Geliat Toxic Parent

Masih banyak, kalau enggan berkata hampir semua, orang tua menganggap anaknya sebagai properti, yang dengannya merasa memiliki hak preogatif untuk mengatur seluruh kehidupan anaknya, mulai dari yang paling remeh higga hal-hal besar seperti cita-cita, jodoh, pekerjaan, hingga jalan hidup.

Masih bisa dimaklumi kalau hal tersebut dilakukan saat si anak masih berada di umur kecil, sebab mereka sendiri pun belum bisa secara sempurna menuntukan mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi sayangnya, para toxic parent ini terus melakukannya meski si anak sudah beranjak dewasa.

Saya kira sebenarnya persoalan ini berakar dari rasa ingin memenuhi keegoisan dalam diri, supaya mereka dapat memperoleh kebanggaan atau pengakuan sosial dari orang lain, atau setidaknya mendapat sebuah kepuasan batin semu.

Ketika si anak meraih sukses (sebuah kesuksesan yang dipahami menurut versi mereka sendiri) maka segera mereka akan mengumumkannya di setiap perbincangan dengan orang lain, baik tetangga, keluarga besar, maupun mitra kerja.

Sebaliknya, ketika si anak tidak bisa meraih kesuksesaan (lagi-lagi ini berdasarkan versi mereka sendiri) atau sesuatu yang berada di luar ekspektasinya, rasa malu itu akan muncul dan takut mendapat cibiran dari orang lain. Tak jarang mereka langsung memberikan tindakan/ekspresi intimidatif kepada si anak, baik secara fisik maupun psikis. Di kondisi ini toxic parent tidak lagi memikirkan perasaan si anak, sebab yang ada hanyalah soal diri-egonya saja di depan (perbincangan) masyarakat.

Saya beri contoh, berdasarkan pengalaman yang diperolehnya, salah seorang toxic parent menganggap bahwa pekerjaan sebagai seorang insinyur sangatlah profitable dan prospektif dibanding profesi lain (guru misalnya). Maka ia kemudian memaksa anaknya untuk mengambil jurusan tersebut. Tetapi apakah benar itu baik bagi si anak? Belum tentu, karena kemampuan yang dimiliki bisa jadi berbeda dan bisa jadi dia tidak memiliki passion di bidang tersebut.

Kasus lain yang hampir mirip, ialah berdasarkan pengalamannya seorang toxic parent menutut anaknya untuk menjadi PNS karena menurutnya si anak akan mendapat posisi aman (comfort zone) dalam hidup. Padahal si anak lebih cenderung suka hidup dan menjadi pekerja lepas/serabutan seperti aktivis sosial, atau penulis, atau pekerja seni, atau apa pun tapi bukan PNS.

Kalau si anak adalah tipe yang penurut, mungkin dia bisa menuruti permintaannya, meski itu sangat melawan passion dan kata hatinya, apalagi demi menyenangkan hati orang tuanya. Tetapi hati-hati, karena si anak akan menyimpan bom waktu yang akan meledak di luar ekspektasi dan tanpa tendeng aling-aling, seperti bunuh diri misalnya.

Comparing
Ada ciri lain dari seorang toxic parent, yakni kegemarannya untuk membanding-bandingkan anaknya dengan (anak) orang lain yang dalam pandangannya atau perspektifnya lebih hebat/sukses. Dan lebih ironi lagi, perbandingannya hanya soal besaran gaji.

Padahal hidup bukanlah soal besaran gaji, karena bagi saya orang yang bermental miskin, meski memiliki penghasilan yang besar tetap saja akan selalu merasa kekurangan. Sebaliknya, mereka yang bermental kaya, suka bersyukur dengan terus berusaha meningkatkan ikhtiar, akan senantiasa puas dengan apa yang telah diperolehnya. Terlebih, rezeki bukan hanya datang dari gaji. Terlalu picik jika menganggap gaji adalah satu-satunya media rezeki yang Tuhan beri kepada hamba-Nya.

Di luar besar-kecil gaji, ada pula orang yang lebih memilih jalan mulia meski jika dinilai dari sisi materil, akan terkesan tidak ada untungnya. Misalnya ada seseorang yang memilih untuk mengabdi pada rakyat, seperti melayani masyarakat akar rumput, membina, dan melakukan upaya peningkatan kualitas diri. Ironis, masih banyak para orang tua yang tidak menghargai tindakan anaknya jika si anak tersebut tidak bisa memproduksi uang yang besar, seberapa pun mulianya pekerjaan tersebut.

Malangnya, kasus compraring ini terjadi pada diri saya sendiri. Bahkan setelah saya mengorbankan keinginan dan cita-cita pribadi demi menyenangkan dan memenuhi keinginan orang tua, ternyata ketika di belakang saya mereka tetap saja mengeluhkan dan “merendahkan” segala pencapaian yang telah saya raih, karena penghasilan yang saya dapat tidak sebesar anak tetangga atau saudara-saudaranya.

Jangan tanya soal aktivitas saya yang ada di sana-sini, selama tidak menelurkan uang yang besar, maka hanya akan dianggap sebagai sesuatu yang useless.

***

Kita mungkin tidak bisa mengubah cara pandang mereka, yang barangkali sudah sangat berurat-akar, tetapi hal ini dapat kita lakukan ke anak-anak kita kelak. Jangan sampai kita berbuat demikian kepada mereka, sebab harus dipahami bahwa pada hakikatnya setiap anak yang lahir di muka bumi ini adalah manusia bebas (bukan properti orang tua) yang diberi tanggung jawab oleh Tuhan dengan tata aturan “barangsiapa yang yang menuai maka ia akan memperoleh hasilnya.”

Orang tua harusnya bisa memberikan kebebasan kepada si anak (terlebih ketika dia sudah memasuki masa dewasa) untuk memilih jalan hidup dan pilihannya berdasarkan kehendaknya di mana konsekuensi akan ditanggung oleh mereka sendiri. Peran orang tua hanya sebagai penasihat atau pemberi saran, bukan memberi penekanan (stressing) apalagi instruksi. Karena apa yang dianggap baik oleh orang tua, meskipun dibekali dengan pengalaman yang lebih banyak dibanding si anak, belum tentu baik dan cocok bagi si anak.

sumber gambar: islamudina.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar