Bundanya Mira


“Mira, lekas ganti baju sekolahmu. Makan siangmu sudah bunda siapkan di atas meja!”

“Baik, bunda.” Aku segera bangun dari sofa cokelat muda yang memang sejak tahun lalu dipindah ke pojok teras rumah. Aku melihat bunda sedang menstandarkan sepeda yang baru saja ia gunakan untuk menjemputku pulang sekolah. Kemudian ia hilir mudik memindahkan pakaian kering dari jemuran ke dalam rumah. Mataku mengintai gerak-geriknya dengan saksama.

“Bunda, kakinya kenapa? Kok jalannya pincang?”

Sambil masih memegang beberapa helai pakaian, bunda menoleh ke arahku. Bunda menumpahkan senyum meski terlihat kurang natural.

“Mira memangnya lupa apa yang kemarin kita lakukan? Sepertinya bunda keseleo.”

 Aku mencoba untuk mengingat-ingat lagi. Kemarin kamiaku, bunda, dan ayah―kerja bakti seharian membersihkan pagar rumah yang sudah sangat kotor.

Eh, tapi, aku kira bukan hanya karena itu yang menyebabkan bunda keseleo. Ini pasti karena bunda hampir tak punya waktu untuk beristirahat. Jadi kakinya mudah sakit. Kalau aku perhatikan lagi, dari pagi hingga malam ada saja yang bunda lakukan. Hampir selalu saat posisi terjaga, mungkin sekitar jam setengah enam pagi, aku melihat bunda sedang salat subuh di ruang mushola rumah.

Tetapi ketika aku sedang berjalan untuk menuju toilet, yang kemudian melanjutkan untuk tidur lagi, aku melihat bunda sedang sibuk memasak di dapur. Sesekali aku melihat jam dinding yang ada di ruang tengah, dan itu menunjukkan waktu jam 4 pagi. Aku membuka sedikit gorden jendala dan yang terlihat hanyalah kegelapan.

Pernah aku bertanya mengapa bunda bangun terlalu pagi. Katanya ia perlu melayani ayah yang harus pergi bekerja sekitar jam 5 pagi. Mulai dari membuatkan sarapan, menyiapkan bekal makan siang, memeriksa barang-barang yang perlu dimasukkan ke dalam tas, hingga menaruh sepatu, kaos kaki, dan jaket ke sofa. Setelah ayah berangkat, barulah bunda menyiapkan segala keperluanku untuk sekolah.

Seusai aku salat dan mandi, bunda memakaikanku seragam sekolah meski belakangan aku sudah bisa mengenakannya sendiri. Lalu, bunda menyuapkan aku. Maklum, aku masih sangat lama kalau makan sendiri, jadi bunda sering tak sabaran. Jika masih ada waktu luang, barang 5-10 menit, bunda terkadang mengetes pelajaran yang akan aku pelajari nanti.

Seperti memperlakukan ayah, bunda pun memasukkan seluruh peralatan “perangku” seperti tempat pensil, buku pelajaran, hingga bekal makan siang ke dalam tas. Kemudian, beberapa menit sebelum jam 7, bunda mengantarkanku ke sekolah dengan sepeda, kendaraan yang sudah digunakannya untuk mengantar-jemputku sejak aku TK.

Aku kasihan melihat bunda menggoes sepeda di saat orang tua yang lain telah menggunakan motor. Pasti capek. Tapi ia berkata “Bunda enjoy kok.” Katanya saat aku meminta bunda untuk belajar mengendarai sepeda motor. 

Aku tak tahu apa yang bunda lakukan setelah itu. Hanya saja yang pasti, saat hari minggu tiba di mana suatu waktu aku pernah full seharian “menempel” pada bunda, sedikit banyak aku mengetahui apa saja yang bunda lakukan. Paginya, bunda harus merapihkan tempat tidur, berbelanja ke pasar, memasak untuk makan siang, menyapu, mengepel, menggosok baju, dan dilanjutkan dengan menyuci piring dan membersihkan kamar mandi.

Di sela-sela itu, bunda menyempatkan waktu untuk salat duha dan membaca Alquran. Kemudian dilanjutkan lagi dengan menyetrika dan memasak untuk makan malam pada sore harinya.

Malamnya, di hari-hari biasa, bunda selalu mengajarkan aku pelajaran sekolah. Aku tidak pernah absen belajar dengan bunda, apalagi kalau menjelang ujian. Dan satu lagi aktivitas yang tak pernah tak dilakukan, setiap malam aku melihat bunda selalu memijat ayah. Tapi aku sering kasihan melihat bunda yang tak jarang terlihat muram saat dimarahi ayah, meski aku tidak terlalu paham dengan persoalannya. Satu hal yang masih segar dalam ingatanku ialah saat bunda dimarahi ayah karena melakukan sedikit kecerobohan saat membantu ayah membersihkan pagar. Jelas, aku merasakan apa yang bunda rasakan karena aku pun, kemarin dimarahi ayah.

“Mira!” bunda menyentak “Jangan melamun. Itu cepat makan makananmu! Nanti keburu dingin. Bunda mau menyuci sepatumu dulu.” Aku tersadar dari lamunanku.

“Bunda...” bibirku spontan berucap.

“Apa lagi, nak?”

“Setelah aku makan, bunda aku pijitin yah kakinya.”

Bunda tersenyum tapi juga terlihat sedikit terkejut. “Aduuh, anak saleh. Makasih yah.” Bunda mengelus kepalaku yang terbungkus kerudung sekolah berwarna putih yang terlihat sudah agak kusam.


sumber gambar: aura.tabloidbintang.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar