Menyoal Respon Kita terhadap Ceramah Gus Muwafiq

Rike Adelia Hermawan



Saya heran dengan respon sebagian besar kita tentang ceramah Gus Muwafiq yang santer dibicarakan itu. Orang-orang yang pro, habis-habisan membela Gus Muwafiq dengan pendapatnya, memaparkan bahwa apa yang disampaikan Gus Muwafiq ada dalam kitab ABC. Sayangnya, tak disertai dengan bukti teks kitab tersebut, sehingga jauh lebih kental unsur pembelaannya atau pembenarannya.
Orang-orang yang kontra, tidak menyetujui apa yang disampaikan Gus Muwafiq dan menganggapnya sebagai perilaku tak sopan atau penghinaan terhadap Rasulullah yang mulia. Sayangnya, mereka menggugat ceramah yang “menurutnya” menghina Rasulullah dengan “menghina” Gus Muwafiq. Jadi kalau (betul) begitu, sama-sama menghinda dong? Sedang kita tahu bahwa penghinaan terhadap siapa pun adalah hal yang salah.

Saya sebetulnya jauh lebih melihat pada betapa beraganmya tiap-tiap orang “menggambarkan Rasulullah.” Penggambaran tentang “siapa dan bagaimana Rasulullah” itu sangat erat kaitannya dengan pengalaman tiap-tiap orang; yang pastinya berbeda.

Ada yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang pemimpin masyarakat. Ada pula yang menggambarkannya sebagai pemimpin agama. Pun beragamnya penggambaran kita terhadap kepribadian Rasulullah: ada yang menggambarkan Rasulullah sebagai orang yang tegas. Ada pula yang menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang lemah lembut. Bahkan ada juga yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang humoris, karena dalam beberapa kisah pernah diceritakan bahwa Rasulullah kerapkali bercanda dengan orang-orang di sekitar beliau.

Penggambaran kita terhadap “siapa Rasulullah” ini pulalah yang kemudian akan memengaruhi bagaimana kita bersikap dan membicarakan Rasulullah.

Yang menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang tegas, barangkali akan lebih banyak memunculkan kepempimpinan Rasulullah dalam perang; dan orang-orang yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang humoris, barangkali akan lebih banyak memunculkan obrolan-obrolan santai Rasulullah yang tidak melulu serius, tapi kadang penuh jenaka juga.

Ada orang-orang yang mengedepankan penghormatan, dan ada pula yang mengedepankan kemesraan.

Hemat saya yang awam ini, ceramah Gus Muwafiq hanya ingin menguatkan sisi kemanusiaannya Rasulullah. Bahwa bagaimana pun mukjizat yang beliau miliki, beliau tetap manusia biasa yang merasa lapar, bahagia, bersedih dan lain sebagainya. Sama sekali tidak bermaksud untuk tak hormat atau menghina Rasulullah. Sebab, jangankan menggambarkan Rasulullah yang hidup 1500 tahun lalu, adik-kakak juga menggambarkan orang tuanya dengan pribadi yang berbeda, tergantung pengalamannya.

Gus Muwafiq juga manusia yang bisa salah. Beliau juga sudah meminta maaf. Nanti, kita tanyakan langsung pada Rasulullah sebenarnya seperti apa beliau ini. Kalau ternyata penggambaran kita terhadapnya salah, ya tidak apa-apa. Tinggal minta maaf saja kepada beliau.

Shollu ‘alan Nabi. Selamat hari Jumat

Sumber gambar: cnnindonesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar