Rendi

“Banyak tugas yang belum kamu kumpulkan. Di mana tanggung jawabmu?”

“Iya pak, nanti.”

“Kamu selalu bilang seperti itu setiap minggu tapi tidak pernah serius untuk mengumpulkan. Sebenarnya ada apa?”

“Enggak ada apa-apa, pak.”

“Kehadiran kamu juga sangat minim. Setiap minggu pasti setidaknya satu hari tidak masuk. Di jam pelajaran saya pun, kamu sudah tiga kali tidak hadir. Kalau begini terus, kamu bisa tidak naik kelas loh.”

“Iya pak.” Rendi hanya menjawab singkat.
**
“Kamu enggak usah minder! Teman-teman kamu yang lain juga belum pada lancar baca Al-Qurannya.”

“Enggak minder kok, pak. Biasa aja.”

“Pokoknya kamu harus rajin ngajinya. Kan sudah didownload aplikasi iqra’nya. Tinggal kamu pelajari pelan-pelan di rumah.”

“Iya pak.” Rendi memang sering menjawab singkat, namun entah apakah dia benar-benar menjalani saran tersebut.

Beginilah perbincangan Pak Ono dengan Rendi di salah satu waktu ketika mereka sedang makan siang bersama di kantin sekolah. Dan karena tidak ingin menyia-nyiakan momen, Pak Ono berusaha untuk mengenal kehidupan Rendi lebih dalam.

Dari sini kemudian dia mengetahui kalau rendahnya minat dan motivasi belajar Rendi memiliki hubungan yang kuat dengan faktor ekonomi orang tuanya. Bapaknya hanya seorang tukang parkir, itu pun sudah beberapa minggu ke belakang tidak bisa bekerja karena kakinya yang bengkak. Sedangkan ibunya hanya sebagai buruh cuci panggilan. Keduanya tidak memiliki pendapatan yang pasti.

Tidak adanya pemasukan keuangan membuat Rendi malu untuk berangkat ke sekolah, karena sudah pasti dia tidak akan memperoleh uang saku (jajan). Jika demikian, Rendi hanya bisa berdiam diri di rumah sepanjang hari.

Mengetahui fakta tersebut hati Pak Ono terketuk, membuatnya tergerak untuk bisa sedikit memberikan bantuan finansial kepada Rendi. Honor bulanan yang tidak seberapa besar itu dia putuskan untuk diberi sebagiannya kepada Rendi, sekadar agar Rendi bisa jajan seperti teman-temannya yang lain. Kalau ada tugas yang memerlukan uang Pak Ono pun suka membantunya.

Pernah satu waktu Pak Ono menegur Rendi karena terkesan tidak pernah mengganti seragamnya yang sudah lusuh dan lecek. Celana bagian bawahnya pun sudah robek dan dipenuhi dengan cipratan cat warna putih.

“Ini kenapa?”

“Kemarin pas tugas Seni Budaya Keterampilan (SBK), pak.”

“Lain kali lebih berhati-hati ya!”

“Iya pak.”

“Harusnya seragamnya diganti dong. Memangnya kamu cuma punya sepasang seragam?”

“Iya pak cuma ini.” Ucap Rendi sambil mengamati pakaiannya yang sudah tidak layak itu. Ia baru menyadari kalau pakaiannya memang sudah begitu dekil. “Dulu punya cadangan, tapi udah kekecilan, pak.”

Tanpa tendeng aling-aling, Pak Ono mengajak Rendi ke sebuah toko seragam yang lokasinya tidak jauh dari sekolah, membelikannya sepasang seragam, kaos kaki, ikat pinggang, jam tangan, parfum, dan juga sepatu sekolah. Pak Ono juga tidak tega melihat kondisi sepatu Rendi yang sudah mengelupas.

Namun ketika harga tersebut dikalkulasikan, Pak Ono terkejut dengan jumlahnya yang tinggi, mendekati angka satu juta, yang berarti setara dengan setengah dari gaji bulanannya.

Pak Ono bingung bukan kepalang. Ia bahkan sempat berpikir untuk mengurungkan niat, terlebih di bulan tersebut ia sedang memiliki pengeluaran yang besar. Tapi rasa sayang dan pedulinya kepada Rendi akhirnya ia memutuskan untuk mengorbankan simpanan tabungannya yang juga tidak banyak.

“Semua ini bapak berikan ke kamu tentu saja tidak gratis.”

Rendi mengangguk.

“Bapak punya permintaan sekaligus harapan ke kamu. Dan harapan ini sebenarnya sama sekali tidak ada keuntungannya, secara materil, untuk saya.” Pak Ono kemudian memberi isyarat angka lima di jarinya.

“Pertama, jangan tinggalkan salat lima waktu. Kedua, cintai, patuh, dan dekat dengan kedua orang tua. Dengan kata lain, kamu harus bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan mereka. Selanjutnya kamu harus hormat kepada guru. Tahu adab dan etika ketika berbicara dan berinteraksi dengannya. Yang keempat, harus rajin belajar. Jangan pasif ketika tidak mengerti salah satu materi di mata pelajaran tertentu. Coba Tanya dan diskusikan dengan teman yang lebih paham. Terakhir, tekadkan diri untuk menumbuhkan akhlak mulia.”

“Iya pak, akan aku usahakan.”

“Oh iya satu lagi. Saya akan sangat senang kalau kamu bisa berhenti ngerokok.”
“Aduh berat itu mah, pak.”

“Juga kurangi nongkrong-nongkrong di saung pinggir jalan itu.”

“Itu mah jarang pak. Paling kalau lagi diajak Roki aja.”
**
Sudah seminggu sejak Pak Ono membelikan perlengkapan sekolah buat Rendi, terlihat ada sedikit kemajuan yang ditunjukkan Rendi. Dia menjadi rajin dating ke sekolah dan mulai melaksanakan salat dzuhur berjamaah, walaupun kebiasaan menunda tugas masih tidak bisa dihilangkan.

“Pak, aku boleh ikut nongkrong di saung?”

“Emangnya perlu banget?”

“Udah lama enggak gabung sama temen-teman, pak.”

“Tapi harus tahu waktu dan tidak usah ngerokok bisa?”

“Iya pak.” Belum genap satu menit, Rendi kembali men-chat Pak Ono, “Kalau satu batang doang boleh kan pak?”

Pak Ono tidak membalasnya.

sumber gambar: multimedianotesell.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar