Beberapa waktu lalu saya diajak teman untuk berkunjung ke  event Big Bad Wolf (BBW) yang secara perdana diselenggarakan di Bandung. Sekadar informasi, BBW adalah sebuah pameran buku internasional yang sebagian besarnya diambil dari stok BookXcess, sebuah toko buku yang menjual buku berlebih atau sisa dari distributor internasional. Keunikan dari pameran ini adalah rentang waktunya yang cukup lama (satu minggu lebih) dan durasinya yang 24 jam non stop.

Saat itu hari minggu malam. Kami berangkat dari kamar kost sekitar 19.30 dan tiba di lokasi satu jam kemudian. Tidak disangka, animo masyarakat sungguh besar. Kami malah tidak bisa memasukkan kendaraan ke dalam hotel tempat pameran buku tersebut diselenggarakan. “Parkiran penuh!” ucap salah satu satpam yang saat itu mencoba untuk menghentika laju kendaan kami. Di sepanjang hotel berderet panjang mobil-mobil mewah. Sedangkan di sisi yang lain, berjejer motor yang memenuhi lapang, mungkin sekitar 100 meter per segi.

Ketika kami masuk, suasana sudah begitu ramai. Dalam benak saya semacam ada keganjilan, bagaimana mungkin ini bisa terjadi di Indonesia yang konon memiliki minat baca rendah. Rasionalitas saya mungkin masih bisa berkompromi kalau saja kejadian ini terjadi pada waktu siang atau sore, tapi ini menjelang tengah malam di mana keesokan harinya, tentu saja mayoritas dari mereka, harus beraktivitas. Suasana ini sebenarnya tidak jauh berbeda ketika pertama kali saya berkunjung ke BBW pada tahun 2016 silam di Surabaya.

Bukannya semakin menunjukkan kemerosotan daya beli akibat gempuran e-book, saya malah melihat, sebagai seseorang yang suka berkunjung ke toko-toko buku, industri buku konvensional (cetak) menunjukkan kekuataannya. Mampu bertahan dengan melakukan berbagai pembaruan-pembaruan yang kreatif. Hari ini buku pun semakin beragam. Penerbit juga tidak takut untuk memproduksi buku-buku babon bertebal delapan ratus hingga ribuan halaman.

Uniknya, bahkan meskipun harga-harga buku secara nasional dinaikkan, bercirikan pencantuman harga di barcode, tidak menghalangi para pencinta buku yang memilih membeli buku konvensional, termasuk saya sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir, menurut standar hari ini, buat apa kita membeli sesuatu yang berat, memakan tempat, dan mudah rusak.

Berbeda dengan pemeran buku nasional yang rutin saya hadiri di Bandung, yang biasanya dipenuhi oleh kalangan remaja (mahasiswa) dan pelajar sekolah yang dapat saya asumsikan sebagai golongan menengah ke bawah, di BBW saya mengamati bahwa kebanyakan pengunjung adalah dari kalangan menengah ke atas. Kulit bersih yang penuh dengan perawatan, out fit yang branded, juga wajah-wajah blasteran, baik campuran Tiongkok maupun Barat, berseliweran di tempat ini.

Untuk jenis buku. BBW menyediakan beragam genre, dari sejarah hingga sains, walaupun yang mendominasi adalah buku-buku anak dan novel. Saya sendiri, karena belakangan ini sedang tertarik dengan sains populer, berkat pengenalan yang dilakukan oleh Harari, di sini saya membeli buku dua buah buku yang berjudul Final Jeopardy: Man vs. Machine and the Quest to Know Everything karangan Stephen Baker dan From Here to Infinity: A Vision for the Future of Science torehan Martin Rees. Menariknya, kedua pengarang ini mencoba untuk mendialogkan pola interaksi antara manusia dan AI di masa depan, sebuah tantangan yang perlu dijawab oleh umat manusia hari ini.

Kalau saja bukan karena beberapa waktu sebelumnya saya tmembeli empat buah buku yang menguras kocek sekitar 300 ribuan, tentu saya tidak akan segan-segan untuk mengambil lebih banyak lagi.

Semua buku di sini memang sudah didiskon, sekitar 60-80%. Namun jika dikonversikan dengan standar harga buku-buku di Indonesia, dapat dikatakan bahwa sebenarnya harga buku yang dijual di sini adalah sama dengan harga buku yang diproduksi di dalam negeri.

Nasib yang sangat berbeda diperlihatkan oleh industri percetakan koran yang secara nyata menunjukkan kelesuan dan kemundurannya. Menurut saya koran hari ini sedang menunggu kepunahannya. Apalagi kalau bukan karena kepesatan laju info-teknologi yang memudahkan masyarakat mengakses informasi hanya melalui smartpohonenya. Mereka bisa berseluncur mencari informasi sebanyak yang mereka mau, bahkan dari pengambilan sudut pandang yang beragam.

Produksi harian mereka semakin minim, malah dibatasi hanya untuk para pelanggan setianya saja. Di setiap lapak penjualan, paling hanya tersedia satu hingga tiga buah oplah, itu pun biasanya jarang laku.

Hal yang sama pernah diutarakan oleh salah satu staf industri koran di Bandung. Ketika saya hendak mengambil honorarium, beliau berkata bahwa sebentar lagi koran mereka tidak akan memproduksi edisi cetak dan akan beralih ke elektronik sepenuhnya. Alasannya karena harga produksi dan kertas yang semakin melambung, sampai-sampai harus impor. Tapi bagi saya dia belum mengatakan yang seutuhnya, lebih substansial lagi, adalah karena pembaca yang semakin lari dan beralih ke portal-portal berita online yang lebih cepat, fleksibel, dan lebih-lebih gratis.

Sama-sama bermediakan kertas dan memberikan informasi, tetapi mengapa koran memunah sedangkan, di sisi lain, buku menguat? Menurut saya karena keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Sebagian besar konnten koran hanya menyampaikan sebuah berita, oleh karena itu sifatnya ringan (tidak mendalam).

Hari ini, karena masyarakat terpapar derasnya arus informasi, mereka lebih senang membaca berita secara sepintas lalu saja. Maka pilihan akses melalui media digital lebih disukai daripada harus ribet membeli koran cetak yang berbayar. Berbeda dengan buku yang memuat informasi mendalam dan kompleks, sehingga wajar untuk dicetak karena membutuhkan perhatian yang serius untuk menyimaknya. 


sumber gambar: ayobandung.com
Hal yang paling kusukai adalah memerhatikan orang. Entah sejak kapan kebiasaan ini kumulai, namun semakin hari diriku semakin menikmatinya. Mamahku misalnya, meski cuma sekadar dosen dia terlihat begitu sibuk, setidaknya terlihat dari betapa seringnya dia berbicara dengan rekannya melalui telepon. Entah apa yang dibicarakannya, karena dia lebih sering menggunakan bahasa Cina ketimbang Inggris. Mamah tumbuh hingga remaja di Negeri Bambu sebelum pada akhirnya bertemu dengan papah di Bandung. 

Papah, pria blasteran Belanda-Sunda, adalah orang yang cerdas dan banyak merenung, namun beberapa tahun belakangan ini dia lebih banyak bergerak. Maklum, papah sedang merintis bisnis properti dan—aku kira—dia memiliki progress yang sangat cepat. Namun ada harga yang perlu kami bayar, saking sibuknya dia hampir tidak memiliki waktu untuk keluarga dan suka pulang sesuka hati, bisa seminggu bahkan sebulan sekali.

Dulu dia tidak seperti itu, setidaknya ketika awal-awal papah memutuskan untuk memeluk agama Islam. Dia rajin berkunjung dan belajar ke beberapa guru yang dirasa cocok untuk membimbing dirinya. Dia juga membeli banyak sekali buku-buku agama di samping buku ekonomi. Sekarang hanya aku yang menyentuh buku-buku tersebut di perpustakaan pribadinya karena, tidak seperti teman-teman sebayaku yang kecanduan games, sejak kecil  aku gemar membaca.

Hobi ini membuatku kesulitan mencari teman yang setara. Tidak ada yang mengerti dengan apa yang kubicarakan, baik teman di sekolah maupun di tempat les. Namun belakangan ini aku menemukan tetangga yang memiliki kesamaan passion denganku. Fatima namanya. Ketika aku sedang jenuh membaca dan ingin menghirup udara segar di taman dekat rumah, kulihat ada seorang anak perempuan, berkacamata dengan rambut hitam kecokelatan, sedang duduk membaca sebuah buku di teras rumahnya. Aku mendekati perlahan, tapi tidak sampai melebihi batas pagar rumahnya yang masih tertutup rapat. Kulontarkan sebuah sapaan “hai” dan dia menengok dengan indahnya, melempar senyuman malu-malu tanpa membalas dengan sepatah kata pun.

Aku tersanjung ternyata di Bandung masih ada seorang anak yang membaca buku ketimbang sibuk memainkan gadgetnya. Karena penasaran dengan buku tebal berwarna hitam yang ada dihadapannya, aku bertanya:

“Sedang baca buku apa?”

“Dunia Sophie.” Fatima bangun dari tempat duduknya, menandai halaman tertentu di bukunya dengan sebuah pembatas cantik, kemudian menutupnya.

“Sophie? Apa yang Sophie katakan padamu?” Mulai timbul rasa penasaran di dalam diriku.

“Entahlah. Aku baru membaca sampai halaman ke seratus. Tapi yang pasti dia suka berkelana ke berbagai periode waktu.” Dia membolak-balikkan bukunya itu dan kembali berkata “Kata ayah sih, ini novel filsafat.”

“Filsafat?” daya ingatku kembali aktif. Rasa-rasanya aku juga pernah membaca buku yang ada judul filsafatnya di perpustakaan ayah namun tidak ada kata “Sophie” di dalamnya. Beberapa detik kemudian lampu di otakku menyala. Benar, aku pernah membaca buku yang judulnya Filsafat Islam. Dua buku yang berbeda sih, tapi aku yakin keduanya memiliki beberapa kesamaan.

Setelah pertemuan perdana itu, setiap rabu sore aku selalu berkunjung ke rumah Fatima. Kami saling bertukar buku dan berdiskusi. Aku tidak menyangka kalau ternyata kami memiliki kesamaan lain, sama-sama suka memerhatikan orang. Kami membicarakan kelakuan anak sebaya kami yang tampak lebih menonjolkan kebodohan, seperti gemar mengumbar kata-kata kotor, apalagi di Facebook dan Instagram. Agaknya tidak ada hal yang bisa mereka banggakan selain merias lidahnya dengan kata-kata tersebut. Selain itu, mereka juga sering membuang sampah sembarangan di samping meludah seenaknya. Ah, mereka semua sungguh menjijikkan.

Berjalannya waktu tanpa disadari ternyata tidak ada orang yang paling kuperhatikan selain Fatima. Sejak terbiasa mengunjungi rumahnya, aku selalu memerhatikan dirinya. Dia pintar, sedikit pemalu, tetapi juga blak-blakkan untuk menjelek-jelekkan orang lain, khususnya teman-teman perempuannya di sekolah. Katanya anak remaja perempuan hari ini banyak yang munafik, banyak topeng yang mereka gunakan hanya untuk mendapatkan perhatian. Mereka suka memposting foto genit bahkan seksi di akun media sosialnya untuk sekadar memperoleh like/love. Dan harus kontroversial supaya cepat mendapat banyak followers, karena implikasinya mereka akan dimintai endorse produk-produk kecantikan.

Mereka, masih menurut penuturan Fatima, lupa akan sesuatu yang lebih penting, yaitu kecerdasan. “Perempuan itu seksi bukan karena fisiknya tapi otaknya” ucapnya sambil menatapku tajam-tajam, memberi pesan implisit bahwa dia juga mau kalau aku setuju dengan pendapatnya.

Sayangnya aku adalah laki-laki kebanyakan, yang kampret dan mata keranjang. Seperti ada medan magnet yang kuat, mataku segera menatap lekat-lekat ketika ada perempuan yang menurutku cantik. Kalau seksi, misalnya berpakaian sangat terbuka, aku masih pilih-pilih. Jika berparas cantik, aku tentu tidak mau menyia-nyiakan karunia Tuhan, tetapi jika jelek, sebaliknya, aku suka mencemoohnya terus-menerus di dalam hatiku.

Jujur, aku suka melihat perempuan cantik di Instagram. Biasanya mereka adalah para celebgram yang umurnya tidak jauh berbeda denganku. Dalam sehari mereka bisa sampai memposting tiga hingga lima buah foto, belum ditambah dengan video yang diunggahnya di IG Story. Aku sangat menikmatinya. Betapa tidak, bukan hanya cantik, badan mereka mulus, suaranya manja, dan tentu saja glamor. Dari semua jenis pakaian, aku paling suka ketika mereka sedang mengenakan tank top putih dan celana jeans. Sungguh perpaduan yang sempurna.

Walaupun demikian, aku masih memiliki batasan yang dipegang kokoh. Aku tidak segila netizen yang tanpa malu-malu memberi komentar cabul nan mesum yang dalam beberapa level kukira sangat berlebihan dan bisa dianggap sebagai tindak pelecehan seksual menurut standar manusia modern.

Begitu pula ketika aku memandang sosok Fatima. Benar bahwa dia cerdas, dan aku melihat hal itu sebagai sesuatu yang berharga. Tetapi aku pun ingin melihatnya secara utuh. Kecantikan dan keimutannya harus juga dianggap sebagai suatu anugerah dan patut untuk dibanggakan. Apalagi kalau gigi gingsulnya mencuat ketika aku sedang melontarkan jokes yang sebenarnya garing, membuat jantungku berdegup kencang.

Satu lagi waktu indah yang tak bisa kulupakan, ialah momen sekian detik ketika dia sedang mengangkat kedua tangannya ke bagian belakang kepala untuk mengikat rambut. Ketiaknya yang terbuka-menantang, putih-mulus-polos dan wangi sungguh membuat pipiku memerah, malu, dan aku pun terpaksa harus mengalihkan pandangan supaya tidak dikira tak tahu diri.

Sementara aku masih malu-malu untuk mengungkapkan kalau aku suka memerhatikan tindak-tanduk orang lain, termasuk perempuan-perempuan cantik, ternyata Fatima lebih terbuka dan tanpa segan hati mengutarakan kalau dirinya menggemari banyak artis laki-laki korea, termasuk Lee Min Ho dan Song Joong-Ki. Baginya artis korea  selain memiliki ketampanan dan postur tubuh yang paripurna, mereka juga dilengkapi dengan segudang talenta.

Karena dia suka bercerita banyak hal, membuatku menjadi sosok yang berperan sebagai pendengar yang baik.  Sebagai bentuk penghormatan, aku harus memerhatikan wajah dan bibirnya. Sialnya, mataku kadang tidak bisa diajak kompromi. Mata ini menggodaku untuk melihat sesuatu yang kurang tepat, setidaknya dalam momen ini. Apalagi kalau bukan payudara. Dengan jarak di antara kami yang hanya terpisahkan sebuah meja kecil, membuatku cukup leluasa untuk melihat bentuk payudaranya yang ranum bak buah manggis yang siap matang.

Akhirnya aku rasa aku tengah menyukainya. Beruntungnya, cinta tak bertepuk sebelah tangan, sebab begitu pun dengan dia yang menyukai diriku. Aku merasa Fatima nyaman ketika ngobrol denganku. Matanya berbinar ketika dia melihatku datang mengunjunginya setiap rabu sore, satu hari dalam seminggu di mana dia terbebas dari segala macam les yang diikutinya, mulai dari biola, bahasa Arab, desain busana, hingga koding. Mungkin Fatima tidak menyadarinya, tapi aku tahu kalau dia suka mencuri-curi pandangan, menatap diam-diam diriku. Mulai dari rambut, pakaian, hingga kakiku. Di antara semua yang ditatapnya, wajahku-lah yang paling sering dia perhatikan.

Walaupun saling menyukai, aku tidak pernah menyatakan cinta kepadanya. Dan dia pun tidak memberi isyarat kalau aku harus berbuat demikian. Kami telah cukup nyaman dengan keadaan yang sekarang, tidak ada semacam keterikatan, karena kami berdua pun lebih senang merdeka dan fleksibel dalam menjalani hubungan.

Di kompleks perumahan di mana antar tetangga tidak saling mengenal, adanya dua orang remaja yang duduk di beranda bukanlah menjadi sebuah persoalan. Pernah sekali Fatima mengajakku untuk masuk ke rumahnya. Dia ingin membuatkanku kue hasil tangannya sendiri. Kulihat di setiap dinding, banyak sekali foto figura seorang laki-laki yang meraih banyak sekali penghargaan dan piala. Dan dia bilang itu adalah foto ayahnya yang merupakan seorang mantan atlit renang internasional dan sekarang menjadi pelatih di salah satu lembaga pelatihan renang terkenal di Malaysia. Jarak yang jauh membuat mereka jarang bersuara.

Aku tidak bertanya soal ibunya, tetapi seperti hendak melanjutnya jalan cerita yang terputus, dia mengaku bahwa ibunya adalah seorang dosen Bioteknologi yang gemar melakukan penelitian bersama professor dari luar negeri. Ketika kutanya di mana ibunya mengajar, ternyata sama dengan tempat mamahku bekerja. Sebuah kesamaan yang datang bertubi-tubi. Aneh tapi nyata.

Dari pengalaman ini aku seakan tengah mengamini pandangan dari sebuah buku yang kubaca kemarin yang mengatakan bahwa kita adalah sejumlah gelombang atau frekuensi di mana frekuensi yang sama secara natural akan saling terhubung atau mengalami daya tarik-menarik. Yang tidak memiliki kesamaan frekuensi secara sendirinya tidak akan saling terhubung. Benarkah demikian?

sumber gambar: erabaru.net

Cerminan Diri

by on Juli 04, 2019
Hal yang paling kusukai adalah memerhatikan orang. Entah sejak kapan kebiasaan ini kumulai, namun semakin hari diriku semakin menikmatiny...
Hari Jumat kemarin (28/06/2019) Dinas Pendidikan Kota Bandung yang diorganisir oleh PPSMP mengundang seluruh guru Pendidikan Agama Islam dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan jenjang SMP di Bandung untuk mengikuti kegiatan yang bertajuk “Bandung Santun Menuju Bandung Agamis”

Dari serangkaian kegiatan yang ada, saya tertarik pada salah satu sesi workshop di mana si pembicara memperkenalkan sebuah metode yang bernama iqra’ bil qalamfollow the line. Saya dan para partisipan lainnya disugukan oleh selembar kertas yang sudah bertuliskan satu buah surat pendek dari juz 30. Uniknya, tulisan Alquran yang dibubuhkan di sini masih begitu halus (tipis) walaupun tetap dapat terbaca.

Dan tanpa memberikan penjelasan yang panjang lebar, pemateri, yang konon telah melanglang buana untuk memberikan pelatihan ini di seluruh penjuru Indonesia, segera menyuruh kami untuk mempertebal tulisan tersebut dalam waktu kurang lebih lima belas menit saja. Sejujurnya saya yang tidak mahir menulis Arab, karena ketika kuliah pun lebih banyak mengetik langsung di laptop, agak kewalahan dan ternyata cukup melelahkan.

Setelah waktu habis dan dipersilahkan untuk mengumpulkan hasil kerja, kemudian pembicara memberikan penjelasan dan narasi yang panjang lebar berkenaan dengan kegiatan yang baru saja kami lakukan. Beliau mengungkapkan bahwa metode menebalkan huruf memiliki banyak manfaat, salah duanya ialah sebagai sarana terapi dan internalisasi nilai.

Masih ingatkah ketika kita belajar menulis huruf di bangku TK maupun SD, baik berupa huruf Indonesia maupun Arab? Yang lebih banyak kita lakukan sebenarnya bukan menulis melainkan menjiplak. Nah kira-kira seperti itu pulalah metode ini. Baginya aktivitas “menjiplak” bukanlah sesuatu yang buruk, sebab ketika kita sedang “menjiplak” pada saat itulah proses penginstalan berjalan. Huruf-huruf yang tertera pada kertas ditulis secara manual oleh kita sehingga, baik secara langsung maupun tidak, proses itu akan menciptakan imajinasi huruf di dalam benak. Orang yang sudah memiliki imajinasi atau “konsep abstraksi” yang matang di dalam benaknya, dia tidak perlu lagi membutuhkan visualisasi langsung ketika hendak mengaktualisasikannya.

Saya beri contoh. Seorang anak sekolah dasar yang diminta oleh gurunya untuk mendesripsikan atau menggambar sesuatu yang belum pernah dilihat dalam hidupnya, hewan kanguru misalnya, maka sudah dipastikan bahwa anak tersebut tidak akan bisa melakukannya. Sama halnya dengan laptop yang tidak pernah di masukkan CD instalasi suatu aplikasi tertentu, tentu laptop tidak akan bisa membaca dan menjalankan aplikasi tersebut.

Ini berbeda ketika sang anak sudah memiliki imajinasi atau “konsep abstraksi” kanguru di dalam benaknya, maka akan dengan mudah dia memberikan penjelasan kepada si guru, tanpa perlu melihat kanguru terlebih dahulu. Nah, cara supaya imajinasi ini terbentuk tiada lain ialah dengan secara terus-menerus memasukkan “konsep” tersebut ke dalam otak atau benak.
*
Pelajar hari ini lebih senang “menginstal” hal-hal yang kurang berfaedah, kalau enggan mau berkata buruk. Hampir tidak pernah mereka “menginstal” huruf-huruf Alquran, maka wajar sekali ketika diminta untuk membaca sebaris lafaz Arab atau Alquran, mereka kelabakan. Atas dasar realita inilah Ustaz Farza’in yang sekaligus pembicara di workshop ini membuat metode iqra’ bil qalam, menyuruh para pelajar Muslim yang belum bisa membaca Alquran dengan cara “menjiplak” atau menebalkan huruf-huruf yang tertera di kertas. Tujuannya supaya tercipta imajinasi di dalam benaknya.

Bukan hanya sebagai sarana penciptaan imajinasi, baginya metode ini juga ampuh sebagai terapi untuk meningkatkan atau mengembalikan fokus siswa. Menurut pembicara, ketika sang anak beristirahat dan mungkin mereka melakukan beberapa aktivitas, beberapa gelombang “pengganggu” masih terus mengikuti pikirannya meski dia telah masuk kelas untuk siap mengikuti pelajaran selanjutnya. Akibatnya fokus belajar menjadi hilang. Dan untuk menetralisir gelombang “pengganggu” tersebut, “menjiplak” Alquran merupakan salah satu cara ampuh, karena di dalam prosesnya membutuhkan pengerahan fokus dan konsenterasi yang cukup tinggi. Cukup dengan menerapkannya dalam rentang 10-15 menit, insyaaallah, menurutnya si anak akan benar-benar siap mengikuti pembelajaran yang baru.
Uztaz Farza’in malah memiliki ekspektasi yang lebih tinggi. Menurutnya jika proses ini terus berjalan hingga menjadi kebiasaan, maka output-nya adalah pembentukkan karakter Qurani. Hari ini sudah tercipta mushaf Alquran bil Qolam yang bahkan disahkan secara langsung oleh menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Beberapa Tanggapan
Secara sekilas metode ini bisa dikatakan bagus dan juga mudah dilakukan, bahkan ekonomis. Kalau metode ini berhasil, saya pun akan melihat dampak pertama yang muncul, yakni anak-anak akan bisa memiliki keterampilan menulis font/khat Arab atau Alquran yang indah. Betapa tidak, font yang biasa “dijiplak” atau ditebalkan adalah khat Naskhi.

Tetapi pertanyaan terbesar yang terlempar dari pikiran saya ialah, masih relevankah menulis, khususnya Alquran, secara manual di media kertas misalnya, ketika zaman sekarang semuanya sudah akan beralih ke media digital? Hari ini bagi saya proses penanaman imajinasi, kalau memang itu yang dikehedaki oleh metode ini, tidak perlu lagi dengan cara-cara yang manual. Bahkan kalau mau ekstrem atau revolusioner, sebagaimana yang diproyeksikan oleh para futurolog, di masa depan, cukup dengan menanamkan elektroda atau semacam cip berfitur tertentu ke dalam otak/tubuh manusia, mereka akan bisa langsung memiliki keterampilan atau pengetahuan yang telah diiput ke dalam elektroda tersebut.

Namun anggaplah cara revolusioner ini masih terlalu prematur, dan tidak ada salahnya untuk menggunakan cara-cara manual. Tetapi membelajarkan anak dengan menyuruh mereka sekadar mengikuti garis yang telah terlihat (follow the line) atau “menjiplak” akan sangat rawan membunuh kreativitas mereka, walaupun tentu saja harus diakui bahwa kreativitas biasanya diawali dengan peniruan.

Satu hal lain yang saya ragukan dari metode ini ialah soal kolerasi antara menulis mengikuti garis dengan tumbuhnya akhlak Qurani. Bagi saya ini terlalu berlebihan. Sebab pada kenyataannya tidak selalu ada kolerasi yang kuat antara orang yang sudah memiliki instalasi atau imajinasi perihal sesuatu yang suci/sakral, dengan akhlak mulia. Banyak yang sudah bisa membaca Alquran, rajin salat, dan melakukan ibadah-ibadah mahdah lainnya, tetapi perilaku tetap saja buruk.  

sumber gambar: fb iqro bil qolam