani dan suka berkelahi. Ia kerap merepotkan ayahnya karena kenakalannya dan beberapa kali, Tjokromiseno sering kedatangan masyarakat yang mengadu bahkan meminta pertanggung jawaban akibat kenakalan Tjokroaminoto muda.

Kenakalannya berlanjut hingga ia duduk di bangku sekolah, ia harus pindah sekolah beberapa kali akibat kenakalannya tersebut, namun meski memiliki sifat nakal, ia juga terkenal sebagai anak yang cerdas, ia bahkan dengan cepat menguasai kemampuan membaca, menulis dan menghitung.

Tahun 1897 ia lulus dari sekolah Belanda tingkat dasar. Di samping mahir membaca, menulis dan berhitung, ia juga dinilai menguasai bahasa Belanda dengan baik. Ia lantas melanjutkan pendidikannya di OSVIA (Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren) atau sekolah calon pegawai pemerintah yang berada di Magelang, Jawa Tengah. Berkat kecerdasan dan pamor ayahnya, ia menjadi murid yang disegani.

Menolak Jalan Jongkok di Hadapan Belanda

Tahun 1902 ia dinyatakan lulus dari OSVIA, ia kemudian ditugaskan menjadi juru tulis Patih Ngawi. Setelah dianggap cukup umur dan bisa bertanggung Jawab, Tjokroaminoto dinikahkan oleh ayahnya dengan Raden Ajeng Soeharsikin, putri Patih (Wakil Bupati) Ponorogo Raden Mangoensoemo.

Bekerja sebagai juru tulis di pemerintahan membuatnya harus bersinggungan dengan budaya feodal, salah satu yang ia benci adalah keharusan untuk jalan jongkok jika berpapasan dengan orang Belanda dan di samping itu, banyak hal yang menurutnya sangat merendahkan kaum pribumi di hadapan orang Belanda bahkan yang jabatannya berada di bawahnya. Ia menilai hal ini sebagai sebuah kekeliruan yang tidak bisa ia terima.

Ia kemudian memutuskan untuk berhenti, tepatnya pada tahun 1905. Keputusan ini tentu saja ditentang keluarganya terutama mertuanya yang memiliki jabatan di pemerintahan pula, yang mana keputusannya ini tentu akan menurunkan pamornya. Namun tekadnya sudah bulat, ia tak tertahan lagi untuk angkat kaki dari pekerjaan sebagai juru tulis tersebut.

Keadaan yang tidak mengenakkan tersebut membuatnya tidak nyaman berada serumah dengan mertuanya, ia harus pergi sedangkan istrinya sedang mengandung anak pertamanya, Oetari, yang kemudian hari dinikahkan dengan bung Karno.

 

Berpisah dengan Istrinya yang Hamil    

Pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil, ia menuju Semarang. Di kota ini ia bekerja sebagai kuli pelabuhan, meski pekerjaan ini tidak cocok baginya yang lebih mengedepankan intelektualnya ketimbang kekuatan fisik, tapi ia tetap jalani, dan pekerjaan ini menjadi awal bagi penghayatannya terhadap kehidupan masyarakat kelas bawah.

Tak lama di Semarang ia kemudian pindah ke Surabaya, di kota ini ia tinggal di gang Paneleh VII. Kota ini lebih dekat dengan Ponorogo tempat istrinya tinggal. Di sini ia memulai pekerjaan sebagai tenaga administrasi di perusahaan dagang firma Kooy &Co. Pekerjaan yang satu ini ia rasa lebih cocok karena mengedepankan kerja pikiran.

Selang berapa lama ia tinggal di Surabaya, hingga akhirnya kabar mengenai kelahiran putri pertamanya sampai ke telinganya. Ia kemudian menuju Ponorogo untuk menengok istri dan putrinya tersebut. Kehadiran putri Oetari meluluhkan amarah mertuanya atas masalah yang sebelumnya membuat Tjokroaminoto harus berjauhan dengan Soeharsikin. Akhirnya Raden Mangoensoemo mengizinkan Tjipto untuk membawa Soeharsikin dan Oetari menuju kediamannya di Surabaya.

Pekerjaannya di firma Kooy &Co ia tinggalkan karena menurutnya ia tidak berkembang karena pekerjaannya sudah amat ia kuasai. Ia kemudian bekerja sebagai teknisi di pabrik gula pada 1910, namun lagi-lagi situasi diskriminasi antara pegawai Belanda dan bumi putera membuat tidak senang dan memutuskan untuk angkat kaki. Setelah itu ia bekerja di sebuah biro teknik sebagai teknisi mesin alat-alat elektronik.

Sembari bekerja dan mengurusi anak istri, ia tidak lupa menuntut ilmu, pada 1907 ia menamatkan pendidikan Burgerlijk Avond School, semacam sekolah teknik yang ia tamatkan dalam 3 tahun.

 

Kamar Kos Gang Paneleh

Rumahnya yang bertempat di gang Paneleh cukup luas, bagian belakangnya ia sekat dengan papan menjadi kamar kos yang diperuntukkan pelajar yang merupakan siswa dari MULO (Meer Uitbreid Lager Onderwijs) dan HBS (Holland Binnenlands School). Dari kamar kosan ini lah orang-orang yang mewarnai sejarah bangsa ini lahir di antaranya adalah Soekarno, Kartosoewirjo, Abikoesno Tjokrosujoso, Musodo, Alimin, hingga Semaoen.

Soekarno merupakan penghuni kamar kosan yang yang paling istimewa, ia dititipkan oleh ayahnya langsung yang memang sudah saling kenal dengan Tjokroaminoto, bahkan saat Tjokroaminoto didera kesedihan berkepanjangan akibat kehilangan sang istri yang meninggal, kehadiran Soekarnolah yang dapat menghiburnya, dengan menikahi putri pertamanya Oetari, meski saat itu Oetari masih sangat muda yakni berumur 14 tahun dan pernikahan itu harus berakhir 2 tahun kemudian karena kesibukan bung Karno yang mulai terjun pada aktivitas pergerakan sedangkan dikabarkan saat itu Oetari masih senang bermain lompat tali dan bola beklen dengan sepupu-sepupunya.

Kartosoewirjo merupakan sekretaris pribadi Tjokroaminoto, pernah beberapa tahun tinggal di rumah Tjokro. Di kemudian hari ia harus bersebrangan dengan Tjokro juga harus berhadapan dengan Soekarno karena di masa kemerdekaan, ia merupakan pemimpin dari gerakan Negara Islam Indonesia yang melakukan pemberontakan di beberapa daerah. Pun halnya dengan Muso dan Alimin, yang bersama Semaoen menjadi pentolan dari Partai Komunis Indonesia.

 

Raja Tanpa Mahkota

Jasanya untuk pergerakan nasional tidak terlepas dari posisinya di Sarekat Islam. Namanya bahkan lebih mentereng dan berpengaruh dibanding pendiri organisasi ini sendiri. Ia yang baru direkrut menjadi anggota pada 1912. Hanya butuh waktu setahun untuk kemudian menjadi pengurus inti. Dan beberapa tahun kemudian namanya sudah bercokol menjadi pimpinan, menggeser Samanhoedi yang hanya menjadi ketua kehormatan yang tak lebih hanya jabatan tanpa kekuasaan.

Sarekat Islam di tangan Tjokro disebut sebagai pelopor gerakan nasional, yang dari rahimnya pula turut melahirkan gerakan-gerakan lainnya. Semula orang-orang yang menghimpun gerakan-gerakan dari berbagai etnik dan ideologis serta beragai kepentingan. Mulai dari gerakan yang mensejahterakan buruh seperti yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Barat, di Semarang dan Madiun.

Ada pula gerakan intelektual-keagamaan dengan mendirikan Ta’mirul Ghofilin atas saran K. H. Ahmad Dahlan ketua dari Muhamadiyah. Serta komunitas dagang sebagaimana gerakan ini bermula dari Serikat Dagang Islam pada periode sebelumnya. Di kemudian hari, gerakan-gerakan itu mengambil bentuknya masing-masing dan penggeraknya tidak lain adalah murid dan orang dekatnya Tjokro.

Tjokro disebut Belanda sebagai raja tanpa mahkota. Hal ini tidak terlepas dari jumlah anggota Sarekat Islam saat itu yang mencapai 2 juta lebih. Orasinya selalu didengar khidmat oleh pengikutnya. Setiap rapat terbuka, peserta yang hadir selalu lebih banyak dari perkiraan panitia, bahkan hampir dua kali lipatnya. Gaya orasinya yang kemudian ditiru oleh bung Karno. Suaranya lantang dan berat, jika ia sudah naik podium, peserta yang semula riuh dan saling mengobrol akan senyap dan mengarahkan matanya pada Tjokroaminoto. Bahkan di beberapa daerah, ia dianggap sebagai Ratu Adil, cerita turun-temurun masyarakat Indonesia tentang sosok yang akan membawa kebangkitan Nusantara.

Kekuasaannya makin diakui ketika ia bersama Sarekat Islam menjadi medium bagi berkumpulnya para buruh dan terlibat di berbagai aksi pemogokan. Di kalangan keagamaan juga namanya dihormati karena kedekatannya dengan K. H Ahmad Dahlan, Faqih Hasyim dan tokoh-tokoh keagamaan lainnya. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), tokoh keagamaan besar yang pernah dimiliki Indonesia, bahkan mengakui pernah menyusup saat ia masih berusia 17 tahun di forum keagamaan dimana Tjokro sebagai mentornya.
Hamka menyebutkan bahwa Tjokro berbadan kurus, matanya bersinar, kumisnya melentik ke atas, badannya tegap dan sikapnya penuh keagungan, sehingga walau ia tidak lagi memperdulikan titel Raden Mas yang tersemat di depan namanya, namun kehadirannya di suatu forum tetap membawa kebesaran dan kehormatan.

Di samping itu, keberaniannya tidak perlu diragukan. Saat ia dihadapkan atas tuduhan disebuah persidangan, hakim Belanda bertanya, ”Apakah tuan Tjokro tahu berhadapan dengan siapa?” hakim itu menukas lagi,” tuan sedang berhadapan dengan ketua pengadilan tinggi Belanda”. Tjokro menjawab tenang, ”Tahukah tuan sekarang duduk dihadapan siapa? Ketua Central Sarekat Islam seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, sakit ginjal dan maag kronis akhirnya mengakhiri perjuangan Tjokro. Ia meninggal pada 17 desember 1934 dan kemudian dimakamkan pada pemakaman umum kuncen, kampung Pakuncen, kecamatan Wirobrajan kota Yogyakarta. Rumahnya jadi tempat berkumpul, bernaung dan belajarnya anak-anak muda yang dikemudian hari memberikan warna bagi sejarah Indonesia.

sumber gambar: bekasikab.go.id

Referensi
Marihandono, D., Tangkilisan, Y. B., & Juwono, H. (2017). H. O. S. Tjokroaminoto. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Setyarso, B., Sunudyantoro, Wiguna, O., Arvian, Y., Septian, A., & Aprianto, A. (2017). Tjokroaminoto. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.