Islam, Cina, dan Kertas


Peradaban Islam pernah memasuki masa kejayaan. Bukan hanya karena luasnya wilayah kekuasaan, lebih dari itu ialah karena umat Islam dari berbagai kalangan (ilmuwan, filsuf, dan ulama) tengah menghasilkan kontribusi yang begitu besar dan banyak terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini semua terjadi di era dinasti Abbasiyah meskipun rintisannya telah dimulai semenjak dinasti Umayah berkuasa.

Dari sekian banyak perkembangan cabang ilmu, filsafat dan agama adalah yang paling seksi diperbincangkan oleh ilmuwan modern hari ini, baik dari kalangan orientalis maupun umat Muslim sendiri. Bisa dimaklumi mengapa filsafat dapat semarak di dunia Islam. Ini tiada lain karena umat Muslim mulai bersinggungan secara intim dengan peradaban-peradaban lain, khususnya Yunani, Persia dan India.

Semua pencapaian ini tidak bisa lepas dari, selain motivasi (dorongan) agama dan apresiasi masyarakat terhadap ilmu dan para ilmuwannya sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya yang berjudul Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, dukungan para penguasa—dan juga orang-orang kaya—dengan memberikan aneka macam bantuan dan perlindungan. Kartanegara mengistilahkannya dengan patronasi.

Dari sekian banyak patroniasi yang diberikan oleh para penguasa (khalifah), buku-buku sejarah mengungkapkan bahwa sumbangsih fasilitas yang paling berperan terhadap pencapaian golden age adalah pembentukkan lembaga pendidikan Baytul Hikmah yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid di Baghdad, Irak, namun dikembangkan secara signifikan oleh putranya, Al-Ma’mun yang berkuasa sekitar tahun 813-833 M. 

Dikatakan bahwa Baytul Hikmah merupakan sebuah lembaga riset pertama umat Islam yang berfokus pada penulisan dan penerjemahan karya ilmiah. Beberapa ilmuwan yang dikenal memiliki hubungan dengan lembaga ini di antaranya adalah Sahl bin Harun (sebagai kepala perpustakaan), Hunain bin Ishaq (ahli fisika), al-Khawarizmi (ahli matematika), dan Abu Utsman al-Jahiz (ahli biologi). Tingginya gairah masyarakat serta dukungan penuh khalifah membuat ratusan pelajar bekerja setiap hari, meningkatkan jumlah koleksi buku-buku terjemahan.

Sumbangsih Cina
Namun sadarkah kita bahwa pesatnya kegiatan ilmiah ini tidak akan dapat berjalan secara mulus dan masif tanpa bantuan sarana yang memadai, yaitu pabrik (industri) pembuatan kertas, yang ternyata berasal atau diadopsi dari Cina pasca umat Islam memenangkan perang atasnya di Pertempuran Talas (sekarang merupakan bagian dari wilayah negara Kirgistan, kawasan Asia Tengah) yang terjadi pada tahun 751 M.

Sayangnya pencatatan sejarah atas pertempuran ini, mungkin karena durasinya yang sebentar, luput dari perhatian para historian. Padahal sebagaimana yang dipaparkan oleh Eamonn Gearon dalam bukunya yang berjudul Turning Points in Middle Eastern History: Course Guidebook, pertempuran umat Muslim (pasukan dinasti Abbasiyah) dan Cina (pasukan dinasti Tang) merupakan sebuah pertemuan dan pengalaman penting bagi bangsa Arab karena pada akhirnya mereka dapat mengenal dan menggunakan teknologi pembuatan kertas yang didapatnya dari para tawanan perang yang dikenal amat sangat paham tentang hal ini, suatu pencapaian yang di kemudian hari menjadi satu buah titik balik terpenting dalam sejarah peradaban Islam dan Eropa.

Banyak kalangan yang meragukan pandangan ini sebab bagaimana mungkin peperangan yang hanya terjadi sebentar namun menghasilkan impact yang begitu besar. Namun Gearon tetap bersikukuh bahwa pendapatnya ini mendapatkan dukungan bukti historis yang kuat, salah satunya ialah  pabrik pembuatan kertas pertama di dunia Islam terletak di Samarkan, suatu wilayah yang hanya berjarak sekitar 300 mil dari Talas. Waktu berdirinya pun sangat berdekatan dengan periode pasca pertempuran Talas. Produksi kertas berskala besar berlangsung pada tahun 793 M di Baghdad dan terus mengalami perluasan ke berbagai wilayah, termasuk Mesir (pada tahun 900 M) dan Maroko (1100 M).

Betapapun demikian, harus diakui bahwa pendapat Gearon bukanlah pandangan arus utama. Meskipun Ziauddin Sardar, pemikir Muslim kontemporer kelahiran Pakistan yang berbasis di London, setuju bahwa umat Muslim mengenal kertas dari pertemuannya dengan bangsa Cina di peperangan Talas, tetapi secara implisit dia menolak “utang budi” Islam atas peristiwa ini yang terkesan dilebih-lebihkan oleh Gearon, sebab menurutnya proses pembuatan kertas yang diperkenalkan oleh orang-orang Cina tidak bisa dilanjutkan karena tidak adanya pohon murbei (sebagai bahan baku pembuatan kertas) di negeri Islam. Dari sini para sarjana Muslim kemudian berinovasi untuk menggantinya dengan bahan dari pohon linen, kapas, dan serat.

Kemunculan industri kertas memunculkan sejumlah profesi baru, salah satunya ialah warraq. Selain menjual kertas dan berperan sebagai agen, mereka pun bekerja sebagai penulis yang akan menyalin beberapa manuskrip yang dipesan oleh para pelanggannya. Mereka mendirikan kios di berbagai kota-kota besar, seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Granada, dan Fez. Kartanegara mengungkapkan bahwa kadang kios-kios ini menyediakan ruang-ruang khusus untuk sewa bagi mereka yang ingin membaca dan meneliti buku-buku tertentu. Diceritakan bahwa, seperti yang dikutip oleh Kartanegara, al-Jahiz lebih suka menyewa kios para warraq dan bermalam di tempat tersebut sambil membaca karena lebih ekonomis ketimbang harus membelinya.

Dalam perkembangan lebih lanjut para ilmuwan Muslim pun memperkenalkan bambu sebagai media untuk mengeringkan lembaran kertas basah, proses fermentasi dengan menambahkan pemutih atau bahan kimia lainnya untuk mempercepat pemotongan linen dan serat. Palu penempa besar juga digunakan untuk menggiling bahan-bahan yang akan dihaluskan. Ketika kincir angin ditemukan pada tahun 1151 M di Jativa (Spanyol) palu penempa tidak lagi menggunakan tenaga manusia.

Referensi
Kartanegara, M. (2006). Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam. Jakarta: Baitul Ihsan
Ruslan, H. (10 Maret 2008). Jejak Industri Kertas di Dunia Islam. Diakses dari republika.co.id pada 26 Juli 2019
AL. (November 2017). Pertempuran Talas 751 M (1-3). Diakses dari ganaislamika.com pada 26 Juli 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar