Manusia atau Tuhan yang Menentukan?


Tulisan salah seorang teman lama saya mengenai relasi antara agama dan sains, atau dapat juga dispesifikkan menjadi relasi antara Tuhan dan manusia, kembali mengingatkan pada masa di mana saya mengalami kegoncangan iman yang cukup serius.

Konteks dalam tulisannya itu ialah mengenai bagaimana peran Tuhan dalam kasus virus Corona yang hari ini sedang melanda ke hampir seluruh negara. Apakah dengan beribadah, berdoa bersama, dan melakukan ritual-ritual sakral lainnya akan dapat membasmi virus mematikan tersebut?

Seperti yang kita ketahui, masyarakat Indonesia “sangat religius”, maka dalam menyelesaikan banyak problem, termasuk soal Corona ini, tidak akan bisa melepaskan diri dari pendekatan-pendekatan keagamaan. Ada yang percaya kalau air wudu bisa menghindarkan kita dari virus. Ada yang membaca qunut nazilah. Dan ada juga yang membaca doa-doa tertentu, yang diyakini cukup ampuh melindungi pembacanya tertular dari virus Corona.

Namun bagi teman saya ini, setidaknya menurut yang saya pahami dari artikel tersebut, agama/Tuhan bukanlah solusinya, atau tidak bisa menjadi solusi. Lalu siapa yang bisa menanggulangi persoalan ini? Tidak ada kemungkinan lain selain manusia sendiri, dalam hal ini adalah sains, bukan Tuhan. Manusialah, dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, yang dapat mengalahkan virus tersebut.

Jika kita mau tarik persoalan ini ke ranah yang lebih filosofis, kita akan menemukan satu pertanyaan radikal yang mendasari perbedaan atau pemisahan dua pandangan di atas, seperti “Apakah Tuhan benar-benar berperan di dalam kehidupan kita?” Kalau iya, bagaimana prosedurnya? Sebab menurut pandangan saya, meskipun masih belum final, sepertinya Tuhan tidak ikut campur dalam kehidupan umat manusia, kecuali sekadar melalui mekanisme hukum alam yang telah dibuatnya.

Sering mendengar kata-kata ini? “Kita diminta untuk membuat rencana/berusaha, untuk hasilnya biar Tuhan yang memutuskan,” atau “Ikhtiar dulu baru tawakal!” Nah, masalahnya adalah kita telah menerima pemahaman ini secara taken for granted sejak kecil. Tapi kalau boleh jujur, setidaknya menurut nalar saya, pandangan ini cukup bermasalah, kalau enggan berkata paradox. Jika pada akhirnya Tuhan yang menentukan hasilnya, lantas buat apa manusia berusaha? Tuhan mau melihat usaha kita? Kata teman saya, ini argumen sampah.

Yang saya pahami, manusia akan menerima dari apa yang diusahakannya. Menulai apa yang ditanamnya. Hubungan sebab-akibat ini konkret, masuk akal bagi saya. Meskipun saya harus berhati-hati untuk mengungkapkan relasi ini, karena pada kenyataannya hubungan tersebut tidak sesederhana “Jika X maka Y”, sebab semakin rumit suatu perbuatan atau tindakan maka tentu saja faktor-faktornya semakin banyak, hingga barangkali sulit untuk mengetahui faktor mana yang paling dominan yang membuahkan hasil Y tersebut.

Seumpama, sekali lagi seumpama, saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Harvard (disimbolkan dengan Y). Di sini saya bisa memasukkan beberapa faktor (diberi simbol X) mengapa saya bisa diterima di Harvard, seperti (X1) saya mendaftarkan diri secara administratif; (X2) melampirkan track record hasil achievement saya yang selaras dengan bidang yang ingin saya pelajari; (X3) saya mempersiapkan diri secara matang untuk sesi wawancara; (X4) peserta seleksi yang secara kualitas berada di bawah saya; dan ini list ini bisa terus diperpanjang.

Barangkali saya bisa menerka-nerka faktor apa yang menyebabkan saya bisa diterima, tapi saya tidak akan mengetahuinya secara pasti karena begitu banyaknya faktor X tersebut. Namun satu hal yang pasti, faktor-faktor religius (saya berdoa atau doa orang tua, dll) sulit dijadikan sebagai faktor yang menentukan (key factors) keberhasilan tersebut. Memang kesannya Tuhan tidak berperan di sana, kecuali sekadar yang menciptakan sarana hukum sebab-akibat. Yang ada di sini hanyalah kehendak-kehendak manusia. Sehebat dan sebanyak apa pun saya berdoa atau beribadah, kalau saya tidak mendaftarkan diri secara administratif ke Harvard, saya tetap tidak akan bisa diterima di kampus ternama tersebut.

Begitu pula dengan kematian. Masyarakat regius di Indonesia meyakini bahwa kematian ada di tangan Tuhan. Bahkan ada ustaz yang berkata bahwa sakit tidak ada hubungannya dengan kematian. Argumennya, ada manusia yang mati secara “tiba-tiba” sedangkan di sisi lainnya ada manusia yang tidak meninggal meski sudah menderita sakit selama bertahun-tahun. Sebenarnya kita tidak bisa bilang “tiba-tiba” karena jika mau dilacak, kita akan mengetahui faktor apa yang menjadi penyebab dirinya meninggal. Maka wajar jika kemudian keyakinan-keyakinan yang semacam ini (predestinatif) ditunggangi secara tak bertanggung jawab oleh beberapa kalangan, termasuk para perokok. Meskipun para dokter sepakat kalau rokok itu buruk bagi kesehatan, namun mereka tetap saja tak peduli. "Kan kematian ada di tangan Allah, bukan karena rokok." Jika kasusnya adalah Corona, mereka akan bilang tidak takut mati karena Corona, dan tetap ngotot pergi ke rumah ibadah atau perkumpulan keagamaan. 

Orang yang meyakini bahwa kematian mutlak ada di tangan Tuhan akan kesulitan menjawab kasus orang yang meninggal karena bunuh diri, yang jelas-jelas merupakan kehendak pribadinya sendiri (anggaplah seperti itu, meskipun bisa saja karena adanya paksaaan dari eksternal). Masa sih mereka akan bilang kalau bunuh diri itu adalah kemauan Tuhan? Hmm.

Akhirnya, dapatkah kita mulai mengatakan kalau memang manusialah yang berkehendak atas dirinya dan sekitarnya.


sumber gambar: kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar