STM Bergerak, Apa Salahnya?

Maulana Yunus

Vulgarnya tontonan politik di negara Indonesia ternyata telah menyebabkan masalah ejakulasi dini. Hal ini ditunjukan dengan turut sertanya pelajar STM atau SMK dalam pusaran aksi massa mahasiswa.

Publik tidak bisa terburu-buru memberikan simpati. Pemandangan ini menjadi masalah tersendiri dan perlu disikapi dengan empati terhadap persoalan pendidikan dan realitas sosial-politik yang dihadapi bangsa Indonesia. Apalagi seorang siswa SMK menyatakan bahwa keturutsertaannya dalam aksi oleh karena tahu politik dari pelajaran PPKn.

Fenomena ini tidak bisa sekadar disimpulkan sebatas euforia dan mesti dilihat sebagai akumulusasi faktor-faktor penyebab.

Fenomenani dipicu oleh pertemuan antara psikologi politik masyarkat dan realitas sosial yang mereka hadapi. Bagaimana tidak, kesatuan antara janji politik elit dalam pilpres, ditambah perdebatan yang menyertainya, pertentangan berbagai kubu kekuasaan, dan sebagainya dengan mudah dapat diakses dengan cara menggeser layar gawai, geser dan jentikan tetikus, juga tombol di remot televisi.

Bahkan pelajar sekolah dapat langsung terlibat dalam percakapan politik, atau mungkin saja buzzer-buzzer politik diantaranya adalah pelajar sekolah.

Dia jenis-jenis pelajar sekolah, dapat dikatakan anak SMK lah yang paling besar terdampak dan merasakan situasi politik hari-hari ini. Orang tua yang menyekolahkan anaknya ke SMK berharapan agar anaknya cepat dipekerjakan dan membantu keuangan keluarga, setidaknya menghidupi dirinya sendiri. SMK menjadi alternatif sebab pemerintah pun mempromosikan demikian.

Bahkan SMK pula yang membawa Jokowi menduduki kursi Presiden. Mengangkat mobil kreasi SMK dan membangun optimisme bahwa SMK mampu menjadi solusi pekerjaan, bahkan membuka lapangan pekerjaan.

Kenyataan berkata lain karena SMK diwacanakan akan dibubarkan karena banyak mencetak pengangguran. Semangat kerja dan membuka lapangan pekerjaan tinggal namanya menjadi Esemka.

Kegagalan negara membina SMK pada akhirnya berdampak ejakulasi dini. Maksudnya, berdasarkan psikologi perkembangan Havighurst, usia SMK adalah remaja umur 16-18 tahun. Tugas perkembangan dalam konteks kewarganegaraan adalah pada tataran membangun keterampilan dan konsep intelektual yang diperlukan. Sehingga aktualisasinya berada pada tataran yang terbatas menurut kurikulum pendidikan. Sedang tugas perkembangan mengemban tanggung jawab sebagai warga negara baru didapat pada usia dewasa awal, 19-30 tahun atau mahasiswa.

Ejakulasi dini kemudian terjadi akibat mandeknya usaha siswa SMK mencapai tanggung jawab sosial, seperti bekerja atau membuka lapangan pekerjaan sebagai salah satu tugas perkembangan.

PPKn sesungguhnya dapat menjadi ruang yang cukup lega untuk mencegah ejakulasi dini melalui empat teknik: kesatu, meminimalisir tekanan politik yang menggumpal di kepala siswa melalui pembelajaran dialogis dan aktual. Membedah masalah politik terhangat dan menyelesaikannya secara konseptual dan berimbang.

Kedua, membina sekolah sebagai laboratorium demokrasi. Bila perlu hadirkan anggota DPRD sebagai ruang berekspresi siswa dan melatih kemampuan partisipatif.

Ketiga, PPKn diselenggarakan dengan perspektif vocational civic. Sehingga terhubung konteks tanggung jawab kewarganegaraan dan profesi yang kelak digeluti.

Keempat, membentuk komunitas dan kegiatan kesukarelaan sebagai wadah ekspresi kepedulian.

#STMMahasiswabersatu terlanjur bergema. Pemerintah mungkin bisa melakukan anestesi—seperti ancaman DO atau represi dari aparat—untuk menanggulangi masalah ini.

Namun efeksamping dari penggunaan alternatif itu kurang baik  menurut perspektif pembinaan peserta didik. Sensitifitas mereka atas tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan cenderung akan melemah. Mungkin juga kebanggaan mereka sebagai bagian dari kesatuan proses kenegaraan akan memudar.

Pemerintah tetap harus menjaga keselamatan jiwa dan cita-cita siswa SMK yang terlibat aksi massa. Kemudian setelah itu intruksikan guru PPKn untuk mengupas tuntas perilaku mereka dan tanamkan nilai-nilai kewarganegaraan kepada mereka. Sehingga proses pendidikan pun memeroleh keuntungan dari fenomena yang telah terjadi.

Penulis adalah mahasiswa magister Ilmu Politik UNPAD

Sumber gambar: tagar.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar