Mendidik di tengah Pandemi

Panji Futuhrahman
Corona Covid-19 mulai menyebalkan, kita sebagai bangsa berpredikat tersantai di dunia tak bisa lagi menghadapinya dengan bercanda. Tapi tidak juga kemudian harus tertekan dan ketakutan karena dua hal itu justru akan menghilangkan kewaspadaan dan akal sehat kita.

Menurut seorang ahli yang menekuni bidang per-virus-an virus hidup pada gelombang tertentu dan besaran gelobang yang dihasilkan badan kita ketika takut adalah gelombang yang lifeable bagi virus, maka besar kemungkinan virus akan langsung menganggap badan kita sebagai “rumah yang tepat" jika kita dalam kondisi takut.

Di samping itu ada semacam permainan pikiran yang ilmiahnya disebut psikosomatis. Sederhananya badan kita tiba-tiba merasakan gejala yang sama dengan yang sering kita bicarakan. Tiba-tiba kita batuk, bersin, demam dan linu-linu padahal bukan karena terjangkit virus tapi semata-mata kita terlalu sering menerima informasi tentang gejala virus tersebut. Jadi penting juga kita meminimalisir persebaran info tentang virus ini. Jangan keseringan! karena justru malah bikin kita rentan dan stress. Maka jelas saya tidak tertarik membahas panjang lebar tentang virus ini, saya akan bahas hal lain yang terimbas oleh pandemik ini.

Salah satu yang terimbas oleh pandemik ini adalah sekolah. Sudah dua minggu proses belajar dikembalikan ke rumah dan berdasarkan intruksi terbaru akan digenapkan hingga sebulan. Bahkan beberapa daerah meliburkan siswanya lebih lama lagi. Namun demikian proses pembelajaran harus berlangsung. Berbagai media digunakan guru agar pembelajaran tetap berjalan, berbagai metode coba digalakkan.

Namun baru seminggu bergulir KPAI sudah ikut repot dengan memberi saran agar guru tak kebanyakan memberi tugas, tugas tidak memberatkan siswa dll. Hemat dari saya jangan dulu banyak intervensi, toh guru di bawah lembaga sekolahnya masing-masing pasti akan membuat regulasi internal. Tulisan saya di bawah ini akan coba menyumbangkan pemikiran sebagai sesama profesi terkait pelaksanaan belajar mengajar dalam jaringan yang  ideal di tengah pandemik Covid 19 ini.

Pertimbangkan Social dan Physical Distancing
Sebelum merancang pembelajaran dalam jaringan, kita mesti memahami bahwa situasi yang dihadapi hari tidak biasa. Ada social dan physical distancing yang harus diperhatikan. Artinya proses belajar di rumah tetap harus menghindari berkumpulnya anak-anak itu.

Jangan sampai tugas yang diberikan guru justru membuat anak berkumpul karena tugasnya tugas kelompok yang hanya bisa dikerjakan jika mereka berkumpul di satu tempat.

Atau justru menyuruh setiap anak mencetak / print materi atau tugas, sudah pasti tidak setiap anak punya printer dan hal itu membuat anak pergi ke warnet atau menumpang print di rumah kawannya. Hal ini akan membuat tujuan awal dari dikembalikannya proses belajar ke rumah agar kontak fisik yang biasa terjadi di sekolah terbatasi malah tidak tercapai. Alhasil membuka kembali peluang bagi menyebarnya virus ini.

Equivalensi Durasi Belajar
Ketika pembelajaran berlangsung di sekolah seperti biasanya, siswa, guru dan seluruh prasarana yang tersedia memang sudah dirancang dan disiapkan bagi terjadinya proses belajar. Lain halnya saat pembelajaran dilaksanakan di rumah. Siswa tidak sepenuhnya dalam kondisi yang siap belajar atau setidaknya tidak sesiap ketika dia ada di sekolah.

Kondisi rumah baik secara fisik maupun interaksi yang terjadi di dalam rumah mereka masing-masing tentu beragam. Kondisi ini mesti kita pahami pula, terlebih bagi siswa yang berasal dari daerah non perkotaan. Tidak semua siswa dalam kondisi serba leluasa. Maka di sini guru mesti bijak dalam menentukan durasi belajar.

Jika di sekolah mata pelajaran A berlangsung selama 2 jam pelajaran dalam seminggu yang artinya selama kurang lebih 90 menit untuk tingkat SMA. Kita tahu selama dua jam itu di dalamnya ada waktu yang digunakan guru untuk mengabsen, merapikan dan menyiapkan kelas dan peserta didik, belum lagi jika ada ice breaking di tengah pembelajaran atau doa pembuka dan penutup sebelum pembelajaran dimulai.

Maka kita bisa asumsikan semua kegiatan pra dan pasca pembelajaran itu menghabiskan waktu setidaknya 15 menit. Jadi waktu efektif itu hanya tersisa sekitar 75 menit.

Waktu efektif ini kita implementasikan kepada kegiatan belajar di rumah. Maka mata pelajaran A tadi dalam memberikan pembelajaran jarak jauh kepada siswanya akan lebih bijak jika tak melebihi waktu efektif tadi yakni 75 menit. Di dalamnya sudah termasuk panduan belajar/mengerjakan tugas, pemberian materi dan penugasannya. Itu semua mestinya memungkinkan untuk selesai dalam waktu 75 menit tadi. 

Belajar Di rumah Bukan Hanya Mengerjakan Tugas.
Proses belajar tidak bisa hanya diwakili oleh pemberian tugas. Proses Belajar mengajar sebagaimana kita tahu menyaratkan adanya peserta didik sebagai pribadi yang belajar. Belajar artinya ada proses yang membuat anak dari semula tidak tahu menjadi tahu, dari semula tidak paham menjadi paham, dari awalnya tidak bisa menjadi mahir.

Tidak apa jika pendidik dan peserta didik tidak berada dalam ruangan yang sama namun proses memfasilitasi peserta didik agar belajar ini harus tetap ada. Caranya bisa beragam, apakah melalui komunikasi jarak jauh yang hanya berupa teks atau tatap muka seperti video conference, atau panduan belajar yang sudah tersusun dengan rapi dan dipahami peserta didik, setidaknya ada upaya pendidik di sana dalam membantu siswa menguasai suatu kompetensi.

Dan tentunya ada materi belajar  yang diberikan oleh pendidik. Pemberian materi ini tidak melulu guru yang menyuapi, bisa juga kita meminta siswa yang mencari tahu, namun jangan lupa! jika kita menggunakan metode yang kedua disebut, maka guru harus memastikan apakah yang siswa dapatkan sudah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh guru? Jika belum sesuai, artinya guru harus turun tangan meluruskan atau melengkapi yang belum sempurna.

Sekedar mengingatkan, langkah memastikan apa yang siswa dapat itu bukan dengan ulangan, sekali lagi, proses ini tidak tepat jika dijadikan ulangan. Karena jika guru hanya memberi poin-poin apa yang mesti dicari lalu setelah siswa mencari langsung di lakukan tes. Maka bukan salah siswa jika mereka menjawab dengan keliru, karena bisa jadi memang itu yang ditemukan siswa dalam pencariannya.

Langkah memastikan ini kalau dalam pembelajaran klasikal biasanya terdapat dalam proses presentasi siswa dan sesi tanya jawab. Di sinilah guru dapat memastikan apakah siswa sudah mempelajari materi yang seharusnya atau belum? Dan jika keliru atau kurang lengkap di sinilah fungsi guru untuk menyempurnakan.

Lalu Bagaimana proses ini bisa terjadi dalam pembelajaran non klasikal dan dalam jaringan? Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan meminta siswa mengumpulkan catatan. Bisa berupa foto atas buku catatan mereka lalu dikumpulkan kepada guru, atau catatan itu mereka buat dalam bentuk digital dan dikirim filenya kepada guru mata pelajara bersangkutan. Setelah itu guru memberikan feedback : apresiasi terhadap hasil belajar yang sesuai dan masukan juga perbaikan kepada siswa yang  hasil belajarnya belum sempurna. Hal ini dimaksud untuk memastikan siswa menguasai kompetensi yang diharapkan.

 Selesaikah sampai sini? Tentu belum. Setelah proses belajar dipastikan terjadi dan siswa sudah dipastikan pula menguasai kompetensi yang diharapkan, barulah setelah itu boleh diadakan ulangan atau evaluasi untuk mengukur capaian penguasaan kompetensi.

Media yang Sesuai Bagi Siswa dan Guru
Berikutnya yang tak kalah penting adalah pemilihan media yang akan menghubungkan antara siswa dan guru. Di awal pelaksanaan pembelajaran di rumah, banyak sekali broadcast di grup-grup WhatsApp tentang banyaknya pilihan platform pendidikan. Tapi tak sedikit pula kekurangannya. Sebut saja Ruangguru, sepengetahuan saya di dalamnya hanya ada mata pelajaran yang  di-UN-kan saja, sedangkan di luar itu ada banyak mata pelajaran lain yang tak terfasilitasi.

Rumah belajar yang digadang-gadang serupa ruang guru namun milik pemerintah dan gratis, jangankan untuk mencari tahu apa saja di dalamnya, bisa masuk halaman utamanya saja tak tahu kita harus tunggu loadingnya sampai kapan.

Selain itu masih banyak lagi namun jika sebagian guru mempertimbangkan kepraktisan atau bahasa lembutnya “terjangkau oleh semua kalangan”, apalagi intruksi belajar di rumah ini terjadi begitu mendadak, saya yakin sedikit sekali yang menggunakan platform-platform itu.

Tapi bukan guru namanya jika tak bisa eklektik terhadap kondisi. Media  sosial Whatsapp, Instagram, Line, Facebook, Hangout, Zoom hingga aplikasi turunan Google Seperti Gmail, Drive, Form dan Site semuanya bisa digunakan.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kesiapan siswa dan kesiapan gurunya. Sebagaimana pepatah Bob Marley: “Not the gun but the man behind the gun”. Bukan tentang perangkatnya, tapi ini semua bergantung pada siapa yang menggunakan perangkatnya.

Yang utama harus diperhatikan adalah prinsip dasar teknologi yaitu memudahkan pekerjaan manusia. Jangan sampai penggunaan semua media pembantu berbasis teknologi itu justru sebaliknya membuat manusia berkerja  berkali lipat dari semestinya.

Kesiapan siswa, ketersediaan perangkat dan jaringan, pemahaman siswa terhadap pengoperasian perangkat, dan bagaimana guru mengoperasikan dan mengarahkan siswa dalam menggunakan perangkat yang digunakan, belum lagi guru masih punya kewajiban memeriksa dan menilai pekerjaan siswa. Keseluruhan itu jika kita gunakan prinsip teknologi yang paling dasar tadi, maka harus lebih meringankan siswa dan guru, ketimbang menyulitkanya.

Di sini guru harus mau belajar. Inovatif dan kreatif sejatinya nomor kesekian dan akan otomatis muncul pada pribadi guru yang mau belajar dan mencari tahu hal-hal baru. Dan di era keterbukaan informasi dan kala jutaan orang hari ini sudah punya Blog dan Chanel Youtube, cara membuat apa pun sudah ada di internet hari ini, maka yang dibutuhkan hanya tinggal keinginan untuk belajar.

Tidak perlu mengejar materi
Di tengah kondisi yang tidak satu pun dari kita menginginkan seperti ini, kurang bijak bagi  seorang guru untuk tetap mengacu pada tuntutan silabus terkait kompetensi yang harus dikuasai siswa.

Menteri pendidikan dalam surat edarannya nya sudah jelas mengenai hal ini bahwa guru tidak berkewajiban bahkan sebaiknya tidak mengejar materi sesuai silabus. Karena selain ada materi belajar, guru-guru juga diharapkan bisa turut andil dalam perang melawan pandemik ini.

Selain tetap mengajar dan mencerdaskan anak bangsa sesuai bidangnya masing-masing, guru juga semestinya turut menggalakkan pola hidup bersih dan sehat, juga pengetahuan-pengetahuan mengenai virus ini dan pencegahannya, serta membantu masyarakat memastikan anak-anak ini mematuhi social distancing juga memberikan motivasi agar kita sama-sama punya optimisme dalam melawan musuh bersama ini.

Di samping itu siswa juga tidak dalam kondisi yang sepenuhnya siap belajar, setidaknya kondisi mereka tak seoptimal seperti saat mereka ada di sekolah.

Dari keseluruhan yang sudah dibahas, saya tidak bermaksud memperkeruh atau mempersulit siapa pun, pertimbangan terhadap anjuran pemerintah yakni social dan physical distancing, pembelajaran di rumah yang tidak hanya berarti pemberian tugas semata,  pemilihan media yang sesuai dan tepat guna serta penyederhanaan materi memang sudah sepatutnya dipertimbangkan oleh pendidik dalam rangka tetap menjalankan proses belajar mengajar yang sesuai ditengah pandemik Covid-19 ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan masukan positif bagi kawan-kawan seprofesi juga jika ada masukan dan saran terhadap penulis terkait tulisan ini tentu akan sangat terbuka dan terbantu.
Sumber gambar: primaindisoft.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar