Menakar Kembali Keislaman Kita

Rahmatullah Al-Barawi
Setiap tahun menjelang Idul Fitri, tradisi mudik menjadi hal yang unik. Sebab, fenomena ini nampaknya hanya terjadi di Indonesia sekaligus mengukuhkan argumen yang mendukung kebudayaan Islam di Nusantara (baca: Islam Nusantara).

Meskipun demikian, sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan hal tersebut. Tentu setiap insan merindukan kampung halaman tempat mereka pertama kali mengenal arti kehidupan.

 Jika boleh dikatakan, kerinduan tersebut merupakan ekspresi dari tradisi mudik asgar atau kecil. Karenanya tentu ada mudik yang akbar. Apa itu dan bagaimana hubungannya dengan kondisi keberagamaan kita saat ini?

Tulisan sederhana ini sebenarnya hanya mengundang pembaca untuk berefleksi sejenak. Jangan sampai mudik asgar yang hampir setiap tahun kita lakukan melalaikan kita dari perenungan mudik akbar, yaitu kembali ke kampung akhirat.

Nampaknya kesibukan duniawi, hiruk-pikuk ekonomi, politik identitas penuh caci-maki, dan keberagamaan kita yang kian jauh dari nilai-nilai Ilahi membuat kita terlena dan abai mempersiapkan bekal yang tepat untuk kehidupan di akhirat kelak. Poin yang terakhir menjadi penekanan utama dalam artikel ini.

Secara umum, keberagamaan kita masyarakat Indonesia semakin meningkat dari aspek kuantitas dan visualnya. Kita bisa lihat fenomena hijrah yang kian membanjiri generasi muda, artis ternama, hingga orang biasa.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan hal tersebut. Hanya saja yang terjadi adalah semangat keberagamaan kita semakin diukur dengan hal-hal visual, seperti penampilan fisik, pemilihan diksi kata yang berbau arab, dll. Hal ini semakin mendapatkan tempat ketika media sosial menjadi tempat ‘pelampiasan’ generasi milenial.

Semua kebaikan diumbar ke sosial media dengan beragam motivasi tentunya. Setiap orang dapat belajar agama dari internet tanpa harus bertatap muka secara langsung. Dalam konteks ini, transmisi dan otoritas pengetahuan keagamaan telah bergeser cukup signifikan. Generasi X dan Y, atau yang lahir sebelum tahun 90-an pasti merasakan perubahan tersebut.

Imbasnya, keberislaman kita semakin bersifat materialistik. Seseorang disebut orang baik jika ia dapat membangun ‘branding’ apik di media sosialnya. Entah di dunia nyata kelakuannya seperti apa, orang lebih memilih menampilkan citra positif sebanyak-banyaknya di sosial media. Sehingga Islam seolah disederhanakan hanya sebatas persoalan penampilan, halal haram, boleh tidak boleh, dan aturan-aturan lain yang sangat kaku.

 Padahal, Islam tidak hanya sebatas persoalan akidah yang melahirkan ilmu tauhid ataupun syariat seputar hukum fikih. Ajaran Islam sejatinya meliputi etika, akhlak, dimensi muamalah yang sedikit banyak diasah melalui perjalanan spiritual dalam tradisi tasawuf.

Kembali ke permasalahan awal, pembacaan ajaran Islam yang hanya seputar ketauhidan dan syariat semata membuat kita jarang introspeksi dengan mudik akbar. Di sinilah urgensi memahami ajaran Islam dari kacamata sufistik menjadi penting. Misalnya Imam Ibnu ‘Atha`illah al-Sakandari pernah mengatakan: ‘Am kaifa yahsulu ila Allah, wahuwa mukabbalun bi syahwatih’, Bagaimana bisa kita sampai kepada Allah, sementara hati kita masih terbelenggu dengan syahwat duniawi.

Untaian hikmah yang ditulis dalam kitab tasawuf fenomenal, Al-Hikam tersebut memberikan pelajaran sekaligus kritik terhadap keberagamaan kita dewasa ini. Di saat kita fokus melihat dan mencari kesalahan orang lain, abai melihat khilaf pribadi. Gegap gempita hoax dan ujaran kebencian di sosial media membuat kita terhanyut ikut serta begitu saja. Kita terlampau sering menuruti hawa nafsu birahi sehingga menjauhkan kita dari pancaran Ilahi.

Kesadaran ini juga yang membuat beberapa cendekiawan Muslim seperti Gus Ulil Abshar Abdalla, Cak Kuswaidi Syafi’i, Gus Mus, Habib Quraish Shihab, Gus Nadirsyah, Gus Baha`, dll mulai ‘turun gunung’ ke sosial media mendakwahkan Islam yang tidak ‘melulu’ soal halal haram semata, tetapi juga menyelami makna yang terkandung di dalamnya. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa nilai-nilai tasawuf perlu dibumikan.

Pertama, nilai sufistik dapat menjadi penawar dan counter narasi dari maraknya ajaran-ajaran Islam formalistik dan menjurus pada radikalisme. Kedua, laku spiritual yang dilakukan oleh para sufi dapat memberikan alternatif bagi generasi milenial untuk menemukan kebahagiaan yang sifatnya bukan visual, tetapi substansial. Ketiga, ajaran-ajaran tasawuf dapat menuntun kita dalam mengamalkan ajaran Islam yang ramah dan inklusif.

Meski demikian, jangan pahami bahwa ajaran tasawuf itu terbelakang, tertinggal, dan mengajarkan kita untuk pasrah dalam menerima keadaan. Semangat tasawuf sejatinya tidak berlawanan dengan semangat modernitas. Hanya saja, tasawuf menjadi alat kontrol agar kita tidak menjadikan modernitas sebagai dewa, melainkan hanya sebatas sarana untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Inilah pesan yang disampaikan oleh Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern.

Oleh karena itu, momentum idul fitri, kembali pada kesucian diri harus benar-benar dipahami sebagai langkah awal untuk menapaki kehidupan dengan visi jauh ke depan. Yakni dunia tidak dipandang sebagai tujuan, tetapi sarana untuk sampai pada kehidupan akhirat.
Keislaman yang sejati -atau meminjam istilah Haedar Nashir- yang otentik, hanya bisa terwujud manakala kita menyelami makna kehidupan ini dan tidak terjerumus pada aspek formal, visual, dan material semata.

Intinya, di tengah hiruk pikuk duniawi saat ini, kita butuh waktu reflektif untuk merenungkan diri. Jangan biarkan kita tenggelam dalam hegemoni dunia yang fana dan penuh tipu daya.

*Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana UIN Yogya

sumber gambar: ig @leila_qinsart

Tidak ada komentar:

Posting Komentar