Refleksi Menyongsong Satu Tahun Mengabdi


Sepertinya sudah lama saya tidak menulis semenjak rutinitas kegiatan harian mulai berjalan padat merayap. Namun alih-alih mengeluh, di kesempatan kali ini, dalam rangka menyongsong satu tahun mengabdi di dunia persekolahan, saya akan mengutarakan rasa bersyukur atas segala hal, hari demi hari, yang saya alami ini.

Meskipun menjadi guru bukanlah cita-cita utama saya (karena ingin menjadi dosen tapi tidak kesampeain), lamun berjalannya waktu saya menemukan kenyamanan di tempat sekarang saya bekerja. Dan setelah direnungi, agaknya posisi ini lebih banyak ladang amalnya ketimbang saya menjadi dosen. Barangkali benar suatu ungkapan yang mengutarakan bahwa Allah akan memberi yang terbaik, dan bukan yang kita inginkan.

Jika banyak orang yang mengharap-harapkan datangnya hari libur (sabtu-minggu)dan ini dibuktikan dengan membanjirnya manusia di tempat-tempat hiburan (mal, taman, tempat wisata, hotel, dll)untuk me-refresh pikiran sekaligus menetralisir kestresan yang mereka alami di tempat kerja, saya malah sebaliknya. Saya sangat menikmati setiap detiknya berada di sekolah, apalagi kalau sudah bertemu dengan murid-murid, menyapa, memberi senyum, gibah ngobrol bersama mereka, suatu kesenangan dan kebahagiaan yang tidak bisa dibayar dengan materi.

Ada yang saleh, “nakal”, pendiam, cerewet, caper, dan lain sebagainya, semua saya sayangi dan berusaha sekali untuk tidak diskriminatif karena sudah saya anggap sebagai adik atau anak sendiri. Jadi kalau hari libur tiba, saya malah seperti seseorang yang sedang menanti-nanti hari kerja tiba.

Saya yang sekarang sudah tidak seidealis dulu yang sangat mengharapkan murid bisa memiliki daya pikir/nalar yang kritis sebagaimana yang diharapkan oleh para pakar pendidikan abad 21. Kalau boleh jujur, jika menggunakan standar “kritis” versi saya, kompetensi ini sulit untuk ditanamkan. Sebagai gantinya saya hanya ingin menjadi guru yang membahagiakan mereka. Oleh karena itu setiap malam saya selalu berpikir keras bagaimana pembelajaran di kelas yang saya lakukan nanti akan menjadi pembelajaran yang paling berkesan dan membahagiakan dibanding guru-guru lain.

Untuk keagamaan, saya akhirnya beralih fokus ke penanaman akhlak dan semangat ibadah, sesuatu yang sebenarnya jauh lebih sulit dibanding menanamkan kekritisanyang dapat mereka pelajari di bangku SMA.

Kemudian, saya berusaha sekali untuk tidak sekadar menjadi seorang pengajar, melainkan juga harus menjadi pembimbing, pengayom, fasilitator, dan yang paling berat…pendidik bagi mereka (peran yang tidak ada di profesi dosen). Implikasi logisnya ialah saya akan banyak berinteraksi dengan mereka, baik secara formal maupun non-formal. Sayangnya metode yang seperti ini seringkali disalahpahami dan diprasangka-burukkan. Ketika saya sering dekat dengan murid laki-laki, saya disangka akan menggaulinya (homo), sedangkan kalau saya sering terlihat dekat dengan murid-murid perempuan, saya disangka akan menjadi predator. 

Jelas, saya yang baperan ini merasa sedih. Walaupun memang secara kajian psikologi, orang-orang yang melakukan tindakan pelecehan seksual adalah umumnya dari kalangan terdekat dan menggunakan cara-cara halus, bukan paksaan. Tapi mbok ya kalau setiap orang yang mau berbuat baik diprasangkakan akan melakukan perbuatan pelecahan, terus mau dibawa ke mana arti dari sebuah ketulusan?

Pengabdian yang demikian ini saya terapkan karena saya menganut pandangan bahwa kita harus bekerja, mengambil versi Quraish Shihab, secara ihsan, yakni memberi sesuatu secara lebih dari yang seharusnya. Jadi kalau gaji saya adalah 2 juta, maka saya akan berusaha untuk bekerja senilai lebih dari 2 juta itu. Nah surplusnya saya serahkan pada Allah, apa dibayar di dunia ini ataupun di akhirat nanti. Pokoknya saya mau memberi lebih. Bukan malah melakukan yang sebaliknya, digaji 2 juta tapi nilai kerja yang dilakukan berada di bawah nominal tersebut.

Betapapun harus diakui bahwa metode pendidikan yang saya lakukan banyak yang “di luar” sistem, tidak terstruktur, melawan arus, dan trial and error. Ini karena saya mementingkan substansi dibanding kulit. Ini karena saya merasa belum menemukan role model yang selaras dengan situasi dan kondisi lapangan yang saya alami. Karena itu, kritikan siap saya tampung.

Terakhir, sepertinya saya harus berterima kasih kepada lembaga pendidikan tempat dulu saya ngehonor karena di sanalah saya belajar menjadi seorang guru yang seluruh waktunya disibukkan untuk memikirkan dan melayani murid-muridnya (tanpa melihat waktu dan ruang) dalam rangka melayani Tuhan.


sumber gambar: fimela.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar