Hari ini umurku genap 25 tahun. Dan sama sekali tidak menyangka dengan banyak hal yang terjadi di beberapa waktu terakhir ini, karena hampir semua yang teralami bukan merupakan sesuatu yang aku inginkan atau harapkan. Namun, alih-alih mengeluh dan meratap, meski awalnya demikian (karena butuh proses berdamai dengan kenyataan), aku malah bersyukur sekali dengan keadaan yang kualami hari ini.

Pertama, aku merasa, sekali lagi hanya merasa (belum tentu benar-benar terbukti ya), semakin hari semakin lebih bijaksana dalam menyikapi dinamika kehidupan yang serba kompleks dan tak menentu. Mungkin di sini aku harus berterima kasih kepada para penulis yang karya-karyanya kubaca, dan juga teman-teman komunitas. Kalian semua berkontribusi besar mengajarkanku akan keberagaman pengalaman, ekspresi, dan sudut pandang sehingga tidak secara serampangan menjustifikasi sesuatu.

Kedua, di umurku yang memasuki seperempat abad ini mulai tumbuh perasaan (dengan kesadaran penuh) sayang dan peduli sama keluarga, khususnya kepada ibuku—yang selama ini banyak menderita, dan kedua adikku.

Ketiga, dan mungkin akan menjadi bagian yang paling panjang dalam tulisan ini, ialah soal ekspektasi hidup. Dulu aku sangat berambisi ingin menjadi dosen. Dan aku yakin aku layak dengan profesi itu. Namun kenyataan berkata lain, karena harapan yang tinggi dari orangtua yang menginginkan anaknya berstatus ASN dengan segera, sekarang aku adalah seorang guru yang ditempatkan di salah satu SMP negeri di Bandung. Anehnya, setelah dijalani, aku malah bahagia.

Berkarir di Bandung merupakan anugerah Tuhan yang aku syukuri. Bukan hanya karena suasananya yang sejuk—khususnya karena lokasiku yang berada di Bandung Utara dekat Lembang, relatif tenang dan masyarakatnya yang ramah, namun juga karena Bandung menurutku merupakan “kota hidup” di mana aktivitas-aktivitas “manusiawi” bisa terlihat di banyak tempat. Mulai dari anak-anak muda yang bebas mengekspresikan diri sesuai dengan passion-nya masing-masing hingga orang-orang dewasa (bersama keluarganya) yang secara sederhana mengekspresikan kebahagiaan mereka di sudut taman-taman kota.

Di atas itu semua, takdir yang paling kusyukuri tiada lain adalah pekerjaan yang kujalani hari ini, yakni menjadi seorang guru, setelah sebelumnya melakukan evaluasi besar-besaran terkait pola-pola mengajar yang kulakukan.

Sebelum mengajar di sekolah yang sekarang, aku senantiasa mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap murid-muridku, bahwa mereka harus memiliki pemahaman keagamaan yang mendalam dan kritis, karena memang demikianlah yang dianjurkan oleh tuntutan global yang memasuki era abad 21. Tapi bagiku, sekali lagi menurutku, setidaknya berdasarkan pengalaman, itu “tidak bisa” diterapkan di pelajaran PAI. Belajar dari pengalaman pahit ini, akhirnya di sekolah yang sekarang aku memutuskan untuk hanya berfokus pada kepribadian mereka.

Bukan sekadar mengajar (yang berupaya melakukan transmisi ilmu) dan menjadi fasilitator (yang melakukan rekayasa suasana belajar agar siswa dapat belajar secara aktif dan dinamis), aku ingin dan sedang berusaha menjadi guru yang berperan sebagai pendidik sekaligus teman main mereka.

Aku mau mengenal mereka secara personal, mau peduli soal seluk-beluk kehidupan yang mereka jalani, ikut nimbrung dengan hal-hal yang sedang mereka perbincangkan, dan juga mau membantu kesulitan yang mereka alami. Aku senang meluangkan waktu untuk bermain dengan mereka, ngobrol, dan berolahraga bersama (biasanya basket). Aku juga senang menonton mereka ketika sedang mengikuti perlombaan, untuk sekadar memberi dukungan moril, dan masih banyak lainnya. Singkatnya, aku berusaha membahagiakan mereka. Ketika mereka bahagia, itulah kebahagiaanku.

Pengalaman dan praktik ini ternyata, setelah direnungi, bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba dari dalam diriku sendiri secara inheren, melainkan suatu replikasi pola pendidikan alam bawah sadar yang telah diterapkan oleh dosen-dosenku dulu, sesuatu yang melampaui (beyond) kegiatan penyampaian (ceramah) konten pelajaran di kelas (transfer of knowledge) karena hal tersebut, aku hampir yakin, sudah terlupakan.

Kuambil contoh, apakah kamu masih mengingat isi pelajaran (konten) yang pernah disampaikan oleh guru Fisikamu ketika SMA dahulu? Aku yakin sudah tidak ingat. Tapi apakah kamu masih mengingat kepingan pengalaman atau peristiwa-peristiwa menyenangkan (dan mungkin juga yang menyedihkan) ketika SMA dahulu bersama seorang guru? Aku yakin kamu masih bisa menceritakannya kepadaku. Nah, pola pendidikan inilah yang sepertinya secara tidak sadar kucontoh dari para dosenku.

Aku punya salah seorang dosen (waktu itu beliau menjabat sebagai ketua prodi) yang sangat memorable. Kalau tidak berlebihan, aku mau mengklaim kalau beliau benar-benar memiliki percikan akhlak nabi yang mulia. Salah satunya ialah soal bagaimana memperlakukan mahasiswanya, termasuk diriku. Masing-masing kami, sampai pada satu titik, merasa kalau diri kamilah yang paling spesial di matanya, karena kami senantiasa diperlakukan secara begitu personal dan penuh dengan perhatian.

Beliau terbiasa untuk mendengar cerita dan keluh-kesah mahasiswanya, tidak lelah untuk terus memotivasi kami. Bahkan tak sungkan beliau luangkan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol secara personal dengan kami, dan tanpa memandang jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan, beliau membuka dirinya. Biasanya kami sangat menunggu (sekaligus senang) saat-saat di mana beliau memberikan bacaan atau doa-doa tertentu sehingga psikis kami bisa lebih tenang.

Banyak sekali hal-hal personal yang beliau curahkan kepadaku, tapi cukup dua contoh untuk sekadar mewakili. Pertama, beliau sangat mengapresiasi kecintaanku pada dunia menulis. Suka memuji, memberi motivasi, dan bahkan ketika aku melakukan kesalahan teknis yang bisa menyebabkan hancurnya reputasi dirinya di dunia akademis, beliau malah tidak memedulikannya. Kedua, ketika aku lulus seleksi CPNS, beliau menelponku untuk mengucapkan selamat. Dan dalam pembicaraan tersebut terasa sekali kalau beliau benar-benar senang mendengar kabar baik tersebut. Bahkan terkesan rasa senangnya melebihi kesenangan yang kualami.

Praktik pola pendidikan alam bawah sadar ini juga dilakukan oleh dosen lainnya. Dia suka membawa mahasiswanya ke rumahnya untuk sekadar ajang silahturahmi atau makan-makan atau kegiatan bimbingan skripsi. Menariknya pola ini ternyata terekam di alam bawah sadarku. Dan tidak menyangka, aku menirunya dengan suka membawa (meski tidak sering) murid-muridku ke tempat tinggalku, untuk sekadar belajar bersama, ngaji atau berbincang santai.

Namun sayang tidak semua orang (termasuk rekan guru) dapat memahami pola-pola yang kutiru dari para dosenku ini, karena mereka hanya melihat dari permukaan. Apalagi kalau sudah menggunakan kacamata prejudice. Upaya membentuk relasi intim antara murid dan guru dianggap sebagai sesuatu yang tidak etis dan memungkinkan mengarah kepada hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika seperti ini, aku yang melankolis, suka baperan dan sedih.

Tentu saja semua tindakan yang kulakukan ini mengorbankan banyak hal; waktu dan pikiran, juga finansialku. Aku jadi jarang membaca buku apalagi menulis, tidak seperti dulu yang begitu intens.

Honorku yang tidak besar juga sedikit-banyak dipergunakan dalam rangka membantu murid-muridku yang “kesulitan” yang jelas berdampak pada masa depan keuanganku yang sangat-sangat menjadi “tidak jelas”. Aku jadi sulit membantu finansial orang tua, memberi hadiah kepada mereka, apalagi menabung untuk rencana nikah.

Maka di sini sebenarnya aku sedang bermain lotre dengan Tuhan, karena baik kitab suci maupun hadis mengungkapkan bahwa barangsiapa yang melayani Allah (baca: hamba-Nya) maka dunia dan seisinya akan melayani dirinya. Nah, hari ini aku lagi menanti dengan harap-harap cemas penggenapan riwayat ini.

Akhirnya, untuk ke depannya aku tidak memiliki harapan yang muluk-muluk. Tidak terbetik di pikiran untuk memiliki rumah mewah atau harta melimpah, hanya saja semoga dipertemukan dengan pendamping hidup yang sevisi dengan diriku yang begini ini. Dan semoga dilapangkan rezekiku agar aku bisa terus membantu mereka yang kesulitan (khususnya murid-muridku dan orang terdekatku).

Seperempat Abad Umurku

by on September 29, 2019
Hari ini umurku genap 25 tahun. Dan sama sekali tidak menyangka dengan banyak hal yang terjadi di beberapa waktu terakhir ini, karena h...
“Banyak tugas yang belum kamu kumpulkan. Di mana tanggung jawabmu?”

“Iya pak, nanti.”

“Kamu selalu bilang seperti itu setiap minggu tapi tidak pernah serius untuk mengumpulkan. Sebenarnya ada apa?”

“Enggak ada apa-apa, pak.”

“Kehadiran kamu juga sangat minim. Setiap minggu pasti setidaknya satu hari tidak masuk. Di jam pelajaran saya pun, kamu sudah tiga kali tidak hadir. Kalau begini terus, kamu bisa tidak naik kelas loh.”

“Iya pak.” Rendi hanya menjawab singkat.
**
“Kamu enggak usah minder! Teman-teman kamu yang lain juga belum pada lancar baca Al-Qurannya.”

“Enggak minder kok, pak. Biasa aja.”

“Pokoknya kamu harus rajin ngajinya. Kan sudah didownload aplikasi iqra’nya. Tinggal kamu pelajari pelan-pelan di rumah.”

“Iya pak.” Rendi memang sering menjawab singkat, namun entah apakah dia benar-benar menjalani saran tersebut.

Beginilah perbincangan Pak Ono dengan Rendi di salah satu waktu ketika mereka sedang makan siang bersama di kantin sekolah. Dan karena tidak ingin menyia-nyiakan momen, Pak Ono berusaha untuk mengenal kehidupan Rendi lebih dalam.

Dari sini kemudian dia mengetahui kalau rendahnya minat dan motivasi belajar Rendi memiliki hubungan yang kuat dengan faktor ekonomi orang tuanya. Bapaknya hanya seorang tukang parkir, itu pun sudah beberapa minggu ke belakang tidak bisa bekerja karena kakinya yang bengkak. Sedangkan ibunya hanya sebagai buruh cuci panggilan. Keduanya tidak memiliki pendapatan yang pasti.

Tidak adanya pemasukan keuangan membuat Rendi malu untuk berangkat ke sekolah, karena sudah pasti dia tidak akan memperoleh uang saku (jajan). Jika demikian, Rendi hanya bisa berdiam diri di rumah sepanjang hari.

Mengetahui fakta tersebut hati Pak Ono terketuk, membuatnya tergerak untuk bisa sedikit memberikan bantuan finansial kepada Rendi. Honor bulanan yang tidak seberapa besar itu dia putuskan untuk diberi sebagiannya kepada Rendi, sekadar agar Rendi bisa jajan seperti teman-temannya yang lain. Kalau ada tugas yang memerlukan uang Pak Ono pun suka membantunya.

Pernah satu waktu Pak Ono menegur Rendi karena terkesan tidak pernah mengganti seragamnya yang sudah lusuh dan lecek. Celana bagian bawahnya pun sudah robek dan dipenuhi dengan cipratan cat warna putih.

“Ini kenapa?”

“Kemarin pas tugas Seni Budaya Keterampilan (SBK), pak.”

“Lain kali lebih berhati-hati ya!”

“Iya pak.”

“Harusnya seragamnya diganti dong. Memangnya kamu cuma punya sepasang seragam?”

“Iya pak cuma ini.” Ucap Rendi sambil mengamati pakaiannya yang sudah tidak layak itu. Ia baru menyadari kalau pakaiannya memang sudah begitu dekil. “Dulu punya cadangan, tapi udah kekecilan, pak.”

Tanpa tendeng aling-aling, Pak Ono mengajak Rendi ke sebuah toko seragam yang lokasinya tidak jauh dari sekolah, membelikannya sepasang seragam, kaos kaki, ikat pinggang, jam tangan, parfum, dan juga sepatu sekolah. Pak Ono juga tidak tega melihat kondisi sepatu Rendi yang sudah mengelupas.

Namun ketika harga tersebut dikalkulasikan, Pak Ono terkejut dengan jumlahnya yang tinggi, mendekati angka satu juta, yang berarti setara dengan setengah dari gaji bulanannya.

Pak Ono bingung bukan kepalang. Ia bahkan sempat berpikir untuk mengurungkan niat, terlebih di bulan tersebut ia sedang memiliki pengeluaran yang besar. Tapi rasa sayang dan pedulinya kepada Rendi akhirnya ia memutuskan untuk mengorbankan simpanan tabungannya yang juga tidak banyak.

“Semua ini bapak berikan ke kamu tentu saja tidak gratis.”

Rendi mengangguk.

“Bapak punya permintaan sekaligus harapan ke kamu. Dan harapan ini sebenarnya sama sekali tidak ada keuntungannya, secara materil, untuk saya.” Pak Ono kemudian memberi isyarat angka lima di jarinya.

“Pertama, jangan tinggalkan salat lima waktu. Kedua, cintai, patuh, dan dekat dengan kedua orang tua. Dengan kata lain, kamu harus bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan mereka. Selanjutnya kamu harus hormat kepada guru. Tahu adab dan etika ketika berbicara dan berinteraksi dengannya. Yang keempat, harus rajin belajar. Jangan pasif ketika tidak mengerti salah satu materi di mata pelajaran tertentu. Coba Tanya dan diskusikan dengan teman yang lebih paham. Terakhir, tekadkan diri untuk menumbuhkan akhlak mulia.”

“Iya pak, akan aku usahakan.”

“Oh iya satu lagi. Saya akan sangat senang kalau kamu bisa berhenti ngerokok.”
“Aduh berat itu mah, pak.”

“Juga kurangi nongkrong-nongkrong di saung pinggir jalan itu.”

“Itu mah jarang pak. Paling kalau lagi diajak Roki aja.”
**
Sudah seminggu sejak Pak Ono membelikan perlengkapan sekolah buat Rendi, terlihat ada sedikit kemajuan yang ditunjukkan Rendi. Dia menjadi rajin dating ke sekolah dan mulai melaksanakan salat dzuhur berjamaah, walaupun kebiasaan menunda tugas masih tidak bisa dihilangkan.

“Pak, aku boleh ikut nongkrong di saung?”

“Emangnya perlu banget?”

“Udah lama enggak gabung sama temen-teman, pak.”

“Tapi harus tahu waktu dan tidak usah ngerokok bisa?”

“Iya pak.” Belum genap satu menit, Rendi kembali men-chat Pak Ono, “Kalau satu batang doang boleh kan pak?”

Pak Ono tidak membalasnya.

sumber gambar: multimedianotesell.blogspot.com

Rendi

by on September 23, 2019
“Banyak tugas yang belum kamu kumpulkan. Di mana tanggung jawabmu?” “Iya pak, nanti.” “Kamu selalu bilang seperti itu setiap ming...

Meskipun beberapa kali mencoba untuk mencari peruntungan lewat bisnis barang, namun sepertinya saya lebih cocok berbisnis jasa (literasi), sesuatu yang sudah saya lakukan semenjak berada di masa-masa akhir bangku perkuliahan.

Namun jangan mengira kalau bisnis jasa lebih aman dibanding bisnis barang, sebab nyatanya saya juga sering dirugikan. Bahkan sepertinya sampai hari ini saya masih sulit memaafkan salah seorang klien yang kabur hilang entah ke mana, tanpa memberi kabar, belum membayar jasa yang telah saya berikan kepadanya. Meski hanya beberapa juta, bagi saya yang misqueen ini tentu saja jumlah tersebut sangat berharga.

Waktu itu kasusnya adalah saya menjadi ghost writer seorang pembual motivator yang ingin membuat sebuah buku novel yang terispirasi dari perjuangan hidupnya yang konon penuh dengan tantangan dan rintangan.

Dari pengalaman lain di dunia bisnis jasa, meski tidak sepahit kasus di atas, sepertinya sayalah yang selalu diperlakukan inferior, entah tidak jadi dibayar atau ditransfer telat.

Namun akhirnya saya menemukan klien/mitra bisnis yang baik hati. Beliau adalah teh Hani, seorang genderis yang pertama kali saya temui di komunitas Sekodi Bandung.

Singkat cerita, beberapa kali bertemu di Sekodi membuat kami bersepakat akan satu hal, saya diminta untuk mengajarkan kedua anaknya mengaji. Tentu dengan senang hati saya menerima tawaran tersebut.

Terlepas ada perbedaan bahkan perselisihan di antara kami terkait pemahaman (khususnya isu-isu gender dan mungkin keagamaan) tapi hal tersebut tidak menghilangkan rasa kagum saya kepada beliau, dan juga keluarganya.

Dari sini sebenarnya saya merasa sangat malu. Ketika seharusnya sebagai seorang lulusan sarjana keagamaan bisa memberikan teladan, saya merasa selama ini yang saya tampakkan malah sebaliknya. Saya lebih sering bersikap buruk kepada sesama manusia (lingkungan sekitar). Dan malah saya melihat sikap islami tersebut dari seseorang yang tidak belajar keislaman secara akademik. Sungguh pukulan telak.

Setidaknya ada dua hal yang membuat saya kagum dari teh Hani ini. Pertama adalah soal transaksi. Bisa dikatakan beliau adalah mitra “bisnis” terbaik yang pernah saya temui. Tidak pernah satu kali pun beliau membayar telat, bahkan sudah beberapa kali saya dibayar lebih dari yang seharusnya. Ketika menjelang lebaran pun, saya dikasih insentif.

Kedua, dan ini yang paling membuat saya kagum, ialah mengenai kepribadiannya ketika berinteraksi dengan orang lain. Pernah satu momen, dan ini harus saya ceritakan kepada kalian wahai para pembaca, saya menulis salah satu artikel yang ada sangkut-pautnya dengan isu gender. Artikel tersebut kemudian saya share di grup WA Sekodi, dan mengundang respon pro-kontra. Teh Hani termasuk yang kontra, dan menurut saya, sikap kontra yang ditunjukkan teh Hani saat itu agak keras, membuat saya baper.

Namun setelah diredam oleh salah satu teman yang lain, beliau melunak, dan tak disangka langsung men-chat personal saya secara bertubi-tubi, “meminta maaf” atas responnya, sebuah sikap yang menurut saya sungguh hebat karena sulit dibayangkan untuk seleval dosen bisa melakukan hal ini kepada seseorang yang bukan siapa-siapa. Patut untuk dicatat bahwa “meminta maaf” di sini bukan menandakan bahwa pendapat saya (di artikel tersebut) benar dan pandangan teh Hani salah.

Ketika chatting perihal teknis ngaji, contoh mulia yang lainnya, teh Hani tidak pernah luput untuk mengucapkan salam, punten, dan terima kasih. Juga ketika saya datang ke kediamannya untuk mengajar ngaji, beliau dan suaminya senantiasa memberi sambutan yang hangat, tak lupa juga menghidangkan makanan dan minuman. Ketika saya pamit pulang, mereka pun mengantar saya sampai pintu pagar seraya mengucapkan terima kasih.  

Teh Hani bagi saya bukan hanya seorang aktivis gender yang pintar berteori atau mempertahankan argumen, lebih dari itu saya telah nyata melihat pengejawantahannya di dalam praktik relasi suami-istri yang dibangunnya. Meski berdasarkan observasi yang sangat-sangat terbatas, relasi teh Hani bersama suami dapat dikatakan sebagai representasi “ideal” hubungan suami-istri yang non-eksploitatif. Tidak ada satu pun pihak yang superior di mana keduanya dapat saling menghagai peran, tanggung jawab (amanah), dan passion pasangannya masing-masing.

Terakhir, saya juga suka dengan cara teh Hani memperlakukan kedua anaknya yang sebenarnya saya agak sulit untuk mengidentifikasi apa (nama) metode atau pendekatannya. Begitu juga dengan cara beliau memperlakukan asisten rumah tangganya secara manusiawi. Pokoknya, saya ingin menyimpulkan bahwa teh Hani sungguh telah menerapkan ajaran-ajaran Islam yang selama ini jarang dipraktikkan oleh umat Muslim.

Segini aja dulu teh, takut nanti teh Hani terbang, hehe.  

sumber gambar: youtube.com

“Nizar, mengapa kamu datang telat?”

“Bangunnya kesiangan, pak.”

“Wah inimah pasti karena kamu tidurnya pun sangat larut. Bapak yakin sekali.”

Pak Ono tidak langsung mengizinkannya duduk, dan membiarkannya sejenak untuk berdiri menghadapnya. Dia kemudian mengamati tingkah laku Nizar, juga pakainnya yang lusuh. Sejenak Pak Ono menyadari kalau rambut Nizar berwarna merah.

“Aduh..” Sambil menggeleng-gelengkan kepala Pak Ono melanjutkan tegurannya, “Terus, itu kenapa rambutnya kamu warnain?”

“Enggak kok, pak. Ini kena sinar matahari makanya agak kemerahan.” Nizar tersipu malu, mencoba untuk ngeles.

“Sudah jelas kalau itu kamu warnain, masih aja tidak mau ngaku.” Pak Ono menggerutu, dan karena agak sedikit kesal dia menyuruh murid kurus tinggi berjambul merah itu untuk mengambil kursi dari pojok yang tidak terpakai untuk dipindah ke depan.

“Kamu duduk di sini!” Pak Ono memerintahkan Nizar agar duduk di depan, di dekatnya agar bisa fokus memerhatikan pembelajaran.
**
Seluruh siswa antusias mengikuti pembelajaran, namun tidak dengan Nizar. Gestur tubuhnya lesu, lungkai, dan dia menguap beberapa kali padahal saat itu waktu masih menunjukkan pukul 08.30 pagi.  Melihat Nizar yang tidak bersemangat belajar, Pak Ono mendekatinya.

“Nizar...” Pak Ono berpikir sejenak kemudian dia melanjutkan, “Tadi malam kamu tidur jam 2-an ya? Soalnya bapak lihat kamu menguap berkali-kali.”

Nizar hanya bisa cengar-cengir tapi jawabannya membuat Pak Ono tertohok. 

“Jam 4 pagi pak!” 

Senyumnya mengembang sangat polos seperti tanpa beban.

“Astagfirullaaah!!” Pak Ono mengelus dada. Teman-teman sekelasnya terkaget dengan pernyataan Nizar.

“Pantas saja... Ya sudah sekarang kamu cuci muka dulu sana di westafel!”
**
Di pertemuan selanjutnya Pak Ono tidak melihat paras Nizar. Ke mana gerangan. Apakah akan datang lebih telat dari biasanya?

“Ketua kelas?”

“Iya pak.”

“Kamu tahu kenapa Nizar belum datang?”

“Enggak tahu pak. Tapi dari kemarin juga emang dia tidak masuk sekolah.” Jawab Nuri, salah seorang siswi teladan di sekolah Pak Ono yang juga diamanahi untuk menjadi ketua kelas.

“Dia mah emang begitu orangnya, pak dari kelas X.” Salah seorang murid menyeletuk.

“Dari kelas X?” Pak Ono ingin memastikan.

“Iya pak. Datang ke sekolah seenaknya dan semaunya aja.”

Pak Ono tidak memberi respon apa-apa, membisu, namun pikirannya terganggu, tidak bisa tenang.

Parahnya, di dua pertemuan berikutnya secara berturut-turut Nizar juga tidak hadir di pelajaran Pak Ono yang hanya ada satu kali dalam seminggu. Sudah pasti nilainya masih kosong, karena belum ada satu pun tugas yang dikumpulkannya. Jelas, fenomena ini membuat Pak Ono gelisah. Hal ini yang kemudian membuatnya memutuskan untuk berkonsultasi ke guru Bimbingan Konselingnya (BK) Nizar, Ibu Kokom.

Di ruangannya, Bu Kokom, membenarkan beberapa kebiasaan buruk Nizar yang teramati oleh Pak Ono. Selain kecanduan games, dia menambahkan bahwa persoalan Nizar ini lebih semakin rumit karena ternyata orang tuanya bisa dikatakan tidak memiliki power sehingga membuat Nizar dapat secara leluasa untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang kurang pantas, termasuk soal mengecat rambutnya itu.

Dikatakan kalau Nizar jarang pulang ke rumah. Kesehariannya dihabiskan untuk berkumpul dengan teman-temannya bermain games bersama (mabar) sampai lupa waktu. Ironinya, dia menginjakkan kaki ke rumah hanya kalau ada keperluan saja, seperti ganti baju dan meminta uang. Selebihnya, Nizar lebih memilih untuk keluyuran.

Tidak hanya ngobrol soal Nizar, Pak Ono berusaha untuk menggali informasi seputar murid-murid yang lain yang dalam tanda kutip bermasalah, baik yang kesulitan belajar maupun problem perilaku.

Di rumahnya, Pak Ono memikirkan cara untuk memutus kebiasan buruk Nizar, sampai pada satu titik dia akhirnya menemukan solusi unik bahwasanya satu-satunya cara supaya kebiasaan tersebut hilang ialah dengan menjauhkan Nizar dari lingkungan buruknya itu. Berhubung masih lajang, Pak Ono menawarkan, atau lebih tepatnya menganjurkan, Nizar untuk menginap di rumahnya agar aktivitas harian Nizar bisa lebih terkodusifkan, mulai dari dilatih untuk salat, mengaji, dan belajar. Juga, terutama, mengurangi kebiasaan bermain games yang berlebihan.  
**
Pak Ono memberitahu usulan ini pertama-tama ke Ibu Kokom, namun sebelum menolak atau menerima terlebih dahulu Ibu Kokom akan menemui Nizar dan juga menghubungi orang tuanya. Yang pertama berhasil direalisasikan, di kesempatan saat Nizar datang ke sekolah, Ibu Kokom segera memanfaatkan momen tersebut untuk berbicara panjang lebar dengannya. Namun untuk rencana yang kedua tidak berjalan dengan baik, alias hanya sekadar wacana.

Karena tidak sabar dengan delay yang terus dilakukan oleh Ibu Kokom, Pak Ono meminta izin kepada wali kelasnya, Ibu Fitrina, untuk membawa Nizar ke rumahnya. Setelah ngobrol, Ibu Fitrina menyambut baik usul tersebut dan dengan cepat merestuinya.

Akhirnya, beberapa hari kemudian Pak Ono melakukan home visit, setelah sebelumya bertanya ke bagian tata usaha perihal alamat rumah Nizar. Walaupun lokasinya dekat sekolah, Pak Ono sama sekali tidak menyangka kalau dia harus melalui jalan yang sangat ekstrem, turunan yang begitu curam sepanjang kurang lebih seratus meter. Musim penghujan memperparah kondisi jalan yang licin. Motor yang dikendarai Pak Ono hampir saja selip. Dan andai saja dia terjatuh, sudah dipastikan Pak Ono akan dirawat di rumah sakit selama sekian hari. Untungnya dia terselamatkan, dan bisa melalui turunan curam itu dan berhasil menemukan lokasi tepat kediaman Nizar.

“Assalamualaikum.” Pak Ono melempar salam di depan rumah bercat ungu yang sederhana itu.

Seorang anak perempuan kecil berkisar umur di bawah enam tahun memandang Pak Ono dengan penuh curiga. Tapi karena dia segera menyunggingkan senyum, anak perempuan tersebut sedikit merasa aman.

“Benar ini rumah Nizar?”

“Iya.”

“Boleh dipanggil?”

Tanpa memberi balasan sepatah kata pun, anak perempuan itu berlari-lari kecil menuju rumah sambil berteriak, “Aa, itu ada yang nyariin.”

Seorang perempuan kurus tinggi berambut ikal panjang keluar dari rumah itu seraya kebingungan.

Belum sempat melempar satu dua buah kata, Pak Ono lekas memperkenalkan diri dan maksud kedatangannya.  Setelah berkenalan dan disambut di ruang tamu yang serba kecil, benarlah dugaan Pak Ono kalau orang yang sedang dihadapannya adalah ibunda dari Nizar. Tak disangka, lima belas menit kemudian Nizar muncul. Tapi dia tidak kaget sama sekali akan kedatangan Pak Ono. Duduk, dan kembali sibuk dengan games yang ada di handphonennya.

“Eh, salim dulu sama pak guru!”

Nizar menghentikan sejenak aktivitas bermainnya, mendekati Pak Ono dan kemudian mencium tangannya.

“Punten pisan ya, pak, Nizar mah emang begini anaknya, susah diatur.” Tutur perempuan yang umurnya kisaran empat puluh tahun itu sembari cengengesan.

“Dia hese pisan dikasih tahu teh. Ngelawan wae.

Dari ucapan pendek nan simpel ini pandangan awal Pak Ono menjadi terkonfirmasi, benar bahwa ibunda Nizar seperti tidak memiliki kontrol yang kuat ke Nizar. Meski tidak setuju dengan kebiasaan-kebiasaan buruk Nizar, dia tidak bisa berbuat apa-apa, sekadar marah-marah kecil yang serba nanggung.

Pada dasarnya ibunya Nizar menyetujui usul Pak Ono, namun karena harus mempersiapkan beberapa hal dan juga ingin dikonsultasikan dengan suaminya, Pak Ono diminta untuk datang lagi beberapa hari kemudian.
**
“Nizar, udah siap? Tidak ada yang ketinggalan?”

“Sudah pak.”

“Peralatan mandi?”

“Udah.”

Di hari Pak Ono menjemput Nizar dia bertemu dengan ayahnya yang ingin menyempatkan diri berbincang sebelum merelakan anaknya dididik oleh orang lain.

“Punten dididik ya pak. Saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung saja. Saya juga maunya Nizar bernasib lebih baik dari saya yang cuma buruh pabrik kecil.” Sambil merogoh saku kanannya, pria berkumis tajam itu menyodorkan sejumlah uang kepada Pak Ono.

“Maaf pak saya tidak bisa ngasih apa-apa. Di sini kami pun berkekurangan. Cuma ini saja.” Dia berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam, kemudian berkata, “Kalau Nizar sudah saya kasih sedikit saku untuk makan.”

“Tidak perlu pak. Insyaallah saya ikhlas mau mendidik Nizar. Tidak ada maksud apa pun. Dan tenang, soal kebutuhan materil Nizar, akan saya tanggung.” Pak Ono mendorong tangan kanan pria tersebut sebagai isyarat bahwa dia tidak membutuhkan itu.

Sebelum Pak Ono menarik gas motornya, salah seorang kakak Nizar berkata, “Dijitak aja pak, kalau Nizar tidak mau nurut!” Perempuan berkerudung biru muda itu berkata sambil tertawa kecil, meski Pak Ono yakin kalau dia serius mengucapkan kata-kata tersebut.
**
Setelah tadi sore Nizar bersama beberapa murid lain belajar mengaji di rumah Pak Ono, malamnya Nizar merasa kesepian.

“Pak, boleh enggak kalau Roki main ke rumah bapak?”

“Buat apa?”

“Main.” Sedetik kemudian Nizar meralat ucapannya, “Maksudnya, belajar bersama, pak.”

“Oh gitu. Emang dia rumahnya di mana?”

“Tidak jauh kok dari sini. Nizar ke rumahnya dulu ya pak, ngejemput.”

“Ya sudah. Jangan lama-lama ya.”

“Siaap.”
**
Awalnya Pak Ono mengira Roki hanya sekadar bermain dan tidak menginap, namun anggapan tersebut salah, Roki ikut menginap, entah berkat desakan Nizar atau tidak. Tapi sungguh ini di luar ekspektasi Pak Ono. Bukan apa-apa, masalahnya Roki ini salah satu murid Pak Ono yang sulit untuk diatur. Bahkan dia sudah dikenal oleh teman-temannya sebagai salah satu murid ternakal di sekolah. Beberapa murid pernah mengatakan kalau Roki bukan hanya terbiasa merokok tapi juga mengonsumsi minuma beralkohol.

Setelah shalat isya berjamaah, Pak Ono menyuruh mereka untuk membuka buku pelajaran yang akan dipelajari besok hari, termasuk menyelesaikan PR. Jujur, Pak Ono senang saat Nizar dapat secara kondusif mempersiapkan diri membaca buku pelajaran PAI dan menghafal beberapa ayat Al-Quran yang tertunda untuk disetorkan kepadanya.

Tapi sayang, kondisi ini hanya berjalan selama sekian menit saja karena Roki terus-menerus membuat kegaduhan, mulai dari mengajak ngobrol, bermain games, dan meracau. Pokoknya dia selalu tidak bisa diam dan berusaha untuk mengganggu konsenterasi Nizar. Walaupun dengan usaha yang ekstra, pada akhirnya mereka bertiga bisa tidur jam sebelas malam. Entah mereka akan tidur jam berapa kalau seadainya Pak Ono mengizinkan Nizar dan Roki bermain games pasca belajar bersama.
**
“Nizar, kamu tunggu bapak dulu ya sampai jam empat sore soalnya bapak ada urusan dulu.” Ketik Pak Ono via WhatsApp.

“Iya pak.” Balas Nizar singkat. Tetapi selang setengah jam kemudian, mungkin karena bete harus menunggu lama, dia membalas lagi, “Pak, aku tunggu di saung dekat rumah bapak ya.”

“Ok kalau begitu.”

Ketika urusannya telah selesai, tanpa berlama-lama Pak Ono langsung menuju saung tersebut, namun sayang, tidak ada satu orang pun di sana, termasuk Nizar.

Pak Ono mulai gelisah dan segera mengontak Nizar, tapi tidak diangkat. Chat WA pun hanya bertanda ceklis satu.

“Kamu tahu Nizar di mana?” Menjelang magrib, ketika sedang berkeliling mencari Nizar, secara tidak sengaja Pak Ono bertemu dengan Roki di pinggir jalan.

“Dia pulang, pak.”

“Ah yang benar? Bukan lagi ada di rumah kamu? Atau mungkin lagi kumpul di tempat tongkrongan yang biasa kalian datangi?”

“Enggak, pak. Suer deh, tadi mah dia bilangnya mau pulang.”

Mendengar jawaban Roki, Pak Ono kesal karena merasa dibohongi Nizar. Keesokan harinya Nizar mengaku kabur dari rumah Pak Ono karena merasa tidak betah.

Pak Ono mengizikan Nizar untuk tidak lagi menginap namun membuat perjanjian kalau saja sekali lagi Nizar mabal, maka Pak Ono akan memaksa Nizar menginap di rumahnya lagi dan tidak boleh ada alasan untuk kabur-kaburan. Nizar mengiyakan perjanjian tersebut.

Beberapa hari berjalan, Pak Ono gembira karena Nizar menepati janjinya. Dia mulai rajin ke sekolah, bahkan teman-temannya kaget kalau Nizar mulai salat zuhur berjamaah, sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Peristiwa ini terdengar oleh banyak murid dan ada di antara mereka yang membujuk untuk main ke rumah Pak Ono, berpikiran barangkali mereka akan bisa berubah menjadi lebih baik jika dididik langsung di rumah Pak Ono.

Namun sayang, karena memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan, Nizar kembali mengulangi kebiasaan buruknya tersebut, bolos sekolah. Itu tandanya dia melanggar perjanjian dengan Pak Ono.

sumber gambar: kotakgame.com

Nizar: Si Pembolos

by on September 15, 2019
“Nizar, mengapa kamu datang telat?” “Bangunnya kesiangan, pak.” “Wah inimah pasti karena kamu tidurnya pun sangat larut. Bapak y...