Perbedaan Nasib antara Buku dan Koran



Beberapa waktu lalu saya diajak teman untuk berkunjung ke  event Big Bad Wolf (BBW) yang secara perdana diselenggarakan di Bandung. Sekadar informasi, BBW adalah sebuah pameran buku internasional yang sebagian besarnya diambil dari stok BookXcess, sebuah toko buku yang menjual buku berlebih atau sisa dari distributor internasional. Keunikan dari pameran ini adalah rentang waktunya yang cukup lama (satu minggu lebih) dan durasinya yang 24 jam non stop.

Saat itu hari minggu malam. Kami berangkat dari kamar kost sekitar 19.30 dan tiba di lokasi satu jam kemudian. Tidak disangka, animo masyarakat sungguh besar. Kami malah tidak bisa memasukkan kendaraan ke dalam hotel tempat pameran buku tersebut diselenggarakan. “Parkiran penuh!” ucap salah satu satpam yang saat itu mencoba untuk menghentika laju kendaan kami. Di sepanjang hotel berderet panjang mobil-mobil mewah. Sedangkan di sisi yang lain, berjejer motor yang memenuhi lapang, mungkin sekitar 100 meter per segi.

Ketika kami masuk, suasana sudah begitu ramai. Dalam benak saya semacam ada keganjilan, bagaimana mungkin ini bisa terjadi di Indonesia yang konon memiliki minat baca rendah. Rasionalitas saya mungkin masih bisa berkompromi kalau saja kejadian ini terjadi pada waktu siang atau sore, tapi ini menjelang tengah malam di mana keesokan harinya, tentu saja mayoritas dari mereka, harus beraktivitas. Suasana ini sebenarnya tidak jauh berbeda ketika pertama kali saya berkunjung ke BBW pada tahun 2016 silam di Surabaya.

Bukannya semakin menunjukkan kemerosotan daya beli akibat gempuran e-book, saya malah melihat, sebagai seseorang yang suka berkunjung ke toko-toko buku, industri buku konvensional (cetak) menunjukkan kekuataannya. Mampu bertahan dengan melakukan berbagai pembaruan-pembaruan yang kreatif. Hari ini buku pun semakin beragam. Penerbit juga tidak takut untuk memproduksi buku-buku babon bertebal delapan ratus hingga ribuan halaman.

Uniknya, bahkan meskipun harga-harga buku secara nasional dinaikkan, bercirikan pencantuman harga di barcode, tidak menghalangi para pencinta buku yang memilih membeli buku konvensional, termasuk saya sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir, menurut standar hari ini, buat apa kita membeli sesuatu yang berat, memakan tempat, dan mudah rusak.

Berbeda dengan pemeran buku nasional yang rutin saya hadiri di Bandung, yang biasanya dipenuhi oleh kalangan remaja (mahasiswa) dan pelajar sekolah yang dapat saya asumsikan sebagai golongan menengah ke bawah, di BBW saya mengamati bahwa kebanyakan pengunjung adalah dari kalangan menengah ke atas. Kulit bersih yang penuh dengan perawatan, out fit yang branded, juga wajah-wajah blasteran, baik campuran Tiongkok maupun Barat, berseliweran di tempat ini.

Untuk jenis buku. BBW menyediakan beragam genre, dari sejarah hingga sains, walaupun yang mendominasi adalah buku-buku anak dan novel. Saya sendiri, karena belakangan ini sedang tertarik dengan sains populer, berkat pengenalan yang dilakukan oleh Harari, di sini saya membeli buku dua buah buku yang berjudul Final Jeopardy: Man vs. Machine and the Quest to Know Everything karangan Stephen Baker dan From Here to Infinity: A Vision for the Future of Science torehan Martin Rees. Menariknya, kedua pengarang ini mencoba untuk mendialogkan pola interaksi antara manusia dan AI di masa depan, sebuah tantangan yang perlu dijawab oleh umat manusia hari ini.

Kalau saja bukan karena beberapa waktu sebelumnya saya tmembeli empat buah buku yang menguras kocek sekitar 300 ribuan, tentu saya tidak akan segan-segan untuk mengambil lebih banyak lagi.

Semua buku di sini memang sudah didiskon, sekitar 60-80%. Namun jika dikonversikan dengan standar harga buku-buku di Indonesia, dapat dikatakan bahwa sebenarnya harga buku yang dijual di sini adalah sama dengan harga buku yang diproduksi di dalam negeri.

Nasib yang sangat berbeda diperlihatkan oleh industri percetakan koran yang secara nyata menunjukkan kelesuan dan kemundurannya. Menurut saya koran hari ini sedang menunggu kepunahannya. Apalagi kalau bukan karena kepesatan laju info-teknologi yang memudahkan masyarakat mengakses informasi hanya melalui smartpohonenya. Mereka bisa berseluncur mencari informasi sebanyak yang mereka mau, bahkan dari pengambilan sudut pandang yang beragam.

Produksi harian mereka semakin minim, malah dibatasi hanya untuk para pelanggan setianya saja. Di setiap lapak penjualan, paling hanya tersedia satu hingga tiga buah oplah, itu pun biasanya jarang laku.

Hal yang sama pernah diutarakan oleh salah satu staf industri koran di Bandung. Ketika saya hendak mengambil honorarium, beliau berkata bahwa sebentar lagi koran mereka tidak akan memproduksi edisi cetak dan akan beralih ke elektronik sepenuhnya. Alasannya karena harga produksi dan kertas yang semakin melambung, sampai-sampai harus impor. Tapi bagi saya dia belum mengatakan yang seutuhnya, lebih substansial lagi, adalah karena pembaca yang semakin lari dan beralih ke portal-portal berita online yang lebih cepat, fleksibel, dan lebih-lebih gratis.

Sama-sama bermediakan kertas dan memberikan informasi, tetapi mengapa koran memunah sedangkan, di sisi lain, buku menguat? Menurut saya karena keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Sebagian besar konnten koran hanya menyampaikan sebuah berita, oleh karena itu sifatnya ringan (tidak mendalam).

Hari ini, karena masyarakat terpapar derasnya arus informasi, mereka lebih senang membaca berita secara sepintas lalu saja. Maka pilihan akses melalui media digital lebih disukai daripada harus ribet membeli koran cetak yang berbayar. Berbeda dengan buku yang memuat informasi mendalam dan kompleks, sehingga wajar untuk dicetak karena membutuhkan perhatian yang serius untuk menyimaknya. 


sumber gambar: ayobandung.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar