Sella Rachmawati
Beberapa minggu terakhir dunia khususnya Indonesia tengah ditimpa pandemik yang sangat membahayakan jika dilihat dari banyaknya orang yang meninggal, Covid 19. Beberapa kabar menyebutkan bahwa virus ini adalah senjata biologis yang sedang disiapkan oleh orang-orang yang berkepentingan lalu kemudian ia bocor.

Ada juga kabar yang menyebutkan bahwa virus ini datang dari hewan-hewan yang dijual bebas di salah satu pasar di Wuhan, Cina. Entah mana yang benar, yang jelas saat ini terjadi adalah kepanikan di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Pemerintah Indonesia sedang dan akan terus berusaha mencegah penyebaran Covid-19 menjadi semakin meluas. Dimulai dengan diliburkannya anak-anak sekolah, social distancing atau physical distancing, kemudian ramai ajakan bekerja dari rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Semua itu adalah usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengajak masayarakatnya.

Tapi sayang, beberapa masyarakat abai dengan anjuran tersebut hal ini karena tidak ada ketegasan dari pihak yang berwenang. Beberapa influencer sebutlah dr. Tirta dalam akun instagramnya meminta ketegasan dari pemerintah bahkan untuk karantina wilayah, dan mempersiapkan dengan matang masalah perekonomian yang mungkin akan terjadi kemudian.

Memang akan menjadi hal yang sulit jika melihat kondisi Indonesia. Tapi menurut penulis yang notabene awam, agaknya kita harus mengambil beberapa risiko untuk kemaslahatan yang lebih besar.

Sebenarnya, kondisi seperti ini adalah kondisi di mana rakyat Indonesia bisa saling membantu satu sama lain, yang tebiasa bergelimang harta bisa menyumbangkan sebagian hartanya untuk membantu dalam penanganan Covid-19, entah berbentuk alat kesehatan atau bahan makanan pokok untuk kalangan yang menjadi kepala keluarga yang harus tetap bekerja dalam wabah pandemik ini agar mereka bisa melakukan kegiatan di rumah saja dan melakukan apa yang disarankan pemerintah.

Sepertinya setiap lapis masyarakat jika memiliki kesadaran dan kebijaksanaan, kita bisa bersama-sama memerangi Covid 19 ini, dengan tidak menjunjung ego masing-masing dan mengambil keuntungan pribadi. Ayolah, kita bisa kok.

Selain usaha yang kita lakukan, kita juga harus tetap berhusnudzan kepada Sang Maha Segala, berdoa, dan menjadikan kondisi ini sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang masih mau mengingatkan kita untuk peduli sesama dan menjadikan bumi lebih tenang karena bersih dari polusi dan kerusakan-kerusakan lainnya yang pernah kita perbuat entah akhlak kita yang buruk kepada sesama manusia atau kepada makhluk lainnya.

Semoga pandemik ini segera berakhir, dan setelahnya semoga kita mampu menafsirkan maksud Allah mengirimnya. Semoga kita selalu dalam Rahman Rahim-Nya. Amin. Wallahu’alam.
Sumber gambar: radioidola.com
Panji Futuhrahman
Corona Covid-19 mulai menyebalkan, kita sebagai bangsa berpredikat tersantai di dunia tak bisa lagi menghadapinya dengan bercanda. Tapi tidak juga kemudian harus tertekan dan ketakutan karena dua hal itu justru akan menghilangkan kewaspadaan dan akal sehat kita.

Menurut seorang ahli yang menekuni bidang per-virus-an virus hidup pada gelombang tertentu dan besaran gelobang yang dihasilkan badan kita ketika takut adalah gelombang yang lifeable bagi virus, maka besar kemungkinan virus akan langsung menganggap badan kita sebagai “rumah yang tepat" jika kita dalam kondisi takut.

Di samping itu ada semacam permainan pikiran yang ilmiahnya disebut psikosomatis. Sederhananya badan kita tiba-tiba merasakan gejala yang sama dengan yang sering kita bicarakan. Tiba-tiba kita batuk, bersin, demam dan linu-linu padahal bukan karena terjangkit virus tapi semata-mata kita terlalu sering menerima informasi tentang gejala virus tersebut. Jadi penting juga kita meminimalisir persebaran info tentang virus ini. Jangan keseringan! karena justru malah bikin kita rentan dan stress. Maka jelas saya tidak tertarik membahas panjang lebar tentang virus ini, saya akan bahas hal lain yang terimbas oleh pandemik ini.

Salah satu yang terimbas oleh pandemik ini adalah sekolah. Sudah dua minggu proses belajar dikembalikan ke rumah dan berdasarkan intruksi terbaru akan digenapkan hingga sebulan. Bahkan beberapa daerah meliburkan siswanya lebih lama lagi. Namun demikian proses pembelajaran harus berlangsung. Berbagai media digunakan guru agar pembelajaran tetap berjalan, berbagai metode coba digalakkan.

Namun baru seminggu bergulir KPAI sudah ikut repot dengan memberi saran agar guru tak kebanyakan memberi tugas, tugas tidak memberatkan siswa dll. Hemat dari saya jangan dulu banyak intervensi, toh guru di bawah lembaga sekolahnya masing-masing pasti akan membuat regulasi internal. Tulisan saya di bawah ini akan coba menyumbangkan pemikiran sebagai sesama profesi terkait pelaksanaan belajar mengajar dalam jaringan yang  ideal di tengah pandemik Covid 19 ini.

Pertimbangkan Social dan Physical Distancing
Sebelum merancang pembelajaran dalam jaringan, kita mesti memahami bahwa situasi yang dihadapi hari tidak biasa. Ada social dan physical distancing yang harus diperhatikan. Artinya proses belajar di rumah tetap harus menghindari berkumpulnya anak-anak itu.

Jangan sampai tugas yang diberikan guru justru membuat anak berkumpul karena tugasnya tugas kelompok yang hanya bisa dikerjakan jika mereka berkumpul di satu tempat.

Atau justru menyuruh setiap anak mencetak / print materi atau tugas, sudah pasti tidak setiap anak punya printer dan hal itu membuat anak pergi ke warnet atau menumpang print di rumah kawannya. Hal ini akan membuat tujuan awal dari dikembalikannya proses belajar ke rumah agar kontak fisik yang biasa terjadi di sekolah terbatasi malah tidak tercapai. Alhasil membuka kembali peluang bagi menyebarnya virus ini.

Equivalensi Durasi Belajar
Ketika pembelajaran berlangsung di sekolah seperti biasanya, siswa, guru dan seluruh prasarana yang tersedia memang sudah dirancang dan disiapkan bagi terjadinya proses belajar. Lain halnya saat pembelajaran dilaksanakan di rumah. Siswa tidak sepenuhnya dalam kondisi yang siap belajar atau setidaknya tidak sesiap ketika dia ada di sekolah.

Kondisi rumah baik secara fisik maupun interaksi yang terjadi di dalam rumah mereka masing-masing tentu beragam. Kondisi ini mesti kita pahami pula, terlebih bagi siswa yang berasal dari daerah non perkotaan. Tidak semua siswa dalam kondisi serba leluasa. Maka di sini guru mesti bijak dalam menentukan durasi belajar.

Jika di sekolah mata pelajaran A berlangsung selama 2 jam pelajaran dalam seminggu yang artinya selama kurang lebih 90 menit untuk tingkat SMA. Kita tahu selama dua jam itu di dalamnya ada waktu yang digunakan guru untuk mengabsen, merapikan dan menyiapkan kelas dan peserta didik, belum lagi jika ada ice breaking di tengah pembelajaran atau doa pembuka dan penutup sebelum pembelajaran dimulai.

Maka kita bisa asumsikan semua kegiatan pra dan pasca pembelajaran itu menghabiskan waktu setidaknya 15 menit. Jadi waktu efektif itu hanya tersisa sekitar 75 menit.

Waktu efektif ini kita implementasikan kepada kegiatan belajar di rumah. Maka mata pelajaran A tadi dalam memberikan pembelajaran jarak jauh kepada siswanya akan lebih bijak jika tak melebihi waktu efektif tadi yakni 75 menit. Di dalamnya sudah termasuk panduan belajar/mengerjakan tugas, pemberian materi dan penugasannya. Itu semua mestinya memungkinkan untuk selesai dalam waktu 75 menit tadi. 

Belajar Di rumah Bukan Hanya Mengerjakan Tugas.
Proses belajar tidak bisa hanya diwakili oleh pemberian tugas. Proses Belajar mengajar sebagaimana kita tahu menyaratkan adanya peserta didik sebagai pribadi yang belajar. Belajar artinya ada proses yang membuat anak dari semula tidak tahu menjadi tahu, dari semula tidak paham menjadi paham, dari awalnya tidak bisa menjadi mahir.

Tidak apa jika pendidik dan peserta didik tidak berada dalam ruangan yang sama namun proses memfasilitasi peserta didik agar belajar ini harus tetap ada. Caranya bisa beragam, apakah melalui komunikasi jarak jauh yang hanya berupa teks atau tatap muka seperti video conference, atau panduan belajar yang sudah tersusun dengan rapi dan dipahami peserta didik, setidaknya ada upaya pendidik di sana dalam membantu siswa menguasai suatu kompetensi.

Dan tentunya ada materi belajar  yang diberikan oleh pendidik. Pemberian materi ini tidak melulu guru yang menyuapi, bisa juga kita meminta siswa yang mencari tahu, namun jangan lupa! jika kita menggunakan metode yang kedua disebut, maka guru harus memastikan apakah yang siswa dapatkan sudah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh guru? Jika belum sesuai, artinya guru harus turun tangan meluruskan atau melengkapi yang belum sempurna.

Sekedar mengingatkan, langkah memastikan apa yang siswa dapat itu bukan dengan ulangan, sekali lagi, proses ini tidak tepat jika dijadikan ulangan. Karena jika guru hanya memberi poin-poin apa yang mesti dicari lalu setelah siswa mencari langsung di lakukan tes. Maka bukan salah siswa jika mereka menjawab dengan keliru, karena bisa jadi memang itu yang ditemukan siswa dalam pencariannya.

Langkah memastikan ini kalau dalam pembelajaran klasikal biasanya terdapat dalam proses presentasi siswa dan sesi tanya jawab. Di sinilah guru dapat memastikan apakah siswa sudah mempelajari materi yang seharusnya atau belum? Dan jika keliru atau kurang lengkap di sinilah fungsi guru untuk menyempurnakan.

Lalu Bagaimana proses ini bisa terjadi dalam pembelajaran non klasikal dan dalam jaringan? Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan meminta siswa mengumpulkan catatan. Bisa berupa foto atas buku catatan mereka lalu dikumpulkan kepada guru, atau catatan itu mereka buat dalam bentuk digital dan dikirim filenya kepada guru mata pelajara bersangkutan. Setelah itu guru memberikan feedback : apresiasi terhadap hasil belajar yang sesuai dan masukan juga perbaikan kepada siswa yang  hasil belajarnya belum sempurna. Hal ini dimaksud untuk memastikan siswa menguasai kompetensi yang diharapkan.

 Selesaikah sampai sini? Tentu belum. Setelah proses belajar dipastikan terjadi dan siswa sudah dipastikan pula menguasai kompetensi yang diharapkan, barulah setelah itu boleh diadakan ulangan atau evaluasi untuk mengukur capaian penguasaan kompetensi.

Media yang Sesuai Bagi Siswa dan Guru
Berikutnya yang tak kalah penting adalah pemilihan media yang akan menghubungkan antara siswa dan guru. Di awal pelaksanaan pembelajaran di rumah, banyak sekali broadcast di grup-grup WhatsApp tentang banyaknya pilihan platform pendidikan. Tapi tak sedikit pula kekurangannya. Sebut saja Ruangguru, sepengetahuan saya di dalamnya hanya ada mata pelajaran yang  di-UN-kan saja, sedangkan di luar itu ada banyak mata pelajaran lain yang tak terfasilitasi.

Rumah belajar yang digadang-gadang serupa ruang guru namun milik pemerintah dan gratis, jangankan untuk mencari tahu apa saja di dalamnya, bisa masuk halaman utamanya saja tak tahu kita harus tunggu loadingnya sampai kapan.

Selain itu masih banyak lagi namun jika sebagian guru mempertimbangkan kepraktisan atau bahasa lembutnya “terjangkau oleh semua kalangan”, apalagi intruksi belajar di rumah ini terjadi begitu mendadak, saya yakin sedikit sekali yang menggunakan platform-platform itu.

Tapi bukan guru namanya jika tak bisa eklektik terhadap kondisi. Media  sosial Whatsapp, Instagram, Line, Facebook, Hangout, Zoom hingga aplikasi turunan Google Seperti Gmail, Drive, Form dan Site semuanya bisa digunakan.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kesiapan siswa dan kesiapan gurunya. Sebagaimana pepatah Bob Marley: “Not the gun but the man behind the gun”. Bukan tentang perangkatnya, tapi ini semua bergantung pada siapa yang menggunakan perangkatnya.

Yang utama harus diperhatikan adalah prinsip dasar teknologi yaitu memudahkan pekerjaan manusia. Jangan sampai penggunaan semua media pembantu berbasis teknologi itu justru sebaliknya membuat manusia berkerja  berkali lipat dari semestinya.

Kesiapan siswa, ketersediaan perangkat dan jaringan, pemahaman siswa terhadap pengoperasian perangkat, dan bagaimana guru mengoperasikan dan mengarahkan siswa dalam menggunakan perangkat yang digunakan, belum lagi guru masih punya kewajiban memeriksa dan menilai pekerjaan siswa. Keseluruhan itu jika kita gunakan prinsip teknologi yang paling dasar tadi, maka harus lebih meringankan siswa dan guru, ketimbang menyulitkanya.

Di sini guru harus mau belajar. Inovatif dan kreatif sejatinya nomor kesekian dan akan otomatis muncul pada pribadi guru yang mau belajar dan mencari tahu hal-hal baru. Dan di era keterbukaan informasi dan kala jutaan orang hari ini sudah punya Blog dan Chanel Youtube, cara membuat apa pun sudah ada di internet hari ini, maka yang dibutuhkan hanya tinggal keinginan untuk belajar.

Tidak perlu mengejar materi
Di tengah kondisi yang tidak satu pun dari kita menginginkan seperti ini, kurang bijak bagi  seorang guru untuk tetap mengacu pada tuntutan silabus terkait kompetensi yang harus dikuasai siswa.

Menteri pendidikan dalam surat edarannya nya sudah jelas mengenai hal ini bahwa guru tidak berkewajiban bahkan sebaiknya tidak mengejar materi sesuai silabus. Karena selain ada materi belajar, guru-guru juga diharapkan bisa turut andil dalam perang melawan pandemik ini.

Selain tetap mengajar dan mencerdaskan anak bangsa sesuai bidangnya masing-masing, guru juga semestinya turut menggalakkan pola hidup bersih dan sehat, juga pengetahuan-pengetahuan mengenai virus ini dan pencegahannya, serta membantu masyarakat memastikan anak-anak ini mematuhi social distancing juga memberikan motivasi agar kita sama-sama punya optimisme dalam melawan musuh bersama ini.

Di samping itu siswa juga tidak dalam kondisi yang sepenuhnya siap belajar, setidaknya kondisi mereka tak seoptimal seperti saat mereka ada di sekolah.

Dari keseluruhan yang sudah dibahas, saya tidak bermaksud memperkeruh atau mempersulit siapa pun, pertimbangan terhadap anjuran pemerintah yakni social dan physical distancing, pembelajaran di rumah yang tidak hanya berarti pemberian tugas semata,  pemilihan media yang sesuai dan tepat guna serta penyederhanaan materi memang sudah sepatutnya dipertimbangkan oleh pendidik dalam rangka tetap menjalankan proses belajar mengajar yang sesuai ditengah pandemik Covid-19 ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan masukan positif bagi kawan-kawan seprofesi juga jika ada masukan dan saran terhadap penulis terkait tulisan ini tentu akan sangat terbuka dan terbantu.
Sumber gambar: primaindisoft.com

Mendidik di tengah Pandemi

by on Maret 31, 2020
Panji Futuhrahman Corona Covid-19 mulai menyebalkan, kita sebagai bangsa berpredikat tersantai di dunia tak bisa lagi menghadapinya denga...

Tulisan salah seorang teman lama saya mengenai relasi antara agama dan sains, atau dapat juga dispesifikkan menjadi relasi antara Tuhan dan manusia, kembali mengingatkan pada masa di mana saya mengalami kegoncangan iman yang cukup serius.

Konteks dalam tulisannya itu ialah mengenai bagaimana peran Tuhan dalam kasus virus Corona yang hari ini sedang melanda ke hampir seluruh negara. Apakah dengan beribadah, berdoa bersama, dan melakukan ritual-ritual sakral lainnya akan dapat membasmi virus mematikan tersebut?

Seperti yang kita ketahui, masyarakat Indonesia “sangat religius”, maka dalam menyelesaikan banyak problem, termasuk soal Corona ini, tidak akan bisa melepaskan diri dari pendekatan-pendekatan keagamaan. Ada yang percaya kalau air wudu bisa menghindarkan kita dari virus. Ada yang membaca qunut nazilah. Dan ada juga yang membaca doa-doa tertentu, yang diyakini cukup ampuh melindungi pembacanya tertular dari virus Corona.

Namun bagi teman saya ini, setidaknya menurut yang saya pahami dari artikel tersebut, agama/Tuhan bukanlah solusinya, atau tidak bisa menjadi solusi. Lalu siapa yang bisa menanggulangi persoalan ini? Tidak ada kemungkinan lain selain manusia sendiri, dalam hal ini adalah sains, bukan Tuhan. Manusialah, dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, yang dapat mengalahkan virus tersebut.

Jika kita mau tarik persoalan ini ke ranah yang lebih filosofis, kita akan menemukan satu pertanyaan radikal yang mendasari perbedaan atau pemisahan dua pandangan di atas, seperti “Apakah Tuhan benar-benar berperan di dalam kehidupan kita?” Kalau iya, bagaimana prosedurnya? Sebab menurut pandangan saya, meskipun masih belum final, sepertinya Tuhan tidak ikut campur dalam kehidupan umat manusia, kecuali sekadar melalui mekanisme hukum alam yang telah dibuatnya.

Sering mendengar kata-kata ini? “Kita diminta untuk membuat rencana/berusaha, untuk hasilnya biar Tuhan yang memutuskan,” atau “Ikhtiar dulu baru tawakal!” Nah, masalahnya adalah kita telah menerima pemahaman ini secara taken for granted sejak kecil. Tapi kalau boleh jujur, setidaknya menurut nalar saya, pandangan ini cukup bermasalah, kalau enggan berkata paradox. Jika pada akhirnya Tuhan yang menentukan hasilnya, lantas buat apa manusia berusaha? Tuhan mau melihat usaha kita? Kata teman saya, ini argumen sampah.

Yang saya pahami, manusia akan menerima dari apa yang diusahakannya. Menulai apa yang ditanamnya. Hubungan sebab-akibat ini konkret, masuk akal bagi saya. Meskipun saya harus berhati-hati untuk mengungkapkan relasi ini, karena pada kenyataannya hubungan tersebut tidak sesederhana “Jika X maka Y”, sebab semakin rumit suatu perbuatan atau tindakan maka tentu saja faktor-faktornya semakin banyak, hingga barangkali sulit untuk mengetahui faktor mana yang paling dominan yang membuahkan hasil Y tersebut.

Seumpama, sekali lagi seumpama, saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Harvard (disimbolkan dengan Y). Di sini saya bisa memasukkan beberapa faktor (diberi simbol X) mengapa saya bisa diterima di Harvard, seperti (X1) saya mendaftarkan diri secara administratif; (X2) melampirkan track record hasil achievement saya yang selaras dengan bidang yang ingin saya pelajari; (X3) saya mempersiapkan diri secara matang untuk sesi wawancara; (X4) peserta seleksi yang secara kualitas berada di bawah saya; dan ini list ini bisa terus diperpanjang.

Barangkali saya bisa menerka-nerka faktor apa yang menyebabkan saya bisa diterima, tapi saya tidak akan mengetahuinya secara pasti karena begitu banyaknya faktor X tersebut. Namun satu hal yang pasti, faktor-faktor religius (saya berdoa atau doa orang tua, dll) sulit dijadikan sebagai faktor yang menentukan (key factors) keberhasilan tersebut. Memang kesannya Tuhan tidak berperan di sana, kecuali sekadar yang menciptakan sarana hukum sebab-akibat. Yang ada di sini hanyalah kehendak-kehendak manusia. Sehebat dan sebanyak apa pun saya berdoa atau beribadah, kalau saya tidak mendaftarkan diri secara administratif ke Harvard, saya tetap tidak akan bisa diterima di kampus ternama tersebut.

Begitu pula dengan kematian. Masyarakat regius di Indonesia meyakini bahwa kematian ada di tangan Tuhan. Bahkan ada ustaz yang berkata bahwa sakit tidak ada hubungannya dengan kematian. Argumennya, ada manusia yang mati secara “tiba-tiba” sedangkan di sisi lainnya ada manusia yang tidak meninggal meski sudah menderita sakit selama bertahun-tahun. Sebenarnya kita tidak bisa bilang “tiba-tiba” karena jika mau dilacak, kita akan mengetahui faktor apa yang menjadi penyebab dirinya meninggal. Maka wajar jika kemudian keyakinan-keyakinan yang semacam ini (predestinatif) ditunggangi secara tak bertanggung jawab oleh beberapa kalangan, termasuk para perokok. Meskipun para dokter sepakat kalau rokok itu buruk bagi kesehatan, namun mereka tetap saja tak peduli. "Kan kematian ada di tangan Allah, bukan karena rokok." Jika kasusnya adalah Corona, mereka akan bilang tidak takut mati karena Corona, dan tetap ngotot pergi ke rumah ibadah atau perkumpulan keagamaan. 

Orang yang meyakini bahwa kematian mutlak ada di tangan Tuhan akan kesulitan menjawab kasus orang yang meninggal karena bunuh diri, yang jelas-jelas merupakan kehendak pribadinya sendiri (anggaplah seperti itu, meskipun bisa saja karena adanya paksaaan dari eksternal). Masa sih mereka akan bilang kalau bunuh diri itu adalah kemauan Tuhan? Hmm.

Akhirnya, dapatkah kita mulai mengatakan kalau memang manusialah yang berkehendak atas dirinya dan sekitarnya.


sumber gambar: kompas.com
Ditulis oleh: Raden Agung Fajar

Hingga kini memasuki bulan Maret 2020 dunia masih digemparkan dengan wabah penyakit yang berasal dari Wuhan, China kemudian menyebar dengan pesat yang berawal dari satwa dan menular pada manusia.  Dunia medis menyebut wabah ini sebagai virus jenis baru yakni Coronavirus.

Para peneliti dunia kesehatan dari berbagai dunia bahu-membahu untuk pengendalian, pencegahan, tindakan dan mencari vaksin dengan alokasi dana yang luar biasa demi menangkal wabah ini. Tiongkok, Amerika Serikat, Korea Selatan, Iran menganggarkan dana yang begitu besar dalam kasus tersebut. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang sudah ditetapkan sebagai negara maju?

Pada awalnya Indonesia begitu tenang karena Covid-19 belum menjangkit penyebaranya ke Indonesia bahkan dunia mengapresiasi atas sterilnya Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga Asean seperti Singapura dan Malaysia hingga akhirnya virus ini terbawa oleh Warga Negara Asing asal Jepang yang terinfeksi dan menular pada dua Warga Negara Indonesia dan Kementrian Kesehatan yang selanjutnya disebut Kemenkes mengkonfirmasi mereka positif terinfeksi pada Senin 2 Maret 2020.

Sempat mengalami tumpang tindih antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Pusat mengenai pengendalian virus ini, Pemprov DKI Jakarta menggaungkan transparansial atas keterbukaan informasi wabah virus dengan maksud mempermudah untuk memerangi virus ini lain hal dengan pemerintah pusat yang justru memberi diskon dalam hal penerbangan dan tetap mempromosikan destinasi-destinasi pariwisata dengan tujuan perekonomian yang tetap stabil meskipun hadirnya wabah virus, pemerintah pusat mengintruksikan agar tetap tenang dan mensosialisasikan upaya pencegahan Covid-19.

Tidak hanya itu, mengenai anggaran untuk Covid-19 Indonesia terbilang rendah hanya mencapai miliaran tidak sebanding dengan pembangunan yang diagungkan terutama proyeksi perpindahan ibu kota.

Dalam penjabaran singkat tersebut peran kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah begitu vital, hukum selalu menjadi alat dalam hal pengendalian. Kebijakan yang tepat sasaran akan mempengaruhi pengendalian agar tidak memperburuk situasi yang berdampak pada segala aspek. Dalam hal ini diharapkan dinamika politik yang ada wajib dikesampingkan demi bersatunya seluruh unsur baik masyarakat, pemangku kebijakan, media dan peneliti atau akademisi dunia kesehatan. Bagaimana tidak, Masuknya virus ini dimulai dari awal Maret sampai tertanggal 14 Maret 2020 begitu melonjak tajam hingga menyeret salah satu nama Menteri.

Jika kita meninjau dalam kebijakan-kebijakan dunia yang begitu beraneka ragam dalam upaya pencegahan seperti memberlakukan lockdown, menutup penerbangan dari negara-negara yang memiliki banyak kasus, menutup sementara umrah dan sejenisnya, meniadakan ibadah Jum’at dan lain sebagainya sampai pada tingkat World Healt Organization (WHO) menetapkan CoronaVirus sebagai Pandemi.

Kabar terbaru Indonesia telah menaikan anggaran menjadi kurang lebih 1 Triliun untuk pengendalian Covid-19 dan Pemprov DKI Jakarta menutup tempat-tempat keramaian seperti meniadakanya agenda Car Free Day bahkan memberlakukan sekolah-sekolah untuk belajar dirumah dalam dua pekan sampai menunggu hasil perkembangan dari Covid-19. Dunia hiburan, pendidikan, pariwisata telah terdampak akibat wabah ini lalu apakah kebijakan-kebijakan daerah lain baik tingkat satu maupun daerah tingkat dua telah cepat tanggap dalam upaya pengendalian ini demi menekan rendahnya angka yang terinfeksi?

Kita melihat pergerakan yang masif hanya pada Pemerintahan Pusat dan DKI Jakarta meskipun Kemenkes telah menginformasikan kasus-kasus baru muncul pada daerah-daerah lain. Diharapkan para Bupati dan Gubernur di seluruh tanah air mulai memberlakukan kebijakan-kebijakan yang dapat melindungi warganya dengan tetap saling terintegerasi satu sama lain agar Covid-19 tidak memperburuk keadaan melalui penyebaranya.

Masyarakat pun harus tetap optimis untuk menangkal virus ini dengan berbekal pengetahuan, pengendalian yang aktual serta doa sebagaimana Indonesia yang kental dengan unsur agama agar tidak membuat kegaduhan dan memperburuk keadaan yang dapat berpengaruh menimbulkan masalah-masalah baru baik dalam konteks sosiologis, ekonomi dan konteks lainya karena dalam kasus Covid-19 sudah banyak yang berhasil negatif dari yang semula positif.

Seluruh Pemerintah Daerah harus segera melakukan analisa dan management resiko sebelum kasus-kasus Covid-19 menular terhadap masyarakat baik dengan menyiapkan anggaran, tenaga medis, pengedukasian masyarakat, dan berbagai kebijakan-kebijakan lain yang bersifat tepat, bijak dan strategis karena wabah penyakit bukan hal yang baru melainkan sudah muncul sejak zaman mitologi hingga kini memasuki modernisasi.

Oleh karena itu peran hukum dalam hal kebijakan menjadi sentral apa pun produk hukum yang ingin dibuat untuk menekan angka penyebaran dan memberhentikan masalah-masalah baru.

Jika kita ambil contoh dalam hal analisa resiko, proteksi masyarakat memang penting tetapi bukan berarti melupakan juga satwa-satwa yang dapat berpotensi terinfeksi, apabila hal ini terjadi menjadi pekerjaan rumah baru karena jika manusia yang terinfeksi sedikit mudah dalam hal menyelidiki karena manusia bersifat komunikatif namun apabila terjangkit pada satwa baik liar maupun peliharaan,  kita akan lebih sulit mengidentifikasi, melihat rekam jejak dan melihat riwayat dari hewan tersebut yang beresiko menimbulkan penularan-penularan baru. Itu hanya bagian contoh kecil dari analisa resiko yang dimaksud dan masih banyak analisa resiko-resiko lain yang bersumber pada Covid-19 serta peran pemangku kebijakan adalah salah satu kunci dalam seluruh pengendalian wabah penyakit global ini sebagaimana yang telah dirumuskan Mochtar Kusumaatmadja yakni “Hukum merupakan suatu alat untuk memelihara ketertiban dalam masyarakat”.

Sumber gambar: cnbcindonesia.com