Terapi dan Internalisasi Nilai melalui Alquran Tulis

Hari Jumat kemarin (28/06/2019) Dinas Pendidikan Kota Bandung yang diorganisir oleh PPSMP mengundang seluruh guru Pendidikan Agama Islam dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan jenjang SMP di Bandung untuk mengikuti kegiatan yang bertajuk “Bandung Santun Menuju Bandung Agamis”

Dari serangkaian kegiatan yang ada, saya tertarik pada salah satu sesi workshop di mana si pembicara memperkenalkan sebuah metode yang bernama iqra’ bil qalamfollow the line. Saya dan para partisipan lainnya disugukan oleh selembar kertas yang sudah bertuliskan satu buah surat pendek dari juz 30. Uniknya, tulisan Alquran yang dibubuhkan di sini masih begitu halus (tipis) walaupun tetap dapat terbaca.

Dan tanpa memberikan penjelasan yang panjang lebar, pemateri, yang konon telah melanglang buana untuk memberikan pelatihan ini di seluruh penjuru Indonesia, segera menyuruh kami untuk mempertebal tulisan tersebut dalam waktu kurang lebih lima belas menit saja. Sejujurnya saya yang tidak mahir menulis Arab, karena ketika kuliah pun lebih banyak mengetik langsung di laptop, agak kewalahan dan ternyata cukup melelahkan.

Setelah waktu habis dan dipersilahkan untuk mengumpulkan hasil kerja, kemudian pembicara memberikan penjelasan dan narasi yang panjang lebar berkenaan dengan kegiatan yang baru saja kami lakukan. Beliau mengungkapkan bahwa metode menebalkan huruf memiliki banyak manfaat, salah duanya ialah sebagai sarana terapi dan internalisasi nilai.

Masih ingatkah ketika kita belajar menulis huruf di bangku TK maupun SD, baik berupa huruf Indonesia maupun Arab? Yang lebih banyak kita lakukan sebenarnya bukan menulis melainkan menjiplak. Nah kira-kira seperti itu pulalah metode ini. Baginya aktivitas “menjiplak” bukanlah sesuatu yang buruk, sebab ketika kita sedang “menjiplak” pada saat itulah proses penginstalan berjalan. Huruf-huruf yang tertera pada kertas ditulis secara manual oleh kita sehingga, baik secara langsung maupun tidak, proses itu akan menciptakan imajinasi huruf di dalam benak. Orang yang sudah memiliki imajinasi atau “konsep abstraksi” yang matang di dalam benaknya, dia tidak perlu lagi membutuhkan visualisasi langsung ketika hendak mengaktualisasikannya.

Saya beri contoh. Seorang anak sekolah dasar yang diminta oleh gurunya untuk mendesripsikan atau menggambar sesuatu yang belum pernah dilihat dalam hidupnya, hewan kanguru misalnya, maka sudah dipastikan bahwa anak tersebut tidak akan bisa melakukannya. Sama halnya dengan laptop yang tidak pernah di masukkan CD instalasi suatu aplikasi tertentu, tentu laptop tidak akan bisa membaca dan menjalankan aplikasi tersebut.

Ini berbeda ketika sang anak sudah memiliki imajinasi atau “konsep abstraksi” kanguru di dalam benaknya, maka akan dengan mudah dia memberikan penjelasan kepada si guru, tanpa perlu melihat kanguru terlebih dahulu. Nah, cara supaya imajinasi ini terbentuk tiada lain ialah dengan secara terus-menerus memasukkan “konsep” tersebut ke dalam otak atau benak.
*
Pelajar hari ini lebih senang “menginstal” hal-hal yang kurang berfaedah, kalau enggan mau berkata buruk. Hampir tidak pernah mereka “menginstal” huruf-huruf Alquran, maka wajar sekali ketika diminta untuk membaca sebaris lafaz Arab atau Alquran, mereka kelabakan. Atas dasar realita inilah Ustaz Farza’in yang sekaligus pembicara di workshop ini membuat metode iqra’ bil qalam, menyuruh para pelajar Muslim yang belum bisa membaca Alquran dengan cara “menjiplak” atau menebalkan huruf-huruf yang tertera di kertas. Tujuannya supaya tercipta imajinasi di dalam benaknya.

Bukan hanya sebagai sarana penciptaan imajinasi, baginya metode ini juga ampuh sebagai terapi untuk meningkatkan atau mengembalikan fokus siswa. Menurut pembicara, ketika sang anak beristirahat dan mungkin mereka melakukan beberapa aktivitas, beberapa gelombang “pengganggu” masih terus mengikuti pikirannya meski dia telah masuk kelas untuk siap mengikuti pelajaran selanjutnya. Akibatnya fokus belajar menjadi hilang. Dan untuk menetralisir gelombang “pengganggu” tersebut, “menjiplak” Alquran merupakan salah satu cara ampuh, karena di dalam prosesnya membutuhkan pengerahan fokus dan konsenterasi yang cukup tinggi. Cukup dengan menerapkannya dalam rentang 10-15 menit, insyaaallah, menurutnya si anak akan benar-benar siap mengikuti pembelajaran yang baru.
Uztaz Farza’in malah memiliki ekspektasi yang lebih tinggi. Menurutnya jika proses ini terus berjalan hingga menjadi kebiasaan, maka output-nya adalah pembentukkan karakter Qurani. Hari ini sudah tercipta mushaf Alquran bil Qolam yang bahkan disahkan secara langsung oleh menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Beberapa Tanggapan
Secara sekilas metode ini bisa dikatakan bagus dan juga mudah dilakukan, bahkan ekonomis. Kalau metode ini berhasil, saya pun akan melihat dampak pertama yang muncul, yakni anak-anak akan bisa memiliki keterampilan menulis font/khat Arab atau Alquran yang indah. Betapa tidak, font yang biasa “dijiplak” atau ditebalkan adalah khat Naskhi.

Tetapi pertanyaan terbesar yang terlempar dari pikiran saya ialah, masih relevankah menulis, khususnya Alquran, secara manual di media kertas misalnya, ketika zaman sekarang semuanya sudah akan beralih ke media digital? Hari ini bagi saya proses penanaman imajinasi, kalau memang itu yang dikehedaki oleh metode ini, tidak perlu lagi dengan cara-cara yang manual. Bahkan kalau mau ekstrem atau revolusioner, sebagaimana yang diproyeksikan oleh para futurolog, di masa depan, cukup dengan menanamkan elektroda atau semacam cip berfitur tertentu ke dalam otak/tubuh manusia, mereka akan bisa langsung memiliki keterampilan atau pengetahuan yang telah diiput ke dalam elektroda tersebut.

Namun anggaplah cara revolusioner ini masih terlalu prematur, dan tidak ada salahnya untuk menggunakan cara-cara manual. Tetapi membelajarkan anak dengan menyuruh mereka sekadar mengikuti garis yang telah terlihat (follow the line) atau “menjiplak” akan sangat rawan membunuh kreativitas mereka, walaupun tentu saja harus diakui bahwa kreativitas biasanya diawali dengan peniruan.

Satu hal lain yang saya ragukan dari metode ini ialah soal kolerasi antara menulis mengikuti garis dengan tumbuhnya akhlak Qurani. Bagi saya ini terlalu berlebihan. Sebab pada kenyataannya tidak selalu ada kolerasi yang kuat antara orang yang sudah memiliki instalasi atau imajinasi perihal sesuatu yang suci/sakral, dengan akhlak mulia. Banyak yang sudah bisa membaca Alquran, rajin salat, dan melakukan ibadah-ibadah mahdah lainnya, tetapi perilaku tetap saja buruk.  

sumber gambar: fb iqro bil qolam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar