Seperempat Abad Umurku


Hari ini umurku genap 25 tahun. Dan sama sekali tidak menyangka dengan banyak hal yang terjadi di beberapa waktu terakhir ini, karena hampir semua yang teralami bukan merupakan sesuatu yang aku inginkan atau harapkan. Namun, alih-alih mengeluh dan meratap, meski awalnya demikian (karena butuh proses berdamai dengan kenyataan), aku malah bersyukur sekali dengan keadaan yang kualami hari ini.

Pertama, aku merasa, sekali lagi hanya merasa (belum tentu benar-benar terbukti ya), semakin hari semakin lebih bijaksana dalam menyikapi dinamika kehidupan yang serba kompleks dan tak menentu. Mungkin di sini aku harus berterima kasih kepada para penulis yang karya-karyanya kubaca, dan juga teman-teman komunitas. Kalian semua berkontribusi besar mengajarkanku akan keberagaman pengalaman, ekspresi, dan sudut pandang sehingga tidak secara serampangan menjustifikasi sesuatu.

Kedua, di umurku yang memasuki seperempat abad ini mulai tumbuh perasaan (dengan kesadaran penuh) sayang dan peduli sama keluarga, khususnya kepada ibuku—yang selama ini banyak menderita, dan kedua adikku.

Ketiga, dan mungkin akan menjadi bagian yang paling panjang dalam tulisan ini, ialah soal ekspektasi hidup. Dulu aku sangat berambisi ingin menjadi dosen. Dan aku yakin aku layak dengan profesi itu. Namun kenyataan berkata lain, karena harapan yang tinggi dari orangtua yang menginginkan anaknya berstatus ASN dengan segera, sekarang aku adalah seorang guru yang ditempatkan di salah satu SMP negeri di Bandung. Anehnya, setelah dijalani, aku malah bahagia.

Berkarir di Bandung merupakan anugerah Tuhan yang aku syukuri. Bukan hanya karena suasananya yang sejuk—khususnya karena lokasiku yang berada di Bandung Utara dekat Lembang, relatif tenang dan masyarakatnya yang ramah, namun juga karena Bandung menurutku merupakan “kota hidup” di mana aktivitas-aktivitas “manusiawi” bisa terlihat di banyak tempat. Mulai dari anak-anak muda yang bebas mengekspresikan diri sesuai dengan passion-nya masing-masing hingga orang-orang dewasa (bersama keluarganya) yang secara sederhana mengekspresikan kebahagiaan mereka di sudut taman-taman kota.

Di atas itu semua, takdir yang paling kusyukuri tiada lain adalah pekerjaan yang kujalani hari ini, yakni menjadi seorang guru, setelah sebelumnya melakukan evaluasi besar-besaran terkait pola-pola mengajar yang kulakukan.

Sebelum mengajar di sekolah yang sekarang, aku senantiasa mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap murid-muridku, bahwa mereka harus memiliki pemahaman keagamaan yang mendalam dan kritis, karena memang demikianlah yang dianjurkan oleh tuntutan global yang memasuki era abad 21. Tapi bagiku, sekali lagi menurutku, setidaknya berdasarkan pengalaman, itu “tidak bisa” diterapkan di pelajaran PAI. Belajar dari pengalaman pahit ini, akhirnya di sekolah yang sekarang aku memutuskan untuk hanya berfokus pada kepribadian mereka.

Bukan sekadar mengajar (yang berupaya melakukan transmisi ilmu) dan menjadi fasilitator (yang melakukan rekayasa suasana belajar agar siswa dapat belajar secara aktif dan dinamis), aku ingin dan sedang berusaha menjadi guru yang berperan sebagai pendidik sekaligus teman main mereka.

Aku mau mengenal mereka secara personal, mau peduli soal seluk-beluk kehidupan yang mereka jalani, ikut nimbrung dengan hal-hal yang sedang mereka perbincangkan, dan juga mau membantu kesulitan yang mereka alami. Aku senang meluangkan waktu untuk bermain dengan mereka, ngobrol, dan berolahraga bersama (biasanya basket). Aku juga senang menonton mereka ketika sedang mengikuti perlombaan, untuk sekadar memberi dukungan moril, dan masih banyak lainnya. Singkatnya, aku berusaha membahagiakan mereka. Ketika mereka bahagia, itulah kebahagiaanku.

Pengalaman dan praktik ini ternyata, setelah direnungi, bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba dari dalam diriku sendiri secara inheren, melainkan suatu replikasi pola pendidikan alam bawah sadar yang telah diterapkan oleh dosen-dosenku dulu, sesuatu yang melampaui (beyond) kegiatan penyampaian (ceramah) konten pelajaran di kelas (transfer of knowledge) karena hal tersebut, aku hampir yakin, sudah terlupakan.

Kuambil contoh, apakah kamu masih mengingat isi pelajaran (konten) yang pernah disampaikan oleh guru Fisikamu ketika SMA dahulu? Aku yakin sudah tidak ingat. Tapi apakah kamu masih mengingat kepingan pengalaman atau peristiwa-peristiwa menyenangkan (dan mungkin juga yang menyedihkan) ketika SMA dahulu bersama seorang guru? Aku yakin kamu masih bisa menceritakannya kepadaku. Nah, pola pendidikan inilah yang sepertinya secara tidak sadar kucontoh dari para dosenku.

Aku punya salah seorang dosen (waktu itu beliau menjabat sebagai ketua prodi) yang sangat memorable. Kalau tidak berlebihan, aku mau mengklaim kalau beliau benar-benar memiliki percikan akhlak nabi yang mulia. Salah satunya ialah soal bagaimana memperlakukan mahasiswanya, termasuk diriku. Masing-masing kami, sampai pada satu titik, merasa kalau diri kamilah yang paling spesial di matanya, karena kami senantiasa diperlakukan secara begitu personal dan penuh dengan perhatian.

Beliau terbiasa untuk mendengar cerita dan keluh-kesah mahasiswanya, tidak lelah untuk terus memotivasi kami. Bahkan tak sungkan beliau luangkan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol secara personal dengan kami, dan tanpa memandang jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan, beliau membuka dirinya. Biasanya kami sangat menunggu (sekaligus senang) saat-saat di mana beliau memberikan bacaan atau doa-doa tertentu sehingga psikis kami bisa lebih tenang.

Banyak sekali hal-hal personal yang beliau curahkan kepadaku, tapi cukup dua contoh untuk sekadar mewakili. Pertama, beliau sangat mengapresiasi kecintaanku pada dunia menulis. Suka memuji, memberi motivasi, dan bahkan ketika aku melakukan kesalahan teknis yang bisa menyebabkan hancurnya reputasi dirinya di dunia akademis, beliau malah tidak memedulikannya. Kedua, ketika aku lulus seleksi CPNS, beliau menelponku untuk mengucapkan selamat. Dan dalam pembicaraan tersebut terasa sekali kalau beliau benar-benar senang mendengar kabar baik tersebut. Bahkan terkesan rasa senangnya melebihi kesenangan yang kualami.

Praktik pola pendidikan alam bawah sadar ini juga dilakukan oleh dosen lainnya. Dia suka membawa mahasiswanya ke rumahnya untuk sekadar ajang silahturahmi atau makan-makan atau kegiatan bimbingan skripsi. Menariknya pola ini ternyata terekam di alam bawah sadarku. Dan tidak menyangka, aku menirunya dengan suka membawa (meski tidak sering) murid-muridku ke tempat tinggalku, untuk sekadar belajar bersama, ngaji atau berbincang santai.

Namun sayang tidak semua orang (termasuk rekan guru) dapat memahami pola-pola yang kutiru dari para dosenku ini, karena mereka hanya melihat dari permukaan. Apalagi kalau sudah menggunakan kacamata prejudice. Upaya membentuk relasi intim antara murid dan guru dianggap sebagai sesuatu yang tidak etis dan memungkinkan mengarah kepada hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika seperti ini, aku yang melankolis, suka baperan dan sedih.

Tentu saja semua tindakan yang kulakukan ini mengorbankan banyak hal; waktu dan pikiran, juga finansialku. Aku jadi jarang membaca buku apalagi menulis, tidak seperti dulu yang begitu intens.

Honorku yang tidak besar juga sedikit-banyak dipergunakan dalam rangka membantu murid-muridku yang “kesulitan” yang jelas berdampak pada masa depan keuanganku yang sangat-sangat menjadi “tidak jelas”. Aku jadi sulit membantu finansial orang tua, memberi hadiah kepada mereka, apalagi menabung untuk rencana nikah.

Maka di sini sebenarnya aku sedang bermain lotre dengan Tuhan, karena baik kitab suci maupun hadis mengungkapkan bahwa barangsiapa yang melayani Allah (baca: hamba-Nya) maka dunia dan seisinya akan melayani dirinya. Nah, hari ini aku lagi menanti dengan harap-harap cemas penggenapan riwayat ini.

Akhirnya, untuk ke depannya aku tidak memiliki harapan yang muluk-muluk. Tidak terbetik di pikiran untuk memiliki rumah mewah atau harta melimpah, hanya saja semoga dipertemukan dengan pendamping hidup yang sevisi dengan diriku yang begini ini. Dan semoga dilapangkan rezekiku agar aku bisa terus membantu mereka yang kesulitan (khususnya murid-muridku dan orang terdekatku).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar