Sisi Lain teh Hani Sang Aktivis Gender


Meskipun beberapa kali mencoba untuk mencari peruntungan lewat bisnis barang, namun sepertinya saya lebih cocok berbisnis jasa (literasi), sesuatu yang sudah saya lakukan semenjak berada di masa-masa akhir bangku perkuliahan.

Namun jangan mengira kalau bisnis jasa lebih aman dibanding bisnis barang, sebab nyatanya saya juga sering dirugikan. Bahkan sepertinya sampai hari ini saya masih sulit memaafkan salah seorang klien yang kabur hilang entah ke mana, tanpa memberi kabar, belum membayar jasa yang telah saya berikan kepadanya. Meski hanya beberapa juta, bagi saya yang misqueen ini tentu saja jumlah tersebut sangat berharga.

Waktu itu kasusnya adalah saya menjadi ghost writer seorang pembual motivator yang ingin membuat sebuah buku novel yang terispirasi dari perjuangan hidupnya yang konon penuh dengan tantangan dan rintangan.

Dari pengalaman lain di dunia bisnis jasa, meski tidak sepahit kasus di atas, sepertinya sayalah yang selalu diperlakukan inferior, entah tidak jadi dibayar atau ditransfer telat.

Namun akhirnya saya menemukan klien/mitra bisnis yang baik hati. Beliau adalah teh Hani, seorang genderis yang pertama kali saya temui di komunitas Sekodi Bandung.

Singkat cerita, beberapa kali bertemu di Sekodi membuat kami bersepakat akan satu hal, saya diminta untuk mengajarkan kedua anaknya mengaji. Tentu dengan senang hati saya menerima tawaran tersebut.

Terlepas ada perbedaan bahkan perselisihan di antara kami terkait pemahaman (khususnya isu-isu gender dan mungkin keagamaan) tapi hal tersebut tidak menghilangkan rasa kagum saya kepada beliau, dan juga keluarganya.

Dari sini sebenarnya saya merasa sangat malu. Ketika seharusnya sebagai seorang lulusan sarjana keagamaan bisa memberikan teladan, saya merasa selama ini yang saya tampakkan malah sebaliknya. Saya lebih sering bersikap buruk kepada sesama manusia (lingkungan sekitar). Dan malah saya melihat sikap islami tersebut dari seseorang yang tidak belajar keislaman secara akademik. Sungguh pukulan telak.

Setidaknya ada dua hal yang membuat saya kagum dari teh Hani ini. Pertama adalah soal transaksi. Bisa dikatakan beliau adalah mitra “bisnis” terbaik yang pernah saya temui. Tidak pernah satu kali pun beliau membayar telat, bahkan sudah beberapa kali saya dibayar lebih dari yang seharusnya. Ketika menjelang lebaran pun, saya dikasih insentif.

Kedua, dan ini yang paling membuat saya kagum, ialah mengenai kepribadiannya ketika berinteraksi dengan orang lain. Pernah satu momen, dan ini harus saya ceritakan kepada kalian wahai para pembaca, saya menulis salah satu artikel yang ada sangkut-pautnya dengan isu gender. Artikel tersebut kemudian saya share di grup WA Sekodi, dan mengundang respon pro-kontra. Teh Hani termasuk yang kontra, dan menurut saya, sikap kontra yang ditunjukkan teh Hani saat itu agak keras, membuat saya baper.

Namun setelah diredam oleh salah satu teman yang lain, beliau melunak, dan tak disangka langsung men-chat personal saya secara bertubi-tubi, “meminta maaf” atas responnya, sebuah sikap yang menurut saya sungguh hebat karena sulit dibayangkan untuk seleval dosen bisa melakukan hal ini kepada seseorang yang bukan siapa-siapa. Patut untuk dicatat bahwa “meminta maaf” di sini bukan menandakan bahwa pendapat saya (di artikel tersebut) benar dan pandangan teh Hani salah.

Ketika chatting perihal teknis ngaji, contoh mulia yang lainnya, teh Hani tidak pernah luput untuk mengucapkan salam, punten, dan terima kasih. Juga ketika saya datang ke kediamannya untuk mengajar ngaji, beliau dan suaminya senantiasa memberi sambutan yang hangat, tak lupa juga menghidangkan makanan dan minuman. Ketika saya pamit pulang, mereka pun mengantar saya sampai pintu pagar seraya mengucapkan terima kasih.  

Teh Hani bagi saya bukan hanya seorang aktivis gender yang pintar berteori atau mempertahankan argumen, lebih dari itu saya telah nyata melihat pengejawantahannya di dalam praktik relasi suami-istri yang dibangunnya. Meski berdasarkan observasi yang sangat-sangat terbatas, relasi teh Hani bersama suami dapat dikatakan sebagai representasi “ideal” hubungan suami-istri yang non-eksploitatif. Tidak ada satu pun pihak yang superior di mana keduanya dapat saling menghagai peran, tanggung jawab (amanah), dan passion pasangannya masing-masing.

Terakhir, saya juga suka dengan cara teh Hani memperlakukan kedua anaknya yang sebenarnya saya agak sulit untuk mengidentifikasi apa (nama) metode atau pendekatannya. Begitu juga dengan cara beliau memperlakukan asisten rumah tangganya secara manusiawi. Pokoknya, saya ingin menyimpulkan bahwa teh Hani sungguh telah menerapkan ajaran-ajaran Islam yang selama ini jarang dipraktikkan oleh umat Muslim.

Segini aja dulu teh, takut nanti teh Hani terbang, hehe.  

sumber gambar: youtube.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar