Azan  isya belum rampung seluruhnya dikumandangkan muazin. Tak terlalu peduli hal itu, anak kecil masih berlarian di gang ketiga dari jalan raya kalau kamu masuk dari arah kolam renang kadang jadi tempat resepsi.  Di gang tak terlalu ramai seperti biasanya. Jika hari-hari sebelumnya padat sejak masuk gapura oleh motor ojek online yang parkir, menunggu pengemudinya istirahat atau sambil menunggu orderan masuk, sekarang kerumunan itu tak terlihat. Entah tidak ada orderan entah memang semua sedang pergi menarik penumpang.
Di sebrang gang ada Indomart yang malam itu terasa kurang ramai. Biasanya toko itu riuh oleh bocah-bocah yang menarik baju dan lengan ayah atau ibunya sekadar merengek minta es krim atau kudapan lainnya. Malam itu hanya ada seorang. Si bocah bersama ibunya yang sudah berpakaian tidur memborong es krim hingga empat bungkus. Patut dicurigai itu bukan murni permintaan si anak, bisa jadi ayahnya bisa jadi kakak-kakaknya bahkan bisa jadi ibunya yang ingin ngemil es krim di malam yang cenderung sepi itu.

Malah kasir disibukkan dengan menghitung receh yang ditukar laki-laki usia tanggung. Para ekonom cap warung kopi memperbincangkan si mas-mas yang tukar receh dikarenakan jumlah uangnya tak terlalu banyak dan tampilannya yang terlalu “berada”. Untuk dianggap sebagai tukang parkir yang menukar penghasilannya meniup peluit seharian, laki-laki tadi tak cukup masuk kriteria. “Kayaknya itu anak kos yang kepepet bongkar celengan karena kiriman bulanan dari orangtuanya keburu habis diawal bulan”. Begitu kesimpulan sementara hasil diskusi ketat para penjaga pos ronda tak jauh dari patung unta yang menjadi monumen selamat datang di gang itu.

Anggota diskusi malam itu mulai mengait-ngaitkan fenomena gang sepi, driver ojol yang tak kelihatan, hingga kasir yang malah sibuk menghitung uang bongkaran celengan anak kos dengan kondisi ekonomi makro. Menurut salah seorang anggota forum yang mewakili peternak ikan cupang hias hal ini tidak aneh, mengingat pasca hajat besar bangsa bernama pemilu, uang biasanya ngumpul di saku-saku pemodal caleg. Pengeluaran yang begitu besarnya harus segera diimbangi dengan cadangan harta yang memadai, setidaknya sampai modal mereka balik agar bisnis tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ia juga sedikit cerita, bahkan dirinya mesti mengobral besar-besaran koleksi ikan hiasnya melalui flash sale dan open bid di akun instagramnya agar setidaknya tetap ada pemasukan bagi dapurnya. Kondisi susah begini ini orang jarang kepikiran beli ikan hias, untuk makan saja masih cubit-cubitan dengan biaya anak yang baru masuk tahun ajaran baru.

 Pak guru yang ngontrak di pintu ketiga kontrakan punya Cici Mey ikut menambah materi obrolan. Ia yang pulang menyantap nasi uduk melaporkan kondisi terkini bahwa nasi uduk Ma Ncop tak seperti biasanya, masih bersisa hingga lewat jam 8 malam. Padahal uduk ini terkenal lakunya, si Ma buka jam 5 sore dan jangan coba-coba beli uduk lewat dari azan isya atau kita hanya kebagian gorengan dan teh hangat nya saja. Nyelenehnya lagi, si guru bilang, kalau toko makanan kucing di sebelah jongko nasi uduk justru lebih ramai pengunjung. Ia mencoba menggiring opini bahwa terjadi ketimpangan disini. Saat yang susah hidupnya malam itu mesti pikir ulang untuk beli makan malam, di sisi lain ada yang berduit banyak bahkan sempat memikirkan beli makan untuk hewan.

 “Kenapa ya pa guru?” Tanya keponakan RT yang semenjak pamannya menjabat tiba-tiba menjadi sosok yang merasa paling perlu tahu terhadap segala kondisi yang menimpa rakyatnya.

Sambil melempar rokok filter yang dibeli setengah bungkus ke tengah arena tukar pendapat si guru berpendapat: “Mungkin orang-orang takut keluar rumah, khawatir tiba-tiba malam ini mati listrik lagi.”

“Tumben pa guru, biasanya bahwa dunhill sebungkus.” Sela anggota diskusi dari pojok arena sambil menarik sebatang rokok keluar dari kandangnya.

Rupanya ia kurang awas terhadap kondisi. Si guru juga sedang engap-engapan menghadapi situasi ekonominya. Karena semenjak terangkat jadi calon pegawai negei sipil. Uang dari gajinya yang masih 80 % itu tiap awal bulan sudah habis duluan untuk bayar cicilan, dan untuk kali ini, pemasukan lainnya yang biasa menambal kekosongan dompet masih tertahan oleh entah apa.

Pa guru sudah sepenuhnya bergabung dalam obrolan, ia melanjutkan uraiannya mengenai pengaruh trauma psikis masyarakat terhadap mati listrik dan kaitannya dengan menurunnya aktivitas ekonomi di gang haji Sarbat. Menurutnya mati listrik yang berlangsung 12 jam lebih tempo hari sudah meniggalkan efek trauma mendalam. Baik secara fisik maupun mental. Fisik para orang tua terganggu karena tidurnya kurang, harus mengipasi anaknya yang gelisah karena kegerahan sekaligus harus melindunginya dari gangguan nyamuk yang tidak terbendung kedatangannya. Di samping itu, mental masyarakat pun terganggu karena setiap kali ingin melakukan sesuatu, muncul dalam pikirannya andai di tengah pekerjaan berlangsung listrik mati seperti tempo hari, maka lebih baik diam dari pada pekerjaan jadi kacau. Bagi pak guru hal ini berarti negara gagal memberikan rasa aman dan nyaman terhadap rakyatnya.

“Bener pak, memang nyamuk itu lebih takut sama kipas angin ketimbang sama sopel”. Ucap pak RT sambil menunjuk sachetan lotion anti nyamuk yang sudah terpakai setengah dan sachetnya yang berisi setengahnya lagi itu disenderkan di bilik samping kanan pos ronda.

Peserta diskusi lain mengangguk, bahkan ada yang berucap iya sebagai tanda sepakat atas argumen pak Rt. Sedangkan pa guru sedikit kesal karena teman diskusinya malah salah fokus dan lebih  tertarik dengan pembahasan apa yang lebih ditakuti nyamuk. Upayanya membangun opini distrust terhadap pemerintah mental karena yang lain lebih tertarik terhadap fakta unik tentang nyamuk tadi. Namun di sisi lain ia juga tersenyum bangga atas imunitas rekan-rekan diskusinya terhadap penggiringan opini. Begitulah masyarakat kecil, tak sepenuhnya bisa dikendalikan seperti yang dinginkan orang-orang yang berkepentingan.

Sementara malam makin pekat, udara dingin kian menusuk, peserta diskusi sepakat untuk menyudahi gelar perkara malam itu dengan tanpa satu pun keputusan yang bulat karena memang diskusi malam itu tidak hendak menyeragamkan pikiran. Forum itu murni intelektual dalam rangka saling menambah wawasan antar anggota tanpa adanya paksaan dari satu anggota kepada anggota lain untuk sepakat terhadap argumen masing-masing.

Forum bakda isya menjelang tidur itu lebih intelek ketimbang forum-forum ilmiah di kampus-kampus yang kadang kedap saran dan anti kritik. Forum yang digelar serampangan ini jelas lebih terhormat ketimbang adu ilmu di grup Whatsapp yang asal copy-paste dan teruskan pesan karena setidaknya di forum ini ada tatap muka yang menjadi syarat bagi terjadinya silaturahim. Satu lagi yang paling penting, semua yang pulang dari forum diskusi hanya membawa pengetahuan tambahan tanpa meninggalkan dendam pribadi kepada siapa pun. 

Sumber gambar: streetpoems.blogspot.com

Sebagaimana yang dilansir dari Harian Umum Pikiran Rakyat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, ingin menerbitkan surat edaran bersama berkenaan dengan usulan perpanjangan usia pensiun guru dari 60 menjadi 65 tahun. Baginya usia 60 masih terlalu dini untuk pensiun, masih segar bugar, dan produktif. Dikatakan bahwa langkah ini dilakukan dalam rangka menghalau sekolah atau Pemda yang masih menjalankan praktik rekrutmen guru baru yang disebabkan oleh kekosongan pengajar.

Pasca tersebarnya berita ini, muncul pro-kontra di dalam lingkarangan praktisi pendidikan, meskipun patut diakui bahwa yang terakhir (kontra) lebih dominan dibanding yang pertama. Bukan tanpa alasan, untuk pekerjaan seperti guru (pendidik) yang perlu berpikir keras mengenai model dan metode pembelajaran yang tepat sekaligus membina karakter peserta didik jelas merupakan sebuah pekerjaan yang berat. 

Bukan hanya membutuhkan kerja otak melainkan juga fleksibelitas mental dan fisik yang tinggi. Dan indikator ini sulit dimiliki oleh mereka yang sudah mencapai umur 60 tahun.

Namun informasi tersebut segera diklarifikasi oleh Muhadjir dalam Siaran Pers BKLM Nomor 254/Sipres/A5.3/VIII/2019 seperti yang dimuat dalam www.kemdikbud.go.id, dengan menyatakan bahwa masa pensiun guru PNS tetap di usia 60 tahun. Hanya saja mereka akan diminta untuk tetap mengajar sampai ada guru PNS pengganti.

Bagi penulis kebijakan ini tetap bermasalah. Pertama, mempekerjakan guru pensiun sembari menunggu guru PNS pengganti mengisyaratkan bahwa pemerintah tidak sigap dalam hal manajerial. Jika pemerintah memiliki data yang valid mengenai jumlah PNS beserta sisa waktu pengabdiannya, seharusnya mereka bisa melakukan perencanaan dan persiapan yang matang, sehingga ketika satu orang PNS pensiun, di waktu itu pula sudah ada PNS penggantinya. Dan bukan malah kelabakan dengan tetap memanfaatkan pensiunan PNS yang seharusnya dapat menghabiskan sisa hidupnya untuk beristirahat bersama sanak saudara.

Kedua, menurut Muhadjir ajakan untuk tetap mengabdi ini ditujukan bagi guru yang masih bersedia dan sanggup. Soal gaji akan diambil dari dana BOS. Kebijakan ini pun terkesan mengambang. Kalau alasannya agar dapat menghentikan rekrutmen guru honorer baru, jelas bahwa gagasan ini tidak bisa menyelesaikan masalah, sebab ajakan tersebut cuma bersifat sukarela, bukan kewajiban sehingga akan memungkinkan tetap terjadi kekosongan pengajar. 

Ditambah lagi, pensiunan PNS ini diberi gaji dari dana BOS yang, telah kita ketahui bersama, jumlahnya terbatas. Para pensiunan PNS yang rata-rata bergolongan IV A yang terbiasa mendapat gaji di atas 4 juta (belum termasuk beragam tunjangan dan sertifikasi) kemudian hanya digaji dari dana BOS. Mereka barangkali akan berpikir dua kali untuk menerima tawaran ini.

Ketiga, adalah soal umur itu sendiri. Menurut penulis, tetap mempekerjakan pensiunan guru berarti menghambat progresivitas dunia pendidikan. Alih-alih, penulis malah menyarankan agar para guru bisa pensiun di usia yang lebih dini, berkisar di umur 50 atau 55 tahun. 

Mengapa demikian? Sebab sebagaimana yang diungkapkan oleh sejarawan kontemporer, Yuval Noah Harari, dalam bukunya yang fenomenal 21 Lessons for 21st Century, bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat manusia hari ini sedang berjalan menuju perubahan terus-menerus yang begitu cepat. Kondisi ini membuat para guru harus bisa memberikan kemampuan kepada para siswanya untuk dapat menghadapi aneka perubahan, belajar hal baru, dan menjaga keseimbangan mental. Faktanya, kebanyakan orang yang berusia 50-an sudah tidak siap untuk menghadapi situasi ini.

sumber gambar: jawapos.com


Peradaban Islam pernah memasuki masa kejayaan. Bukan hanya karena luasnya wilayah kekuasaan, lebih dari itu ialah karena umat Islam dari berbagai kalangan (ilmuwan, filsuf, dan ulama) tengah menghasilkan kontribusi yang begitu besar dan banyak terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini semua terjadi di era dinasti Abbasiyah meskipun rintisannya telah dimulai semenjak dinasti Umayah berkuasa.

Dari sekian banyak perkembangan cabang ilmu, filsafat dan agama adalah yang paling seksi diperbincangkan oleh ilmuwan modern hari ini, baik dari kalangan orientalis maupun umat Muslim sendiri. Bisa dimaklumi mengapa filsafat dapat semarak di dunia Islam. Ini tiada lain karena umat Muslim mulai bersinggungan secara intim dengan peradaban-peradaban lain, khususnya Yunani, Persia dan India.

Semua pencapaian ini tidak bisa lepas dari, selain motivasi (dorongan) agama dan apresiasi masyarakat terhadap ilmu dan para ilmuwannya sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya yang berjudul Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, dukungan para penguasa—dan juga orang-orang kaya—dengan memberikan aneka macam bantuan dan perlindungan. Kartanegara mengistilahkannya dengan patronasi.

Dari sekian banyak patroniasi yang diberikan oleh para penguasa (khalifah), buku-buku sejarah mengungkapkan bahwa sumbangsih fasilitas yang paling berperan terhadap pencapaian golden age adalah pembentukkan lembaga pendidikan Baytul Hikmah yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid di Baghdad, Irak, namun dikembangkan secara signifikan oleh putranya, Al-Ma’mun yang berkuasa sekitar tahun 813-833 M. 

Dikatakan bahwa Baytul Hikmah merupakan sebuah lembaga riset pertama umat Islam yang berfokus pada penulisan dan penerjemahan karya ilmiah. Beberapa ilmuwan yang dikenal memiliki hubungan dengan lembaga ini di antaranya adalah Sahl bin Harun (sebagai kepala perpustakaan), Hunain bin Ishaq (ahli fisika), al-Khawarizmi (ahli matematika), dan Abu Utsman al-Jahiz (ahli biologi). Tingginya gairah masyarakat serta dukungan penuh khalifah membuat ratusan pelajar bekerja setiap hari, meningkatkan jumlah koleksi buku-buku terjemahan.

Sumbangsih Cina
Namun sadarkah kita bahwa pesatnya kegiatan ilmiah ini tidak akan dapat berjalan secara mulus dan masif tanpa bantuan sarana yang memadai, yaitu pabrik (industri) pembuatan kertas, yang ternyata berasal atau diadopsi dari Cina pasca umat Islam memenangkan perang atasnya di Pertempuran Talas (sekarang merupakan bagian dari wilayah negara Kirgistan, kawasan Asia Tengah) yang terjadi pada tahun 751 M.

Sayangnya pencatatan sejarah atas pertempuran ini, mungkin karena durasinya yang sebentar, luput dari perhatian para historian. Padahal sebagaimana yang dipaparkan oleh Eamonn Gearon dalam bukunya yang berjudul Turning Points in Middle Eastern History: Course Guidebook, pertempuran umat Muslim (pasukan dinasti Abbasiyah) dan Cina (pasukan dinasti Tang) merupakan sebuah pertemuan dan pengalaman penting bagi bangsa Arab karena pada akhirnya mereka dapat mengenal dan menggunakan teknologi pembuatan kertas yang didapatnya dari para tawanan perang yang dikenal amat sangat paham tentang hal ini, suatu pencapaian yang di kemudian hari menjadi satu buah titik balik terpenting dalam sejarah peradaban Islam dan Eropa.

Banyak kalangan yang meragukan pandangan ini sebab bagaimana mungkin peperangan yang hanya terjadi sebentar namun menghasilkan impact yang begitu besar. Namun Gearon tetap bersikukuh bahwa pendapatnya ini mendapatkan dukungan bukti historis yang kuat, salah satunya ialah  pabrik pembuatan kertas pertama di dunia Islam terletak di Samarkan, suatu wilayah yang hanya berjarak sekitar 300 mil dari Talas. Waktu berdirinya pun sangat berdekatan dengan periode pasca pertempuran Talas. Produksi kertas berskala besar berlangsung pada tahun 793 M di Baghdad dan terus mengalami perluasan ke berbagai wilayah, termasuk Mesir (pada tahun 900 M) dan Maroko (1100 M).

Betapapun demikian, harus diakui bahwa pendapat Gearon bukanlah pandangan arus utama. Meskipun Ziauddin Sardar, pemikir Muslim kontemporer kelahiran Pakistan yang berbasis di London, setuju bahwa umat Muslim mengenal kertas dari pertemuannya dengan bangsa Cina di peperangan Talas, tetapi secara implisit dia menolak “utang budi” Islam atas peristiwa ini yang terkesan dilebih-lebihkan oleh Gearon, sebab menurutnya proses pembuatan kertas yang diperkenalkan oleh orang-orang Cina tidak bisa dilanjutkan karena tidak adanya pohon murbei (sebagai bahan baku pembuatan kertas) di negeri Islam. Dari sini para sarjana Muslim kemudian berinovasi untuk menggantinya dengan bahan dari pohon linen, kapas, dan serat.

Kemunculan industri kertas memunculkan sejumlah profesi baru, salah satunya ialah warraq. Selain menjual kertas dan berperan sebagai agen, mereka pun bekerja sebagai penulis yang akan menyalin beberapa manuskrip yang dipesan oleh para pelanggannya. Mereka mendirikan kios di berbagai kota-kota besar, seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Granada, dan Fez. Kartanegara mengungkapkan bahwa kadang kios-kios ini menyediakan ruang-ruang khusus untuk sewa bagi mereka yang ingin membaca dan meneliti buku-buku tertentu. Diceritakan bahwa, seperti yang dikutip oleh Kartanegara, al-Jahiz lebih suka menyewa kios para warraq dan bermalam di tempat tersebut sambil membaca karena lebih ekonomis ketimbang harus membelinya.

Dalam perkembangan lebih lanjut para ilmuwan Muslim pun memperkenalkan bambu sebagai media untuk mengeringkan lembaran kertas basah, proses fermentasi dengan menambahkan pemutih atau bahan kimia lainnya untuk mempercepat pemotongan linen dan serat. Palu penempa besar juga digunakan untuk menggiling bahan-bahan yang akan dihaluskan. Ketika kincir angin ditemukan pada tahun 1151 M di Jativa (Spanyol) palu penempa tidak lagi menggunakan tenaga manusia.

Referensi
Kartanegara, M. (2006). Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam. Jakarta: Baitul Ihsan
Ruslan, H. (10 Maret 2008). Jejak Industri Kertas di Dunia Islam. Diakses dari republika.co.id pada 26 Juli 2019
AL. (November 2017). Pertempuran Talas 751 M (1-3). Diakses dari ganaislamika.com pada 26 Juli 2019

Islam, Cina, dan Kertas

by on Agustus 04, 2019
Peradaban Islam pernah memasuki masa kejayaan. Bukan hanya karena luasnya wilayah kekuasaan, lebih dari itu ialah karena umat Islam dari...