Oleh: Yadi Mulyadi
Manusia pada dasarnya ialah makhluk pencari kebenaran. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada, tetapi selalu mencari dan mencari kebenaran yang sesungguhnya dengan bertanya-tanya untuk mendapatkan jawaban. Namun setiap jawaban itu juga selalu memuaskan manusia. Ia harus mengujinya dengan metode tertentu untuk mengukur apakah yang dimaksud di sini bukanlah kebenaran yang bersifat semu, melainkan kebenaran yang bersifat ilmiah yaitu kebenaran yang bisa diukur dengan cara-cara ilmiah.

Jujun S. Suriasumantri (2010) mengatakan pengetahuan merupakan khazanah kekayaan mental yang secara langsung atau tak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Pengetahuan juga dapat dikatakan sebagai jawaban dan berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Dan suatu pertanyaan diharapkan mendapatkan jawaban yang benar. Maka dari itu muncullah masalah, bagaimana cara kita menyusun pengetahuan yang benar? Masalah inilah yang pada ilmu filsafat disebut dengan epistemologi.

Sebelum lebih jauh membahas tentang  kebangkitan epistemologi maka kita harus tahu dulu mengenai pengertian epistemologi. Imam Wahyudi (2007) memahami, secara etimologis, epistemologi berasal dan bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan; logos biasanya dipakai untuk menunjuk pengetahuan sistematik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa epistemologi yaitu pengetahuan sistematik tentang pengetahuan. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier pada 1854, yang membuat dua cabang filsafat sekaligus sebagai pembeda keduanya, yakni epistemologi dan ontologi.

Dalam filsafat ilmu pengantar untuk memahami mesin riset Tedi Priatna (2014) menjelaskan bahwa epistemologi adalah konsisten prosedur atau cara memperoleh suatu pengetahuan, cara tersebut disebut dengan metode ilmiah, epistemologi ilmu (metode ilmiah) Metode ilmiah adalah prosedur pengembangan ilmu yang terdiri dari tiga tahapan pokok, yaitu: pertama nasalah dan perumusannya; kedua rasionalisasi/ logico: ada proposisi deduktif yang didasarkan pada logika, asumsi, postulat atau teori dan diakhiri oleh Hipotesis; ketiga Pembuktian empirik/ verifikasi (pada sains positivistik menggunakan statistik). Metode ilmiah sering dideskripsikan dengan istilah: Logico -Hypotetico –Verifikatif; sebagian  menyebutnya: Rasional –Empirik –Terukur; lebih singkat lagi: Rasional dan Empirik. Uji rasional -empirik itulah yang disebut denganRiset (Research).

Ada beberapa metode yang populer dan dijadikan rujukan dalam memperoleh sumber pengetahuan dalam epistemologi pengetahuan, Sebagaimana dikemukakan Imam Wahyudi (2007) sebagai berikut:

Metode Empirisme
Empirisme yaitu suatu cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman indrawi.

Metode Rasionalisme
Rasionalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber pengetahuan yang berlandaskan pada akal. Bukan karena rasionalis memengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam dan barang sesuatu.

Metode Fenomenalisme
Fenomenalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan rnenggali pengalaman dan dalam dirinya sendiri. Tokoh yang terkenal dalam metode ini ialah Immanuel Kant.

Intuisionisme
Intuisionisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan menggunakan sarana intuisi untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisis, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dan pengetahuan intuitif. Tokoh yang terkenal dalam aliran ini ialah Bergson.

Kebangkitan Epistemologi Popper
Di awal abad ke-20 muncul seorang filsuf, Karl Raimund Popper, yang mengajukan kritik terhadap arus neopositivisme yang bercorak induktif-verifikatif. Dia mengemukakan solusi ilmu dengan epistemologi yang dikenal dengan konjektur dan falsifikasi. Pada dasarnya teori falsifikasi yang dibangun oleh Popper merupakan bantahan dan sanggahan dan induksi dan verifikasi yang banyak dikembangkan oleh para filsuf sebelumnya.

Selanjutnya terkait konjektur, dalam kaitan membangun hipotesis untuk objektivitas,ini menjadi suatu tagihan dalam epistemologi deduktif. Konjektur secara bahasa berarti dugaan, prakonsepsi, atau dapat juga disebut dengan asumsi. Konjektur dipandang oleh Popper sesuatu yang harus ada sebelum seseorang melakukan analisis terhadap suatu objek permasalahaan. Prakonsepsi (konjektur) memiliki peran penting dalam penelitian, yaitu sebagai upaya artikulasi terhadap persoalan yang diteliti.

Kebangkitan Epistemologi Capra
Menurut Capra (1991), dalam sejarah ilmu pengetahuan diketahui bahwa fisika modern dimulai sejak Galileo, yang memilki ciri kombinasi antara pengetahuan empiris dan matematika. Oleh karena itu, Capra melihat Galileo sebagai bapak dan sains modern. Tetapi ia juga melihat bahwa akar dan perkembangan sains bermula dari filsafat Gerika, khususnya dari arus pikir Milesian, yang dapat dikatakan sangat mirip dengan konsep pikir monistis dan organis, filsafat India dan China Kuno.

Paradigma inilah yang diimpor dan mewarnai pikiran Capra di dalam meninjau seluruh perkembangan sains modern. Hal ini jelas, seperti yang diakuinya, bahwa pikiran itu mulai berkembang di tengah-tengah masyarakat Barat sekitar 20 tahun terakhir, akibat masuknya mistisisme Timur ke Barat.

Kebangkitan Epistemologi Thomas Kuhn
Paradigma Thomas Kuhn berusaha melakukan dobrakan, dunia sains dituntut untuk meginterpretasi ulang perkembangan sejarahnya. Kuhn melihat bahwa sains bukanlah merupakan suatu pergerakan sinambung dan sains-normal (normal-science), melainkan lebih merupakan loncatan paradigma sebagai akibat terjadinya revolusi sains (sciencer evolution). Paradigma yaitu tema pokok Kuhn dalam bukunya, The Structure. Pada setiap kali kesempatan menampilkan ide baru, Kuhn menggunakan tema paradigma ini dengan arti yang berbeda. Dewasa ini term paradigma muncul di berbagai diskursus, sering kali dalam arti cara “berpikir” atau “pendekatan terhadap masalah.” Walau Kuhn secara umum berhasil memopulerkan penggunaannya, tapi dalam kenyataannya kepopuleran tema ini tidak beriringan dengan aspek utama argumentasi Kuhn pada The Structure.

Kebangkitan Epistemologi Thomas Aquinas
Paradigma Thomas Aquinas ditemukan dalam Summa Theologia. Dalam buku ini dia berhasil memberikan argumen logis tentang adanya Tuhan. Lima argumen itu antara lain: Pertama, argumen gerak. Menurut Thomas Aquinas, alam ini selalu bergerak, gerak tentu saja tidak berasal dari alam itu sendiri, gerak itu menunjukkan adanya penggerak yakni Tuhan, Dialah penggerak utama dan yang pertama. Kedua, argumen kausalitas. Menurut Thomas Aquinas tidak sesuatu pun yang mempunyai penyebab pada dirinya sendiri, sebab itu harus berada di luar dirinya. Ketiga, argumen kemungkinan. Thomas mengatakan adanya alam ini bersifat mungkin ada dan mungkin tidak ada. Kesimpulan yang diperoleh dan kenyataan alam ini dimulai dari tidak ada, lalu muncul atau menjadi ada kemudian menjadi tidak ada.  Keempat, argumen tingkatan.

Thomas meyakini bahwa isi alam ini ternyata bertingkat-tingkat (levels). Ada yang dihormati, lebih dihormati, dan terormat. Ada indah, lebih indah, sangat indah, dan sebagainya; yang maha sempurna yaitu penyebab yang sempurna, yang sempurna yaitu penyebab yang kurang sempurna, yang atas penyebab yang bawah. Tuhan ialah yang tertinggi, Dia penyebab di bawahnya. Kelima, argumen teologis. Thomas mengatakan tujuan alam ini bergerak menuju sesuatu, padahal mereka tidak tahu tujuan itu. Ada sesuatu yang mengatur alam menuju tujuan alam, Dia ialah Tuhan.

Sumber gambar: freiheitslexikon.de

Referensi :
Imam Wahyudi. 2012. Pengantar Epistemologi. Yogyakarta: Badan Penerbit Filsafat UGM.
Jujun S. Suriasumantri. 2010. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: PT Penerbar Swadaya.
Mukhtar Latif. 2015. Orientasi Kearah Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.
Tedi Priatna. 2014. Filsafat Ilmu Pengantar untuk Memahami Mesin Riset, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Bandung. http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/9745 :


Oleh: M Jiva Agung W
Tidak ada isu yang paling hot hari ini selain seputar perpolitikan Indonesia karena tema inilah yang paling mudah digoreng untuk meriuhkan suasana sekaligus menjadi penambah pundi-pundi uang bagi pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya. Dan tiada satu person yang paling tersoroti dalam hal ini selain sosok fenomenal Rocky Gerung (RG) yang belakangan terpaksa harus terkena delik atas pengaduan beberapa kalangan yang berkeberatan atas ucapannya mengenai kefiksian kitab suci beberapa waktu lalu di acara Indonesia Lawyers Club (ILC).

Tentu kita tidak bisa menyangkal adanya unsur-unsur politik di dalam kekontroversian ini, tetapi pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas dan masuk ke ranah politik, apalagi pendekatan hukum. Alih-alih murni berdasarkan analisis ilmiah dari sudut pandang ilmu logika. Dan saya sangat berterima kasih kepada Dr. Otong Sulaeman juga rekan-rekan peserta short course Filsafat Islam yang telah memberikan pencerahannya.

Dari serangkaian ucapannya di media, kita dapat mengatakan bahwa pernyataan kontroversi RG didasarkan pada penalaran dua proposisi[1] berikut: pertama, “fiksi mengaktifkan imajinasi” dan kedua “kitab suci mengaktifkan imajinasi”. Dari dua proposisi ini kemudian diambil kesimpulan bawa kitab suci itu fiksi. Model penalaran ini bertumpu tiga buah kata, yakni “fiksi”, “kitab suci”, dan “mengaktifkan imajinasi”, yang dianggap RG satu sama lain memiliki relasi.

Dalam ilmu logika terdapat empat jenis relasi, yaitu ekuivalensi (bermakna sama dengan simbol = ), diferensia (bermakna saling lepas dengan simbol ⊃⊂), umum-khusus absolut yang dalam matematika disebut himpunan bagian (bersimbol ), dan umum-khusus beririsan (bersimbol ∩).
Untuk pengambilan kesimpulan berdasarkan dua proposisi hanya dapat diambil secara benar jika berada dalam dua kondisi: pertama, jika kedua pernyataan yang dijadikan sebagai proposisi sama-sama memiliki relasi ekuivalensi. Sebagai contoh, jika A ekuivalen dengan B; dan B ekuivalen dengan C, maka A ekuivalen dengan C, atau kedua, jika kedua pernyataan membentuk silogisme deduktif di mana ketiga konsep tersebut membentuk relasi umum-khusus absolut secara bertingkat. Sebagai contoh, semua manusia mengalami kematian; Rocky Gerung adalah manusia, maka simpulannya Rocky Gerung pasti mengalami kematian.

Sekarang mari kita uji pernyataan RG dengan asumsi yang pertama (ekuivalen).Pertanyaan mendasarnya ialah apakah di antara “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” terjadi relasi ekuivalensi? Jelas tidak! Mengaktifkan imajinasi bukanlah sifat substansial dari fiksi melainkan sekadar sifat aksidentalnya. Kita tidak bisa menyatakannya secara bolak-balik seperti “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi” dan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi”

Dr. Otong Sulaeman mengungkapkan, “setiap fiksi memang mengaktifkan imajinasi tetapi yang dapat mengaktifkan imajinasi bukan hanya fiksi melainkan juga biografi tokoh besar, foto seseorang, bahkan kuliah ilmiah seorang profesor” Jadi, alih-alih berelasi ekuivalensi, “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” memiliki model relasi himpunan bagian [fiksi merupakan bagian dari hal-hal yang dapat mengaktifkan imajinasi, tetapi tidak dengan sebaliknya].

Begitu pun dengan relasi “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” karena keduanya memiliki substasi yang berbeda. Daripada dianggap sebagai relasi ekuivalen, keduanya lebih tepat memiliki relasi umum-khusus beririsan, karena harus diakui bahwa ada sebagian kesamaan antara “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” seperti perihal eskatologis.

Setelah gagal lulus dalam ujian kondisi pertama, mari kita uji pertanyaan RG dengan kondisi kedua (silogisme). Dr. Otong Sulaeman menggambarkan bahwa jika hendak dipaksakan apa yang dikehendaki oleh RG maka penggambarannya adalah:
Dari diagram ini terbaca bahwa premis pertamanya (mayor) sudah salah karena terbalik, bukan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi” tetapi yang benar adalah “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi”. Pun dengan premis keduanya (minor) karena tidak semua isi kitab suci mengaktifkan imajinasi, melainkan sebagiannya saja. Kalau pengujian kebenaran setiap premisnya saja sudah salah, maka pengambilan keputusan hanya akan menimbulkan kesesatan simpulan.

Tidak Seutuhnya Salah
Memang, sebagaimana telah disampaikan di atas, jika dikaji dalam pandangan murni ilmu logika, pernyataan RG jelas mengandung kecacatan, tetapi pertanyaannya apakah kita mesti mengaplikasikan pernyataan baku sesuai kaidah ilmu logika di dalam setiap perbincangan tatap muka?

Saya beri contoh. Dalam suasana percakapan, Jaelani berkata bahwa Alquran adalah obat. Dalam konteks ini saya yakin mitra bicaranya akan segera memahami maksud yang dikehendakinya, bahwa Jaelani memang ingin mengatakan bahwa Alquran mengandung unsur pengobatan/penyembuhan tanpa bermaksud bahwa esensi dari Alquran itu sendiri adalah obat. Mitra bicaranya pun paham bahwa Jaelani tidak sedang mengatakan bahwa keseluruhan isi Alquran—adalah obat—melainkan sekadar untuk menyebut sebagiannya saja.

Dalam kehidupan sehari-hari kita telah terbiasa mendengar kata-kata semacam “warga Bekasi berdemo”, “Banser membakar bendera tauhid”, atau “Remaja tawuran” dan langsung memahami bahwa yang dimaksud ialah bukan seluruh warga Bekasi berdemo atau seluruh anggota Banser membakar bendera, atau seluruh remaja tawuran. Dan memang itulah yang sedang dimaksudkan oleh bung Rocky. Ketika memberi contoh kefiksian kitab suci beliau segera memberi contoh hal-hal yang berbau eksatologis yang baginya memiliki padanan dengan fiksi karena keduanya sama-sama mengaktifkan imajinasi. Apakah mengaktifkan imajinya termasuk substansi atau sekadar aksidental, dalam sebuah percakapan redaksi ini sudah tidak terlalu berpengaruh lagi.

Tetapi harus diakui juga bahwa untuk pernyataan RG ini tidak bisa disamakan secara total dengan contoh-contoh yang sudah saya berikan di atas, sebab beliau telah berani masuk ke ranah yang dianggap sakral oleh, setidaknya, masyarakat Indonesia, yaitu agama.

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, hal-hal yang berbau agama, entah itu konsep abstraknya, ritualistiknya,  maupun sekadar atribut keagamaannya, sama-sama bernilai suci sehingga kita harus berhati-hati ketika membicarakannya—tentu saja berbeda dengan budaya di Barat yang cenderung bebas dan terbuka.

Nah, persoalannya ialah ketika RG mencoba untuk menyandingkan hal yang sakral dengan sesuatu yang telah lazim dianggap berkonotasi negatif (fiksi). Redaksi fiksi secara umum kita pahami sebagai sesuatu yang tidak faktual, karangan manusia, memuat kepalsuan, cerita-cerita yang sulit untuk diverifikasi kebenarannya, atau sebagaimana yang dipahami oleh RG—sesuatu yang mengaktifkan imajinasi. Maka wajar ketika mereka mencoba untuk mengartikulasikan pemaknaan ini kepada kitab sucinya masing-masing, muncul keberatan.

Ini bagaikan ucapan, “Jackson itu pincang” yang meskipun secara fakta memang demikian keadaannya, tetapi siapa yang mau dipanggil dengan sebutan yang berkonotasi “negatif”? Orang-orang ribut mengenai kata pincang yang secara lazim telah dipahami sebagai suatu redaksi yang kurang baik digunakan, tetapi kemudian RG—dalam beberapa kesempatan—hendak menyampaikan bahwa pincang itu bukanlah suatu redaksi yang berkonotasi buruk melainkan sebaliknya.

Di atas semua perdebatan ini, setidaknya kita tetap harus berterima kasih kepada bung Rocky yang telah memunculkan percakapan “kefilsafatan” dan “logika” di ranah publik sehingga mulai hilanglah persepsi buruk mengenai filsafat atau logika yang kadung dianggap ilmu sesat-menyesatkan, di luar konteks apakah ilmu tersebut telah digunakannya secara benar atau salah.    

Keterangan: Tulisan ini sudah pernah diposting di website Qureta.com, dengan judul “Dilema Ucapan Kitab Suci Fiksi”
Sumber gambar: Fajar.co.id

Referensi
Priatna, Tedi. (tt). Filsafat Ilmu: Pengantar untuk Memahami Mesin Riset. PPT Bahan Ajar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN SGD Bandung



[1] Suatu pernyataan mengenai satu hubungan antara dua atau lebih konsep (dalam paradigma positivistik). Sedangkan dalam penelitian kualitatif, proposisi dipahami sebagai suatu pernyataan yang terdiri dari satu konsep atau lebih yang dapat dibenarkan atau disalahkan (Priatna, tt: 30).


Rike Adelia Hermawan



Saya heran dengan respon sebagian besar kita tentang ceramah Gus Muwafiq yang santer dibicarakan itu. Orang-orang yang pro, habis-habisan membela Gus Muwafiq dengan pendapatnya, memaparkan bahwa apa yang disampaikan Gus Muwafiq ada dalam kitab ABC. Sayangnya, tak disertai dengan bukti teks kitab tersebut, sehingga jauh lebih kental unsur pembelaannya atau pembenarannya.
Orang-orang yang kontra, tidak menyetujui apa yang disampaikan Gus Muwafiq dan menganggapnya sebagai perilaku tak sopan atau penghinaan terhadap Rasulullah yang mulia. Sayangnya, mereka menggugat ceramah yang “menurutnya” menghina Rasulullah dengan “menghina” Gus Muwafiq. Jadi kalau (betul) begitu, sama-sama menghinda dong? Sedang kita tahu bahwa penghinaan terhadap siapa pun adalah hal yang salah.

Saya sebetulnya jauh lebih melihat pada betapa beraganmya tiap-tiap orang “menggambarkan Rasulullah.” Penggambaran tentang “siapa dan bagaimana Rasulullah” itu sangat erat kaitannya dengan pengalaman tiap-tiap orang; yang pastinya berbeda.

Ada yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang pemimpin masyarakat. Ada pula yang menggambarkannya sebagai pemimpin agama. Pun beragamnya penggambaran kita terhadap kepribadian Rasulullah: ada yang menggambarkan Rasulullah sebagai orang yang tegas. Ada pula yang menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang lemah lembut. Bahkan ada juga yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang humoris, karena dalam beberapa kisah pernah diceritakan bahwa Rasulullah kerapkali bercanda dengan orang-orang di sekitar beliau.

Penggambaran kita terhadap “siapa Rasulullah” ini pulalah yang kemudian akan memengaruhi bagaimana kita bersikap dan membicarakan Rasulullah.

Yang menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang tegas, barangkali akan lebih banyak memunculkan kepempimpinan Rasulullah dalam perang; dan orang-orang yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang humoris, barangkali akan lebih banyak memunculkan obrolan-obrolan santai Rasulullah yang tidak melulu serius, tapi kadang penuh jenaka juga.

Ada orang-orang yang mengedepankan penghormatan, dan ada pula yang mengedepankan kemesraan.

Hemat saya yang awam ini, ceramah Gus Muwafiq hanya ingin menguatkan sisi kemanusiaannya Rasulullah. Bahwa bagaimana pun mukjizat yang beliau miliki, beliau tetap manusia biasa yang merasa lapar, bahagia, bersedih dan lain sebagainya. Sama sekali tidak bermaksud untuk tak hormat atau menghina Rasulullah. Sebab, jangankan menggambarkan Rasulullah yang hidup 1500 tahun lalu, adik-kakak juga menggambarkan orang tuanya dengan pribadi yang berbeda, tergantung pengalamannya.

Gus Muwafiq juga manusia yang bisa salah. Beliau juga sudah meminta maaf. Nanti, kita tanyakan langsung pada Rasulullah sebenarnya seperti apa beliau ini. Kalau ternyata penggambaran kita terhadapnya salah, ya tidak apa-apa. Tinggal minta maaf saja kepada beliau.

Shollu ‘alan Nabi. Selamat hari Jumat

Sumber gambar: cnnindonesia.com
Rd Agung Fajar
Pada era awal presiden Joko Widodo di periode yang kedua, kita kembali tergiring dalam isu pengkonfrontasian antara nasionalisme dan islamisme. Terlihat dari fenomenal yang terjadi sekarang antara penguasa dan organisasi masyarakat yang bergerak dalam agama yakni Front Pembela Islam (FPI), kejadian tersebut dikarenakan FPI yang sudah berdiri selama dua puluh tahun merasa dipersulit oleh penguasa mengenai SKT yang belum diterbitkan oleh pihak penguasa. Penguasa menganggap bahwasanya FPI menjadi ancaman negara ketika mengangkat label “NKRI Bersyariah” dalam tubuh organisasinya.

Frasa bersyariah menjadi polemik yang sekarang masih diperdebatkan karena dalam pandangan penguasa, frasa tersebut mengarah pada khilafah yang menjalar terhadap sistem negara sehingga terindikasi akan merusak sistem negara Indonesia namun beda hal dari pihak FPI yang menginterpretasikan menjalankan syariat agama islam dalam satu ruang lingkup NKRI.

Saat fenomenal tersebut muncul, narasi-narasi panjang telah diuraikan oleh semua pihak dan kembali dibenturkanya antara nasionalisme dan islamisme, pancasila kehilangan panorama ketika isu pengkotak-kotakan terjadi yang sebenarnya nilai-nilai pancasila hadir dari kedua benturan tersebut. Pancasilais lahir dari nasionalisme yang besar dari warga negara terhadap negaranya dan semangat keislaman selalu hadir disetiap silanya.

Memang buntut dari era digitalisasi di mana masyarakat dengan mudah melahap tanpa mengkaji, menimbang, berbekal wawasan yang minim sehingga terpengaruh akan perbedaan pendapat yang terjadi. Fenomenal seperti ini membawa kemaluan terhadap negara karena persoalan administrasi begitu lebih panas dibandingkan persoalan-persoalan lainya seperti kesejahteraan, lingkungan dan lain sebagainya.

Kurangnya dialog dari semua pihak serta masuknya sedikit bumbu politis menjadi pemicu utama sehingga persoalan administrasi ini begitu booming mengalahkan persoalan-persoalan lain. Kegaduhan tidak akan terjadi jika masyarakat dapat menilai dengan baik dan benar, artinya persoalan tersebut dapat diselesaikan dalam satu meja melalui dialog yang menghasilkan kesamaaan pandangan mengenai syarat-syarat dari penguasa dan anggaran dasar anggaran rumah tangga (ADA/RT) FPI.

Negara ini memang masih terlalu muda dapat ditinjau melalui usia dan cara-cara negara ketika menghadapi persoalan, negara masih belum mampu tenang dalam menanggapi managemen konflik yang terjadi sehingga dengan mudah kegaduhan muncul yang dapat berakibat timbulnya perpecahan antar golongan.

Jika melalui lisan, semua tentu mengatakan bahwa dirinya seorang pancasilais tetapi apabila melalui nilai, pancasilais tersebut belum tentu hadir melekat didalam kehidupan sehari-hari. Hal tesebut berlaku juga untuk negara, berapa banyak negara ini tidak mencerminkan nilai-nilai pancasila pada instrumen penyelenggaranya. Mengambil contoh dari sila kelima, dimana beberapa wilayah di penjuru negeri belum merasakan tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nasionalisme lahir saat seseorang memfitrahkan dirinya untuk negara dan islamisme muncul sebagai syariat pada kehidupan sehari-hari dalam keyakinan individu pada ruang teologis, Siapapun baik nasionalisme dan islamisme berhak untuk menganut faham tersebut yang tidak boleh adalah ketika islamisme dibenturkan pada ranah sistem negara. Negara berhak melindungi penganut faham apapun selagi tidak keluar dari koridor pancasila dan konstitusi. Pengkolaborasian islamisme dan nasionalisme tersebut merupakan hal subtantif bagi warga negara yang menganut ajaran-ajaran islam karena keterpaduan nasionalisme dan islamisme bermuara pada lahirnya pancasila dapat pula ditinjau dari sejarah asal muasal pancasila.

Islam menyerukan bahwasanya tiada tuhan selain Allah yang bersifat esa, menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan memiliki akhlaqul kharimah hingga sampai pada sila terakhir dari pancasila untuk kemaslahatan bersama. Nasionalisme berperan sebagai benteng terakhir dalam menjaga keutuhan negara, melalui sudut pandang libertarian, negara dianggap tidak semestinya mencampuri persoalan yang masuk dalam ruang lingkup privat contohnya dalam hal agama. Apabila negara terlalu mencampuri maka dapat dikatakan munculnya suatu kepanikan dari negara terhadap warga-warganya sehingga bermuara saling menuding, memantau dan mengawasi. Hal ini tentu saja mengganggu kebebasan warga negara saat selalu diawasi dengan bidikan melawan pilar-pilar negara dan menghasilkan keotoriterian negara.

Kacau memang, saat ingin melindungi pancasila jika melakukan cara-cara diatas justru menjadi luka bagi pancasila karena keotoriteran tersebut yang menciderai kedaulatan yang sesungguhnya yakni rakyat, pun golongan penganut khilafah yang ingin mengganggu sistem negara.

Saat ini memang pancasila bersifat final tetapi tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan final tersebut berlaku karena dalam konteks sosial, sebuah ideologi dapat berubah kapanpun dari masyarakat-masyarakat yang memiliki kuasa dan wewenang selain itu sifat dari suatu masyarakat yang dinamis. Tetapi, final tersebut akan tetap utuh dan terjaga apabila negara tidak terlalu sensitif pada ranah privat terhadap warganya, tidak menciderai pancasila dan konstitusi, serta pengembangan dan membumikan pancasila yang menitikberatkan pada nilai-nilai dalam kehidupan bukan selalu teori dengan balutan sosialisasi dengan kesimpulan biarkan negara membebaskan warganya dalam aliran apapun selagi tidak bertentangan dengan konstitusi dan pancasila masih menjadi hirarki tertinggi dari individu pribadi.

sumber gambar: indopolitica.com