Nizar: Si Pembolos


“Nizar, mengapa kamu datang telat?”

“Bangunnya kesiangan, pak.”

“Wah inimah pasti karena kamu tidurnya pun sangat larut. Bapak yakin sekali.”

Pak Ono tidak langsung mengizinkannya duduk, dan membiarkannya sejenak untuk berdiri menghadapnya. Dia kemudian mengamati tingkah laku Nizar, juga pakainnya yang lusuh. Sejenak Pak Ono menyadari kalau rambut Nizar berwarna merah.

“Aduh..” Sambil menggeleng-gelengkan kepala Pak Ono melanjutkan tegurannya, “Terus, itu kenapa rambutnya kamu warnain?”

“Enggak kok, pak. Ini kena sinar matahari makanya agak kemerahan.” Nizar tersipu malu, mencoba untuk ngeles.

“Sudah jelas kalau itu kamu warnain, masih aja tidak mau ngaku.” Pak Ono menggerutu, dan karena agak sedikit kesal dia menyuruh murid kurus tinggi berjambul merah itu untuk mengambil kursi dari pojok yang tidak terpakai untuk dipindah ke depan.

“Kamu duduk di sini!” Pak Ono memerintahkan Nizar agar duduk di depan, di dekatnya agar bisa fokus memerhatikan pembelajaran.
**
Seluruh siswa antusias mengikuti pembelajaran, namun tidak dengan Nizar. Gestur tubuhnya lesu, lungkai, dan dia menguap beberapa kali padahal saat itu waktu masih menunjukkan pukul 08.30 pagi.  Melihat Nizar yang tidak bersemangat belajar, Pak Ono mendekatinya.

“Nizar...” Pak Ono berpikir sejenak kemudian dia melanjutkan, “Tadi malam kamu tidur jam 2-an ya? Soalnya bapak lihat kamu menguap berkali-kali.”

Nizar hanya bisa cengar-cengir tapi jawabannya membuat Pak Ono tertohok. 

“Jam 4 pagi pak!” 

Senyumnya mengembang sangat polos seperti tanpa beban.

“Astagfirullaaah!!” Pak Ono mengelus dada. Teman-teman sekelasnya terkaget dengan pernyataan Nizar.

“Pantas saja... Ya sudah sekarang kamu cuci muka dulu sana di westafel!”
**
Di pertemuan selanjutnya Pak Ono tidak melihat paras Nizar. Ke mana gerangan. Apakah akan datang lebih telat dari biasanya?

“Ketua kelas?”

“Iya pak.”

“Kamu tahu kenapa Nizar belum datang?”

“Enggak tahu pak. Tapi dari kemarin juga emang dia tidak masuk sekolah.” Jawab Nuri, salah seorang siswi teladan di sekolah Pak Ono yang juga diamanahi untuk menjadi ketua kelas.

“Dia mah emang begitu orangnya, pak dari kelas X.” Salah seorang murid menyeletuk.

“Dari kelas X?” Pak Ono ingin memastikan.

“Iya pak. Datang ke sekolah seenaknya dan semaunya aja.”

Pak Ono tidak memberi respon apa-apa, membisu, namun pikirannya terganggu, tidak bisa tenang.

Parahnya, di dua pertemuan berikutnya secara berturut-turut Nizar juga tidak hadir di pelajaran Pak Ono yang hanya ada satu kali dalam seminggu. Sudah pasti nilainya masih kosong, karena belum ada satu pun tugas yang dikumpulkannya. Jelas, fenomena ini membuat Pak Ono gelisah. Hal ini yang kemudian membuatnya memutuskan untuk berkonsultasi ke guru Bimbingan Konselingnya (BK) Nizar, Ibu Kokom.

Di ruangannya, Bu Kokom, membenarkan beberapa kebiasaan buruk Nizar yang teramati oleh Pak Ono. Selain kecanduan games, dia menambahkan bahwa persoalan Nizar ini lebih semakin rumit karena ternyata orang tuanya bisa dikatakan tidak memiliki power sehingga membuat Nizar dapat secara leluasa untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang kurang pantas, termasuk soal mengecat rambutnya itu.

Dikatakan kalau Nizar jarang pulang ke rumah. Kesehariannya dihabiskan untuk berkumpul dengan teman-temannya bermain games bersama (mabar) sampai lupa waktu. Ironinya, dia menginjakkan kaki ke rumah hanya kalau ada keperluan saja, seperti ganti baju dan meminta uang. Selebihnya, Nizar lebih memilih untuk keluyuran.

Tidak hanya ngobrol soal Nizar, Pak Ono berusaha untuk menggali informasi seputar murid-murid yang lain yang dalam tanda kutip bermasalah, baik yang kesulitan belajar maupun problem perilaku.

Di rumahnya, Pak Ono memikirkan cara untuk memutus kebiasan buruk Nizar, sampai pada satu titik dia akhirnya menemukan solusi unik bahwasanya satu-satunya cara supaya kebiasaan tersebut hilang ialah dengan menjauhkan Nizar dari lingkungan buruknya itu. Berhubung masih lajang, Pak Ono menawarkan, atau lebih tepatnya menganjurkan, Nizar untuk menginap di rumahnya agar aktivitas harian Nizar bisa lebih terkodusifkan, mulai dari dilatih untuk salat, mengaji, dan belajar. Juga, terutama, mengurangi kebiasaan bermain games yang berlebihan.  
**
Pak Ono memberitahu usulan ini pertama-tama ke Ibu Kokom, namun sebelum menolak atau menerima terlebih dahulu Ibu Kokom akan menemui Nizar dan juga menghubungi orang tuanya. Yang pertama berhasil direalisasikan, di kesempatan saat Nizar datang ke sekolah, Ibu Kokom segera memanfaatkan momen tersebut untuk berbicara panjang lebar dengannya. Namun untuk rencana yang kedua tidak berjalan dengan baik, alias hanya sekadar wacana.

Karena tidak sabar dengan delay yang terus dilakukan oleh Ibu Kokom, Pak Ono meminta izin kepada wali kelasnya, Ibu Fitrina, untuk membawa Nizar ke rumahnya. Setelah ngobrol, Ibu Fitrina menyambut baik usul tersebut dan dengan cepat merestuinya.

Akhirnya, beberapa hari kemudian Pak Ono melakukan home visit, setelah sebelumya bertanya ke bagian tata usaha perihal alamat rumah Nizar. Walaupun lokasinya dekat sekolah, Pak Ono sama sekali tidak menyangka kalau dia harus melalui jalan yang sangat ekstrem, turunan yang begitu curam sepanjang kurang lebih seratus meter. Musim penghujan memperparah kondisi jalan yang licin. Motor yang dikendarai Pak Ono hampir saja selip. Dan andai saja dia terjatuh, sudah dipastikan Pak Ono akan dirawat di rumah sakit selama sekian hari. Untungnya dia terselamatkan, dan bisa melalui turunan curam itu dan berhasil menemukan lokasi tepat kediaman Nizar.

“Assalamualaikum.” Pak Ono melempar salam di depan rumah bercat ungu yang sederhana itu.

Seorang anak perempuan kecil berkisar umur di bawah enam tahun memandang Pak Ono dengan penuh curiga. Tapi karena dia segera menyunggingkan senyum, anak perempuan tersebut sedikit merasa aman.

“Benar ini rumah Nizar?”

“Iya.”

“Boleh dipanggil?”

Tanpa memberi balasan sepatah kata pun, anak perempuan itu berlari-lari kecil menuju rumah sambil berteriak, “Aa, itu ada yang nyariin.”

Seorang perempuan kurus tinggi berambut ikal panjang keluar dari rumah itu seraya kebingungan.

Belum sempat melempar satu dua buah kata, Pak Ono lekas memperkenalkan diri dan maksud kedatangannya.  Setelah berkenalan dan disambut di ruang tamu yang serba kecil, benarlah dugaan Pak Ono kalau orang yang sedang dihadapannya adalah ibunda dari Nizar. Tak disangka, lima belas menit kemudian Nizar muncul. Tapi dia tidak kaget sama sekali akan kedatangan Pak Ono. Duduk, dan kembali sibuk dengan games yang ada di handphonennya.

“Eh, salim dulu sama pak guru!”

Nizar menghentikan sejenak aktivitas bermainnya, mendekati Pak Ono dan kemudian mencium tangannya.

“Punten pisan ya, pak, Nizar mah emang begini anaknya, susah diatur.” Tutur perempuan yang umurnya kisaran empat puluh tahun itu sembari cengengesan.

“Dia hese pisan dikasih tahu teh. Ngelawan wae.

Dari ucapan pendek nan simpel ini pandangan awal Pak Ono menjadi terkonfirmasi, benar bahwa ibunda Nizar seperti tidak memiliki kontrol yang kuat ke Nizar. Meski tidak setuju dengan kebiasaan-kebiasaan buruk Nizar, dia tidak bisa berbuat apa-apa, sekadar marah-marah kecil yang serba nanggung.

Pada dasarnya ibunya Nizar menyetujui usul Pak Ono, namun karena harus mempersiapkan beberapa hal dan juga ingin dikonsultasikan dengan suaminya, Pak Ono diminta untuk datang lagi beberapa hari kemudian.
**
“Nizar, udah siap? Tidak ada yang ketinggalan?”

“Sudah pak.”

“Peralatan mandi?”

“Udah.”

Di hari Pak Ono menjemput Nizar dia bertemu dengan ayahnya yang ingin menyempatkan diri berbincang sebelum merelakan anaknya dididik oleh orang lain.

“Punten dididik ya pak. Saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung saja. Saya juga maunya Nizar bernasib lebih baik dari saya yang cuma buruh pabrik kecil.” Sambil merogoh saku kanannya, pria berkumis tajam itu menyodorkan sejumlah uang kepada Pak Ono.

“Maaf pak saya tidak bisa ngasih apa-apa. Di sini kami pun berkekurangan. Cuma ini saja.” Dia berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam, kemudian berkata, “Kalau Nizar sudah saya kasih sedikit saku untuk makan.”

“Tidak perlu pak. Insyaallah saya ikhlas mau mendidik Nizar. Tidak ada maksud apa pun. Dan tenang, soal kebutuhan materil Nizar, akan saya tanggung.” Pak Ono mendorong tangan kanan pria tersebut sebagai isyarat bahwa dia tidak membutuhkan itu.

Sebelum Pak Ono menarik gas motornya, salah seorang kakak Nizar berkata, “Dijitak aja pak, kalau Nizar tidak mau nurut!” Perempuan berkerudung biru muda itu berkata sambil tertawa kecil, meski Pak Ono yakin kalau dia serius mengucapkan kata-kata tersebut.
**
Setelah tadi sore Nizar bersama beberapa murid lain belajar mengaji di rumah Pak Ono, malamnya Nizar merasa kesepian.

“Pak, boleh enggak kalau Roki main ke rumah bapak?”

“Buat apa?”

“Main.” Sedetik kemudian Nizar meralat ucapannya, “Maksudnya, belajar bersama, pak.”

“Oh gitu. Emang dia rumahnya di mana?”

“Tidak jauh kok dari sini. Nizar ke rumahnya dulu ya pak, ngejemput.”

“Ya sudah. Jangan lama-lama ya.”

“Siaap.”
**
Awalnya Pak Ono mengira Roki hanya sekadar bermain dan tidak menginap, namun anggapan tersebut salah, Roki ikut menginap, entah berkat desakan Nizar atau tidak. Tapi sungguh ini di luar ekspektasi Pak Ono. Bukan apa-apa, masalahnya Roki ini salah satu murid Pak Ono yang sulit untuk diatur. Bahkan dia sudah dikenal oleh teman-temannya sebagai salah satu murid ternakal di sekolah. Beberapa murid pernah mengatakan kalau Roki bukan hanya terbiasa merokok tapi juga mengonsumsi minuma beralkohol.

Setelah shalat isya berjamaah, Pak Ono menyuruh mereka untuk membuka buku pelajaran yang akan dipelajari besok hari, termasuk menyelesaikan PR. Jujur, Pak Ono senang saat Nizar dapat secara kondusif mempersiapkan diri membaca buku pelajaran PAI dan menghafal beberapa ayat Al-Quran yang tertunda untuk disetorkan kepadanya.

Tapi sayang, kondisi ini hanya berjalan selama sekian menit saja karena Roki terus-menerus membuat kegaduhan, mulai dari mengajak ngobrol, bermain games, dan meracau. Pokoknya dia selalu tidak bisa diam dan berusaha untuk mengganggu konsenterasi Nizar. Walaupun dengan usaha yang ekstra, pada akhirnya mereka bertiga bisa tidur jam sebelas malam. Entah mereka akan tidur jam berapa kalau seadainya Pak Ono mengizinkan Nizar dan Roki bermain games pasca belajar bersama.
**
“Nizar, kamu tunggu bapak dulu ya sampai jam empat sore soalnya bapak ada urusan dulu.” Ketik Pak Ono via WhatsApp.

“Iya pak.” Balas Nizar singkat. Tetapi selang setengah jam kemudian, mungkin karena bete harus menunggu lama, dia membalas lagi, “Pak, aku tunggu di saung dekat rumah bapak ya.”

“Ok kalau begitu.”

Ketika urusannya telah selesai, tanpa berlama-lama Pak Ono langsung menuju saung tersebut, namun sayang, tidak ada satu orang pun di sana, termasuk Nizar.

Pak Ono mulai gelisah dan segera mengontak Nizar, tapi tidak diangkat. Chat WA pun hanya bertanda ceklis satu.

“Kamu tahu Nizar di mana?” Menjelang magrib, ketika sedang berkeliling mencari Nizar, secara tidak sengaja Pak Ono bertemu dengan Roki di pinggir jalan.

“Dia pulang, pak.”

“Ah yang benar? Bukan lagi ada di rumah kamu? Atau mungkin lagi kumpul di tempat tongkrongan yang biasa kalian datangi?”

“Enggak, pak. Suer deh, tadi mah dia bilangnya mau pulang.”

Mendengar jawaban Roki, Pak Ono kesal karena merasa dibohongi Nizar. Keesokan harinya Nizar mengaku kabur dari rumah Pak Ono karena merasa tidak betah.

Pak Ono mengizikan Nizar untuk tidak lagi menginap namun membuat perjanjian kalau saja sekali lagi Nizar mabal, maka Pak Ono akan memaksa Nizar menginap di rumahnya lagi dan tidak boleh ada alasan untuk kabur-kaburan. Nizar mengiyakan perjanjian tersebut.

Beberapa hari berjalan, Pak Ono gembira karena Nizar menepati janjinya. Dia mulai rajin ke sekolah, bahkan teman-temannya kaget kalau Nizar mulai salat zuhur berjamaah, sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Peristiwa ini terdengar oleh banyak murid dan ada di antara mereka yang membujuk untuk main ke rumah Pak Ono, berpikiran barangkali mereka akan bisa berubah menjadi lebih baik jika dididik langsung di rumah Pak Ono.

Namun sayang, karena memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan, Nizar kembali mengulangi kebiasaan buruknya tersebut, bolos sekolah. Itu tandanya dia melanggar perjanjian dengan Pak Ono.

sumber gambar: kotakgame.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar