Kajian terhadap Kebangkitan Epistemologi

Oleh: Yadi Mulyadi
Manusia pada dasarnya ialah makhluk pencari kebenaran. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada, tetapi selalu mencari dan mencari kebenaran yang sesungguhnya dengan bertanya-tanya untuk mendapatkan jawaban. Namun setiap jawaban itu juga selalu memuaskan manusia. Ia harus mengujinya dengan metode tertentu untuk mengukur apakah yang dimaksud di sini bukanlah kebenaran yang bersifat semu, melainkan kebenaran yang bersifat ilmiah yaitu kebenaran yang bisa diukur dengan cara-cara ilmiah.

Jujun S. Suriasumantri (2010) mengatakan pengetahuan merupakan khazanah kekayaan mental yang secara langsung atau tak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Pengetahuan juga dapat dikatakan sebagai jawaban dan berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Dan suatu pertanyaan diharapkan mendapatkan jawaban yang benar. Maka dari itu muncullah masalah, bagaimana cara kita menyusun pengetahuan yang benar? Masalah inilah yang pada ilmu filsafat disebut dengan epistemologi.

Sebelum lebih jauh membahas tentang  kebangkitan epistemologi maka kita harus tahu dulu mengenai pengertian epistemologi. Imam Wahyudi (2007) memahami, secara etimologis, epistemologi berasal dan bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan; logos biasanya dipakai untuk menunjuk pengetahuan sistematik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa epistemologi yaitu pengetahuan sistematik tentang pengetahuan. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier pada 1854, yang membuat dua cabang filsafat sekaligus sebagai pembeda keduanya, yakni epistemologi dan ontologi.

Dalam filsafat ilmu pengantar untuk memahami mesin riset Tedi Priatna (2014) menjelaskan bahwa epistemologi adalah konsisten prosedur atau cara memperoleh suatu pengetahuan, cara tersebut disebut dengan metode ilmiah, epistemologi ilmu (metode ilmiah) Metode ilmiah adalah prosedur pengembangan ilmu yang terdiri dari tiga tahapan pokok, yaitu: pertama nasalah dan perumusannya; kedua rasionalisasi/ logico: ada proposisi deduktif yang didasarkan pada logika, asumsi, postulat atau teori dan diakhiri oleh Hipotesis; ketiga Pembuktian empirik/ verifikasi (pada sains positivistik menggunakan statistik). Metode ilmiah sering dideskripsikan dengan istilah: Logico -Hypotetico –Verifikatif; sebagian  menyebutnya: Rasional –Empirik –Terukur; lebih singkat lagi: Rasional dan Empirik. Uji rasional -empirik itulah yang disebut denganRiset (Research).

Ada beberapa metode yang populer dan dijadikan rujukan dalam memperoleh sumber pengetahuan dalam epistemologi pengetahuan, Sebagaimana dikemukakan Imam Wahyudi (2007) sebagai berikut:

Metode Empirisme
Empirisme yaitu suatu cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman indrawi.

Metode Rasionalisme
Rasionalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber pengetahuan yang berlandaskan pada akal. Bukan karena rasionalis memengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam dan barang sesuatu.

Metode Fenomenalisme
Fenomenalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan rnenggali pengalaman dan dalam dirinya sendiri. Tokoh yang terkenal dalam metode ini ialah Immanuel Kant.

Intuisionisme
Intuisionisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan menggunakan sarana intuisi untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisis, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dan pengetahuan intuitif. Tokoh yang terkenal dalam aliran ini ialah Bergson.

Kebangkitan Epistemologi Popper
Di awal abad ke-20 muncul seorang filsuf, Karl Raimund Popper, yang mengajukan kritik terhadap arus neopositivisme yang bercorak induktif-verifikatif. Dia mengemukakan solusi ilmu dengan epistemologi yang dikenal dengan konjektur dan falsifikasi. Pada dasarnya teori falsifikasi yang dibangun oleh Popper merupakan bantahan dan sanggahan dan induksi dan verifikasi yang banyak dikembangkan oleh para filsuf sebelumnya.

Selanjutnya terkait konjektur, dalam kaitan membangun hipotesis untuk objektivitas,ini menjadi suatu tagihan dalam epistemologi deduktif. Konjektur secara bahasa berarti dugaan, prakonsepsi, atau dapat juga disebut dengan asumsi. Konjektur dipandang oleh Popper sesuatu yang harus ada sebelum seseorang melakukan analisis terhadap suatu objek permasalahaan. Prakonsepsi (konjektur) memiliki peran penting dalam penelitian, yaitu sebagai upaya artikulasi terhadap persoalan yang diteliti.

Kebangkitan Epistemologi Capra
Menurut Capra (1991), dalam sejarah ilmu pengetahuan diketahui bahwa fisika modern dimulai sejak Galileo, yang memilki ciri kombinasi antara pengetahuan empiris dan matematika. Oleh karena itu, Capra melihat Galileo sebagai bapak dan sains modern. Tetapi ia juga melihat bahwa akar dan perkembangan sains bermula dari filsafat Gerika, khususnya dari arus pikir Milesian, yang dapat dikatakan sangat mirip dengan konsep pikir monistis dan organis, filsafat India dan China Kuno.

Paradigma inilah yang diimpor dan mewarnai pikiran Capra di dalam meninjau seluruh perkembangan sains modern. Hal ini jelas, seperti yang diakuinya, bahwa pikiran itu mulai berkembang di tengah-tengah masyarakat Barat sekitar 20 tahun terakhir, akibat masuknya mistisisme Timur ke Barat.

Kebangkitan Epistemologi Thomas Kuhn
Paradigma Thomas Kuhn berusaha melakukan dobrakan, dunia sains dituntut untuk meginterpretasi ulang perkembangan sejarahnya. Kuhn melihat bahwa sains bukanlah merupakan suatu pergerakan sinambung dan sains-normal (normal-science), melainkan lebih merupakan loncatan paradigma sebagai akibat terjadinya revolusi sains (sciencer evolution). Paradigma yaitu tema pokok Kuhn dalam bukunya, The Structure. Pada setiap kali kesempatan menampilkan ide baru, Kuhn menggunakan tema paradigma ini dengan arti yang berbeda. Dewasa ini term paradigma muncul di berbagai diskursus, sering kali dalam arti cara “berpikir” atau “pendekatan terhadap masalah.” Walau Kuhn secara umum berhasil memopulerkan penggunaannya, tapi dalam kenyataannya kepopuleran tema ini tidak beriringan dengan aspek utama argumentasi Kuhn pada The Structure.

Kebangkitan Epistemologi Thomas Aquinas
Paradigma Thomas Aquinas ditemukan dalam Summa Theologia. Dalam buku ini dia berhasil memberikan argumen logis tentang adanya Tuhan. Lima argumen itu antara lain: Pertama, argumen gerak. Menurut Thomas Aquinas, alam ini selalu bergerak, gerak tentu saja tidak berasal dari alam itu sendiri, gerak itu menunjukkan adanya penggerak yakni Tuhan, Dialah penggerak utama dan yang pertama. Kedua, argumen kausalitas. Menurut Thomas Aquinas tidak sesuatu pun yang mempunyai penyebab pada dirinya sendiri, sebab itu harus berada di luar dirinya. Ketiga, argumen kemungkinan. Thomas mengatakan adanya alam ini bersifat mungkin ada dan mungkin tidak ada. Kesimpulan yang diperoleh dan kenyataan alam ini dimulai dari tidak ada, lalu muncul atau menjadi ada kemudian menjadi tidak ada.  Keempat, argumen tingkatan.

Thomas meyakini bahwa isi alam ini ternyata bertingkat-tingkat (levels). Ada yang dihormati, lebih dihormati, dan terormat. Ada indah, lebih indah, sangat indah, dan sebagainya; yang maha sempurna yaitu penyebab yang sempurna, yang sempurna yaitu penyebab yang kurang sempurna, yang atas penyebab yang bawah. Tuhan ialah yang tertinggi, Dia penyebab di bawahnya. Kelima, argumen teologis. Thomas mengatakan tujuan alam ini bergerak menuju sesuatu, padahal mereka tidak tahu tujuan itu. Ada sesuatu yang mengatur alam menuju tujuan alam, Dia ialah Tuhan.

Sumber gambar: freiheitslexikon.de

Referensi :
Imam Wahyudi. 2012. Pengantar Epistemologi. Yogyakarta: Badan Penerbit Filsafat UGM.
Jujun S. Suriasumantri. 2010. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: PT Penerbar Swadaya.
Mukhtar Latif. 2015. Orientasi Kearah Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.
Tedi Priatna. 2014. Filsafat Ilmu Pengantar untuk Memahami Mesin Riset, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Bandung. http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/9745 :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar