Bundaku yang Malang

Tadi siang aku, ayah, dan bunda jalan-jalan ke mall naik motor yang ayah beli beberapa waktu lalu. Sejujurnya aku senang sekali karena kalau diingat-ingat, terakhir kali kami pergi bersama adalah tiga bulan yang lalu. Sudah cukup lama. Waktu itu kami bermain bersama di rumput buatan yang ada di samping masjid agung Bandung.

Tapi sekarang berbeda, karena ayah dan ibu mengajakku pergi ke Bandung Indah Plaza (BIP) di Jalan Merdeka. Mau membeli keperluan bulanan katanya, sekalian melihat-lihat sepatu atau baju. Aku yakin Kak Via iri deh kalau tahu kami pergi bersama karena ia sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah teman kampusnya yang ada di daerah Cimahi.

Bunda memakaikan aku jaket karena cuacanya sedang dingin terus. Aku suka dengan bunda hari itu. Dia terlihat cantik dengan baju terusan berwarna merah yang dibalut dengan kerudung hitam.

“Mira..” sambil membalikkan badan “Tolong kancingkan dong!” Aku mengancingkan baju belakangnya. Setelah itu bunda kembali berdandan.

Ayah juga sibuk berdandan. Dengan kaos bermotif abstrak dan celana jins, ayah dengan kerennya menyisir helai demi helai rambutnya yang digiring ke sebelah kanan. Ia juga menyemprotkan banyak sekali parfum ke hampir seluruh bagian tubuhnya. Bahkan mengalahkan bunda yang hanya menggunakannya di bagian-bagian tertentu saja. Aku tersenyum kecil. Namun beberapa waktu kemudian senyumku menghilang seketika saat ayah memandangi ibu dengan mata nanar.

“Kenapa pakai baju itu?”

Bunda yang sedang mengambil tas kecil dari dalam lemari lantas mengarahkan pandangannya ke ayah. Ia terlihat kebingungan.

“Kayak mau ke pengajian aja. Mbok-mbok banget sih.” Tutur ayah. Sekarang nadanya agak melengking.

Bunda memandangi pakaian yang melekat pada tubuhnya, terlihat sedih. Wajahnya menunjukkan penolakan tapi ia segera menuju ke kamar, mengganti baju. Saat itu aku sedang duduk di kursi lipat, terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Tapi aku tidak suka dengan suasana itu.

**

Tidak seperti hari Minggu biasa, jalanan macet sekali. Bahkan motor ayah pun sulit bergerak. Entah ada apa atau memang Bandung sudah sangat ramai. Aku tidak tahu. Aku hanya berharap semoga Mang Oded bisa melakukan sesuatu supaya jalanan di Bandung tidak terlalu macet amat.

Meski cuacanya sejuk, tetapi tidak dengan hati ayah. Setidaknya itu yang aku rasakan. Ia tak sabaran. Aku dan bunda hampir saja terjatuh karena ayah sering ngegas-ngerem dengan mendadak. Kulihat ibu mengelus-ngelus dada. Diam-diam aku menirunya.

Sesampainya di BIP kami langsung menuju super marketnya. Di sana kami berpisah. Ayah sendirian, sedangkan aku bersama bunda. Kata ayah aku boleh beli apa saja asal jangan banyak-banyak juga. Sewajarnya saja.

“Shampo kamu sudah habis kan?” Bunda bertanya kepadaku sambil memasukkan dua buah shampo. Satu untukku dan satu lagi untuknya.

Mulai dari peralatan mandi hingga kebutuhan makanan pun kami borong. Tak lupa mie goreng dan soun, makanan kesukaan keluarga kami selain bakso tentunya.

“Bunda, ini enggak apa-apa kan?” Aku mamasukkan beberapa macam snack dengan rasa yang semuanya sama, yakni rumput laut. Aku suka sekali rumput laut dan segala makanan yang rasanya rumput laut. Lucunya, bunda malah sangat tidak suka. Rasanya aneh, katanya. Pernah aku menawarkan bunda Tao Kae Noi, makanan ringan rumput laut dari Thailand. Seketika bunda memuntahkannya.

**

Sudah lama bunda menginginkan baju baru. Makanya, setelah selesai berbelanja di supermarket, aku, ayah dan bunda langsung meluncur ke gerai pakaian. Betapapun, ia selalu mendahulukan aku. Ia memilih-milihkan baju untukku.

“Coba deh kamu pakai yang ini!” Ucapnya sambil memegang sebuah baju kasual beserta bawahannya.

“Aku kurang suka, bunda.”

“Hmm. Ya sudah pilih baju yang kamu suka.”

Sementara itu bunda mulai melirik-lirik pakaian incarannya yang diam-diam aku pun memperhatikannya yang tidak lain adalah pakaian yang sempat bunda lirik saat kami berpapasan dengan toko tersebut saat hendak menuju ke super market. Kemudian bunda menunjukkan pakaian itu kepada ayah.

“Yah, bunda suka sama baju ini. Beli yang ini yah!”

Hanya beberapa detik ayah memandangi baju pilihan bunda, lalu ia mengungkapkan ketidaksetujuannya.

“Jangan ah. Jelek banget. Yang lain saja.” Jawab ayah dengan ketus.

“Tapi bunda suka yang ini, ayah.” Ibu mengeluh dengan sedikit memelas.

“Kalau ayah bilang tidak suka ya tidak suka.” Ayah mulai ngegas.

Aku yakin bunda amat sedih. Bagaimana tidak. Itu baju yang sejak dari awal sudah ditandainya. Beberapa menit kemudian bunda menawarkan dua helai baju lagi. Dan masih sama, ayah tak menyukainya. Aku melihat bunda hampir putus asa.

“Terus bunda harus membeli baju yang seperti apa?”

“Masak kamu pilih yang bagus saja tidak bisa! Masak harus ayah yang turun tangan. Lagian aneh-aneh saja. Seleramu kampungan banget sih!”

“Tapi kan bunda yang memakai bajunya. Bukan ayah.” Bunda mencoba untuk memberi pengertian dan terlihat jelas kalau wajahnya sudah tak seceria saat ia memilih-milih baju.

“Bunda ini kok, tidak bisa menghasilkan uang saja sudah berani ngebantah ayah ya! Enggak nurut banget sih jadi istri.” Ayah mulai menggerutu. Dan akhirnya ia nyelonong keluar dari gerai.

Dek! Kok bunda yang dibentak, tapi aku yang sedih yah. Atau lebih tepatnya kesal. Lalu aku mendekati bunda.

“Bunda....” Aku hanya bisa mengucapkan kata singkat itu sambil memeluk erat dirinya tanpa sepatah kata tambahan lagi, namun aku yakin bunda memahaminya.

“Iya. Enggak apa-apa sayang.” Bunda mengelus kepalaku “Yuk kita pulang. Mungkin nanti saja bunda membeli bajunya.”

 sumber gambar: hipwee.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar