Kisah-Kisah Bersama Surat Cinta

“Anggie, aku suka sama kamu. Mau enggak mau jadi pacar aku?”

Saya tidak tahu apakah kata-kata di atas masih biasa diungkapkan oleh generasi muda saat ini dengan menggunakan sepucuk surat? Daripada ribet menulis di kertas surat, lebih mudah bagi mereka untuk mengungkapkannya lewat aplikasi, mulai dari WhatsApp, Facebook, hingga Instagram. Tetapi bagi saya cara-cara yang demikian ini telah menghilangkan begitu banyak makna. Jelas, ini karena membuat surat cinta jauh lebih sulit sekaligus lebih menyertakan emosi dibanding sekadar mengetik.

Surat cinta membutuhkan perhatian penuh untuk dibaca dengan saksama. Jika dibandingkan dengan email atau pesan berbasis aplikasi yang bisa dengan mudah dilupakan, surat cinta akan membuat pembacanya duduk dengan penuh perhatian, membaca dan berusaha memahami pesan yang kita sampaikan. Dia akan memberi perhatian lebih karena dia tahu kita telah meluangkan waktu, usaha dan perhatian yang lebih untuk menulis surat cinta, setidaknya itu yang bisa ia lakukan sebelum memutuskan untuk merespon dengan sebuah surat balasan.
Di era saya di tahun 90-an, surat cinta menjadi primadona media ampuh untuk menyatakan cinta, walaupun mungkin hanya dengan menyertakan beberapa patah kata. Teman-teman perempuan saya yang berparas cantik sudah barang tentu sering sekali mendapatkan surat cinta. Ada laki-laki yang memasukkan surat itu ke tempat pensilnya, ada juga yang ke dalam tasnya. Tetapi bagi laki-laki yang, entah disebut nekad atau punya rasa percaya diri yang tinggi, dia berani memberikan surat cintanya langsung ke hadapan si perempuan yang dia suka. Sontak kelas menjadi ramai, dan karena malu si perempuan tersebut malah lari menjauh, walaupun beberapa hari kemudian diketahui bahwa mereka pada akhirnya berpacaran.

Trik ampuh para lelaki di zaman saya, selainkan memberi sepucuk kertas mereka juga biasa menaruh sesuatu yang lain di dalam surat tersebut. Bisa bunga, cokelat, atau sekadar hiasan-hiasan. Sesuatu yang indah dan girly akan memiliki penilaian lebih di mata perempuan.

Sebagai informasi, jangan dikira bahwa hanya kaum hawa saja yang mendapatkan surat pernyataan cinta, laki-laki tampan di sekolah saya dulu juga sering menerimanya, termasuk saya sendiri (ini bukan berarti saya ganteng ya! hehe). Ketika itu saya mencoba untuk membacanya secara perlahan. Bagus dan estetik memang isinya. Saya pun yakin kalau tulisan ini sudah mengalami beberapa kali revisian, yang berarti dia perlu mengganti sekian kertas, hingga pada akhirnya surat tersebut tiba di tangan saya. Tapi apa boleh buat, karena memang sedari awal saya tidak memiliki rasa sama sekali dengannya, saya tidak bisa membalas perasaannya.

Saya lupa apakah saya sempat pernah menyatakan cinta lewat surat, sebab dulu saya termasuk orang yang lebih senang menyimpan rasa, baik karena faktor pemalu maupun minder. Bahkan untuk cinta pertama saya, baru berani diperjuangkan setelah berada di bangku kelas tiga SMP. Padahal saya sudah menyukainya, mungkin sejak kelas tiga SD. Itu pun sebuah keberuntungan karena kami ditakdirkan untuk berada di satu sekolah yang sama ketika lulus SD. Kalau berbeda sekolah, sudah pasti saya hanya cukup berpuas diri dengan menyimpannya dalam hati.

Waktu itu saya bisa dibilang sebagai anak lelaki yang “gentle” karena berani mengungkapkan perasaan secara langsung, bukan lewat surat. Dari dulu memang sudah ada semacam stigma bahwa lelaki yang tidak berani menyatakan perasaannya secara tatap muka, dia adalah lelaki yang cemen. Betapapun demikian, ketika di masa-masa pacaran, surat atau kertas tidak luput kami jadikan sebagai media untuk saling berkomunikasi.

Namun setelah dipikir-pikir ada untungnya juga ketika menyampaikan perasaan yang sudah tidak lagi menggunakan kertas surat karena telah beralih ke pesan elektronik. Salah satunya ialah ketika ditolak. Karena ada sensasi yang berbeda antara menulis tangan dan mengetik, di mana yang pertama lebih menyertakan emosi dan perasaan yang kuat dibanding yang kedua, maka wajar kalau pihak yang menyampaikan perasaan tidak mengalami gejolak kekecewaan yang berlebihan.

Saya adalah orang yang termasuk di dalamnya. Beberapa kali saya mengungkapkan perasaan lewat surat elektronik. Meskipun telah berusaha untuk melibatkan seluruh emosi, tetap saja tidak bisa se-drama-tisir ketika saya menulisnya dengan tangan langsung. Dan benarlah, walaupun ditolak dan tentu saja kecewa, saya tidak terlalu depresi dan bisa menstabilkan diri dengan cepat. 

sumber gambar: uniqpost.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar