Cerminan Diri

Hal yang paling kusukai adalah memerhatikan orang. Entah sejak kapan kebiasaan ini kumulai, namun semakin hari diriku semakin menikmatinya. Mamahku misalnya, meski cuma sekadar dosen dia terlihat begitu sibuk, setidaknya terlihat dari betapa seringnya dia berbicara dengan rekannya melalui telepon. Entah apa yang dibicarakannya, karena dia lebih sering menggunakan bahasa Cina ketimbang Inggris. Mamah tumbuh hingga remaja di Negeri Bambu sebelum pada akhirnya bertemu dengan papah di Bandung. 

Papah, pria blasteran Belanda-Sunda, adalah orang yang cerdas dan banyak merenung, namun beberapa tahun belakangan ini dia lebih banyak bergerak. Maklum, papah sedang merintis bisnis properti dan—aku kira—dia memiliki progress yang sangat cepat. Namun ada harga yang perlu kami bayar, saking sibuknya dia hampir tidak memiliki waktu untuk keluarga dan suka pulang sesuka hati, bisa seminggu bahkan sebulan sekali.

Dulu dia tidak seperti itu, setidaknya ketika awal-awal papah memutuskan untuk memeluk agama Islam. Dia rajin berkunjung dan belajar ke beberapa guru yang dirasa cocok untuk membimbing dirinya. Dia juga membeli banyak sekali buku-buku agama di samping buku ekonomi. Sekarang hanya aku yang menyentuh buku-buku tersebut di perpustakaan pribadinya karena, tidak seperti teman-teman sebayaku yang kecanduan games, sejak kecil  aku gemar membaca.

Hobi ini membuatku kesulitan mencari teman yang setara. Tidak ada yang mengerti dengan apa yang kubicarakan, baik teman di sekolah maupun di tempat les. Namun belakangan ini aku menemukan tetangga yang memiliki kesamaan passion denganku. Fatima namanya. Ketika aku sedang jenuh membaca dan ingin menghirup udara segar di taman dekat rumah, kulihat ada seorang anak perempuan, berkacamata dengan rambut hitam kecokelatan, sedang duduk membaca sebuah buku di teras rumahnya. Aku mendekati perlahan, tapi tidak sampai melebihi batas pagar rumahnya yang masih tertutup rapat. Kulontarkan sebuah sapaan “hai” dan dia menengok dengan indahnya, melempar senyuman malu-malu tanpa membalas dengan sepatah kata pun.

Aku tersanjung ternyata di Bandung masih ada seorang anak yang membaca buku ketimbang sibuk memainkan gadgetnya. Karena penasaran dengan buku tebal berwarna hitam yang ada dihadapannya, aku bertanya:

“Sedang baca buku apa?”

“Dunia Sophie.” Fatima bangun dari tempat duduknya, menandai halaman tertentu di bukunya dengan sebuah pembatas cantik, kemudian menutupnya.

“Sophie? Apa yang Sophie katakan padamu?” Mulai timbul rasa penasaran di dalam diriku.

“Entahlah. Aku baru membaca sampai halaman ke seratus. Tapi yang pasti dia suka berkelana ke berbagai periode waktu.” Dia membolak-balikkan bukunya itu dan kembali berkata “Kata ayah sih, ini novel filsafat.”

“Filsafat?” daya ingatku kembali aktif. Rasa-rasanya aku juga pernah membaca buku yang ada judul filsafatnya di perpustakaan ayah namun tidak ada kata “Sophie” di dalamnya. Beberapa detik kemudian lampu di otakku menyala. Benar, aku pernah membaca buku yang judulnya Filsafat Islam. Dua buku yang berbeda sih, tapi aku yakin keduanya memiliki beberapa kesamaan.

Setelah pertemuan perdana itu, setiap rabu sore aku selalu berkunjung ke rumah Fatima. Kami saling bertukar buku dan berdiskusi. Aku tidak menyangka kalau ternyata kami memiliki kesamaan lain, sama-sama suka memerhatikan orang. Kami membicarakan kelakuan anak sebaya kami yang tampak lebih menonjolkan kebodohan, seperti gemar mengumbar kata-kata kotor, apalagi di Facebook dan Instagram. Agaknya tidak ada hal yang bisa mereka banggakan selain merias lidahnya dengan kata-kata tersebut. Selain itu, mereka juga sering membuang sampah sembarangan di samping meludah seenaknya. Ah, mereka semua sungguh menjijikkan.

Berjalannya waktu tanpa disadari ternyata tidak ada orang yang paling kuperhatikan selain Fatima. Sejak terbiasa mengunjungi rumahnya, aku selalu memerhatikan dirinya. Dia pintar, sedikit pemalu, tetapi juga blak-blakkan untuk menjelek-jelekkan orang lain, khususnya teman-teman perempuannya di sekolah. Katanya anak remaja perempuan hari ini banyak yang munafik, banyak topeng yang mereka gunakan hanya untuk mendapatkan perhatian. Mereka suka memposting foto genit bahkan seksi di akun media sosialnya untuk sekadar memperoleh like/love. Dan harus kontroversial supaya cepat mendapat banyak followers, karena implikasinya mereka akan dimintai endorse produk-produk kecantikan.

Mereka, masih menurut penuturan Fatima, lupa akan sesuatu yang lebih penting, yaitu kecerdasan. “Perempuan itu seksi bukan karena fisiknya tapi otaknya” ucapnya sambil menatapku tajam-tajam, memberi pesan implisit bahwa dia juga mau kalau aku setuju dengan pendapatnya.

Sayangnya aku adalah laki-laki kebanyakan, yang kampret dan mata keranjang. Seperti ada medan magnet yang kuat, mataku segera menatap lekat-lekat ketika ada perempuan yang menurutku cantik. Kalau seksi, misalnya berpakaian sangat terbuka, aku masih pilih-pilih. Jika berparas cantik, aku tentu tidak mau menyia-nyiakan karunia Tuhan, tetapi jika jelek, sebaliknya, aku suka mencemoohnya terus-menerus di dalam hatiku.

Jujur, aku suka melihat perempuan cantik di Instagram. Biasanya mereka adalah para celebgram yang umurnya tidak jauh berbeda denganku. Dalam sehari mereka bisa sampai memposting tiga hingga lima buah foto, belum ditambah dengan video yang diunggahnya di IG Story. Aku sangat menikmatinya. Betapa tidak, bukan hanya cantik, badan mereka mulus, suaranya manja, dan tentu saja glamor. Dari semua jenis pakaian, aku paling suka ketika mereka sedang mengenakan tank top putih dan celana jeans. Sungguh perpaduan yang sempurna.

Walaupun demikian, aku masih memiliki batasan yang dipegang kokoh. Aku tidak segila netizen yang tanpa malu-malu memberi komentar cabul nan mesum yang dalam beberapa level kukira sangat berlebihan dan bisa dianggap sebagai tindak pelecehan seksual menurut standar manusia modern.

Begitu pula ketika aku memandang sosok Fatima. Benar bahwa dia cerdas, dan aku melihat hal itu sebagai sesuatu yang berharga. Tetapi aku pun ingin melihatnya secara utuh. Kecantikan dan keimutannya harus juga dianggap sebagai suatu anugerah dan patut untuk dibanggakan. Apalagi kalau gigi gingsulnya mencuat ketika aku sedang melontarkan jokes yang sebenarnya garing, membuat jantungku berdegup kencang.

Satu lagi waktu indah yang tak bisa kulupakan, ialah momen sekian detik ketika dia sedang mengangkat kedua tangannya ke bagian belakang kepala untuk mengikat rambut. Ketiaknya yang terbuka-menantang, putih-mulus-polos dan wangi sungguh membuat pipiku memerah, malu, dan aku pun terpaksa harus mengalihkan pandangan supaya tidak dikira tak tahu diri.

Sementara aku masih malu-malu untuk mengungkapkan kalau aku suka memerhatikan tindak-tanduk orang lain, termasuk perempuan-perempuan cantik, ternyata Fatima lebih terbuka dan tanpa segan hati mengutarakan kalau dirinya menggemari banyak artis laki-laki korea, termasuk Lee Min Ho dan Song Joong-Ki. Baginya artis korea  selain memiliki ketampanan dan postur tubuh yang paripurna, mereka juga dilengkapi dengan segudang talenta.

Karena dia suka bercerita banyak hal, membuatku menjadi sosok yang berperan sebagai pendengar yang baik.  Sebagai bentuk penghormatan, aku harus memerhatikan wajah dan bibirnya. Sialnya, mataku kadang tidak bisa diajak kompromi. Mata ini menggodaku untuk melihat sesuatu yang kurang tepat, setidaknya dalam momen ini. Apalagi kalau bukan payudara. Dengan jarak di antara kami yang hanya terpisahkan sebuah meja kecil, membuatku cukup leluasa untuk melihat bentuk payudaranya yang ranum bak buah manggis yang siap matang.

Akhirnya aku rasa aku tengah menyukainya. Beruntungnya, cinta tak bertepuk sebelah tangan, sebab begitu pun dengan dia yang menyukai diriku. Aku merasa Fatima nyaman ketika ngobrol denganku. Matanya berbinar ketika dia melihatku datang mengunjunginya setiap rabu sore, satu hari dalam seminggu di mana dia terbebas dari segala macam les yang diikutinya, mulai dari biola, bahasa Arab, desain busana, hingga koding. Mungkin Fatima tidak menyadarinya, tapi aku tahu kalau dia suka mencuri-curi pandangan, menatap diam-diam diriku. Mulai dari rambut, pakaian, hingga kakiku. Di antara semua yang ditatapnya, wajahku-lah yang paling sering dia perhatikan.

Walaupun saling menyukai, aku tidak pernah menyatakan cinta kepadanya. Dan dia pun tidak memberi isyarat kalau aku harus berbuat demikian. Kami telah cukup nyaman dengan keadaan yang sekarang, tidak ada semacam keterikatan, karena kami berdua pun lebih senang merdeka dan fleksibel dalam menjalani hubungan.

Di kompleks perumahan di mana antar tetangga tidak saling mengenal, adanya dua orang remaja yang duduk di beranda bukanlah menjadi sebuah persoalan. Pernah sekali Fatima mengajakku untuk masuk ke rumahnya. Dia ingin membuatkanku kue hasil tangannya sendiri. Kulihat di setiap dinding, banyak sekali foto figura seorang laki-laki yang meraih banyak sekali penghargaan dan piala. Dan dia bilang itu adalah foto ayahnya yang merupakan seorang mantan atlit renang internasional dan sekarang menjadi pelatih di salah satu lembaga pelatihan renang terkenal di Malaysia. Jarak yang jauh membuat mereka jarang bersuara.

Aku tidak bertanya soal ibunya, tetapi seperti hendak melanjutnya jalan cerita yang terputus, dia mengaku bahwa ibunya adalah seorang dosen Bioteknologi yang gemar melakukan penelitian bersama professor dari luar negeri. Ketika kutanya di mana ibunya mengajar, ternyata sama dengan tempat mamahku bekerja. Sebuah kesamaan yang datang bertubi-tubi. Aneh tapi nyata.

Dari pengalaman ini aku seakan tengah mengamini pandangan dari sebuah buku yang kubaca kemarin yang mengatakan bahwa kita adalah sejumlah gelombang atau frekuensi di mana frekuensi yang sama secara natural akan saling terhubung atau mengalami daya tarik-menarik. Yang tidak memiliki kesamaan frekuensi secara sendirinya tidak akan saling terhubung. Benarkah demikian?

sumber gambar: erabaru.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar